Duren Manis

Duren Manis
Saling jujur


__ADS_3

Saling jujur


Alex membuka pintu kamar Rio tanpa mengetuk lebih


dulu. Ia dan Mia melotot melihat apa yang sedang dilakukan Rio pada Gadis.


Tampak mereka duduk di pinggir tempat tidur Rio


dengan pundak Gadis terlihat jelas. Ditangan Rio ada kapas dan juga sesuatu


seperti catut.


“Pah, ketuk pintu dulu dong kalo mau masuk.”protes


Rio sambil menutupi pundak Gadis.


Alex menatap penampilan Rio yang cuma pake boxer


aja. Trus penampilan Gadis yang sedikit berantakan. Mia masuk ke kamar Rio dan


meletakkan satu gelas es sirup yang masih tersisa.


“Kalian lagi ngapain?”tanya Mia.


“Gak ngapain, mah. Emang kenapa?”tanya balik Rio.


“Gak ngapain, trus kenapa kalian jerit-jerit pake


mendesah segala? Papa kan jadi mikir aneh-aneh.”kata Alex.


“Ich, papa aja pikirannya ngeres. Rio nggak


ngapa-ngapain kok sama Gadis.”jelas Rio.


“Coba Rio diposisi papa sama mama trus denger papa


sama mama jerit-jerit sambil mendesah, gimana gak ngeres coba pikiranmu?”kata


Alex.


“Ya, kalo papa sama mama gak usah ditebak lagi


emang lagi gituan. Kalo dah enak, lupa ngerem sich.”cibir Rio


“Trus kenapa Gadis buka baju gitu?”tanya Mia.


“Gadis punya jerawat di punggungnya. Masih lagi


satu belum kepencet. Ayo, buka lagi.”pinta Rio tapi Gadis semakin merapatkan


pakaiannya.


“Udah, sini mama yang pencet. Kamu kenapa gak pake


baju?”tanya Mia sambil mengambil alih tempat Rio.


Alex membantu Rio yang tertatih-tatih duduk di kursi.


Ia membantu Rio memakai kaos dan juga celananya.


“Habisnya tadi mau... hehe, gak jadi.”kata Rio.


Mia dan Alex menatap wajah keduanya yang sudah


memerah sambil senyum malu-malu.


”Apa yang sesungguhnya terjadi? Kita flash back


ya.”


...Flash back...


Rio menunduk mencium tengkuk Gadis yang sangat


terkejut.


“Rio...”lirih Gadis.


“Sstt... Ini salah satu caraku menunjukkan rasa


sayangku sama kamu. Aku gak bisa mengatakan kata-kata manis seperti pujangga.


Aku hanya bisa menunjukkannya.”bisik Rio di telinga Gadis.


Deg! Deg! Gadis menggenggam tangannya di depan


dadanya. Tubuhnya merespon setiap sentuhan lembut Rio pada tengkuk dan


punggungnya.


“Rio, tanganmu...”bisik Gadis.


“Apa, sayang? Kamu gak suka?”tanya Rio sambil


menggigit telinga Gadis.


“Rio! Udah...”pinta Gadis sambil memegangi pipinya


yang bersemu merah.

__ADS_1


Gadis sangat menyukai apa yang baru saja Rio


lakukan. Apalagi suara Rio yang terus memanggil namanya membuat Gadis


berbunga-bunga. Saat Rio kembali menyusuri punggungnya, ia tidak sengaja


menekan jerawat Gadis.


“Aduch!”jerit Gadis.


“Kenapa? Apa yang sakit?”tanya Rio khawatir.


“Aarrgghh!!”jerit Gadis tambah keras saat melihat


Rio belum pakai apa-apa.


“Apa sich?!!”kata Rio ikutan menjerit.


“Kamu kenapa belum pake celana?!!”jerit Gadis lagi.


“Itu... aku... pakein dong.”pinta Rio.


Gadis menyuruh Rio menutupi area pribadinya dengan


bantal di kursi sementara Gadis membungkuk memasukkan celana dalam dan boxer


Rio melalui kedua kakinya. Rio berdesis ketika perban di kakinya tidak sengaja


tertekan Gadis.


“Maaf, aku udah pelan-pelan. Ini, cepat tarik.”kata


Gadis sambil berbalik lagi.


Ia tersenyum malu melihat bagian pribadi tubuh Rio.


Meskipun sudah pernah merasakannya, Gadis baru melihatnya dengan jelas tadi. Ia


jadi salah tingkah dan malu sendiri.


“Trus tadi apa yang sakit?”tanya Rio setelah


boxernya terpasang di tubuhnya.


“Gak tau. Rasanya sakit. Masa ada bisul di


punggungku?”tanya Gadis.


“Coba lihat. Buka bajumu.”kata Rio gak pake filter.


“Hah?! Nggak. Biarin aja.”


“Emangnya gak sakit? Coba lihat dulu. Aku gak akan


kosong ke tangan Gadis.


Gadis terpaksa menurunkan bajunya, memperlihatkan


punggungnya pada Rio. Rio menatap punggung mulus Gadis dan hampir menyentuhnya,


“Keliatan gak?”tanya Gadis.


“Kurang turun lagi dikit. Ada dua ya?”tanya Rio.


“Nggak tau. Coba pegang dimana aja?”tanya Gadis


lagi.


Rio menekan dua titik di punggung Gadis, membuat


Gadis mengaduh lagi. Rio mengambil catut untuk komedo dan mendekatkannya ke


punggung Gadis.


“Kamu mau ngapain?”tanya Gadis takut.


“Itu jerawat, bukan bisul. Kalo gak dipencet, ntar tetep


sakit. Tahan dulu.”


Dan mulailah suara-suara gak jelas terdengar dari


kamar Rio.


...Flash back end...


Mia selesai memencet jerawat di punggung Gadis dan


membersihkannya.


“Gadis, kamu mau mandi? Kamu bisa pake baju hamil


mama.”kata Mia.


“Iya, mah. Maaf ngerepotin. Tapi kayaknya Gadis


pulang aja. Udah malem.”kata Gadis sambil mengemasi tasnya.


“Gak boleh pulang sendiri. Kamu nginep sini aja

__ADS_1


temenin aku.”pinta Rio.


“Ngaco kamu. Nggak ach. Aku pulang naik ojol aja.”kata


Gadis.


Rio menarik tangan Gadis, menatapnya dengan


pandangan memelas. Rio tidak mau Gadis pulang dan terus membujuknya agar mau


menginap. Gadis akhirnya mengangguk dan bersiap mandi.


“Kamu mandi dulu ya. Nanti bajunya mama taruh di


kamar Riri. Makan malam ini mama masak iga bakar. Gadis mau makan yang lain?”tanya


Mia.


“Iga bakar? Ada wortel sama buncis bakar juga gak


mah?”tanya Gadis penuh harap.


“Ada. Ntar mama tambahin dulu ya. Mas, ayo turun.


Mas kan belum mandi.”ajak Mia.


Alex dan Mia meninggalkan  Rio dan Gadis yang masih duduk berhadapan.


“Aku mandi dulu ya. Handuknya masih di kamar Riri


ya?”tanya Gadis.


Rio meraih tangan Gadis dan mencium punggung tangan


wanita itu. Rio menarik pinggang Gadis dan membelai perutnya.


“Gadis, kamu mau lamaran seperti apa? Aku gak bisa


memikirkan hal-hal seperti itu. Maaf ya.”sesal Rio.


“Kau hanya cukup mengatakan kau mencintaiku dan


memintaku menikahmu di depan semua orang.”jawab Gadis sambil tersenyum.


Rio memalingkan wajahnya dari Gadis, mengatakan


kata cinta baginya tidak akan semudah itu. Gadis tersenyum melihat reaksi Rio.


Ia membelai kepala Rio dengan lembut dan mengatakan padanya untuk tidak


memikirkan hal itu lagi.


“Aku hanya ingin kita bersama karena kita saling


mencintai. Kalau tidak, aku hanya akan membuatmu menderita. Aku akui kalau aku


tidak bisa menghilangkan perasaan cintaku padamu. Aku mencintaimu, Rio. Sangat


mencintaimu.”kata Gadis.


Rio menatap mata Gadis yang berbinar cantik. Kenapa


dia tidak bisa jatuh cinta pada Gadis? Wanita ini sangat baik dan juga menerima


dirinya apa adanya. Bahkan tidak marah setiap kali Rio menyebut nama Kaori.


“Apa kau sangat mencintaiku?”tanya Rio sambil


mencium tangan Gadis lagi.


“Ya. Aku sangat mencintaimu, sampai rasanya kalau


tidak bisa memilikimu seutuhnya, aku tidak apa-apa. Aku iklas.”kata Gadis lagi


sambil melepaskan tangan Rio dari tubuhnya.


“Aku mau mandi dulu ya. Nanti ditungguin makan


malam lagi.”kata Gadis lagi.


Rio membiarkan Gadis keluar dari kamarnya. Ia


terdiam mencerna kata-kata Gadis. Rio teringat kata-kata papanya untuk meminta


ijin pada Kaori kalau dirinya ingin bersama wanita lain. Rio bersandar di kursinya,


ia mengingat mimpinya bersama Kaori yang memintanya bersama Gadis.


“Kaori, bantu aku mengejarnya. Gadis, aku akan


menjagamu dan mencintaimu selamanya.”ucap Rio sambil beranjak keluar dari


kamarnya. Ia melihat Gadis masuk ke kamar Riri hanya berbalut handuk saja. Gadis


menutup pintu tapi kurang sempurna. Perlahan, Rio berjalan mendekati kamar Riri


dan masuk ke dalam sana.


*****

__ADS_1


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.


__ADS_2