
Extra part 4
Beberapa bulan kemudian, Gadis melahirkan bayi kembar perempuan. Mereka memberi nama kedua bayi itu Riana dan Riani. Merasa sudah cukup memberi anak untuk Rio, Gadis memutuskan untuk melakukan operasi steril agar ia bisa tenang. Saat Gadis memberitahukan niatnya pada Rio, suaminya itu merasa keberatan.
“Aku rasa sebaiknya kamu jangan steril dech. Kan ada cara lain, KB misalnya.”kata Rio sambil mencolek rujak di depan Gadis.
Gadis melirik kelima anaknya yang saat itu sedang duduk di ruang keluarga plus Kaori. Renata juga ada disana, menemani Kaori membaca buku. Si kembar Reymond dan Reyna sedang asyik menggambar, Roy
kecil selalu suka bermain membangun rumah dengan potongan balok kayu, sedang si kembar Riana dan Riani yang baru berumur satu bulan, tertidur pulas di boks bayi mereka.
"Tapi kenapa, Rio? Aku lelah hamil terus. Anak kita sudah banyak. Jangan bilang kau berencana membuat klub sepak bola?"tanya Gadis ngeri sendiri.
"Bukan gitu maksudku, aku takut kalo kamu steril... ntar kamu nggak mau 'gitu' lagi,"bisik Rio menaik turunkan alisnya.
Gadis celingukan melihat ke kanan dan ke kiri. Gadis takut ada yang mendengar pembicaraan mereka termasuk anak-anaknya yang sedang asyik sendiri.
"Gitu apa? Oh, maksudmu 'itu', justru kalo aku steril, kamu nggak perlu repot pake pengaman,"bisik Gadis.
Rio langsung sumringah dan hampir menyetujui permintaan Gadis, tapi ia belum tau tentang
efek samping dari steril.
"Kita ke dokter dulu dech, konsultasi. Lagian kita masih muda gini, ntar kalo pengen punya anak lagi kan bisa,"bisik Rio.
Gadis memutar bola matanya malas, anak sudah lima plus Kaori tapi Rio masih saja ingin nambah
anak lagi. Rumah Alex hanya rame karena kebanyakan cucu dari Rio.
“Kamu mau nambah anak lagi?”tanya Gadis juga memakan rujak mangga muda.
“Nggak gitu sich, segini aja udah kayak pasar. Kalo nambah lagi ntar jadi mall. Kalau steril nggak ada efek sampingnya nich?”tanya Rio yang belum paham.
“Nggak sich, malah lebih aman. Nggak was-was kalo nggak pake pengaman.”bisik Gadis.
__ADS_1
Wajah Rio merona bahagia lagi, “Berarti jatahku bisa double dong setiap hari.”tawar Rio menaikturunkan alisnya.
Gadis mengangguk sambil tersenyum genit pada Rio. Keduanya asyik berbisik-bisik, menempel sangat mesra. Roy yang melihat kedua orang tuanya deket-deketan, berpindah duduk diantara mereka. Pria kecil itu ganti mengambil pensil dan juga buku gambar.
Ria menatap Roy yang cuek saja menganggu keasyikan papa dan mamanya. “Roy, pindah ke bawah sana. Papa mau ngobrol sama mama.”pinta Rio.
Roy mengabaikan Rio, ia tetap asyik menggambar sesuatu seperti benang kusut. Gadis tersenyum geli melihat wajah cemberut Rio yang belum puas mengobrol dengan Gadis.
Mia yang kebetulan lewat didekat mereka, sempat curiga melihat Rio dan Gadis bisik-bisik, Mia menghentikan langkahnya. Matanya menyipit menatap keduanya. Gadis dan Rio spontan menoleh ketika melihat bayangan Mia di dekat mereka.
"Eh, mama. Kenapa mah?"tanya Rio sok polos.
"Kalian ngapain bisik-bisik?"tanya Mia kepo.
"Kalo nggak bisik-bisik, ntar berisik, si kembar bangun, mah." Alasan Gadis kompak dengan Rio.
"Gitu. Tapi mama kok masih curiga ya? Anyway, kalian mau makan apa? Mama lagi males masak. Ntar order aja ya,"kata Mia sambil merenggangkan tubuhnya.
sempat meminta Roy turun dari sofa agar Mia bisa duduk diantara Gadis dan Rio. Tangan Rio bergerak memijat pundak Mia sementara Gadis memijat kaki mertuanya itu.
Mia menikmati pijatan di pundak dan kakinya. Sepertinya ia hanya perlu bersantai sejenak dan
tidak terlalu sibuk mengurus rumah.
*****
Beberapa hari kemudian, Gadis didorong keluar dari ruang operasi setelah operasi steril terhadap dirinya berlangsung. Rio yang mengantar Gadis, menemani istrinya itu sepanjang jalan menuju kamar rawat inapnya.
Lagi-lagi mereka berpapasan dengan Endy dan Kinanti yang akan masuk ke kamar rawat inap juga. Kali ini Rio tidak mengatakan apa-apa. Mereka hanya bertatapan sebentar sebelum masuk ke kamar masing-masing.
Saat itu Ken muncul dari dalam kamar yang akan dimasuki Kinanti.
“Mommy, dimana adik bayinya?”tanya Ken yang saat itu sudah berusia sepuluh tahun sangat mirip dengan Rio saat kecil. Kalau mereka berdiri berdekatan, orang akan mengira kalau mereka ayah dan anak.
__ADS_1
“Nanti adik bayinya datang ya. Ken masuk dulu.”kata Kinanti lembut.
Rio menatap lekat-lekat sosok Ken yang tampak seusia dengan Renata. Keningnya mengkerut, kalau itu anak Kinanti dan Endy, usianya sama dengan Renata. Tapi kenapa wajahnya mirip dirinya waktu kecil.
Gadis yang melihat Rio menatap intens ke arah Kinanti, mencubit pinggang suaminya itu. “Segitunya ngliatin, masih penasaran ya.”goda Gadis sedikit cemburu.
“Eh, aku nggak ngliatin dia. Anak itu mirip aku waktu kecil. Liat dech.”kata Rio, tapi Ken sudah dibawa masuk lagi ke dalam kamar.
Gadis yang tidak sempat melihat Ken, jadi penasaran dengan anak kecil yang dimaksud Rio. “Nggak ada anak kecil. Maksudmu, itu anak kamu?”tanya Gadis cemberut.
Rio langsung menatap wajah Gadis dan mengunggingkan senyum mesumnya. “Seingatku aku cuma bikin anak sama kamu. Apa mungkin itu anaknya papa?”tanya Rio asal ingin menggoda Gadis.
Gadis menatap sekitarnya yang sedikit ramai, ia meminta Rio jangan sembarangan bicara. Mereka berdua masuk ke dalam kamar. Tapi Rio masih ingin melanjutkan teorinya.
“Masa kamu nggak perhatiin kalo Renata mirip sama Kaori dan anak tadi itu mirip sama aku waktu kecil.”kata Rio ngeyel.
“Kalo Renata mirip Kaori, emang mirip sich. Tapi kalo anak tadi, aku gak liat. Masa iya anak itu ke tuker sama Renata?”saut Gadis asal.
Rio jadi berpikir tentang kata-kata Gadis barusan. Alex pernah cerita soal keluarga Endy yang kaya dan berkuasa karena punya anak perempuan buta. Dan Alex percaya kalau itu kenyataan karena sejak
mereka punya Kaori, bisnis Alex memang berkembang pesat.
“Nggak usah dipikirin kenapa sich. Aku kebelet nich mau ke pipis. Tapi sakit banget. Gendong....”pinta Gadis sambil senyum manis.
Rio tentu saja tidak melewatkan kesempatan bisa pegang-pegang Gadis. Keduanya bahkan menghabiskan waktu setengah jam di dalam kamar mandi, entah ngapain aja.
*****
Beberapa hari setelah Gadis pulang dari rumah sakit, Rio sedang berbelanja di mall. Gadis meminta dibelikan
perlengkapan khusus wanita. Sebagai suami yang sayang istri dan bertanggung jawab pada kenyamanan istrinya, Rio rela berbelanja pembalut sendiri. Sedang asyik memilih yang bersayap atau tidak, seorang anak kecil tidak sengaja menabrak Rio. Bruk! Anak itu langsung jatuh terduduk.
“Kamu nggak apa-apa? Kenapa lari?”tanya Rio cemas. Ia langsung membantu anak itu berdiri. Deg! Rio tertegun melihat siapa yang sudah menabraknya. Anak yang sama yang ia lihat bersama Endy dan Kinanti.
__ADS_1