
Saling jujur
Alex membuka pintu kamar Rio tanpa mengetuk lebih
dulu. Ia dan Mia melotot melihat apa yang sedang dilakukan Rio pada Gadis.
Tampak mereka duduk di pinggir tempat tidur Rio
dengan pundak Gadis terlihat jelas. Ditangan Rio ada kapas dan juga sesuatu
seperti catut.
“Pah, ketuk pintu dulu dong kalo mau masuk.”protes
Rio sambil menutupi pundak Gadis.
Alex menatap penampilan Rio yang cuma pake boxer
aja. Trus penampilan Gadis yang sedikit berantakan. Mia masuk ke kamar Rio dan
meletakkan satu gelas es sirup yang masih tersisa.
“Kalian lagi ngapain?”tanya Mia.
“Gak ngapain, mah. Emang kenapa?”tanya balik Rio.
“Gak ngapain, trus kenapa kalian jerit-jerit pake
mendesah segala? Papa kan jadi mikir aneh-aneh.”kata Alex.
“Ich, papa aja pikirannya ngeres. Rio nggak
ngapa-ngapain kok sama Gadis.”jelas Rio.
“Coba Rio diposisi papa sama mama trus denger papa
sama mama jerit-jerit sambil mendesah, gimana gak ngeres coba pikiranmu?”kata
Alex.
“Ya, kalo papa sama mama gak usah ditebak lagi
emang lagi gituan. Kalo dah enak, lupa ngerem sich.”cibir Rio
“Trus kenapa Gadis buka baju gitu?”tanya Mia.
“Gadis punya jerawat di punggungnya. Masih lagi
satu belum kepencet. Ayo, buka lagi.”pinta Rio tapi Gadis semakin merapatkan
pakaiannya.
“Udah, sini mama yang pencet. Kamu kenapa gak pake
baju?”tanya Mia sambil mengambil alih tempat Rio.
Alex membantu Rio yang tertatih-tatih duduk di kursi.
Ia membantu Rio memakai kaos dan juga celananya.
“Habisnya tadi mau... hehe, gak jadi.”kata Rio.
Mia dan Alex menatap wajah keduanya yang sudah
memerah sambil senyum malu-malu.
”Apa yang sesungguhnya terjadi? Kita flash back
ya.”
...Flash back...
Rio menunduk mencium tengkuk Gadis yang sangat
terkejut.
“Rio...”lirih Gadis.
“Sstt... Ini salah satu caraku menunjukkan rasa
sayangku sama kamu. Aku gak bisa mengatakan kata-kata manis seperti pujangga.
Aku hanya bisa menunjukkannya.”bisik Rio di telinga Gadis.
Deg! Deg! Gadis menggenggam tangannya di depan
dadanya. Tubuhnya merespon setiap sentuhan lembut Rio pada tengkuk dan
punggungnya.
“Rio, tanganmu...”bisik Gadis.
“Apa, sayang? Kamu gak suka?”tanya Rio sambil
menggigit telinga Gadis.
“Rio! Udah...”pinta Gadis sambil memegangi pipinya
yang bersemu merah.
__ADS_1
Gadis sangat menyukai apa yang baru saja Rio
lakukan. Apalagi suara Rio yang terus memanggil namanya membuat Gadis
berbunga-bunga. Saat Rio kembali menyusuri punggungnya, ia tidak sengaja
menekan jerawat Gadis.
“Aduch!”jerit Gadis.
“Kenapa? Apa yang sakit?”tanya Rio khawatir.
“Aarrgghh!!”jerit Gadis tambah keras saat melihat
Rio belum pakai apa-apa.
“Apa sich?!!”kata Rio ikutan menjerit.
“Kamu kenapa belum pake celana?!!”jerit Gadis lagi.
“Itu... aku... pakein dong.”pinta Rio.
Gadis menyuruh Rio menutupi area pribadinya dengan
bantal di kursi sementara Gadis membungkuk memasukkan celana dalam dan boxer
Rio melalui kedua kakinya. Rio berdesis ketika perban di kakinya tidak sengaja
tertekan Gadis.
“Maaf, aku udah pelan-pelan. Ini, cepat tarik.”kata
Gadis sambil berbalik lagi.
Ia tersenyum malu melihat bagian pribadi tubuh Rio.
Meskipun sudah pernah merasakannya, Gadis baru melihatnya dengan jelas tadi. Ia
jadi salah tingkah dan malu sendiri.
“Trus tadi apa yang sakit?”tanya Rio setelah
boxernya terpasang di tubuhnya.
“Gak tau. Rasanya sakit. Masa ada bisul di
punggungku?”tanya Gadis.
“Coba lihat. Buka bajumu.”kata Rio gak pake filter.
“Hah?! Nggak. Biarin aja.”
“Emangnya gak sakit? Coba lihat dulu. Aku gak akan
kosong ke tangan Gadis.
Gadis terpaksa menurunkan bajunya, memperlihatkan
punggungnya pada Rio. Rio menatap punggung mulus Gadis dan hampir menyentuhnya,
“Keliatan gak?”tanya Gadis.
“Kurang turun lagi dikit. Ada dua ya?”tanya Rio.
“Nggak tau. Coba pegang dimana aja?”tanya Gadis
lagi.
Rio menekan dua titik di punggung Gadis, membuat
Gadis mengaduh lagi. Rio mengambil catut untuk komedo dan mendekatkannya ke
punggung Gadis.
“Kamu mau ngapain?”tanya Gadis takut.
“Itu jerawat, bukan bisul. Kalo gak dipencet, ntar tetep
sakit. Tahan dulu.”
Dan mulailah suara-suara gak jelas terdengar dari
kamar Rio.
...Flash back end...
Mia selesai memencet jerawat di punggung Gadis dan
membersihkannya.
“Gadis, kamu mau mandi? Kamu bisa pake baju hamil
mama.”kata Mia.
“Iya, mah. Maaf ngerepotin. Tapi kayaknya Gadis
pulang aja. Udah malem.”kata Gadis sambil mengemasi tasnya.
“Gak boleh pulang sendiri. Kamu nginep sini aja
__ADS_1
temenin aku.”pinta Rio.
“Ngaco kamu. Nggak ach. Aku pulang naik ojol aja.”kata
Gadis.
Rio menarik tangan Gadis, menatapnya dengan
pandangan memelas. Rio tidak mau Gadis pulang dan terus membujuknya agar mau
menginap. Gadis akhirnya mengangguk dan bersiap mandi.
“Kamu mandi dulu ya. Nanti bajunya mama taruh di
kamar Riri. Makan malam ini mama masak iga bakar. Gadis mau makan yang lain?”tanya
Mia.
“Iga bakar? Ada wortel sama buncis bakar juga gak
mah?”tanya Gadis penuh harap.
“Ada. Ntar mama tambahin dulu ya. Mas, ayo turun.
Mas kan belum mandi.”ajak Mia.
Alex dan Mia meninggalkan Rio dan Gadis yang masih duduk berhadapan.
“Aku mandi dulu ya. Handuknya masih di kamar Riri
ya?”tanya Gadis.
Rio meraih tangan Gadis dan mencium punggung tangan
wanita itu. Rio menarik pinggang Gadis dan membelai perutnya.
“Gadis, kamu mau lamaran seperti apa? Aku gak bisa
memikirkan hal-hal seperti itu. Maaf ya.”sesal Rio.
“Kau hanya cukup mengatakan kau mencintaiku dan
memintaku menikahmu di depan semua orang.”jawab Gadis sambil tersenyum.
Rio memalingkan wajahnya dari Gadis, mengatakan
kata cinta baginya tidak akan semudah itu. Gadis tersenyum melihat reaksi Rio.
Ia membelai kepala Rio dengan lembut dan mengatakan padanya untuk tidak
memikirkan hal itu lagi.
“Aku hanya ingin kita bersama karena kita saling
mencintai. Kalau tidak, aku hanya akan membuatmu menderita. Aku akui kalau aku
tidak bisa menghilangkan perasaan cintaku padamu. Aku mencintaimu, Rio. Sangat
mencintaimu.”kata Gadis.
Rio menatap mata Gadis yang berbinar cantik. Kenapa
dia tidak bisa jatuh cinta pada Gadis? Wanita ini sangat baik dan juga menerima
dirinya apa adanya. Bahkan tidak marah setiap kali Rio menyebut nama Kaori.
“Apa kau sangat mencintaiku?”tanya Rio sambil
mencium tangan Gadis lagi.
“Ya. Aku sangat mencintaimu, sampai rasanya kalau
tidak bisa memilikimu seutuhnya, aku tidak apa-apa. Aku iklas.”kata Gadis lagi
sambil melepaskan tangan Rio dari tubuhnya.
“Aku mau mandi dulu ya. Nanti ditungguin makan
malam lagi.”kata Gadis lagi.
Rio membiarkan Gadis keluar dari kamarnya. Ia
terdiam mencerna kata-kata Gadis. Rio teringat kata-kata papanya untuk meminta
ijin pada Kaori kalau dirinya ingin bersama wanita lain. Rio bersandar di kursinya,
ia mengingat mimpinya bersama Kaori yang memintanya bersama Gadis.
“Kaori, bantu aku mengejarnya. Gadis, aku akan
menjagamu dan mencintaimu selamanya.”ucap Rio sambil beranjak keluar dari
kamarnya. Ia melihat Gadis masuk ke kamar Riri hanya berbalut handuk saja. Gadis
menutup pintu tapi kurang sempurna. Perlahan, Rio berjalan mendekati kamar Riri
dan masuk ke dalam sana.
*****
__ADS_1
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.