Duren Manis

Duren Manis
Kamu Pencuri


__ADS_3

Di rumah


Alex, Mia dengan telaten menidurkan bayi Rara yang rewel sejak sore. Rara yang


sudah putus asa, hanya bisa melihat Mia menidurkan bayinya. Setelah bayi itu


terlelap, Mia meletakkan bayi itu ke dalam boks bayinya.


Rara :


“Sudah tidur?” bisik Rara dengan lega.


Mia :


“Ya, mungkin perutnya sakit. Kamu makan sesuatu yang berbumbu tajam?”


Rara :


“Rara makan seperti biasanya. Tapi tadi pengen makan sedikit pedes jadi nambah


sambel. Apa itu ngaruh ke bayi, mah?”


Mia :


“Iya. Tapi gak pa-pa. Besok juga normal lagi. Loh, Arnold gak tidur disini?”


Rara :


“Rara suruh tidur di kamar kerja papa. Beberapa hari ini begadang terus, mas


Arnold gak dapet istirahat. Mana harus kerja lagi besoknya.”


Mia :


“Ya, udah. Mama temenin disini. Ntar ya mama ngecek si kembar dulu.”


Mia


keluar dari kamar Rara, ia melangkah ke kamar baby twin dan mengintip ke dalam.


Bayinya tidur dengan pulas diapit mb Roh dan mb Minah. Mb Roh mengangkat


kepalanya ketika mendengar suara pintu dibuka.


Mia :


“Sstt... mb istirahat saja. Saya cuma mau lihat bentar. Saya tidur di kamar


Rara ya.”


Mb Roh :


“Iya, mb.”


Mia


kembali lagi ke kamar Rara, saat itu bayi Rara terbangun lagi dan sepertinya


haus. Mia membantu Rara agar bisa menyusui bayinya.


Rara : “Mah,


jadi ibu tuch berat ya. Banyak yang harus dipelajari.”


Mia : “Ya,


gitu dech. Tapi sudah kodrat kita. Kalau kamu ngrasa berat, berbagi sama


suamimu. Bilang sama dia, katakan apa kesulitanmu.”


Rara


menatap wajah bayinya yang lama kelamaan semakin mirip dengan Arnold.


Mia : “Kalau


suamimu gak bisa bantu, kan ada mama.”


Rara : “Mama


gitu juga sama papa?”


Mia : “Iya,


tapi mama berusaha sendiri dulu. Soalnya papamu kan kerja. Kasian kalo harus


ikut begadang terus. Awalnya aja masih begadang, habis itu mama usahakan bisa


sendiri.”


Rara : “Berat


mah? Capek?”


Mia : “Awalnya


berat, tapi tiap mama lihat wajah baby twin yang lagi tidur. Capeknya langsung


hilang.” Kata Mia sambil tersenyum manis.


Rara


tersenyum menatap mama tirinya itu. Sungguh wanita ini sudah jadi inspirasinya


sejak pertama mereka bertemu di sekolah dulu. Rara memang belum lama mengenal


mama Selvi, tapi ia yakin kalau mama kandungnya itu juga sebaik mama Mia-nya.


*****


Keesokan


harinya, Lili seperti biasa menunggu di depan kamar Elo untuk membantu nona Riri

__ADS_1


bersiap-siap. Hari ini mereka akan pergi ke rumah Alex untuk menengok baby


Reynold. Lagi-lagi Lili harus menunggu karena Elo belum mau membukakan pintu


untuknya.


Malah


Dion yang membuka pintu kamarnya dan keluar dari sana. Lili pura-pura cuek dan


bersikap dingin padanya. Dion mendekati Lili, dengan cepat Lili mengetuk pintu


kamar Elo. Ceklek! Pintu kamar terbuka, Elo sepertinya sudah mandi, begitu juga


Riri. Lili berjalan masuk ke dalam kamar Elo. Ia langsung membantu Riri


mengeringkan rambutnya.


Dion


tetap menunggu di depan pintu, ia tidak ikut masuk ke dalam kamar Elo karena


Riri belum memakai baju dengan benar. Jangan tanya bagaimana keadaan ranjang


mereka. Tentu saja sama kacaunya dengan saat malam pernikahan mereka. Dion


geleng-geleng kepala melihat ranjang yang kacau. Ia bisa melihatnya dengan


jelas dari luar kamar.


Elo : “Kenapa?”


tanya Elo yang masih nangkring di depan pintu.


Dion : “Katamu


mau nunda punya anak, tapi tiap malam bikin terus. Gak kasian kamu sama Riri.”


Elo : “Kau


belum tahu sich rasanya. Cepatlah nikah.”


Dion : “Aku


sedang berusaha membujuknya. Bantu aku. Kalian gak boleh kemana-mana malam ini.


Aku sibuk.”


Elo : “Memangnya


apa yang akan kau lakukan?”


Dion : “Menangkap


pencuri...”


Lili


membantu Riri mengatur rambutnya. Ia berusaha tidak mendengar pembicaraan Elo


yang disebutkan Dion.


Riri : “Memangnya


ada pencuri? Jangan bilang itu kiasan lagi. Aku pusing dengan istilah kak Dion.


Kemarin bilang kecoak pengganggu juga. Trus kita denger ada yang teriak. Siapa,


kak?”


Lili


melihat bulu kuduk Riri berdiri ketika menyebut kata kecoak.


Dion : “Boleh


aku masuk? Bisa gawat kalo aku cerita tapi ada yang nguping.” Seringai Dion


jahil.


Elo : “Pasti


ulahmu ya.”


Elo


memberi jalan pada Dion dan menutup pintu kamarnya. Dion duduk di kursi


membelakangi Riri dan Lili. Ia mulai bercerita tentang kejadian saat malam


pernikahan Elo dan Riri.


Flash


back...


Dion


mengintip tante Dewi yang terlihat mencurigakan. Ia mengendap-endap masuk ke


kamar Elo saat semua orang masih berpesta di bawah dan keluar dengan cepat. Melihat


tante Dewi kembali ke bawah dan bergabung dengan tamu undangan, Dion masuk ke


dalam kamar Elo dan memeriksa setiap sudut kamar itu dengan teliti.


Tante


Dewi meletakkan kecoak diatas tempat tidur Riri dan bermaksud mengganggu malam


pertama mereka. Entah ia tahu darimana kalau Riri takut dengan kecoak. Tapi


sepertinya tante Dewi juga takut dengan kecoak. Karena tante Dewi melempar

__ADS_1


kecoak itu masih dengan plastik pembungkusnya.


Flash


back end...


Riri : “Kak,


bisa gak kata itu di sensor. Aku merinding dengernya.”


Dion : “Disini


gak ada mahluk purba itu. Masa masih takut.”


Riri : “Geli


denger kata itu tau.”


Elo


mengangguk, ia melihat Riri sudah menaikkan kakinya keatas meja rias dengan


Lili masih mengatur rambutnya. Dion garuk-garuk kepala mendengar kata-kata


Riri.


Riri : “Trus


gimana, kak?”


Dion : “Aku


bawa mahluk purba itu ke kamar tante Dewi dan kulepaskan dibawah selimutnya. Hihihi...”


Riri : “Pantes


aja ada yang teriak kenceng banget malam kemarin.”


Elo : “Kebayang


gimana waktu ke...” Elo menciut melihat Riri menatapnya dengan tajam saat Elo


hampir menyebut kata kecoak. Dion ngakak tertawa melihat wajah Elo yang pucat.


Dion : “Hahahahaha...


dasar suami takut istri. Chicken...”


Elo : “Aku


gak takut, aku mencintai Riri, makanya aku gak mau dia takut.”


Dion : “Alasan


saja, trus.”


Elo : “Kuharap


kau juga merasakan apa yang kurasakan.”


Dion : “Aku


gak akan takut sama istriku nanti. Dia yang akan takut melihat wajahku setiap


hari.”


Lili : “Gak


lucu.”


Hanya


dua kata yang keluar dari mulut Lili tapi bisa membuat Dion tertawa semakin


keras.


Elo : “Kau


sudah gila.”


Dion : “Hei,


aku hanya belum sarapan. Aku pergi sarapan dulu.”


Dion


sudah hampir keluar dari kamar Elo tapi Riri menahannya,


Riri : “Kak,


trus pencurinya gimana?”


Dion : “Kamu


bisa tanya wanita dibelakangmu itu, dimana pencurinya.”


Riri menatap


Lili melalui cermin di depannya,


Riri : “Lili,


dimana pencurinya?”


Lili


terdiam...


*****


Lili terdiam karena sibuk vote loh. Kk mana


votenya?

__ADS_1


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).


__ADS_2