Duren Manis

Duren Manis
DM2 – Firasat Mia


__ADS_3

DM2 – Firasat Mia


“Perutku kram, mah. Apa karena mau haid


ya?”tanya Gadis.


Mia mengingat tanggal kalender, biasanya


haidnya akan datang bersamaan dengan Gadis. Ia sudah selesai haid kemarin.


Berarti haidnya Gadis terlambat. Mia menatap Gadis lagi, ia ingin meminta Gadis


untuk testpack dulu. Tapi keraguan muncul di hatinya. Toh, Rio juga masih


sakit, sepertinya mereka belum pernah melakukannya lagi.


“Kita ke dokter ya kalau sakitnya tambah


parah. Sekalian besok papa mau buka gips.”kata Mia.


“Gak usah ke dokter, mah. Ntar juga


ilang.”kata Gadis.


Mia tidak memaksa lagi, biar bagaimanapun


Gadis tidak mungkin hamil kalau ia dan Rio belum berhubungan. Mia tidak


mengetahui kalau mereka sudah berkali-kali melakukan itu.


Usai makan siang, Gadis ingin menemui


Kaori. Ia mengintip ke dalam kamar tempat Kaori dan mb Roh berada. “Mb, Kaori


kenapa?”tanya Gadis melihat mb Roh mengangkat kaki Kaori.


“Dari tadi terus mengedan, mb. Mungkin mau


buang air besar. Tapi saya liat belum keluar apa-apa.”


Gadis menyapa Kaori, ikut mengedan


bersamanya untuk memancing Kaori buang air. Tapi mendengar suara Gadis, Kaori


malah tertawa senang. Ia sepertinya merindukan mamanya itu. Gadis asyik bermain


dengan Kaori sampai waktu mulai beranjak sore.


*****


Beberapa hari kemudian, perangkap yang


dipasang Romi tepat mengenai sasaran. Beberapa kontrak yang baru saja mereka


dapatkan mulai di telpon oleh perusahaan pesaing mereka. Apalagi kontrak kali


ini dibuat lebih singkat waktunya. Romi menelpon seseorang, Teri sudah


ditangkap. Bukti yang ditemukan X, cukup untuk menuntut Teri ke pengadilan.


Melda bisa bernafas lega sekarang. Ia


meneguk kopi hitam untuk merayakan sedikit ketenangan dalam pekerjaannya. Romi


menoleh pada Melda, “Bagaimana kau bisa tahu dia yang melakukannya?”


“Anggap saja lift yang hampir membunuhku


dan pak Alex, memberiku peringatan.”kata Melda.


“Lift? Kau masih trauma?”tanya Romi.


“Sedikit. Lift itu sempat macet di lantai


8, aku cepat-cepat turun dan nyebrang ke tangga darurat. Disitulah aku mergokin


Teri. Syukurlah semua berjalan baik.”


“Terima kasih, Melda. Kau sangat membantu


di perusahaan ini.”ucap Romi tulus.


“Sudah tugasku, pak. Tidak seharusnya kita


menghancurkan tempat kita mencari makan, kan.”kata Melda.


Mereka kembali sibuk dengan pekerjaan


membenahi kekacauan sebelum Alex siap untuk bekerja kembali.

__ADS_1


*****


Di rumah Alex,


Gadis tampak terbaring di ruang keluarga.


Kaori bermain sendiri di sampingnya. Bayi 7 bulan itu sudah bisa duduk.


Sesekali ia menjatuhkan tubuhnya, menaikkan kedua kakinya tinggi dan


menghentak-hentakkan tubuhnya. Tangan Gadis yang tadinya menggenggam tangan


Kaori, perlahan terlepas.  Ia sudah


tertidur pulas, persis seperti Mia saat hamil si kembar dulu.


Kaori yang tidak merasakan sentuhan Kaori,


mulai mencari-cari dimana Gadis berada. Ia berguling semakin jauh dari Gadis


sampai hampir keluar dari karpet tebal. Duk! Kaori menabrak lemari yang


memisahkan ruang tamu dan ruang keluarga.


“Owaaaa!!! Aaaaaa!!!!”tangis kencang Kaori


terdengar keseluruh rumah.


Mia dan mb Roh berlari menggendong Kaori


yang keningnya sudah memerah. “Cup, cup, cup... sayang. Kaori sayang.”ucap mb


Roh.


“Mb, kasi susu dulu Kaorinya. Ini kenapa


Gadis gak bangun juga ya. Biasanya dia gak pernah ketiduran kayak gini.”kata


Mia sambil mendekati Gadis. Ia memegang bahu Gadis dan mengguncangnya sedikit.


“Gadis? Kenapa badannya panas gini?”kata Mia memegang kening Gadis.


Mia mengambil kompres air es dan handuk


kecil. Ia meletakkan kompres di kening Gadis yang mulai menggigil. Mia meraih selimut


tebal di dekat tumpukan bantal. Ia menyelimuti Gadis, “Gadis, bangun dulu.


Gadis hanya menggeliat sebentar, kembali


tidur lagi. Akhirnya Mia hanya bisa mengompres Gadis saja. Alex yang baru


kembali dari kantor, melihat Mia duduk di ruang keluarga dengan kompres di


tangannya.


“Gadis kenapa?”tanya Alex. Ia sudah pulih


sepenuhnya dan kembali bekerja di kantor seperti biasanya.


“Badannya panas, mas.”


“Parah? Kita panggil dokter?”tanya Alex.


Mia terdiam sejenak, ia ragu mau bicara.


“Gak usah, mas. Aku udah kompres dia. Takutnya...”


Alex menatap Mia bingung, “Takut apa?”tanya


Alex akhirnya.


“Takutnya Gadis lagi hamil. Kalau


sembarangan minum obat atau disuntik, kan bisa bahaya.”kata Mia ragu.


“Hah? Gimana bisa? Apa mereka pernah


gituan? Maksudku gak mungkin kan Gadis sama orang lain. Dia kan dirumah terus.”Mia


mencubit lengan Alex dengan gemas membuat suaminya itu berjengit.


“Mas juga kenapa mikirnya Gadis gitu. Bisa


aja kan mereka melakukannya, mungkin Gadis yang ngajarin Rio.”


Keduanya saling pandang lalu bersamaan


menatap wajah pucat Gadis. Keduanya kompak nyengir menyadari Gadis juga wanita

__ADS_1


normal yang butuh belaian suaminya.


“Ntar kalo bangun, kasi testpack aja.


Gimana?”tanya Alex.


“Aku gak enak, mas. Maunya aku bawa ke


dokter, mumpung besok Kaori imunisasi. Semoga aja dia mau diperiksa ya.”kata


Mia mengganti kompres di kening Gadis.


“Ya, dicoba aja. Kalo beneran hamil, biar


bisa dijaga baik-baik.”kata Alex. “Perlu aku anter besok?”tawar Alex.


“Gak sich, mas. Kan ada Pak Yanto. Aku ke


rumah sakit habis di kembar berangkat sekolah.”ucap Mia. Ia melanjutkan


mengompres Gadis sampai menantunya itu terbangun sendiri.


“Mmm... Mah. “panggil Gadis.


“Kamu dah bangun? Apa yang sakit? Badanmu


panas banget loh.”kata Mia.


“Pusing, mah. Kaori mana, mah?!”tanya Gadis


kaget. Ia melihat sekeliling tapi tidak menemukan putrinya itu.


“Sudah sama mb Roh. Kamu kalo gak enak


badan gini terus, kita ke dokter aja ya. Besok kan Kaori imunisasi. Sekalian


kamu juga periksa.”


Gadis hanya mengangguk lemah. Ia merapatkan


selimutnya, kembali memejamkan matanya.


*****


Keesokan harinya,


Di rumah sakit Mia mendaftarkan Gadis ke


dokter kandungan dan Kaori ke dokter anak. Gadis tidak mengetahui dirinya akan


dibawa ke dokter kandungan karena asyik menggendong Kaori yang tidak mau diam.


“Gadis, sini bawa Kaori. Udah dipanggil.”kata


Mia.


Gadis membawa Kaori ke dalam ruang periksa


bayi. Kaori yang tidak menyadari akan disuntik, terlihat ceria. Sedetik


kemudian, ia mulai menangis saat perawat menyuntiknya.


“Hoaaaa... Aaaaa.... Huaaaa....”tangis


kencang Kaori menggemparkan dunia persilatan. Eh, dunia rumah sakit. Gadis


langsung menimangnya hingga tenang kembali.


Mia mendengarkan kata-kata perawat yang


meminta agar bekas suntikan Kaori nanti di kompres dengan air hangat. Ia juga menjelaskan


tanggal imunisasi berikutnya ketika Kaori berumur 9 bulan. Mia dan Gadis keluar


dari ruang periksa bayi sambil membawa resep obat.


“Kamu tunggu sini dulu ya. Mama mau lihat


antrian dokternya.”kata Mia meminta Gadis duduk di ruang tunggu di depan loket


obat. Mia meletakkan dulu resep obat Kaori disana sebelum berjalan ke tempat


dokter praktek kandungan. Gadis tidak menyadari seseorang sudah


memperhatikannya dari jauh.


*****


Klik profil author ya, ada novel karya author yang

__ADS_1


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.


__ADS_2