
Kasmaran
“Halo, Rio. Aku ganggu gak?”sapa Gadis.
“Halo, Gadis. Ada apa?”tanya Rio khawatir.
“Aku cuma mau bilang. Kamu gak lagi sibuk kan? Aku
bisa telpon nanti.”kata Gadis sedikit ragu.
“Aku lagi gak sibuk. Kenapa?”tanya Rio penasaran.
“Itu, kamu kalo diundang pesta, jangan minum ya.”
Rio loading sejenak. Pesta apa? Aku siapa? Lagi
dimana? Rio menatap Mia dan Katty yang cuma angkat bahu.
“Halo, Rio? Halo?”panggil Gadis karena tidak
mendengar suara Rio.
“Iya. Halo. Signalnya agak jelek. Kamu ngomong apa
tadi?”
“Kalo kamu diundang ke pesta sama client disana,
jangan minum minuman keras ya. Jangan sampai mabuk.”kata Gadis dengan lebih
jelas.
“Oh, iya. Aku akan hati-hati. Kamu kuatir ya?”tanya
Rio sambil tersenyum.
“...Jangan deket-deket sama cewek disana.”larang
Gadis lagi.
“Apalagi? Aku dengerin semuanya.”kata Rio mulai
bucin.
“Pokoknya jangan minum minuman keras sama deket
cewek-cewek. Kamu udah makan?”tanya Gadis menahan malunya.
“Belum.”jawab Rio sambil nyengir.
Katty dan Mia saling pandang dan kompak menoyor
kepala Rio. Rio menjauhkan ponselnya agar tidak terdengar bisikan Katty pada
Mia.
“Bocah minta di timpuk.”bisik Katty mulai kesal.
“Iya. Bilang belum makan, taunya udah habis 2
piring.”bisik Mia.
“Kenapa? Makan dong. Nanti kamu sakit. Eh, kamu
lagi sama cewek ya?”tanya Gadis curiga.
“Nggak. Ini ada tante-tante lagi ngerumpi di
depanku.”kata Rio sambil cengengesan.
Buk! Auto kena timpuk bantal kan. Rio rese sich
ngatain tante-tante ke Mia dan Katty. Rio menahan tawanya yang hampir
keceplosan keluar.
“Oh, gitu. Kamu berapa lama disana?”tanya Gadis
lagi.
“Paling 2 hari lagi pulang. Kamu kangen ya?”goda
Rio.
“Nggak!! Tadi papa Alex bilangnya 3 hari. Yang
bener yang mana?”tanya Gadis bingung.
Kring! Kring! Suara ponsel Mia mengagetkan mereka.
Mia mengambil ponselnya dan melihat Om babe Alex calling. Mia menolak panggilan
itu dan mengirim chat agar Alex tidak mengganggu dulu.
“Itu suara telpon siapa?”tanya Gadis kembali
curiga.
“Aku kan dah bilang ada tante-tante di depanku. Itu
suara telpon mereka. Aku di lobby hotel nich. Masih nunggu mau check in.”jawab
Rio asal.
“Rese banget sich.”bisik Katty sambil melotot pada
Rio.
Rio mencakupkan tangannya meminta maaf karena terus
__ADS_1
mengatakan dirinya tante.
“Ya udah. Nanti malem... aku telpon lagi ya. Aku
mau kerja lagi. Bye, Rio.”
“Bye, sayang.”rayu Rio.
“Idih. Jangan panggil gitu seenakmu!”bentak Gadis.
“Panggil gitu apa?”tanya Rio pura-pura lupa.
“Panggil sayang!”bentak Gadis lagi.
“Iya, sayang.”goda Rio.
“Hiss, gak usah pulang sekalian!”ketus Gadis.
“Kalo aku kangen gimana?”goda Rio masih betah
mendengar suara Gadis yang kesal.
“Bodo.”jawab Gadis kesal.
“Kok gak ditutup telponnya. Katanya tadi mau kerja
lagi.”kata Rio masih menggoda Gadis.
“Rio! Jangan godain lagi. Aku malu.”kata Gadis
sambil memegangi pipinya yang merona.
“Nikah sama aku, ntar aku godain lagi.”kata Rio.
“Nggak mau. Kamu rese.”
“Sampe nolak ketiga kalinya, aku kasi piring cantik
nich.”kata Rio.
“Mana piringnya?”tanya Gadis balik menggoda Rio.
“Yah, jangan nolak ampe 3 kali dong. Ntar aku cium
nich.”kata Rio memelas.
Katty dan Mia menahan tawanya mendengar pembicaraan
keduanya yang terdengar lucu. Satunya bucin, satunya malu-malu tapi mau. Tring!
Tring! Giliran ponsel Katty yang berdering. Katty melihat ponselnya, Jodi hubby
calling. Katty menolak juga panggilan itu dan mengirim foto selfienya dengan
Mia pada Jodi, pose Katty menaruh telunjuk di depan bibirnya.
“Itu tante-tante lagi? Awas kamu nyium lagi gak
“Iya, lain kali aku permisi dulu mau nyium kamu.”kata
Rio sambil nyengir lagi.
Mia mencubit pinggang Rio yang belingsatan karena
geli. Rio belum cerita kalau dirinya sudah mencium Gadis waktu di mall.
“Pokoknya gak boleh minum, gak boleh main cewek,
sama gak boleh cium aku!”ketus Gadis sebel.
“Ya, udah aku cari cewek lain yang mau dicium.”kata
Rio asal, tapi ia hampir meralat kata-katanya saat mendengar Gadis
mengomelinya.
“Gitu. Aku aduin ke kak Rara biar kapok kamu
dipukulin lagi. Sana kalo berani.”ancam Gadis.
“Iya, sayang. Aku gak gitu. Bercanda aja. Jangan
marah-marah terus. Nanti kamu kecapean. Kamu lagi dimana nich?”tanya Rio
lembut.
“Lagi di ruang istirahat papa Alex. Disuruh
istirahat sama papa tadi.”kata Gadis lagi.
“Aku sayang kamu. Jaga dirimu ya. Sebentar lagi aku
pulang.”kata Rio sambil melihat perban luka di tangannya.
“Iya. Rio...”panggil Gadis lagi.
“Hmm? Apa? Mau cium?”
“Nggak jadi. Bye, Rio.”pamit Gadis.
“Bye, Gadis.”balas Rio.
Mereka menutup telpon dan saling tersenyum bahagia.
Gadis sangat ingin mengatakan kalau ia mencintai Rio, tapi ia belum berani
mengatakannya. Ia tidak ingin terluka lagi dengan cinta bertepuk sebelah tangan
terus-terusan. Meskipun Rio bilang akan mengejarnya, tapi ia ingin melihat
cinta di mata Rio untuk dirinya juga.
__ADS_1
Rio meletakkan ponselnya. Ia merentangkan tubuhnya
yang terasa pegal. Luka di lengannya terlihat mengeluarkan darah lagi. Mia
dengan cepat mengambil kotak obat untuk mengganti perban Rio. Kring! Kring!
Ponsel Mia kembali berdering. Om babe Alex calling. Kali ini Rio yang
mengangkat dan menekan tombol loudspeaker.
“Halo, sayang.”kata Alex yang mengira kalau orang
yang mengangkat telponnya adalah Mia.
“Iya, sayang.”jawab Rio mencoba meniru suara Mia.
“Mia? Ini beneran kamu kan? Kenapa... Rio! Mana
mama?!”teriak Alex.
Saat itu Gadis hampir keluar dari ruang pribadi Alex.
Alex benar-benar lupa kalau Gadis masih ada di dalam ruang pribadinya. Gadis
menahan dirinya untuk keluar, ia menguping pembicaraan Alex.
“Mama lagi ganti perbanku, pah. Darahnya keluar
lagi.”jelas Rio sambil meringis menahan sakit.
“Berdarah lagi? Papa kan sudah bilang kamu
mendingan di rumah istirahat. Malah maksa jemput Gadis.”omel Alex pada
ponselnya.
Deg! Deg! Gadis memegang dadanya yang berdetak
kencang.
”Siapa yang berdarah? Apa Rio? Tapi tadi dia
bilang di luar kota. Apa semua orang berbohong?”
Kepingan ingatan dari saat semalam mulai berputar
di kepala Gadis. Rio memang duduk di depan rumahnya tapi Gadis tidak melihat
mobil Rio dimanapun. Dan bagaimana dia bisa sampai duluan di rumah Gadis,
sedangkan saat itu jalanan cukup ramai.
Seperti pagi ini juga. Rio menyebutkan tentang obat
dan terlihat gugup. Rio juga memintanya turun duluan padahal biasanya langsung
parkir dan mereka masuk ke kantor bersama.
“Apa Rio kecelakaan? Tapi dia terlihat baik-baik
saja. Kenapa dia gak bilang kalau dia terluka?”
Gadis kembali mendengar pembicaraan Alex di telpon.
“Parah gak? Kita ke rumah sakit lagi ya, Rio?”tawar
Alex.
“Gak usah, pah. Lukanya udah mau kering kok.”kata
Rio kembali meringis saat Mia membalut lukanya dengan hati-hati.
“Ya, sudah. Bentar lagi papa pulang. Ntar biar Romi
yang nganter Gadis pulang. Istirahat, Rio. Jangan keliaran lagi.”kata Alex
dengan tegas.
“Iya, pah. Mana Gadis?”tanya Rio.
“Gadis? Oh, astaga papa lupa kalau dia masih di
ruang istirahat. Sebentar papa cek dulu. Semoga aja dia gak denger telpon kita
barusan.”kata Alex sambil berjalan mendekati ruang pribadinya.
Alex melihat ke dalam dan mendapati Gadis tertidur
di atas tempat tidurnya.
“Dia tidur. Aman artinya. Sudah dulu ya. Papa mau
lanjut kerja lagi.”kata Alex sambil berjalan kembali ke meja kerjanya.
“Pah, dia udah makan?”tanya Rio lagi.
“Uda tadi sama papa. Kayaknya anak kalian suka sama
soto ayam dech. Kuah sotonya sampe ludeh gak tersisa.”kata Alex lagi.
Rio bernafas lega mendengar Gadis mau makan seperti
biasanya. Rio kembali meringis saat Mia mengganti perban di kakinya juga. Katty
hanya menatapnya dengan prihatin.
*****
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.
__ADS_1