
DM2 – Kecurigaan
“Sepertinya dia mengalami trauma yang
sangat dalam atau disebut juga depresi. Saya tidak yakin, tapi gejalanya memang
seperti itu.”kata dokter sedikit ragu.
“Ada sesuatu yang membuatnya sangat shock.
Kalau boleh saya tahu apa yang terjadi? Apa sudah lama Rio seperti ini?”tanya
dokter lagi.
“Kemarin malam masih biasa sama kita,
dokter. Pagi ini waktu bangun, sudah seperti ini.”jelas singkat Alex. “Dia
seperti orang melamun tapi tidak merespon saat kami ajak bicara. Bahkan... tadi
dia sempat buang air di celana, dok.”
Dokter tampak berpikir sejenak, “Siapa yang
pertama menemukan dia seperti ini?”
“Kinanti, dokter.”jawab Alex.
“Bisa tolong panggilkan, saya mau bicara.”kata
dokter lagi.
“Dokter saja yang ke kamar sebelah ya. Dia
gak mau kesini, dari tadi sudah saya bujuk.”kata Mia.
Mia, Alex dan dokter beranjak ke kamar
sebelah. Sedangkan Gadis duduk di samping Rio, ia menatap sedih kondisi
suaminya. “Rio, kamu kenapa sich? Semalem kita masih bicara. Apa yang terjadi
sama kamu?”
Gadis mengusap tangan Rio, ia mencium
tangan itu dengan air mata mengalir di pipinya. Dokter kembali lagi setelah
bicara dengan Kinanti. “Sebaiknya Rio dibawa ke psikiater. Saya akan
rekomendasikan dokter yang bagus. Dia juga bisa kesini.”
“Terima kasih, dokter.”kata Alex.
Alex mengantar dokter turun, Mia bergabung
dengan Gadis, duduk di samping Rio.
“Apa kata dokter, mah? Kinanti bilang apa?”tanya
Gadis.
“Kinanti juga gak tau Rio kenapa. Tadi dia
baru bangun tidur, mau lihat apa Rio sudah bangun atau belum. Tapi yang dia lihat
kondisi Rio sudah seperti ini.”
“Mah, apa benar Rio depresi? Tapi semalem
semuanya baik-baik aja, kan?”
“Dokter bilang mungkin Rio memendam masalahnya
selama ini. Ia tidak bisa menyalurkan emosinya, mengeluarkan unek-unek yang ia
pendam sampai akhirnya meledak di dalam dirinya.” Mia mengelus kepala Rio.
“Gadis, kamu harus tegar ya. Mama lihat Kinanti sangat terpukul mendengar
penjelasan dokter. Kamu jaga Rio. Mama yang akan urus Kinanti. Untung saja
kandungannya cukup kuat. Kamu sabar ya.”
Gadis hanya bisa mengangguk pasrah,“Iya,
mah.”
__ADS_1
Keduanya menatap Rio yang tetap duduk diam
seperti boneka hidup. “Mah, gimana pernikahan mereka?”
Mia menggeleng, “Dengan kondisi Rio seperti
ini, kita hanya bisa menunggu dia sadar lagi. Mereka belum bisa menikah,
Kinanti sudah tahu, tadi dia sempat menanyakannya juga.”
“Gimana reaksinya, mah? Apa dia marah?”
“Sepertinya iya, dia terlihat kecewa. Kami
semua diminta keluar dari kamar tadi. Nanti mama yang bujuk dia.”
Gadis memikirkan anak dalam kandungan
Kinanti, sampai kapan Rio akan seperti ini.
Hari-hari berikutnya, Kinanti belum juga bisa
menerima keadaan Rio. Sesekali ia mengintip ke dalam kamar Rio, untuk melihat
keadaan Rio yang masih saja seperti itu. Gadis meminta Kinanti membantu
menyuapi Rio makan bersamanya, tapi ia tidak mau. Atau mengajak mengobrol seperti Gadis
mengobrol dengan Rio.
Walau tetap tidak ada respon dari Rio. Ia
seperti boneka kayu besar yang tidak punya pikiran. Saat Rio buang air di
pampers yang dipakaikan Gadis, Kinanti akan langsung menjauh. Ia tidak tahan
mencium bau tidak sedap, pasti muntah-muntah. Gadis tetap sabar membersihkan
Rio kembali.
Dokter psikiater yang dipanggil Alex
mengatakan mereka harus tenang menghadapi kasus seperti Rio. Sama seperti
komputer kalau terlalu banyak kena virus, sistemnya akan reboot dengan
itu, terlalu banyak pikiran, stress, tidak bisa melampiaskan emosinya, semuanya
menumpuk dan akhirnya otak menutup semua akses terhadap dunia luar.
Rio masih bisa disembuhkan tapi memerlukan
waktu. Beberapa metode akan digunakan oleh dokter psikiater untuk membantu
kesembuhan Rio kembali. Diantaranya terus mengajak Rio berinteraksi sampai
mereka menemukan ketertarikan Rio.
“Pasti ada yang akan menarik perhatiannya.
Kita hanya perlu bersabar mendampingi dia di saat seperti ini.”ujar psikiater.
Saat psikiater itu mengajari Gadis dan Mia
bagaimana cara memijat untuk melancarkan peredaran darah Rio, Kinanti malah
asyik bermain ponsel di kamar Riri. Ia membalas chat dari Endy yang mengeluh
merindukan Kinanti.
Belum juga selesai psikiater berkunjung,
Kinanti mengatakan pada Mia kalau ia bosan dan ingin pergi ke mall. Mia ingin
Kinanti tetap di rumah dan istirahat, tapi Kinanti mengatakan dia akan stres
juga kalau terus diam di rumah. Akhirnya Mia mengijinkan Kinanti pergi.
“Lihat dia. Kita sedang sibuk mengusahakan
Rio sembuh, malah enak-enakan pergi ke mall.”kesal Mia. Ia masih memperhatikan
bagian tubuh Rio yang sedang dipijat Gadis.
“Biarin aja, mah. Kita fokus sama Rio aja.
Kinanti akan baik-baik saja.”
__ADS_1
Mia mengusap rambut Gadis yang langsung
menoleh padanya, “Anak baik, mama selalu mendoakan kamu akan selalu bahagia
bersama Rio dan anak-anak kalian nanti.”
“Mah...” Gadis terharu mendengar kata-kata
Mia.
Mia mengangguk, “Mama yakin, suatu saat kau
bisa hamil lagi. Harapan itu belum hilang, Gadis.”
Gadis memeluk Mia dengan erat, mereka tidak
bisa berlama-lama terlarut dalam perasaan. Psikiater sudah beralih memijat
bagian selanjutnya.
Riri dan Rara yang mendengar kabar tentang
kondisi Rio, langsung pulang ke rumah Alex saat Kinanti sudah pergi ke mall
sendirian. Ia bersikeras pergi sendiri karena merasa kondisinya baik-baik saja.
Pintu kamar Rio terbuka, Gadis dan Mia menoleh melihat kedua wanita itu masuk.
“Rio!”panggil Riri menahan tangisannya.
Beberapa hari ini Riri merasa sangat tidak
nyaman dan mencoba menghubungi Rio tapi tidak pernah aktif. Ia juga menghubungi
Mia, tapi Mia tidak mengatakan apa-apa. Akhirnya ia mengejar Alex, terus
bertanya ada masalah apa yang terjadi di rumah. Alex dan Mia sepakat
merahasiakan kondisi Rio untuk sementara sambil melihat perkembangan terapinya,
tapi lama-lama Alex stress juga menerima teror dari Riri dan memilih mengatakan
semuanya.
“Rio? Ini kakak.”panggil Rara.
Rio masih terbaring menatap kosong
langit-langit kamarnya. Psikiater yang sudah menyelesaikan pekerjaannya hari
itu memilih berpamitan membiarkan interaksi antar saudara itu. Mia mengantar
psikiater itu keluar rumah.
“Gadis, kenapa gak cerita kondisi Rio
sampai seperti ini? Apa benar yang dikatakan papa? Rio menghamili wanita lain?”tanya
Riri bertubi-tubi.
“Menghamili? Tapi..?”Rara hampir mengamuk
pada Rio, tapi urung melihat kondisi adiknya itu.
Gadis terpaksa menceritakan apa yang
terjadi di malam Kinanti datang. Ia memperlihatkan semua foto dan juga video
yang diberikan Kinanti sebagai bukti dirinya memang sedang hamil anak Rio.
“J***** itu! Siapa yang tahu kalau memang
itu anak Rio?”tanya Rara meragukan anak dalam kandungan Kinanti. “Dan kamu
kenapa main terima begitu aja? Bagaimana kalau ini cuma siasat licik?” lanjut
Rara.
“Iya, Gadis. Mas Elo sama sekali tidak bisa
menemukan rekaman CCTV waktu Rio dibawa masuk ke kamar hotel, tapi kenapa dia
bisa punya? Jelas sekali ini seperti sudah direncanakan.”jelas Riri.
*****
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
__ADS_1
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.