Duren Manis

Duren Manis
Kasmaran


__ADS_3

Kasmaran


 


“Halo, Rio. Aku ganggu gak?”sapa Gadis.


“Halo, Gadis. Ada apa?”tanya Rio khawatir.


“Aku cuma mau bilang. Kamu gak lagi sibuk kan? Aku


bisa telpon nanti.”kata Gadis sedikit ragu.


“Aku lagi gak sibuk. Kenapa?”tanya Rio penasaran.


“Itu, kamu kalo diundang pesta, jangan minum ya.”


Rio loading sejenak. Pesta apa? Aku siapa? Lagi


dimana? Rio menatap Mia dan Katty yang cuma angkat bahu.


“Halo, Rio? Halo?”panggil Gadis karena tidak


mendengar suara Rio.


“Iya. Halo. Signalnya agak jelek. Kamu ngomong apa


tadi?”


“Kalo kamu diundang ke pesta sama client disana,


jangan minum minuman keras ya. Jangan sampai mabuk.”kata Gadis dengan lebih


jelas.


“Oh, iya. Aku akan hati-hati. Kamu kuatir ya?”tanya


Rio sambil tersenyum.


“...Jangan deket-deket sama cewek disana.”larang


Gadis lagi.


“Apalagi? Aku dengerin semuanya.”kata Rio mulai


bucin.


“Pokoknya jangan minum minuman keras sama deket


cewek-cewek. Kamu udah makan?”tanya Gadis menahan malunya.


“Belum.”jawab Rio sambil nyengir.


Katty dan Mia saling pandang dan kompak menoyor


kepala Rio. Rio menjauhkan ponselnya agar tidak terdengar bisikan Katty pada


Mia.


“Bocah minta di timpuk.”bisik Katty mulai kesal.


“Iya. Bilang belum makan, taunya udah habis 2


piring.”bisik Mia.


“Kenapa? Makan dong. Nanti kamu sakit. Eh, kamu


lagi sama cewek ya?”tanya Gadis curiga.


“Nggak. Ini ada tante-tante lagi ngerumpi di


depanku.”kata Rio sambil cengengesan.


Buk! Auto kena timpuk bantal kan. Rio rese sich


ngatain tante-tante ke Mia dan Katty. Rio menahan tawanya yang hampir


keceplosan keluar.


“Oh, gitu. Kamu berapa lama disana?”tanya Gadis


lagi.


“Paling 2 hari lagi pulang. Kamu kangen ya?”goda


Rio.


“Nggak!! Tadi papa Alex bilangnya 3 hari. Yang


bener yang mana?”tanya Gadis bingung.


Kring! Kring! Suara ponsel Mia mengagetkan mereka.


Mia mengambil ponselnya dan melihat Om babe Alex calling. Mia menolak panggilan


itu dan mengirim chat agar Alex tidak mengganggu dulu.


“Itu suara telpon siapa?”tanya Gadis kembali


curiga.


“Aku kan dah bilang ada tante-tante di depanku. Itu


suara telpon mereka. Aku di lobby hotel nich. Masih nunggu mau check in.”jawab


Rio asal.


“Rese banget sich.”bisik Katty sambil melotot pada


Rio.


Rio mencakupkan tangannya meminta maaf karena terus

__ADS_1


mengatakan dirinya tante.


“Ya udah. Nanti malem... aku telpon lagi ya. Aku


mau kerja lagi. Bye, Rio.”


“Bye, sayang.”rayu Rio.


“Idih. Jangan panggil gitu seenakmu!”bentak Gadis.


“Panggil gitu apa?”tanya Rio pura-pura lupa.


“Panggil sayang!”bentak Gadis lagi.


“Iya, sayang.”goda Rio.


“Hiss, gak usah pulang sekalian!”ketus Gadis.


“Kalo aku kangen gimana?”goda Rio masih betah


mendengar suara Gadis yang kesal.


“Bodo.”jawab Gadis kesal.


“Kok gak ditutup telponnya. Katanya tadi mau kerja


lagi.”kata Rio masih menggoda Gadis.


“Rio! Jangan godain lagi. Aku malu.”kata Gadis


sambil memegangi pipinya yang merona.


“Nikah sama aku, ntar aku godain lagi.”kata Rio.


“Nggak mau. Kamu rese.”


“Sampe nolak ketiga kalinya, aku kasi piring cantik


nich.”kata Rio.


“Mana piringnya?”tanya Gadis balik menggoda Rio.


“Yah, jangan nolak ampe 3 kali dong. Ntar aku cium


nich.”kata Rio memelas.


Katty dan Mia menahan tawanya mendengar pembicaraan


keduanya yang terdengar lucu. Satunya bucin, satunya malu-malu tapi mau. Tring!


Tring! Giliran ponsel Katty yang berdering. Katty melihat ponselnya, Jodi hubby


calling. Katty menolak juga panggilan itu dan mengirim foto selfienya dengan


Mia pada Jodi, pose Katty menaruh telunjuk di depan bibirnya.


“Itu tante-tante lagi? Awas kamu nyium lagi gak


“Iya, lain kali aku permisi dulu mau nyium kamu.”kata


Rio sambil nyengir lagi.


Mia mencubit pinggang Rio yang belingsatan karena


geli. Rio belum cerita kalau dirinya sudah mencium Gadis waktu di mall.


“Pokoknya gak boleh minum, gak boleh main cewek,


sama gak boleh cium aku!”ketus Gadis sebel.


“Ya, udah aku cari cewek lain yang mau dicium.”kata


Rio asal, tapi ia hampir meralat kata-katanya saat mendengar Gadis


mengomelinya.


“Gitu. Aku aduin ke kak Rara biar kapok kamu


dipukulin lagi. Sana kalo berani.”ancam Gadis.


“Iya, sayang. Aku gak gitu. Bercanda aja. Jangan


marah-marah terus. Nanti kamu kecapean. Kamu lagi dimana nich?”tanya Rio


lembut.


“Lagi di ruang istirahat papa Alex. Disuruh


istirahat sama papa tadi.”kata Gadis lagi.


“Aku sayang kamu. Jaga dirimu ya. Sebentar lagi aku


pulang.”kata Rio sambil melihat perban luka di tangannya.


“Iya. Rio...”panggil Gadis lagi.


“Hmm? Apa? Mau cium?”


“Nggak jadi. Bye, Rio.”pamit Gadis.


“Bye, Gadis.”balas Rio.


Mereka menutup telpon dan saling tersenyum bahagia.


Gadis sangat ingin mengatakan kalau ia mencintai Rio, tapi ia belum berani


mengatakannya. Ia tidak ingin terluka lagi dengan cinta bertepuk sebelah tangan


terus-terusan. Meskipun Rio bilang akan mengejarnya, tapi ia ingin melihat


cinta di mata Rio untuk dirinya juga.

__ADS_1


Rio meletakkan ponselnya. Ia merentangkan tubuhnya


yang terasa pegal. Luka di lengannya terlihat mengeluarkan darah lagi. Mia


dengan cepat mengambil kotak obat untuk mengganti perban Rio. Kring! Kring!


Ponsel Mia kembali berdering. Om babe Alex calling. Kali ini Rio yang


mengangkat dan menekan tombol loudspeaker.


“Halo, sayang.”kata Alex yang mengira kalau orang


yang mengangkat telponnya adalah Mia.


“Iya, sayang.”jawab Rio mencoba meniru suara Mia.


“Mia? Ini beneran kamu kan? Kenapa... Rio! Mana


mama?!”teriak Alex.


Saat itu Gadis hampir keluar dari ruang pribadi Alex.


Alex benar-benar lupa kalau Gadis masih ada di dalam ruang pribadinya. Gadis


menahan dirinya untuk keluar, ia menguping pembicaraan Alex.


“Mama lagi ganti perbanku, pah. Darahnya keluar


lagi.”jelas Rio sambil meringis menahan sakit.


“Berdarah lagi? Papa kan sudah bilang kamu


mendingan di rumah istirahat. Malah maksa jemput Gadis.”omel Alex pada


ponselnya.


Deg! Deg! Gadis memegang dadanya yang berdetak


kencang.


”Siapa yang berdarah? Apa Rio? Tapi tadi dia


bilang di luar kota. Apa semua orang berbohong?”


Kepingan ingatan dari saat semalam mulai berputar


di kepala Gadis. Rio memang duduk di depan rumahnya tapi Gadis tidak melihat


mobil Rio dimanapun. Dan bagaimana dia bisa sampai duluan di rumah Gadis,


sedangkan saat itu jalanan cukup ramai.


Seperti pagi ini juga. Rio menyebutkan tentang obat


dan terlihat gugup. Rio juga memintanya turun duluan padahal biasanya langsung


parkir dan mereka masuk ke kantor bersama.


“Apa Rio kecelakaan? Tapi dia terlihat baik-baik


saja. Kenapa dia gak bilang kalau dia terluka?”


Gadis kembali mendengar pembicaraan Alex di telpon.


“Parah gak? Kita ke rumah sakit lagi ya, Rio?”tawar


Alex.


“Gak usah, pah. Lukanya udah mau kering kok.”kata


Rio kembali meringis saat Mia membalut lukanya dengan hati-hati.


“Ya, sudah. Bentar lagi papa pulang. Ntar biar Romi


yang nganter Gadis pulang. Istirahat, Rio. Jangan keliaran lagi.”kata Alex


dengan tegas.


“Iya, pah. Mana Gadis?”tanya Rio.


“Gadis? Oh, astaga papa lupa kalau dia masih di


ruang istirahat. Sebentar papa cek dulu. Semoga aja dia gak denger telpon kita


barusan.”kata Alex sambil berjalan mendekati ruang pribadinya.


Alex melihat ke dalam dan mendapati Gadis tertidur


di atas tempat tidurnya.


“Dia tidur. Aman artinya. Sudah dulu ya. Papa mau


lanjut kerja lagi.”kata Alex sambil berjalan kembali ke meja kerjanya.


“Pah, dia udah makan?”tanya Rio lagi.


“Uda tadi sama papa. Kayaknya anak kalian suka sama


soto ayam dech. Kuah sotonya sampe ludeh gak tersisa.”kata Alex lagi.


Rio bernafas lega mendengar Gadis mau makan seperti


biasanya. Rio kembali meringis saat Mia mengganti perban di kakinya juga. Katty


hanya menatapnya dengan prihatin.


*****


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.

__ADS_1


__ADS_2