
Magang
Gadis meninggalkan area kuburan dan Luki tersenyum puas dengan hasil pengintaiannya. Ia mengirim chat pada Rio untuk bisa ketemu secepatnya.
*****
Rio mendengarkan video yang direkam Luki dengan baik. Ia mengembalikan ponsel Luki dan duduk kembali dengan tenang.
Luki : “Udah, gitu aja? Gak ada komen gitu?”
Rio : “Nggak. Cukup tau aja.”
Luki : “Trus traktiran?”
Rio : “Lo mau makan apa?”
Luki : “Asek. Ayo ke kantin.”
Mereka berjalan ke kantin, Luki melihat Gadis sedang duduk di salah satu kursi di sana dan berjalan menghampirinya. Luki dan Rio bisa melihat Gadis sedang membuka aplikasi tofood dan presentasi kelompok
mereka.
Luki : “Hai, cewek.”
Gadis menoleh sebentar dan kembali menatap layar laptopnya.
Luki : “Gadis, kamu kenapa? Lagi sariawan?”
Gadis : “Gak, lagi PMS.”
Luki mendorong Rio agar duduk di samping Gadis, sementara ia duduk di depan gadis itu.
Luki : “Kamu lagi ngapain? Bukannya kita uda selesai presentasi?”
Mereka memang baru selesai kuliah dan melakukan presentasi di depan kelas. Dosen mereka memberi applaus atas presentasi mereka dan sempat mengungkapkan kalau presentasi Rio dan teman-temannya bisa menjadi nyata kalau segera dikerjakan.
Gadis : “Aku cuma mikir kalau mulai bisnis ini, bisa jalan gak.”
Luki : “Oh, kamu mau nyoba jualan?”
Gadis : “Ya. Kenapa nggak. Bibik pernah bilang kalau dia punya anak yang cuma kerja jadi tukang masak di warteg. Kalau aku bisa kasi modal, trus dia mulai usaha ini, kami kan bisa bagi hasil. Hmm.”
Rio : “Kemana pangsa pasarnya?”
Gadis : “Didekat rumahku itu ada banyak kost-kostan. Nanti aku bikin selebaran gitu, mungkin sama sample makanan gratis dulu kalau order salah satu menu.”
Rio : “Kamu udah bikin konsepnya?”
__ADS_1
Gadis : “Udah.”
Tanpa sadar Gadis membeberkan rencananya pada Rio dan Luki dengan sangat lugas. Ia sangat serius kalau sudah berhubungan dengan mata kuliah. Mereka bertiga mengobrol sampai makanan yang mereka pesan habis.
Gadis tidak sengaja menyentuh tangan Rio saat ia meletakkan sendok makannya ke piring. Ia segera sadar kalau dirinya sudah terlalu lama berada di dekat Rio. Gadis mulai mengemasi barang-barangnya dan
beralasan kalau dia harus segera pulang.
Luki menatap kepergian Gadis sambil geleng-geleng kepala.
Luki : “Lo ini selalu jadi perusak suasana.”
Rio : “Salah gue? Gue gak minta dia jatuh cinta sama gue.”
Luki : “Salah lagi gue dech. Masa lo gak bisa jatuh cinta sama Gadis?”
Rio : “Jangan mulai nglunjak lo.”
Luki terdiam, Rio berjalan meninggakan kantin dengan kesal.
*****
Tak terasa waktu berlalu dengan cepat, hari pertama magang Rio dan Gadis akhirnya tiba juga. Gadis sudah datang sejak jam 7.30 pagi dan sedang duduk di lobby kantor Alex. Ia berharap dirinya akan ditempatkan di
department yang berbeda dengan Rio. Staf HRD memanggil Gadis dan membawanya ke lantai kantor Alex.
Gadis : “Saya jadi sekretaris? Gak salah ya, pak?”
Staf HRD : “Kamu keberatan?”
Gadis : “Nggak. Cuma itu, saya belum punya pengalaman, nanti takut salah. Tugas saya ngapain ya, pak?”
Staf HRD menunjukkan surat yang menggunung di meja yang akan dipakai Gadis.
Staf HRD : “Kamu lihat tumpukan surat ini. Coba buka 1.”
Gadis meletakkan tasnya diatas meja dan membuka surat paling bawah. Itu surat penawaran mesin fotocopy. Staf HRD memberi tahu Gadis kalau selama 1 minggu pertama ini, dia ditugaskan untuk membalas setiap
surat yang datang melalui e-mail.
Semua contoh kata-kata sudah ada di e-mail yang tersetting di laptop diatas meja itu. Kalau dia tidak menemukan alamat e-mail pada surat itu, Gadis harus menelpon ke si pengirim surat untuk meminta
e-mailnya.
Staf HRD : “Selain Pak Alex, di ruang depan itu ada Pak Romi, dia asisten Pak Alex. Tugas kamu juga membantu dia kalau dia perlu bantuan atau kalau kamu gak ada kerjaan.”
Gadis : “Oh, baik pak. Saya mengerti.”
__ADS_1
Staf HRD : “Bagus. Toilet di sebelah sana di samping ruang meeting. Makan siang jam 12 sampai jam 1 siang. Pulang kerja jam 5. Ingat untuk selalu absen di resepsionis dan juga memberitahu kalau kamu mau ijin. Masih
simpan nomor WA, saya kan?”
Gadis : “Iya, masih pak.”
Staf HRD : “Silakan mulai bekerja.”
Gadis membungkuk sedikit sebelum duduk di meja kerjanya. Ia merenggangkan tangannya dan mulai membuka satu persatu surat yang menumpuk dan membalasnya melalui e-mail. Gadis mempelajari detail setiap e-mail dengan baik. Dan contoh surat seperti apa yang harus dibalas dengan kata-kata apa.
Saking seriusnya bekerja, Gadis tidak menyadari dirinya sudah diliatin sejak tadi.
Alex : “Ehem.”
Gadis : “Selamat siang, pak Alex. Saya Gadis, anak magang. Ada yang bisa saya bantu?”
Alex : “Darimana kamu tahu saya Alex?”
Gadis : “Tadi ada staf HRD yang menjelaskan kalau di lantai ini hanya ada Pak Alex dan Pak Romi. Saya menebak waktu melihat pakaian bapak.”
Alex menunduk melihat pakaiannya yang sudah tidak rapi lagi. Dirinya meeting sejak pagi dan sedikit stress hingga mengacak-acak penampilannya.
Alex : “Memangnya aku terlihat seperti direktur?”
Gadis : “Pakaian bapak berantakan, tapi sejak saya datang ke kantor ini, saya lihat semua karyawan berpakaian sangat rapi. Saya menebak kalau bapak adalah pak Alex.”
Alex : “Bagus, perhatian pada detail. Kamu anak magang yang satu kampus sama Rio?”
Gadis : “Iya, pak Alex.”
Alex : “Orangnya sebentar lagi kesini. Kamu sini, masuk ke ruanganku.”
Gadis mengikuti Alex masuk ke ruangannya. Alex meminta Gadis mengambil semua berkas yang menumpuk di sisi kiri mejanya. Dan membawa dokumen itu ke ruang kerja Romi. Gadis menuruti perintah Alex. Ia
bolak-balik antara ruang kerja Alex dengan ruangan Romi sampai peluh menetes di keningnya.
Saat Gadis ingin mengambil berkas yang terakhir, seseorang menghentikannya. Gadis melihat Rio berjalan mendekatinya bersama seorang pria lainnya.
Romi : “Kamu Gadis? Anak magang yang jadi sekretaris Alex?”
Gadis : “Iya, pak Romi.”
Romi : “Kamu kenal saya?”
*****
Klik profil author ya, ada novel karya author yang lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).
__ADS_1