
Menikahi Aunty Renata – Reynold & Renata 16
Pagi itu, Renata menemani Kaori berjalan-jalan ke taman. Mereka hanya pergi berdua karena Ken harus
menghadiri meeting dengan salah satu clientnya. Untuk menjaga keselamatan keduanya, Ken memerintahkan beberapa body guard untuk menemani Kaori dan Renata.
“Aunty, apa kabar aunty selama disini?” tanya Kaori membuka pembicaraan ketika mereka menyusuri
pepohonan rindang.
“Baik, Kaori. Cukup sibuk juga karena baru diterima kerja. Kaori gimana? Sudah ada tanda-tanda isi?” tanya Renata sambil membuat bulatan di depan perutnya.
Kaori tersipu malu, Ken mengatakan kalau mereka tidak terburu-buru memiliki anak. Jadi Kaori bisa tenang menikmati kesehariannya sebagai istri Ken. Ketika pembicaraan mereka mulai mengarah ke hubungan percintaan Renata, seseorang mengejutkan mereka.
“Hai, Renata,” sapa Abdi.
Kaori menatap wajah aunty-nya yang seketika berubah dingin. Jelas sekali kalau Renata tidak menyukai pria di hadapannya itu. Entah kebetulan atau sengaja, Renata tidak habis pikir bagaimana bisa Abdi menemukannya pagi itu. “Pagi, pak Abdi,” sahut Renata tanpa basa-basi.
“Kebetulan sekali bertemu disini. Kalian sedang jalan-jalan? Aku tinggal di dekat sini. Kalau tidak keberatan, boleh aku bergabung?” tanya Abdi.
Pria itu berjalan di samping Renata tanpa menunggu persetujuan gadis itu. Kaori merapatkan pegangannya pada lengan Renata. Aunty-nya itu sempat menggeleng pelan menenangkan Kaori yang mulai cemas. Renata tidak merasa kuatir karena di belakang mereka ada body guard yang berjaga-jaga. Sampai di bagian taman yang cukup rindang dari yang lainnya, Renata melihat ada mobil box berhenti di dekat mereka. Ia tidak terlalu curiga karena ada bangunan seperti gudang di dekat taman itu.
Mereka terus berjalan sampai ke pinggir danau buatan yang terletak di tengah-tengah danau. Beberapa
orang tampak ada disana, duduk santai sambil menikmati pemandangan danau yang indah.
“Ayo, kita duduk disana,” ajak Abdi riang gembira sambil menunjuk tempat kosong.
Renata sudah ingin menolak, tapi pria itu sangat pemaksa. “Sebenarnya siapa dia, aunty? Aku merasa kalau dia tidak baik,” ucap Kaori ketika mereka mengikuti Abdi yang berjalan lebih dulu. Renata menoleh memastikan para body guard masih mengikuti mereka.
“Dia rekan kerjaku, Kaori. Tapi beda department. Sejak bertemu pertama kali, dia selalu berusaha mengajakku bicara. Padahal sudah aku tolak dengan sopan,” kata Renata sedikit berbisik.
“Kita pergi saja, aunty. Jangan ikut dengannya. Aku mau makan crepes,” pinta Kaori sambil menahan
langkahnya.
Keduanya hampir berbalik ketika beberapa orang menghadang mereka. Renata menyembunyikan Kaori
di belakangnya, ia menatap mereka semua tanpa rasa takut sedikit pun. “Mau apa kalian? Cepat minggir!” bentak Renata waspada. Seseorang dari mereka menarik tangan Kaori dan menahannya. Wanita itu meronta-ronta minta dilepaskan tapi tubuhnya langsung lemas tak berdaya ketika mulutnya dibekap dengan selembar kain yang berbau menyengat.
“Tolong!!” jerit Renata sambil melihat sekeliling. Harapannya hanya pada para body guard yang tadi mengikutinya. Tapi mereka menghilang entah kemana. Disaat keadaan semakin genting dan Renata mulai panik, seseorang membekap mulutnya. Renata tidak bisa meronta lagi lalu ikut pingsan bersama Kaori.
__ADS_1
Orang-orang di sekitar danau mendekati Renata yang ditinggalkan sendirian. Mereka hanya menculik Kaori tapi tidak Renata. Ketika salah satu dari orang-orang di pinggir danau itu mencoba menyadarkan Renata, Abdi menerobos masuk dan mengaku sebagai pacar gadis itu.
“Apa yang terjadi, sayang? Kenapa kamu pingsan begini?” tanya Abdi pura-pura kuatir.
Beberapa orang mengatakan kalau ada yang mengganggu Renata. Abdi menggendong Renata lalu membawanya ke gudang dekat taman. Ia mengikat kedua tangan Renata ke belakang agar tidak bisa melarikan diri. Di dalam gudang itu, Abdi tersenyum lebar karena bisa mendapatkan Renata. Tadinya ia ingin mendekati Renata dengan cara halus. Tapi ternyata kesempatan berpihak padanya.
Tadi ketika berbalik untuk memanggil Renata, Abdi melihat beberapa orang menghadang Renata dan
wanita yang bersamanya. Ia ingin bertindak sok pahlawan, tapi ciut melihat banyaknya orang yang membuat kedua wanita itu pingsan. Daripada mati konyol babak belur dipukuli, Abdi memilih menunggu apa yang akan terhadi selanjutnya. Ia pikir kalau Renata akan dibawa juga, tapi ternyata malah ditinggalkan begitu saja. Sepertinya orang-orang jahat itu hanya ingin menculik Kaori.
Perlahan Renata membuka matanya dan mendapati dirinya terbaring di sebuah kasur kecil. Udara pengap memenuhi hidungnya, ketika ia ingin menutup hidungnya, Renata baru sadar kalau kedua tangannya terikat kuat.
“Kaori?!” panggilnya cemas. Ia melihat sekeliling, gudang itu cukup besar tapi sedikit gelap. “Kaori!!” panggil Renata lagi.
Renata mencoba bangun, ia berusaha berdiri meskipun dengan susah payah. Dirinya lebih mencemaskan Kaori sekarang. Entah siapa orang-orang yang menculik mereka tadi. Memori ingatannya mencoba mengingat kejadian demi kejadian sampai ia menyadari kehadiran seseorang di hadapannya.
“Pak Abdi?” Renata sedikit lega karena melihat orang yang dikenalnya. “Pak, tolong lepaskan saya. Dimana wanita yang bersama saya tadi? Ini dimana?” tanya Renata bertubi-tubi.
Abdi berjalan memutari kasur yang diduduki Renata, ia terlihat seperti ingin melepaskan ikatan gadis itu. Tapi nyatanya, Abdi mendorong tubuh Renata hingga terlentang di kasur. Belum sempat Renata bangkit lagi, tubuhnya sudah terkukung kedua lengan Abdi.
“Pak Abdi!! Bapak mau apa?!” jerit Renata mulai ketakutan. Ia menelan salivanya, ketika melihat Abdi
Bret! Bret! Kaos yang tadinya menutupi tubuh Renata kini sudah terkoyak menjadi dua. “Tidakk!!! Jangan!!!” jerit Renata terus meronta. Abdi tidak peduli dengan air mata yang mulai mengalir dari kedua mata gadis cantik itu. Ia hanya ingin melampiaskan hasratnya pada Renata.
“Kita lihat setelah ini apa kau masih bisa sombong padaku. Hanya karena kau cantik, sikapmu tidak baik, Renata sayang,” bisik Abdi sebelum mengecup leher gadis itu.
Renata merasa sangat jijik dengan kelakuan Abdi, ia terus menjerit, menendang bagian tubuh Abdi yang
bisa dijangkaunya. Kedua tangannya mulai memerah dan terasa menyakitkan.
“Tolong!! Hmmmpppp!!! Hikss... Hikss... Jangan!!” Renata terus menghindari Abdi yang ingin menciumnya. Tubuhnya mulai terasa melemah kehabisan tenaga. Dalam hatinya Renata terus memanggil nama Reynold, berharap pria itu akan datang menyelamatkannya.
”Kak Rey, tolong aku kak.” batin Renata terus memanggil-manggil Reynold.
**
Sementara itu di tempat lain, Ken baru saja menerima telpon dari seseorang yang mengirimkan foto
Kaori yang sedang terikat. Body guardnya juga baru melapor kalau mereka kehilangan Renata dan Kaori di taman. Beberapa orang menculik Kaori dan meninggalkan Renata di pinggir danau dalam keadaan pingsan.
“Dasar bodoh!! Kalian berpencar! Cari Renata dan istriku. Kalau sampai mereka terluka, bersiaplah mati!” titah Ken dengan wajah menggelap di tempat duduknya.
__ADS_1
Body guard yang melapor langsung kocar-kacir keluar dari kantor Ken. Ken memukul meja kerjanya dengan keras. Pria itu berusaha menelpon Kaori, tapi tidak diangkat. “Kaori, siapapun yang ingin menyakitimu, tidak akan kubiarka hidup tenang,” lirih Ken murka.
Sambil berjalan keluar dari kantornya, Ken menelpon pengikut setianya untuk melacak keberadaan Renata dan Kaori. Kabar diculiknya Kaori sudah menyebar ke seluruh organisasi hitam nenek Almira. Mereka semua sudah memulai pencarian di sekitar tempat Kaori menghilang. Ketika Ken sampai di lantai bawah, seseorang menghentikan Ken dan membisikkan sesuatu padanya. Tak jauh dari tempatnya berdiri, Ken melihat dua orang berdiri di dekat sebuah mobil mewah.
Alfian dan Reynold yang menyamar sebagai direktur FoRena Group tampak berdiri disana. Orang yang mendekati Ken memberikan sebuah tab yang menunjukkan peta dan titik koordinat suatu tempat.
“Siapa kamu?” tanya Ken dingin.
“Nyonya Kaori ada di tempat ini. Anda pasti tahu siapa pemiliknya,” ucap orang itu sebelum pergi menjauh dari Ken.
Ken memperhatikan peta itu dan menggeram marah. Jelas sekali kalau tempat itu adalah tempat musuh bebuyutan nenek Almira. Saingan bisnis keluarga Wiranata sejak dulu, keluarga Wibowo. Sebenarnya mereka tidak saling mengganggu ketika para tetua mereka berkuasa, tapi sejak generasi beralih ke cucu mereka, Anthony Wibowo, persaingan mulai jelas terlihat. Anthony secara terang-terangan menunjukkan sikap bermusuhan terhadap Ken.
Alfian mendekati Ken dan memberitahunya kalau mereka berdua akan mencari keberadaan Renata. Pagi itu, informan Alfian yang bertugas mengikuti Abdi, menemukan pria itu sedang menguntit Renata dan Kaori di taman. Entah bagaimana Abdi bisa tahu keberadaan Renata. Alfian sangat takut terjadi apa-apa dengan Renata, ia lalu memberitahu pak direktur-nya. Pasalnya, pak direktur sudah berpesan untuk menjaga Renata karena gadis itu sangat penting baginya.
Reynold yang mendengar kabar kalau Renata mungkin dalam bahaya, segera melacak keberadaan gadis itu. Signal ponsel Renata terlacak di taman, tepatnya di tepi danau. Reynold mengaktifkan SPIKE dan menemukan Renata dibawa Abdi ke sebuah bangunan yang ada di taman. Ia juga mencari keberadaan Kaori dan menemukan lokasinya dengan cepat. Selanjutnya Alfian menjemput Reynold dan bertemu dengan Ken di depan kantornya.
“Anda kan asisten direktur FoRena Group? Itu direkturmu?” tanya Ken yang masih mengingat Alfian.
“Iya, Tuan Muda. Kami menduga Renata diculik oleh staf kami yang bermasalah. Nyonya Kaori sudah dipastikan ada di tempat itu. Ini kartu nama saya, kita bisa saling berkomunikasi sambil mencari mereka,” sahut Alfian sebelum kembali ke tempatnya semula.
Tidak ada waktu untuk berbasa-basi, Ken hanya mengangguk pada Reynold yang menyamar. Ia segera masuk ke mobilnya lalu meluncur menuju lokasi di dalam tab itu. Beberapa mobil hitam mengikuti mobil mewah Ken. Tidak perlu waktu lama untuk sampai di kawasan elit, tempat Kaori disekap. Iring-iringan mobil mewah itu berhenti di depan pintu gerbang sebuah rumah besar.
Pintu gerbang terbuka lebar, mengijinkan siapapun untuk masuk ke dalam sana. Ken mengangguk memberi perintah pada semua orang untuk masuk. Dirinya sudah siap berjaga-jaga dengan pistol di balik saku jasnya. Mereka disambut beberapa orang berpakaian hitam dengan senjata lengkap di tangan masing-masing. Ken diantar masuk oleh seorang penjaga. Mereka berjalan sampai ke pinggir kolam renang.
Ken memperhatikan sekelilingnya, ada beberapa sniper yang siap menembak mati dirinya di beberapa sudut rumah mewah itu. Suara tawa Kaori mengalihkan perhatian Ken. Baru sebentar saja ia berpisah dengan Kaori, tapi kerinduan sudah memenuhi hatinya.
“Kaori!” panggil Ken ketika ia melihat istrinya sedang bercanda dengan seorang anak laki-laki.
Keduanya menoleh dan Kaori tersenyum senang melihat Ken sudah datang. “Ken,” sahut Kaori dengan senyuman malaikatnya.
“Kakak, itu siapa?” tanya anak laki-laki bernama Andika itu.
“Andika, itu suami kakak. Kak Ken namanya. Ayo salaman,” pinta Kaori lembut.
Belum sempat Ken mengulurkan tangannya, musuh bebuyutannya tiba-tiba muncul di hadapan mereka. “Papa!” pekik Andika sambil memeluk pinggang Anthony Wibowo. Pria muda itu tersenyum menatap putra kesayangannya. Ken menggenggam tangan Kaori dan tersenyum menenangkan istrinya itu.
“Tuan muda Anthony. Terima kasih sudah menjamu istri saya. Jika berkenan kami akan pamit pulang,” ucap Ken basa-basi.
“Tidak masalah, selama putraku mengijinkan Nyonya Kaori pulang,” ucap Anthony dengan tatapan mengancam.
Ketiganya menatap anak laki-laki berusia empat tahun itu. Andika mendekati Kaori yang berjongkok hingga sejajar dengan pria kecil itu. Kaori membujuk Andika agar mengijinkannya pulang dulu.
__ADS_1