Duren Manis

Duren Manis
DM2 – Kecurigaan


__ADS_3

DM2 – Kecurigaan


“Sepertinya dia mengalami trauma yang


sangat dalam atau disebut juga depresi. Saya tidak yakin, tapi gejalanya memang


seperti itu.”kata dokter sedikit ragu.


“Ada sesuatu yang membuatnya sangat shock.


Kalau boleh saya tahu apa yang terjadi? Apa sudah lama Rio seperti ini?”tanya


dokter lagi.


“Kemarin malam masih biasa sama kita,


dokter. Pagi ini waktu bangun, sudah seperti ini.”jelas singkat Alex. “Dia


seperti orang melamun tapi tidak merespon saat kami ajak bicara. Bahkan... tadi


dia sempat buang air di celana, dok.”


Dokter tampak berpikir sejenak, “Siapa yang


pertama menemukan dia seperti ini?”


“Kinanti, dokter.”jawab Alex.


“Bisa tolong panggilkan, saya mau bicara.”kata


dokter lagi.


“Dokter saja yang ke kamar sebelah ya. Dia


gak mau kesini, dari tadi sudah saya bujuk.”kata Mia.


Mia, Alex dan dokter beranjak ke kamar


sebelah. Sedangkan Gadis duduk di samping Rio, ia menatap sedih kondisi


suaminya. “Rio, kamu kenapa sich? Semalem kita masih bicara. Apa yang terjadi


sama kamu?”


Gadis mengusap tangan Rio, ia mencium


tangan itu dengan air mata mengalir di pipinya. Dokter kembali lagi setelah


bicara dengan Kinanti. “Sebaiknya Rio dibawa ke psikiater. Saya akan


rekomendasikan dokter yang bagus. Dia juga bisa kesini.”


“Terima kasih, dokter.”kata Alex.


Alex mengantar dokter turun, Mia bergabung


dengan Gadis, duduk di samping Rio.


“Apa kata dokter, mah? Kinanti bilang apa?”tanya


Gadis.


“Kinanti juga gak tau Rio kenapa. Tadi dia


baru bangun tidur, mau lihat apa Rio sudah bangun atau belum. Tapi yang dia lihat


kondisi Rio sudah seperti ini.”


“Mah, apa benar Rio depresi? Tapi semalem


semuanya baik-baik aja, kan?”


“Dokter bilang mungkin Rio memendam masalahnya


selama ini. Ia tidak bisa menyalurkan emosinya, mengeluarkan unek-unek yang ia


pendam sampai akhirnya meledak di dalam dirinya.” Mia mengelus kepala Rio.


“Gadis, kamu harus tegar ya. Mama lihat Kinanti sangat terpukul mendengar


penjelasan dokter. Kamu jaga Rio. Mama yang akan urus Kinanti. Untung saja


kandungannya cukup kuat. Kamu sabar ya.”


Gadis hanya bisa mengangguk pasrah,“Iya,


mah.”

__ADS_1


Keduanya menatap Rio yang tetap duduk diam


seperti boneka hidup. “Mah, gimana pernikahan mereka?”


Mia menggeleng, “Dengan kondisi Rio seperti


ini, kita hanya bisa menunggu dia sadar lagi. Mereka belum bisa menikah,


Kinanti sudah tahu, tadi dia sempat menanyakannya juga.”


“Gimana reaksinya, mah? Apa dia marah?”


“Sepertinya iya, dia terlihat kecewa. Kami


semua diminta keluar dari kamar tadi. Nanti mama yang bujuk dia.”


Gadis memikirkan anak dalam kandungan


Kinanti, sampai kapan Rio akan seperti ini.


Hari-hari berikutnya, Kinanti belum juga bisa


menerima keadaan Rio. Sesekali ia mengintip ke dalam kamar Rio, untuk melihat


keadaan Rio yang masih saja seperti itu. Gadis meminta Kinanti membantu


menyuapi Rio makan bersamanya, tapi ia tidak mau.  Atau mengajak mengobrol seperti Gadis


mengobrol dengan Rio.


Walau tetap tidak ada respon dari Rio. Ia


seperti boneka kayu besar yang tidak punya pikiran. Saat Rio buang air di


pampers yang dipakaikan Gadis, Kinanti akan langsung menjauh. Ia tidak tahan


mencium bau tidak sedap, pasti muntah-muntah. Gadis tetap sabar membersihkan


Rio kembali.


Dokter psikiater yang dipanggil Alex


mengatakan mereka harus tenang menghadapi kasus seperti Rio. Sama seperti


komputer kalau terlalu banyak kena virus, sistemnya akan reboot dengan


itu, terlalu banyak pikiran, stress, tidak bisa melampiaskan emosinya, semuanya


menumpuk dan akhirnya otak menutup semua akses terhadap dunia luar.


Rio masih bisa disembuhkan tapi memerlukan


waktu. Beberapa metode akan digunakan oleh dokter psikiater untuk membantu


kesembuhan Rio kembali. Diantaranya terus mengajak Rio berinteraksi sampai


mereka menemukan ketertarikan Rio.


“Pasti ada yang akan menarik perhatiannya.


Kita hanya perlu bersabar mendampingi dia di saat seperti ini.”ujar psikiater.


Saat psikiater itu mengajari Gadis dan Mia


bagaimana cara memijat untuk melancarkan peredaran darah Rio, Kinanti malah


asyik bermain ponsel di kamar Riri. Ia membalas chat dari Endy yang mengeluh


merindukan Kinanti.


Belum juga selesai psikiater berkunjung,


Kinanti mengatakan pada Mia kalau ia bosan dan ingin pergi ke mall. Mia ingin


Kinanti tetap di rumah dan istirahat, tapi Kinanti mengatakan dia akan stres


juga kalau terus diam di rumah. Akhirnya Mia mengijinkan Kinanti pergi.


“Lihat dia. Kita sedang sibuk mengusahakan


Rio sembuh, malah enak-enakan pergi ke mall.”kesal Mia. Ia masih memperhatikan


bagian tubuh Rio yang sedang dipijat Gadis.


“Biarin aja, mah. Kita fokus sama Rio aja.


Kinanti akan baik-baik saja.”

__ADS_1


Mia mengusap rambut Gadis yang langsung


menoleh padanya, “Anak baik, mama selalu mendoakan kamu akan selalu bahagia


bersama Rio dan anak-anak kalian nanti.”


“Mah...” Gadis terharu mendengar kata-kata


Mia.


Mia mengangguk, “Mama yakin, suatu saat kau


bisa hamil lagi. Harapan itu belum hilang, Gadis.”


Gadis memeluk Mia dengan erat, mereka tidak


bisa berlama-lama terlarut dalam perasaan. Psikiater sudah beralih memijat


bagian selanjutnya.


Riri dan Rara yang mendengar kabar tentang


kondisi Rio, langsung pulang ke rumah Alex saat Kinanti sudah pergi ke mall


sendirian. Ia bersikeras pergi sendiri karena merasa kondisinya baik-baik saja.


Pintu kamar Rio terbuka, Gadis dan Mia menoleh melihat kedua wanita itu masuk.


“Rio!”panggil Riri menahan tangisannya.


Beberapa hari ini Riri merasa sangat tidak


nyaman dan mencoba menghubungi Rio tapi tidak pernah aktif. Ia juga menghubungi


Mia, tapi Mia tidak mengatakan apa-apa. Akhirnya ia mengejar Alex, terus


bertanya ada masalah apa yang terjadi di rumah. Alex dan Mia sepakat


merahasiakan kondisi Rio untuk sementara sambil melihat perkembangan terapinya,


tapi lama-lama Alex stress juga menerima teror dari Riri dan memilih mengatakan


semuanya.


“Rio? Ini kakak.”panggil Rara.


Rio masih terbaring menatap kosong


langit-langit kamarnya. Psikiater yang sudah menyelesaikan pekerjaannya hari


itu memilih berpamitan membiarkan interaksi antar saudara itu. Mia mengantar


psikiater itu keluar rumah.


“Gadis, kenapa gak cerita kondisi Rio


sampai seperti ini? Apa benar yang dikatakan papa? Rio menghamili wanita lain?”tanya


Riri bertubi-tubi.


“Menghamili? Tapi..?”Rara hampir mengamuk


pada Rio, tapi urung melihat kondisi adiknya itu.


Gadis terpaksa menceritakan apa yang


terjadi di malam Kinanti datang. Ia memperlihatkan semua foto dan juga video


yang diberikan Kinanti sebagai bukti dirinya memang sedang hamil anak Rio.


“J***** itu! Siapa yang tahu kalau memang


itu anak Rio?”tanya Rara meragukan anak dalam kandungan Kinanti. “Dan kamu


kenapa main terima begitu aja? Bagaimana kalau ini cuma siasat licik?” lanjut


Rara.


“Iya, Gadis. Mas Elo sama sekali tidak bisa


menemukan rekaman CCTV waktu Rio dibawa masuk ke kamar hotel, tapi kenapa dia


bisa punya? Jelas sekali ini seperti sudah direncanakan.”jelas Riri.


*****


Klik profil author ya, ada novel karya author yang

__ADS_1


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.


__ADS_2