
Di rumah
Alex, Mia dengan telaten menidurkan bayi Rara yang rewel sejak sore. Rara yang
sudah putus asa, hanya bisa melihat Mia menidurkan bayinya. Setelah bayi itu
terlelap, Mia meletakkan bayi itu ke dalam boks bayinya.
Rara :
“Sudah tidur?” bisik Rara dengan lega.
Mia :
“Ya, mungkin perutnya sakit. Kamu makan sesuatu yang berbumbu tajam?”
Rara :
“Rara makan seperti biasanya. Tapi tadi pengen makan sedikit pedes jadi nambah
sambel. Apa itu ngaruh ke bayi, mah?”
Mia :
“Iya. Tapi gak pa-pa. Besok juga normal lagi. Loh, Arnold gak tidur disini?”
Rara :
“Rara suruh tidur di kamar kerja papa. Beberapa hari ini begadang terus, mas
Arnold gak dapet istirahat. Mana harus kerja lagi besoknya.”
Mia :
“Ya, udah. Mama temenin disini. Ntar ya mama ngecek si kembar dulu.”
Mia
keluar dari kamar Rara, ia melangkah ke kamar baby twin dan mengintip ke dalam.
Bayinya tidur dengan pulas diapit mb Roh dan mb Minah. Mb Roh mengangkat
kepalanya ketika mendengar suara pintu dibuka.
Mia :
“Sstt... mb istirahat saja. Saya cuma mau lihat bentar. Saya tidur di kamar
Rara ya.”
Mb Roh :
“Iya, mb.”
Mia
kembali lagi ke kamar Rara, saat itu bayi Rara terbangun lagi dan sepertinya
haus. Mia membantu Rara agar bisa menyusui bayinya.
Rara : “Mah,
jadi ibu tuch berat ya. Banyak yang harus dipelajari.”
Mia : “Ya,
gitu dech. Tapi sudah kodrat kita. Kalau kamu ngrasa berat, berbagi sama
suamimu. Bilang sama dia, katakan apa kesulitanmu.”
Rara
menatap wajah bayinya yang lama kelamaan semakin mirip dengan Arnold.
Mia : “Kalau
suamimu gak bisa bantu, kan ada mama.”
Rara : “Mama
gitu juga sama papa?”
Mia : “Iya,
tapi mama berusaha sendiri dulu. Soalnya papamu kan kerja. Kasian kalo harus
ikut begadang terus. Awalnya aja masih begadang, habis itu mama usahakan bisa
sendiri.”
Rara : “Berat
mah? Capek?”
Mia : “Awalnya
berat, tapi tiap mama lihat wajah baby twin yang lagi tidur. Capeknya langsung
hilang.” Kata Mia sambil tersenyum manis.
Rara
tersenyum menatap mama tirinya itu. Sungguh wanita ini sudah jadi inspirasinya
sejak pertama mereka bertemu di sekolah dulu. Rara memang belum lama mengenal
mama Selvi, tapi ia yakin kalau mama kandungnya itu juga sebaik mama Mia-nya.
*****
Keesokan
harinya, Lili seperti biasa menunggu di depan kamar Elo untuk membantu nona Riri
__ADS_1
bersiap-siap. Hari ini mereka akan pergi ke rumah Alex untuk menengok baby
Reynold. Lagi-lagi Lili harus menunggu karena Elo belum mau membukakan pintu
untuknya.
Malah
Dion yang membuka pintu kamarnya dan keluar dari sana. Lili pura-pura cuek dan
bersikap dingin padanya. Dion mendekati Lili, dengan cepat Lili mengetuk pintu
kamar Elo. Ceklek! Pintu kamar terbuka, Elo sepertinya sudah mandi, begitu juga
Riri. Lili berjalan masuk ke dalam kamar Elo. Ia langsung membantu Riri
mengeringkan rambutnya.
Dion
tetap menunggu di depan pintu, ia tidak ikut masuk ke dalam kamar Elo karena
Riri belum memakai baju dengan benar. Jangan tanya bagaimana keadaan ranjang
mereka. Tentu saja sama kacaunya dengan saat malam pernikahan mereka. Dion
geleng-geleng kepala melihat ranjang yang kacau. Ia bisa melihatnya dengan
jelas dari luar kamar.
Elo : “Kenapa?”
tanya Elo yang masih nangkring di depan pintu.
Dion : “Katamu
mau nunda punya anak, tapi tiap malam bikin terus. Gak kasian kamu sama Riri.”
Elo : “Kau
belum tahu sich rasanya. Cepatlah nikah.”
Dion : “Aku
sedang berusaha membujuknya. Bantu aku. Kalian gak boleh kemana-mana malam ini.
Aku sibuk.”
Elo : “Memangnya
apa yang akan kau lakukan?”
Dion : “Menangkap
pencuri...”
Lili
membantu Riri mengatur rambutnya. Ia berusaha tidak mendengar pembicaraan Elo
yang disebutkan Dion.
Riri : “Memangnya
ada pencuri? Jangan bilang itu kiasan lagi. Aku pusing dengan istilah kak Dion.
Kemarin bilang kecoak pengganggu juga. Trus kita denger ada yang teriak. Siapa,
kak?”
Lili
melihat bulu kuduk Riri berdiri ketika menyebut kata kecoak.
Dion : “Boleh
aku masuk? Bisa gawat kalo aku cerita tapi ada yang nguping.” Seringai Dion
jahil.
Elo : “Pasti
ulahmu ya.”
Elo
memberi jalan pada Dion dan menutup pintu kamarnya. Dion duduk di kursi
membelakangi Riri dan Lili. Ia mulai bercerita tentang kejadian saat malam
pernikahan Elo dan Riri.
Flash
back...
Dion
mengintip tante Dewi yang terlihat mencurigakan. Ia mengendap-endap masuk ke
kamar Elo saat semua orang masih berpesta di bawah dan keluar dengan cepat. Melihat
tante Dewi kembali ke bawah dan bergabung dengan tamu undangan, Dion masuk ke
dalam kamar Elo dan memeriksa setiap sudut kamar itu dengan teliti.
Tante
Dewi meletakkan kecoak diatas tempat tidur Riri dan bermaksud mengganggu malam
pertama mereka. Entah ia tahu darimana kalau Riri takut dengan kecoak. Tapi
sepertinya tante Dewi juga takut dengan kecoak. Karena tante Dewi melempar
__ADS_1
kecoak itu masih dengan plastik pembungkusnya.
Flash
back end...
Riri : “Kak,
bisa gak kata itu di sensor. Aku merinding dengernya.”
Dion : “Disini
gak ada mahluk purba itu. Masa masih takut.”
Riri : “Geli
denger kata itu tau.”
Elo
mengangguk, ia melihat Riri sudah menaikkan kakinya keatas meja rias dengan
Lili masih mengatur rambutnya. Dion garuk-garuk kepala mendengar kata-kata
Riri.
Riri : “Trus
gimana, kak?”
Dion : “Aku
bawa mahluk purba itu ke kamar tante Dewi dan kulepaskan dibawah selimutnya. Hihihi...”
Riri : “Pantes
aja ada yang teriak kenceng banget malam kemarin.”
Elo : “Kebayang
gimana waktu ke...” Elo menciut melihat Riri menatapnya dengan tajam saat Elo
hampir menyebut kata kecoak. Dion ngakak tertawa melihat wajah Elo yang pucat.
Dion : “Hahahahaha...
dasar suami takut istri. Chicken...”
Elo : “Aku
gak takut, aku mencintai Riri, makanya aku gak mau dia takut.”
Dion : “Alasan
saja, trus.”
Elo : “Kuharap
kau juga merasakan apa yang kurasakan.”
Dion : “Aku
gak akan takut sama istriku nanti. Dia yang akan takut melihat wajahku setiap
hari.”
Lili : “Gak
lucu.”
Hanya
dua kata yang keluar dari mulut Lili tapi bisa membuat Dion tertawa semakin
keras.
Elo : “Kau
sudah gila.”
Dion : “Hei,
aku hanya belum sarapan. Aku pergi sarapan dulu.”
Dion
sudah hampir keluar dari kamar Elo tapi Riri menahannya,
Riri : “Kak,
trus pencurinya gimana?”
Dion : “Kamu
bisa tanya wanita dibelakangmu itu, dimana pencurinya.”
Riri menatap
Lili melalui cermin di depannya,
Riri : “Lili,
dimana pencurinya?”
Lili
terdiam...
*****
Lili terdiam karena sibuk vote loh. Kk mana
votenya?
__ADS_1
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).