Duren Manis

Duren Manis
DM2 – Nangkep kucing


__ADS_3

DM2 – Nangkep kucing


Alex bingung melihat buntelan besar terbuat


dari selimutnya ada di tengah ranjang. “Mia?”panggil Alex.


Hening. Gak ada jawaban dari Mia. Alex


menarik buntelan itu dan... zonk! Mia tidak ada di dalam sana. “Mia!”panggil


Alex lebih keras.


Ia mencari ke kamar mandi, tapi gak ada


siapapun didalam sana. Alex menggaruk kepalanya, ia baru keluar sebentar dari


kamar. Gak mungkin Mia bisa menyelinap secepat itu. Alex membuka kunci


kamarnya, ia mencari Mia di ruangan lain. Dibukanya semua lemari, kamar mandi,


bahkan kolong ranjang.


Setengah jam Alex mencari sampai capek


sendiri. “Hais, bisa-bisanya dia melarikan diri.” Alex masuk lagi ke kamarnya,


ia melihat pintu lemarinya sedikit terbuka. Ia tersenyum smirk, “Hadeh, aku


capek banget. Tidur, ach.”kata Alex sambil pura-pura tidur.


Mia yang sejak awal ada di dalam lemari,


membuka pintu lemari pelan-pelan. Krieet! Mia membeku di tempat, ”Dasar pintu


sialan. Berisik banget.” umpat Mia dalam hati. Mia menunggu lagi, ia tidak


melihat Alex bangun. Pelan-pelan Mia melangkah keluar lemarinya. Ia hanya


memakai bathrobe saja untuk menutupi tubuhnya.


Mengendap-endap, Mia mendekati pintu kamar.


Ia hampir berhasil membuka pintu itu ketika ujung bathrobenya ada yang menarik.


“Hayo, mau kemana?”tanya Alex mengagetkan Mia.


“Maass!! Lepasin, aku mau lihat si kembar


dah pulang apa blum.”kata Mia meronta-ronta.


Grep! Alex memeluk Mia, tangannya menyusup


masuk ke dalam bathrobe Mia. “Aku kan sudah bilang, kamu harus tanggung jawab


sampai selesai. Kunci pintunya.”titah Alex.


“Mas, bentaran lagi ya. Kasi aku istirahat


dulu bentar aja. Kamu nich kayak nangkep kucing aja dech. Lepasin


bathrobe-ku.”rengek Mia. Alex beneran melepas bathrobe Mia, “Gak gini maksudku,


mas!!”protes Mia.


Alex mengunci pintu kamarnya, ia mendorong


Mia terbaring lagi di atas ranjangnya. Saat Alex mengukungnya dengan kedua


lengan kekarnya, Mia merajuk dengan mata berkaca-kaca. “Mas, sakit nich. Tidur


bentar aja ya.”


Alex tersenyum, “Makanya jangan nakal. Mancing


pake nantangin lagi. Udah, tidur sana.”


Mia gak mau tidur sendiri, ia menarik


tangan Alex berbaring di belakangnya. “Kelonin, mas.”


“Manja banget sich. Tapi ntar bangun, aku


boleh lagi ya.” Mia mengangguk. Alex berbaring memeluk Mia dari belakang. Ia

__ADS_1


menempelkan hidungnya di tengkuk Mia. Keduanya mulai terlelap dalam tidur siang


yang tenang.


Di lantai 2 rumah itu, Gadis sedang


berbaring di atas ranjangnya. Ia memberi susu pada Kaori yang mulai tertidur


lagi. Perlahan mata Gadis mulai terpejam, ia tertidur pulas dengan botol susu


di tangannya. Ia tidak cukup tidur semalam karena Kaori terbangun. Gadis lupa


masih harus menyuapi Rio makan.


Rio yang melihat Gadis tertidur sambil


memeluk Kaori, berbaring di samping Gadis lalu memeluknya dari belakang. Tangan


Rio tetap di dada Gadis.


“Hmm... Rio...”panggil Gadis sambil membuka


matanya. Ia menoleh ke belakang, Rio menatapnya masih tanpa ekspresi. Gadis


bangun dari tidurannya, ia menggeser baby Kaori yang sudah tertidur lelap ke


pinggir tempat tidur dan mengganjalnya dengan bantal.


“Rio... Kamu belum tidur? Oh, ya. Kamu


belum makan ya.” Gadis hampir turun dari tempat tidur, tapi Rio tidak mau


melepaskan pelukannya. Gadis membalik tubuhnya, menghadap ke Rio. Ia mengelus


pipi suaminya itu dengan sayang. “Kenapa, Rio? Hem? Makan dulu ya.”


Mereka bertatapan lama, perlahan mata Gadis


terpejam, ia mencium bibir Rio, meluapkan rasa cintanya pada suaminya itu. Gadis


memagut, menyesap bibir Rio sampai aliran nafasnya terasa  hampir putus. Saat Gadis melepas ciuman


mereka, tangan Rio memegang tengkuk Gadis, mencium balik bibir Gadis sama


“Rio... udah... aku gak... bisa... nafas...


hem.. hah!” Gadis mendorong kepala Rio untuk melepaskan ciumannya yang sangat


kuat.


“Rio, kamu mau apa?”tanya Gadis


ngos-ngosan.


Mereka saling menatap, Gadis mendekat lagi,


nalurinya menggerakkan tangannya memegang tengkuk Rio, mencium suaminya lagi.


Rio melakukan hal yang sama, Gadis lanjut


mencium leher Rio, menggigit kecil, memberikan tanda merah disana. Rio


mengikuti setiap apa yang dilakukan Gadis. Gadis menuntun Rio menyentuh


dirinya, setelah berbulan-bulan tidak melakukan hubungan suami istri, Gadis


sangat merindukan sentuhan Rio.


Gadis hampir membuka pakaiannya dan Rio,


saat si kecil Kaori menggeliat hampir terbangun. “Rio, tunggu. Kaori bangun.


Tu... tunggu...ya.”kata Gadis serak. Ia membalik tubuhnya menepuk-nepuk pantat


bayi Kaori. Bayi itu kembali terlelap tenang, tidak menggeliat lagi.


Tangan Rio sudah masuk ke dalam baju Gadis,


menyentuh semuanya di dalam sana. Nafas Gadis mulai berat, ia masih menepuk


pantat Kaori.


“Rio... Tunggu dulu.”pinta Gadis, tapi Rio

__ADS_1


tidak mau berhenti.


Gadis tidak bisa menahan tubuhnya tetap


diam, sentuhan Rio sudah membangkitkan hasratnya. Ia gelisah ingin menyentuh


Rio juga tapi bayi Kaori kembali terusik. Entah bagaimana, Rio menarik tubuh


Gadis ke bawah di atas karpet tebal di samping ranjang. Baby Kaori yang tidak


merasakan guncangan lagi, perlahan mulai tenang lagi kembali tertidur. Berbeda


dengan gerakan dua insan dibawah sana.


“Rio...”panggil Gadis lagi.


Pakaian mereka mulai berserakan di pinggir


tempat tidur. Gadis menarik bed cover menutupi tubuh mereka yang sudah polos. Desahan


Gadis memenuhi kamar mereka, ia tersenyum sangat bahagia menatap mata Rio yang


meskipun tanpa ekspresi tapi masih sekuat dulu. Gerakan Rio semakin keras


menghentak, mengguncang tubuh Gadis sampai keduanya menegang bersamaan.


Rio langsung memeluk Gadis, ia tidak mau


melepaskan penyatuan mereka. Gadis mengatur nafasnya yang terputus-putus. “Rio,


apa kamu sudah sembuh?”


Hening. Tidak ada tanggapan dari Rio, pria


itu hanya menatapnya saja tanpa ekspresi. “Oh, aku lelah. Rio, kita tidur ya.


Pake dulu bajumu.”


Gadis hampir beranjak dari pangkuan Rio,


tapi Rio dengan cepat menghujamkan tubuhnya lagi pada Gadis.


“Arrggh...!! Ssss...”desis Gadis, matanya


terbelalak merasakan hentakan tubuh Rio.


Gadis memeluk tubuh Rio setelah pelepasan


mereka yang kedua kalinya. “Rio... udah. Aku capek. Ayo, tidur.”pinta Gadis


sambil berbaring di karpet tebal. Rio menurut berbaring di samping Gadis,


memberikan lengannya untuk bantalan kepala Gadis.


“Sayangku, kamu dah sembuh kan? Kamu bisa


denger aku?”tanya Gadis menangkup pipi Rio. “Aku tahu kamu pasti sembuh. Aku


sangat merindukanmu, Rio.”


Rio menunduk mencium bibir Gadis, “Tuch,


kan. Kamu udah sembuh. Ngomong dong.”pinta Gadis. Tapi Rio tetap tidak mau


bicara. Gadis iseng menggelitiki pinggang Rio, tapi Rio malah ikutan menggelitikinya.


“Udah! Geli! Rio, geli!”pekik Gadis


kegelian.


“Eeeggghhh...”tangisan Kaori terdengar. Gadis


bangun dari tidurannya. Ia mengambar botol susu di atas nakas dan tengkurap


diatas tempat tidur memberikan susu pada Kaori. Rio duduk di karpet, ia melihat


posisi Gadis diatas ranjang.


*****


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.

__ADS_1


__ADS_2