Duren Manis

Duren Manis
Jurusan apa


__ADS_3

Mia menggeliat bangun dari tempat tidur Rara, ia melihat sekeliling


kamar yang sepi dan jam dinding menunjukkan sudah jam 8 malam. Kruyuk! Perut


Mia berbunyi, minta diisi. Sebelum turun, Mia mencuci wajahnya dan menyisir


rambut.


Di lantai bawah suasana rumah terlihat sepi,


Mia : “Ra? Rara? Nenek?”


Alex : “Kamu uda bangun. Sini makan dulu.”


Mia melihat Alex duduk di meja makan, membaca koran. Diatas meja


terhidang makan malam, tapi kemana semua orang? Mia duduk di depan Alex.


Mia : “Om, Rara kemana ya?”


Alex : “Kamu ini benar-benar menguji kesabaranku ya.”


Mia : “Saya salah apa, om?”


Mia bingung dengan kata-kata Alex, harum makanan di atas meja makan,


mengundang liurnya hampir menetes.


Mia : “Om, saya boleh makan?”


Alex : “Makanlah.”


Mia makan di bawah tatapan Alex, ia merasa sedikit tidak nyaman dan


hanya makan sedikit. Selesai makan, Mia mencuci piring kotor di dapur.


Ia memutuskan kembali ke kamar untuk mengambil HP-nya karena sepertinya


Alex tidak akan menjawab dimana keberadaan Rara. Tapi ia tidak bisa


melakukannya, Alex sudah menarik Rara masuk ke kamarnya.


Bruk! Tubuh Mia terhempas ke atas tempat tidur, Alex bergerak menindih


Mia yang mencoba bangun.


Mia : “Om, lepas! Saya mau telpon Rara. Mmmphhh…”


Alex melumat bibir Mia, memaksanya membuka mulut, menjelajahi bagian


dalam mulut Mia. Tangan Alex mulai berani meremas ******** Mia yang masih


tertutup kaos dan bra, sementara tangan satunya menahan kedua tangan Mia diatas


kepalanya.


Mia berusaha menahan hasratnya yang mulai menggelora, akal sehatnya


masih menguasai dirinya menghadapi kelakuan Alex. Mia menggelengkan kepalanya,


berusaha melepaskan ciuman Alex.


Mia : “Om… jangan… sakit…”


Tangan Alex sudah masuk ke dalam kaos Mia\, menarik bra yang menutupi ********nya.


Sret! Kaos Mia ditarik ke atas menutupi wajah Mia dan hanya memperlihatkan


bibirnya yang basah.


Mia : “Jangan, om…”


Mia benar-benar takut sekarang, pikirannya hanya tertuju pada Rara. Tubuh


Mia menegang, sentuhan yang diberikan Alex tidak membuatnya merasa nyaman. Mia


memang sangat mencintai Alex, tapi hatinya juga memikirkan perasaan Rara.


Alex menghentikan kegiatannya menjelajahi tubuh Mia, ia mendengar isak


tangis tertahan dari Mia. Alex membelalakkan matanya melihat penampilan Mia


yang kacau akibat ulahnya. Dengan cepat Alex menurunkan kaos Mia dan menariknya


bangun. Dipeluknya tubuh Mia yang gemetar.


Alex : “Maaf, Mia. Aku minta maaf. Tolong jangan menangis lagi.”


Mia : “Hiks… Rara mana… hiks… om?”


Alex : “Semuanya lagi pergi ke toko buku, Rara mau beli perlengkapan


untuk kalian daftar ujian besok. Si kembar juga mau beli peralatan sekolah.”


Mia : “Om, kita keluar saja ya. Saya tidak nyaman disini.”


Alex menuntun Mia keluar kamarnya, mereka duduk di sofa ruang


keluarga, Alex mengelus rambut Mia sementara Mia bersandar di pundaknya. Mereka


larut dalam pikiran masing-masing.


-------


Brrmm… Suara mobil memasuki garasi rumah Rara. Alex dan Mia mendengar


itu, Alex berjalan ke pintu depan dan membukakan pintu. Mia merapikan


penampilannya di kamar mandi lantai bawah dan kembali ke ruang keluarga seolah


tidak terjadi apa-apa.


Rara : “Kak Mia udah bangun. Ini Rara cariin perlengkapan untuk kita


besok.”

__ADS_1


Mia : “Kok kamu gak bangunin aku sich? Kita kan bisa pergi sama-sama.”


Rara : “Rara kasian liat kak Mia tidur pules banget. Capek ya, kak?


Kakak udah makan?”


Mia : “Uda tadi. Ayo kita ke kamarmu.”


Rara dan Mia berjalan naik ke lantai 2, Alex meremas tangannya dengan


gemas. Ia merutuki kebodohannya yang tidak bisa menahan diri.


Di dalam kamar Rara,


Rara : “Besok kita ke rumah kakak dulu, baru ke kampus ya.”


Mia : “Iya, Ra. Apalagi yang kurang?”


Rara : “Sepertinya kita harus mampir ke sekolah untuk legalisir lagi.”


Mia : “Ok. Sekarang kita tidur aja ya.”


Rara dan Mia berbaring di atas ranjang, Rara langsung terlelap karena


capek, sementara Mia masih memikirkan perlakuan Alex tadi. Air matanya menetes


lagi, kenapa jatuh cinta bisa sesakit ini?


-------


Keesokan harinya, pagi-pagi Rara dan Mia sudah pergi ke rumah Mia.


Mereka sarapan sebentar dan berpamitan pada nenek. Alex yang sudah siap ke


kantor, memilih mengantar mereka dulu. Dalam perjalanan, Alex lebih banyak


diam. Ia hanya sesekali menjawab pertanyaan Rara.


Sampai di depan rumah Mia, Alex langsung pamit dan memutar mobilnya


menuju kantor. Mia hanya menatap kepergian Alex tanpa kata.


Mia mengajak Rara masuk ke dalam rumah, mamanya sudah pergi sejak tadi


dan hanya ada ART di rumah itu. Mereka berjalan masuk ke kamar Mia,


Rara : “Wah, kamar kakak bagus banget.” Rara menatap berkeliling kamar


yang terkesan sejuk karena sebagian besar terbuat dari kayu.


Mia mengeluarkan dokumen pentingnya untuk pendaftaran ujian masuk


kampus dan menaruhnya di meja kecil di dekat jendela. Hembusan angin dari


jendela terasa sangat segar dipagi itu. Rara menunjukkan dokumen yang mereka


perlukan dan menyiapkan dokumen yang harus dilegalisir lagi.


Setelah selesai menyiapkan semuanya, mereka berjalan kaki ke sekolah


sepi karena liburan panjang.


-------


Mia dan Rara berjalan memasuki kampus pilihan mereka, beberapa orang


sudah berada disana, mengantri untuk pendaftaran. Mereka ikut berdiri mengantri


setelah menanyakan kepada security yang berjaga.


Mia : “Ra, kalau capek, gentian duduk ya.”


Rara : “Iya, kak. Kakak sudah pilih jurusan yang kakak mau kan?”


Mia : “Iya, kakak harus pilih Ekonomi Bisnis dan Management. Rara jadi


ambil yang sama?”


Rara : “Kayaknya gak jadi, kak. Rara ambil Akuntansi aja. Kayaknya


Rara gak bakat jadi manager.”


Mia : “Oh gitu ya. Yang penting kita masuk ke kampus yang sama.”


Rara : “Iya, kak.”


Mereka melanjutkan mengantri dan berhasil mendaftar ujian masuk tahap


pertama yang akan dilaksanakan 2 minggu lagi.


Setelah memastikan keperluan ujian dan waktunya,


Rara dan Mia berjalan ke gerbang kampus. Mereka ingin makan siang di warung


makan dekat sana. Saat itu mobil Alex berhenti di samping mereka.


Rara : “Papa! Kok bisa kesini?”


Alex : “Papa baru selesai meeting di restauran


sana, kalian sudah selesai daftar?”


Rara : “Iya, pah.”


Alex : “Sekarang mau kemana? Papa mau makan,


kalian mau ikut?”


Rara : “Ayo, pah. Kak Mia, ayo kita makan dulu.


Kakak duduk di depan ya, aku di belakang.”


Mia sedikit ragu untuk ikut, tapi ia tidak bisa


menolak Rara. Mia masuk ke dalam mobil, duduk di sebelah Alex.

__ADS_1


Rara : “Kita makan dimana, pah?”


Alex : “Sepertinya di depan sana ada restauran


yang enak. Kita makan disana aja.”


Rara : “Kak Mia, HP-ku di kakak ya.”


Mia : “Iya, ini.”


Rara : “Waduh, Rara lupa kalau nenek nitip


diambilkan jahitan. Pah, stop depan ruko biru itu. Untung belum lewat.”


Alex : “Mau apa kesini?”


Rara : “Nenek minta tolong tadi pagi sekalian


ambil jahitan, mumpung deket kampus. Pah, minta duit dong, buat bayar.”


Alex mengambil dompetnya di dalam dashboard, membuat


Mia sedikit menggeser kakinya.


Alex : “Nich, bawa aja dompet papa. Ada kartu


juga, Rara tahu kan PIN-nya?”


Rara : “Ok, pah. Kak Mia tunggu aja disini. Rara


gak lama kok.”


Mia sudah hampir melepas sabuk pengaman yang ia


pakai, tapi Rara membuatnya duduk kembali. Situasi di dalam mobil semakin


canggung saat Mia berdua saja dengan Alex, apalagi Alex hanya diam saja.


Akhirnya Mia memutuskan ingin keluar saja dari


mobil, AC mobil yang sangat dingin tidak bisa membuat Mia berhenti berkeringat.


Mia benar-benar merasa kepanasan berduaan saja dengan Alex. Baru saja sabuk


pengamannya meluncur melewati tangan kirinya, lengan Alex sudah melingkar di


leher Mia, memegang tengkuk Mia dan dengan cepat mencium Mia.


Mia : “Mmmhhpppp... mmmhhppp...”


Lidah Alex menerobos ke dalam mulut Mia,


mengabsen deretan giginya yang putih. Alex benar-benar menaklukkan Mia dengan


ciuman yang panas dan cepat. Wajah Mia memerah setelah Alex melepaskan


ciumannya. Duduk kembali di belakang setir, seolah tidak ada yang terjadi.


Jantungnya berdebar kencang, meresapi rasa manis yang masih ia rasakan setelah


mencium Mia lagi.


Rara masuk ke dalam mobil membawa sebuah tas


besar, ia menutup pintu kembali dan memberikan dompet pada papanya.


Rara : “Rara gesek pake kartu ya, pah. Struknya


ada di dalam dompet. Ayo kita makan.”


Alex menjalankan mobilnya menuju restauran yang


ia pilih tadi. Mereka memilih tempat duduk di pojok restauran yang adem. Setelah


memesan makanan, Rara kembali berkicau. Ia bercerita tentang jurusan yang


mereka ambil.


Rara : “Kita beda jurusan, pah. Tapi tetap di


satu fakultas kok. Eh, kak soal ujiannya sama kan ya?”


Mia : “Iya, Ra. Kamu kan uda belajar, masi gugup


juga.”


Rara : “Rara takut gak lulus, kak. Nanti gimana


kuliah Rara.”


Mia : “Pasti bisa lulus, ujian akhir sekolah,


Rara lulus kan? Ayo, berjuang sedikit lagi, ya.”


Rara memeluk Mia erat, ia sangat menyayangi Mia


yang selalu bisa membuat hatinya tenang. Dibelakang Rara, Alex meraih tangan


Mia dan menggenggamnya. Mata mereka berbicara tentang perasaan cinta mereka


yang dalam tapi tidak bisa saling terucap.


-------


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini,


jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan


IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan sarannya ya para reader.


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


--------

__ADS_1


__ADS_2