
DM2 – Firasat Mia
“Perutku kram, mah. Apa karena mau haid
ya?”tanya Gadis.
Mia mengingat tanggal kalender, biasanya
haidnya akan datang bersamaan dengan Gadis. Ia sudah selesai haid kemarin.
Berarti haidnya Gadis terlambat. Mia menatap Gadis lagi, ia ingin meminta Gadis
untuk testpack dulu. Tapi keraguan muncul di hatinya. Toh, Rio juga masih
sakit, sepertinya mereka belum pernah melakukannya lagi.
“Kita ke dokter ya kalau sakitnya tambah
parah. Sekalian besok papa mau buka gips.”kata Mia.
“Gak usah ke dokter, mah. Ntar juga
ilang.”kata Gadis.
Mia tidak memaksa lagi, biar bagaimanapun
Gadis tidak mungkin hamil kalau ia dan Rio belum berhubungan. Mia tidak
mengetahui kalau mereka sudah berkali-kali melakukan itu.
Usai makan siang, Gadis ingin menemui
Kaori. Ia mengintip ke dalam kamar tempat Kaori dan mb Roh berada. “Mb, Kaori
kenapa?”tanya Gadis melihat mb Roh mengangkat kaki Kaori.
“Dari tadi terus mengedan, mb. Mungkin mau
buang air besar. Tapi saya liat belum keluar apa-apa.”
Gadis menyapa Kaori, ikut mengedan
bersamanya untuk memancing Kaori buang air. Tapi mendengar suara Gadis, Kaori
malah tertawa senang. Ia sepertinya merindukan mamanya itu. Gadis asyik bermain
dengan Kaori sampai waktu mulai beranjak sore.
*****
Beberapa hari kemudian, perangkap yang
dipasang Romi tepat mengenai sasaran. Beberapa kontrak yang baru saja mereka
dapatkan mulai di telpon oleh perusahaan pesaing mereka. Apalagi kontrak kali
ini dibuat lebih singkat waktunya. Romi menelpon seseorang, Teri sudah
ditangkap. Bukti yang ditemukan X, cukup untuk menuntut Teri ke pengadilan.
Melda bisa bernafas lega sekarang. Ia
meneguk kopi hitam untuk merayakan sedikit ketenangan dalam pekerjaannya. Romi
menoleh pada Melda, “Bagaimana kau bisa tahu dia yang melakukannya?”
“Anggap saja lift yang hampir membunuhku
dan pak Alex, memberiku peringatan.”kata Melda.
“Lift? Kau masih trauma?”tanya Romi.
“Sedikit. Lift itu sempat macet di lantai
8, aku cepat-cepat turun dan nyebrang ke tangga darurat. Disitulah aku mergokin
Teri. Syukurlah semua berjalan baik.”
“Terima kasih, Melda. Kau sangat membantu
di perusahaan ini.”ucap Romi tulus.
“Sudah tugasku, pak. Tidak seharusnya kita
menghancurkan tempat kita mencari makan, kan.”kata Melda.
Mereka kembali sibuk dengan pekerjaan
membenahi kekacauan sebelum Alex siap untuk bekerja kembali.
__ADS_1
*****
Di rumah Alex,
Gadis tampak terbaring di ruang keluarga.
Kaori bermain sendiri di sampingnya. Bayi 7 bulan itu sudah bisa duduk.
Sesekali ia menjatuhkan tubuhnya, menaikkan kedua kakinya tinggi dan
menghentak-hentakkan tubuhnya. Tangan Gadis yang tadinya menggenggam tangan
Kaori, perlahan terlepas. Ia sudah
tertidur pulas, persis seperti Mia saat hamil si kembar dulu.
Kaori yang tidak merasakan sentuhan Kaori,
mulai mencari-cari dimana Gadis berada. Ia berguling semakin jauh dari Gadis
sampai hampir keluar dari karpet tebal. Duk! Kaori menabrak lemari yang
memisahkan ruang tamu dan ruang keluarga.
“Owaaaa!!! Aaaaaa!!!!”tangis kencang Kaori
terdengar keseluruh rumah.
Mia dan mb Roh berlari menggendong Kaori
yang keningnya sudah memerah. “Cup, cup, cup... sayang. Kaori sayang.”ucap mb
Roh.
“Mb, kasi susu dulu Kaorinya. Ini kenapa
Gadis gak bangun juga ya. Biasanya dia gak pernah ketiduran kayak gini.”kata
Mia sambil mendekati Gadis. Ia memegang bahu Gadis dan mengguncangnya sedikit.
“Gadis? Kenapa badannya panas gini?”kata Mia memegang kening Gadis.
Mia mengambil kompres air es dan handuk
kecil. Ia meletakkan kompres di kening Gadis yang mulai menggigil. Mia meraih selimut
tebal di dekat tumpukan bantal. Ia menyelimuti Gadis, “Gadis, bangun dulu.
Gadis hanya menggeliat sebentar, kembali
tidur lagi. Akhirnya Mia hanya bisa mengompres Gadis saja. Alex yang baru
kembali dari kantor, melihat Mia duduk di ruang keluarga dengan kompres di
tangannya.
“Gadis kenapa?”tanya Alex. Ia sudah pulih
sepenuhnya dan kembali bekerja di kantor seperti biasanya.
“Badannya panas, mas.”
“Parah? Kita panggil dokter?”tanya Alex.
Mia terdiam sejenak, ia ragu mau bicara.
“Gak usah, mas. Aku udah kompres dia. Takutnya...”
Alex menatap Mia bingung, “Takut apa?”tanya
Alex akhirnya.
“Takutnya Gadis lagi hamil. Kalau
sembarangan minum obat atau disuntik, kan bisa bahaya.”kata Mia ragu.
“Hah? Gimana bisa? Apa mereka pernah
gituan? Maksudku gak mungkin kan Gadis sama orang lain. Dia kan dirumah terus.”Mia
mencubit lengan Alex dengan gemas membuat suaminya itu berjengit.
“Mas juga kenapa mikirnya Gadis gitu. Bisa
aja kan mereka melakukannya, mungkin Gadis yang ngajarin Rio.”
Keduanya saling pandang lalu bersamaan
menatap wajah pucat Gadis. Keduanya kompak nyengir menyadari Gadis juga wanita
__ADS_1
normal yang butuh belaian suaminya.
“Ntar kalo bangun, kasi testpack aja.
Gimana?”tanya Alex.
“Aku gak enak, mas. Maunya aku bawa ke
dokter, mumpung besok Kaori imunisasi. Semoga aja dia mau diperiksa ya.”kata
Mia mengganti kompres di kening Gadis.
“Ya, dicoba aja. Kalo beneran hamil, biar
bisa dijaga baik-baik.”kata Alex. “Perlu aku anter besok?”tawar Alex.
“Gak sich, mas. Kan ada Pak Yanto. Aku ke
rumah sakit habis di kembar berangkat sekolah.”ucap Mia. Ia melanjutkan
mengompres Gadis sampai menantunya itu terbangun sendiri.
“Mmm... Mah. “panggil Gadis.
“Kamu dah bangun? Apa yang sakit? Badanmu
panas banget loh.”kata Mia.
“Pusing, mah. Kaori mana, mah?!”tanya Gadis
kaget. Ia melihat sekeliling tapi tidak menemukan putrinya itu.
“Sudah sama mb Roh. Kamu kalo gak enak
badan gini terus, kita ke dokter aja ya. Besok kan Kaori imunisasi. Sekalian
kamu juga periksa.”
Gadis hanya mengangguk lemah. Ia merapatkan
selimutnya, kembali memejamkan matanya.
*****
Keesokan harinya,
Di rumah sakit Mia mendaftarkan Gadis ke
dokter kandungan dan Kaori ke dokter anak. Gadis tidak mengetahui dirinya akan
dibawa ke dokter kandungan karena asyik menggendong Kaori yang tidak mau diam.
“Gadis, sini bawa Kaori. Udah dipanggil.”kata
Mia.
Gadis membawa Kaori ke dalam ruang periksa
bayi. Kaori yang tidak menyadari akan disuntik, terlihat ceria. Sedetik
kemudian, ia mulai menangis saat perawat menyuntiknya.
“Hoaaaa... Aaaaa.... Huaaaa....”tangis
kencang Kaori menggemparkan dunia persilatan. Eh, dunia rumah sakit. Gadis
langsung menimangnya hingga tenang kembali.
Mia mendengarkan kata-kata perawat yang
meminta agar bekas suntikan Kaori nanti di kompres dengan air hangat. Ia juga menjelaskan
tanggal imunisasi berikutnya ketika Kaori berumur 9 bulan. Mia dan Gadis keluar
dari ruang periksa bayi sambil membawa resep obat.
“Kamu tunggu sini dulu ya. Mama mau lihat
antrian dokternya.”kata Mia meminta Gadis duduk di ruang tunggu di depan loket
obat. Mia meletakkan dulu resep obat Kaori disana sebelum berjalan ke tempat
dokter praktek kandungan. Gadis tidak menyadari seseorang sudah
memperhatikannya dari jauh.
*****
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
__ADS_1
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.