Duren Manis

Duren Manis
Menikahi Aunty Renata – Reynold & Renata 23


__ADS_3

Kaori yang sudah selesai mengajak Andika berkeliling mansion Ken, meminta bocah kecil itu beristirahat di kamarnya. Kaori sengaja menyiapkan kamar di samping kamar utama agar Andika tidak terlalu jauh ketika ingin


mencari dirinya. Tetapi bocah kecil itu tidak ingin tidur siang. Dia ingin menonton kartun siang.


“Aku jarang boleh nonton TV sama papa, tante. Boleh nonton sebentar aja ya? Habis ini aku tidur siang,” bujuk Andika manis.


“Haduh, apa papamu nggak diabetes ya. Tiap hari liat kamu manis gini.” Kaori mencubit pelan kedua pipi Andika. “Ayo, kita nonton dulu. Tapi janji, habis ini tidur siang ya. Nanti tante kena marah sama papa Anthony.”


“Iya, aku janji, Tante,” sahut Andika ceria.


Mereka berdua lalu duduk bersama di sofa besar ruang tengah mansion Ken. Kaori menghidupkan TV besar lalu mencari saluran yang ingin di tonton Andika. Tak lama, terdengar alunan musik dengan suara wanita berbahasa Jepang ikut bernyanyi. Pertanda film kartun itu baru saja dimulai. Andika terlihat sangat antusias menatap layar TV. Tubuh mungilnya bergerak mengangguk-angguk mengikuti alunan musik.


Kaori tersenyum geli melihat bocah kecil itu terlihat kegirangan. Tanpa sadar Kaori mengelus perutnya sendiri, tiba-tiba saja Kaori menginginkan seorang bayi. Rumah besar ini akan sangat ramai dengan tangisan bayi dan Kaori


akan sangat sibuk mengurus bayinya. Dia tidak akan kesepian lagi selama Ken pergi bekerja.


“Tante, lihat ada foto papa!” pekik Andika tiba-tiba.


Kaori terpana menatap berita utama yang ditayangkan di TV ketika dirinya sedang menonton film kartun bersama Andika. Bocah kecil yang dititipkan padanya pagi tadi oleh Tuan Anthony sendiri, menatap tidak mengerti ke arah layar TV yang tiba-tiba berubah siaran. Andika menoleh menatap Kaori yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca.


“Tante Kaori, kenapa foto papa ada di TV?” tanya Andika.


Siaran berita utama saat ini menayangkan kecelakaan pesawat jet yang ditumpangi Anthony tadi pagi. Pesawat jet itu menghilang dari jalur radar sesaat sebelum akan mendarat di bandara negara A. Pencarian besar-besaran


segera dilakukan mengingat siapa pemilik pesawat jet itu. Kepingan pesawat itu ditemukan di pinggir pantai dalam kondisi terbakar. Seluruh penumpangnya termasuk Anthony tidak ada yang selamat.


Kaori menelan salivanya, tidak percaya dengan berita duka yang menimpa Andika. Bocah itu sudah kehilangan ibunya dan kini harus kehilangan ayahnya. Andika mengguncang lengan Kaori sambil menunjuk ke layar TV.


“Itu pesawat papa, tante. Kenapa pesawatnya terbakar?” tanya Andika polos.


Kaori kehilangan kata-katanya melihat mata jernih milik Andika yang terus menatapnya menanti jawaban. Belum sempat Kaori menenangkan dirinya, tiba-tiba beberapa orang berpakaian serba hitam menerobos masuk ke mansion Ken. Kaori refleks melindungi Andika di belakang tubuhnya. Ekspresi wajah kebingungan sekaligus kesedihan menghiasi wajah Kaori.


“Kalian siapa?! Kenapa bisa masuk?! Bodyguard! Bodyguard!” pekik Kaori yang takut kalau mereka semua orang jahat.

__ADS_1


“Paman Asterix!” pekik Andika ketika melihat salah seorang dari mereka berjalan mendekat.


Kaori mengerutkan keningnya melihat pria kekar memakai setelan jas hitam lengkap dengan mantel menutupi bahunya, berdiri di hadapannya. Kumis pria itu berwarna blonde, sama seperti rambutnya yang lebat. Kaori sampai harus mendongak hanya untuk melihat wajah pria yang dipanggil ‘Paman Asterix’ itu.


“Andika, sayang. Kemarilah,” titah pria itu.


“Tuan ini siapa? Andika tidak boleh kemana-mana.” Kaori melarang Andika beranjak dari belakang tubuhnya. Melihat keberanian Nyonya Ken Wiranata, pria dihadapannya tersenyum. Dia membungkuk sopan lalu memperkenalkan dirinya.


“Nyonya Kaori Ken Wiranata. Perkenalkan nama saya Felix Wibowo. Saya adiknya Anthony Wibowo,” ucap Felix sopan.


“Tapi Andika bilang nama Anda, Asterix. Mana yang benar?” tanya Kaori heran.


Andika masih betah berdiri di belakang Kaori. Bocah kecil itu memegang pinggang Kaori sambil melongok menatap Felix. Andika lalu menarik-narik dress Kaori membuat Kaori menoleh padanya. Dia meminta Kaori menunduk agar bisa memberitahu alasannya memanggil Felix dengan sebutan ‘Paman Asterix’.


“Itu, tante. Kumis Paman Asterix mirip sama yang dibuku komikku. Asterix,” ucap Andika sebelum mengecup pipi Kaori.


Kaori terkejut dengan mata terbelalak, lalu cepat-cepat menetralkan ekspresi wajahnya. Senyum manis menenangkan menghiasi wajah Kaori setelah mendengar penjelasan Andika.


“Hei, bocah. Kau tidak boleh menciumm pipi istri orang sembarangan. Kemarilah, Andika,” titah Felix sambil merentangkan kedua tangannya.


“Keponakan Paman Felix! Kenapa kau semakin berat, bocah? Apa kau makan coklat terus?” tanya Felix sambil mencubit pipi chubby Andika.


“Aku nggak boleh makan coklat, Paman Felix. Nanti aku gendut,” sahut Andika balas mencubit pipi Felix.


Meskipun berbeda usia sangat jauh, keduanya terlihat seperti sahabat lama. Kaori yang masih belum percaya dengan berita kematian Anthony, kembali menatap layar TV yang masih menayangkan berita yang sama. Felix dan Andika masih asyik bercanda satu sama lain karena intensitas pertemuan mereka yang sangat jarang terjadi. Tapi Felix selalu berusaha menghubungi Andika melalui v-call.


“Nyonya Kaori, bisa kita bicara berdua?” tanya Felix menyadarkan Kaori tentang keberadaan pria itu di mansionnya.


Kaori mengangguk dan memanggil pelayan untuk menemani Andika ke kamarnya. Sudah waktunya Andika untuk tidur siang, sebelumnya pria kecil itu menyetujui untuk melakukannya setelah menonton kartun. Setelah mengucapkan salam perpisahan pada Felix, Andika pun kembali ke kamarnya.


Tidak ada satupun yang bicara diantara mereka berdua sepeninggal Andika. Kaori tahu kalau Felix memendam kesedihan di depan Andika dan memilih tidak mengatakan apa-apa pada keponakannya itu.


“Kami masih melakukan pencarian sebelum berita tadi diturunkan. Pesawat kakak mengalami kecelakaan

__ADS_1


dan tidak ada satu orang pun yang selamat. Saat ini sedang terjadi kekacauan di perusahaan kakak karena kekosongan pimpinan. Saya bisa mengatasinya masalah itu, tapi ada sesuatu yang harus saya sampaikan pada Nyonya secara pribadi,” ucap Felix dengan wajah serius.


“Apa itu, Tuan Felix?” tanya Kaori penasaran.


“Saya tidak tahu apa yang kakak pikirkan sebelum membuat surat wasiat ini. Nyonya bisa membacanya sendiri.” Felix menyodorkan sebuah amplop coklat yang diambilnya dari dalam saku jasnya.


Kaori menerima amplop itu dan mengeluarkan isinya. Dua lembar surat yang sama-sama distempel dan ditandatangani oleh Anthony tampak jelas memberitahukan bahkan jika terjadi sesuatu padanya, Andika akan sepenuhnya diasuh oleh Kaori dan Ken Wiranata. Kaori akan bertanggung jawab atas Andika sampai usianya cukup untuk bisa mengambil keputusan sendiri.


Sedangkan lembar kedua menjelaskan tentang uang bulanan yang akan diterima Kaori selama Andika tinggal bersama keluarga Wiranata. Jumlah yang tidak sedikit itu membuat Kaori menoleh menatap Felix. Anthony terlalu royal dengan memberikan uang yang besarnya hampir sama dengan harga sebuah tas branded keluaran terbaru tahun ini.


“Tuan Felix, sepertinya Tuan Anthony terlalu berlebihan. Pasti ada penjelasan yang logis kenapa Tuan Anthony ingin Andika tinggal bersama saya,” ucap Kaori sambil menyimpan surat wasiat itu kembali ke dalam amplop.


“Kalau saya katakan kakak jatuh cinta pada Nyonya, apa Nyonya percaya?”


Kaori terpana tapi sedetik kemudian dia berhasil menetralkan ekspresi waj hnya. Untuk sesuatu yang cukup sensitif seperti itu, Felix tidak berusaha berbasa-basi pada Kaori. Untung saja Ken masih berada di kantor. Kalau tidak, mungkin saja Andika dan Felix akan langsung diusirnya dari mansion itu.


“Saya harap Nyonya mau memenuhi permintaan terakhir kakak saya. Sudah tentu saja sebagai adiknya akan membantu keponakan saya menjaga haknya sampai Andika bisa menjalankan kewajibannya kelak. Kalau kakak saya percaya pada Nyonya, saya hanya bisa mempercayai insting kakak saya,” ucap Felix lalu memilih pamit undur diri dan hadapan Kaori. Dia akan kembali setelah mengurus persiapan pemakaman Anthony dan bicara dengan Andika.


Sepeninggal Felix, Kaori masih termangu di tempatnya duduk sejak tadi. Bukan masalah uang yang sedang dipikirkan Kaori saat ini, tapi mengenai sebuah tanggung jawab membesarkan seorang anak berusia 5 tahun. Entah Andika akan mengerti atau tidak, tapi cepat atau lambat dia harus tahu kalau dirinya yatim piatu sekarang. Kecemasan Kaori membuat Renata dan Reynold yang baru turun dari lantai atas, mendekati wanita itu.


“Kaori, ada apa?” tanya Renata lalu duduk di samping Kaori.


“Kasihan Andika. Pesawat papanya jatuh dan dia tidak selamat. Sekarang Andika sendirian tanpa orang tua,” ucap Kaori sendu.


Renata dan Reynold tidak mengatakan apa-apa ketika Kaori menceritakan wasiat Anthony. Mereka sudah tahu kalau Kaori pasti bisa merawat Andika seperti putranya sendiri. Lagipula masalah mereka berdua sudah cukup rumit. Reynold ingin Renata tinggal bersamanya di apartemen pria itu. Dan Renata masih mencari alasan untuk dikatakan pada Kaori.


“Kaori, aku akan membawa Renata tinggal bersamaku di apartemen lagi. Lagipula kami tidak leluasa disini,” ucap Reynold tiba-tiba mengatakan isi hatinya.


“Loh, memangnya kenapa? Mansion ini cukup besar untuk kita tinggal bersama. Lagipula, Ken selalu sibuk bekerja. Nanti aku sama siapa?” Kaori hanya ingin menggoda Reynold yang terlihat tidak sabaran ingin memakan Renata.


“Kami akan sering berkunjung. Lagipula kamu punya Andika, sekarang. Apartemenku kan dekat dengan kantornya Renata.” Reynold memang rajanya ngeles dan pastinya tidak mau menyerah sampai tujuannya tercapai.


-----

__ADS_1


Masih setia menanti kan? Kebenaran tentang rahasia kelahiran Renata akan segera didengar langsung oleh Renata sendiri. Gadis ini sampai shock dan minta dipertemukan dengan Endy dan Kinanti. Siapa yang ngasih tahu Renata ya?


Seru nggak? Penasaran? Tungguin up-nya ya.


__ADS_2