
DM2 – Nangkep kucing
Alex bingung melihat buntelan besar terbuat
dari selimutnya ada di tengah ranjang. “Mia?”panggil Alex.
Hening. Gak ada jawaban dari Mia. Alex
menarik buntelan itu dan... zonk! Mia tidak ada di dalam sana. “Mia!”panggil
Alex lebih keras.
Ia mencari ke kamar mandi, tapi gak ada
siapapun didalam sana. Alex menggaruk kepalanya, ia baru keluar sebentar dari
kamar. Gak mungkin Mia bisa menyelinap secepat itu. Alex membuka kunci
kamarnya, ia mencari Mia di ruangan lain. Dibukanya semua lemari, kamar mandi,
bahkan kolong ranjang.
Setengah jam Alex mencari sampai capek
sendiri. “Hais, bisa-bisanya dia melarikan diri.” Alex masuk lagi ke kamarnya,
ia melihat pintu lemarinya sedikit terbuka. Ia tersenyum smirk, “Hadeh, aku
capek banget. Tidur, ach.”kata Alex sambil pura-pura tidur.
Mia yang sejak awal ada di dalam lemari,
membuka pintu lemari pelan-pelan. Krieet! Mia membeku di tempat, ”Dasar pintu
sialan. Berisik banget.” umpat Mia dalam hati. Mia menunggu lagi, ia tidak
melihat Alex bangun. Pelan-pelan Mia melangkah keluar lemarinya. Ia hanya
memakai bathrobe saja untuk menutupi tubuhnya.
Mengendap-endap, Mia mendekati pintu kamar.
Ia hampir berhasil membuka pintu itu ketika ujung bathrobenya ada yang menarik.
“Hayo, mau kemana?”tanya Alex mengagetkan Mia.
“Maass!! Lepasin, aku mau lihat si kembar
dah pulang apa blum.”kata Mia meronta-ronta.
Grep! Alex memeluk Mia, tangannya menyusup
masuk ke dalam bathrobe Mia. “Aku kan sudah bilang, kamu harus tanggung jawab
sampai selesai. Kunci pintunya.”titah Alex.
“Mas, bentaran lagi ya. Kasi aku istirahat
dulu bentar aja. Kamu nich kayak nangkep kucing aja dech. Lepasin
bathrobe-ku.”rengek Mia. Alex beneran melepas bathrobe Mia, “Gak gini maksudku,
mas!!”protes Mia.
Alex mengunci pintu kamarnya, ia mendorong
Mia terbaring lagi di atas ranjangnya. Saat Alex mengukungnya dengan kedua
lengan kekarnya, Mia merajuk dengan mata berkaca-kaca. “Mas, sakit nich. Tidur
bentar aja ya.”
Alex tersenyum, “Makanya jangan nakal. Mancing
pake nantangin lagi. Udah, tidur sana.”
Mia gak mau tidur sendiri, ia menarik
tangan Alex berbaring di belakangnya. “Kelonin, mas.”
“Manja banget sich. Tapi ntar bangun, aku
boleh lagi ya.” Mia mengangguk. Alex berbaring memeluk Mia dari belakang. Ia
__ADS_1
menempelkan hidungnya di tengkuk Mia. Keduanya mulai terlelap dalam tidur siang
yang tenang.
Di lantai 2 rumah itu, Gadis sedang
berbaring di atas ranjangnya. Ia memberi susu pada Kaori yang mulai tertidur
lagi. Perlahan mata Gadis mulai terpejam, ia tertidur pulas dengan botol susu
di tangannya. Ia tidak cukup tidur semalam karena Kaori terbangun. Gadis lupa
masih harus menyuapi Rio makan.
Rio yang melihat Gadis tertidur sambil
memeluk Kaori, berbaring di samping Gadis lalu memeluknya dari belakang. Tangan
Rio tetap di dada Gadis.
“Hmm... Rio...”panggil Gadis sambil membuka
matanya. Ia menoleh ke belakang, Rio menatapnya masih tanpa ekspresi. Gadis
bangun dari tidurannya, ia menggeser baby Kaori yang sudah tertidur lelap ke
pinggir tempat tidur dan mengganjalnya dengan bantal.
“Rio... Kamu belum tidur? Oh, ya. Kamu
belum makan ya.” Gadis hampir turun dari tempat tidur, tapi Rio tidak mau
melepaskan pelukannya. Gadis membalik tubuhnya, menghadap ke Rio. Ia mengelus
pipi suaminya itu dengan sayang. “Kenapa, Rio? Hem? Makan dulu ya.”
Mereka bertatapan lama, perlahan mata Gadis
terpejam, ia mencium bibir Rio, meluapkan rasa cintanya pada suaminya itu. Gadis
memagut, menyesap bibir Rio sampai aliran nafasnya terasa hampir putus. Saat Gadis melepas ciuman
mereka, tangan Rio memegang tengkuk Gadis, mencium balik bibir Gadis sama
“Rio... udah... aku gak... bisa... nafas...
hem.. hah!” Gadis mendorong kepala Rio untuk melepaskan ciumannya yang sangat
kuat.
“Rio, kamu mau apa?”tanya Gadis
ngos-ngosan.
Mereka saling menatap, Gadis mendekat lagi,
nalurinya menggerakkan tangannya memegang tengkuk Rio, mencium suaminya lagi.
Rio melakukan hal yang sama, Gadis lanjut
mencium leher Rio, menggigit kecil, memberikan tanda merah disana. Rio
mengikuti setiap apa yang dilakukan Gadis. Gadis menuntun Rio menyentuh
dirinya, setelah berbulan-bulan tidak melakukan hubungan suami istri, Gadis
sangat merindukan sentuhan Rio.
Gadis hampir membuka pakaiannya dan Rio,
saat si kecil Kaori menggeliat hampir terbangun. “Rio, tunggu. Kaori bangun.
Tu... tunggu...ya.”kata Gadis serak. Ia membalik tubuhnya menepuk-nepuk pantat
bayi Kaori. Bayi itu kembali terlelap tenang, tidak menggeliat lagi.
Tangan Rio sudah masuk ke dalam baju Gadis,
menyentuh semuanya di dalam sana. Nafas Gadis mulai berat, ia masih menepuk
pantat Kaori.
“Rio... Tunggu dulu.”pinta Gadis, tapi Rio
__ADS_1
tidak mau berhenti.
Gadis tidak bisa menahan tubuhnya tetap
diam, sentuhan Rio sudah membangkitkan hasratnya. Ia gelisah ingin menyentuh
Rio juga tapi bayi Kaori kembali terusik. Entah bagaimana, Rio menarik tubuh
Gadis ke bawah di atas karpet tebal di samping ranjang. Baby Kaori yang tidak
merasakan guncangan lagi, perlahan mulai tenang lagi kembali tertidur. Berbeda
dengan gerakan dua insan dibawah sana.
“Rio...”panggil Gadis lagi.
Pakaian mereka mulai berserakan di pinggir
tempat tidur. Gadis menarik bed cover menutupi tubuh mereka yang sudah polos. Desahan
Gadis memenuhi kamar mereka, ia tersenyum sangat bahagia menatap mata Rio yang
meskipun tanpa ekspresi tapi masih sekuat dulu. Gerakan Rio semakin keras
menghentak, mengguncang tubuh Gadis sampai keduanya menegang bersamaan.
Rio langsung memeluk Gadis, ia tidak mau
melepaskan penyatuan mereka. Gadis mengatur nafasnya yang terputus-putus. “Rio,
apa kamu sudah sembuh?”
Hening. Tidak ada tanggapan dari Rio, pria
itu hanya menatapnya saja tanpa ekspresi. “Oh, aku lelah. Rio, kita tidur ya.
Pake dulu bajumu.”
Gadis hampir beranjak dari pangkuan Rio,
tapi Rio dengan cepat menghujamkan tubuhnya lagi pada Gadis.
“Arrggh...!! Ssss...”desis Gadis, matanya
terbelalak merasakan hentakan tubuh Rio.
Gadis memeluk tubuh Rio setelah pelepasan
mereka yang kedua kalinya. “Rio... udah. Aku capek. Ayo, tidur.”pinta Gadis
sambil berbaring di karpet tebal. Rio menurut berbaring di samping Gadis,
memberikan lengannya untuk bantalan kepala Gadis.
“Sayangku, kamu dah sembuh kan? Kamu bisa
denger aku?”tanya Gadis menangkup pipi Rio. “Aku tahu kamu pasti sembuh. Aku
sangat merindukanmu, Rio.”
Rio menunduk mencium bibir Gadis, “Tuch,
kan. Kamu udah sembuh. Ngomong dong.”pinta Gadis. Tapi Rio tetap tidak mau
bicara. Gadis iseng menggelitiki pinggang Rio, tapi Rio malah ikutan menggelitikinya.
“Udah! Geli! Rio, geli!”pekik Gadis
kegelian.
“Eeeggghhh...”tangisan Kaori terdengar. Gadis
bangun dari tidurannya. Ia mengambar botol susu di atas nakas dan tengkurap
diatas tempat tidur memberikan susu pada Kaori. Rio duduk di karpet, ia melihat
posisi Gadis diatas ranjang.
*****
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.
__ADS_1