Duren Manis

Duren Manis
Jaga jarak


__ADS_3

Jaga jarak


Mia : “Rio?”


Rio menegakkan kepalanya saat mendengar suara Mia.


Rio : “Mah. Gimana Gadis?”


Mia : “Kenapa kamu duduk disini? Masuk yuk.”


Rio menggeleng, ia tidak ingin membuat Gadis


ketakutan lagi. Kalau sampai terjadi sesuatu padanya gara-gara takut melihat


Rio, lebih baik Rio gak ketemu lagi dengan Gadis. Mia merasakan ketakutan Rio.


Ia baru saja kehilangan Kaori dan sekarang punya masalah dengan Gadis dan


bayinya.


Mia : “Tapi kamu harus ketemu dia, Rio.”


Rio : “Apa yang terjadi, mah?”


...Flash back...


Gadis kembali melamun setelah Rio pergi. Mia


mengatakan kalau Gadis bisa memakai kamar Riri karena Rio tidak akan kembali ke


rumah itu. Gadis menatap Mia dan bertanya kenapa Rio pergi. Mia mengelus kepala


Gadis dan mengatakan kalau Rio tidak ingin menyakiti Gadis lagi.


Gadis : “Mah, apa Gadis sudah buat salah?”


Mia : “Gadis, kalian hanya perlu waktu untuk saling


menyembuhkan. Kamu trauma karena Rio dan Rio terluka melihat kamu trauma. Kamu


yang tenang ya. Jangan banyak berpikir.”


Gadis : “Ini semua salah Gadis, mah. Kalau saja gak


ada bayi ini, Rio gak akan menderita.”


Mia : “Apa kamu sangat mencintai Rio, Gadis?”


Gadis tidak bisa mengatakan pada Mia bagaimana rasa


cinta yang ia rasakan untuk pria itu. Setelah menolak cintanya, menghancurkan


masa depannya dengan paksa, bahkan menghamilinya, Gadis masih mencintai Rio


dari lubuk hatinya yang paling dalam.


Mia : “Kamu sangat mencintainya ya.”


Gadis sudah menangis dalam pelukan Mia. Tiba-tiba


Gadis memegangi perutnya, ia merintih kesakitan. Mia bisa melihat di celana


Gadis ada bercak merah. Tidak membuang waktu lagi, Mia membawa Gadis ke rumah


sakit bersama mb Minah.


...Flash back end...


Rio : “Tuch kan, mah. Gara-gara Rio. Gimana keadaan


Gadis sekarang, mah?”


Mia : “Tadi mama tinggal masih tidur. Dokter bilang


dia harus disini dulu dan gak boleh stres. Tapi bayi kalian sehat. Rio, bajumu


kenapa basah begini?”


Rio : “Tadi kehujanan, mah. Biarin aja. Mah,


kayaknya Gadis manggil mama.”


Mia menajamkan telinganya, memang terdengar suara


Gadis memanggil mama dari dalam kamar yang tidak tertutup rapat. Mia segera

__ADS_1


masuk lagi ke dalam kamar itu, dan Rio bisa melihat kaki Gadis bergerak di


bawah selimutnya.


Rio mengepalkan tangannya, ia ingin memastikan


sendiri keadaan Gadis. Dia bahkan sudah tidak ingat menanyakan kondisi bayinya.


Baginya sekarang adalah Gadis harus baik-baik saja. Rio melihat Mia kembali


mendatanginya.


Mia : “Ayo, Rio. Kamu harus ganti baju.”


Rio : “Tapi Gadis, mah...”


Mia : “Gadis sudah mengijinkan kamu masuk. Ayo


cepat. Nanti kamu keburu masuk angin.”


Rio masuk ke kamar itu dengan kepala tertunduk. Ia


duduk disofa tanpa menoleh pada Gadis. Mia mengambil bathrobe dan meminta Rio


melepas bajunya. Rio duduk menyamping membelakangi Gadis. Ia mengganti bajunya


yang basah dengan bathrobe.


Rio duduk lagi di sofa. Ia terus menunduk tidak


berani menatap Gadis. Sampai Mia menyodorkan teh hangat pada Rio. Rio hanya


menggenggam cangkir di tangannya yang sudah hampir mati rasa karena kedinginan.


Mia : “Rio, minum tehnya. Kamu sudah makan?”


Rio hanya mengangguk. Mia yang merasa lelah,


memilih duduk di samping Rio. Ia bersandar pada tubuh Rio yang sedingin es.


Diwajahnya bahkan tidak ada ekspresi yang berarti. Ekspresi wajahnya sedingin


tubuh Rio.


ikutan sedih melihat keadaan Rio. Tadi Alex sempat cerita kalau Rio datang ke


kantor dan baru pulang jam 10 malam. Ia tidak makan apapun, bekerja seperti


mesin.


Gadis merasa sedih melihat keadaan Rio sekarang


tapi ia masih trauma dengan kejadian itu. Kalau saja Rio tidak mendadak


mendekatinya dan mencengkeram tangannya, ia bisa merasa tenang berada di


sekitar Rio.


Gadis : “Rio, kamu udah makan?”


Gadis mencoba bicara pada Rio, biar bagaimanapun


dia harus tetap makan atau Rio tidak akan bisa bertahan. Rio yang mendengar


suara Gadis, spontan menoleh padanya dan menggeleng.


Gadis : “Makan dulu ya. Ini ada roti. Sini.”


Rio menoleh ke samping, Mia sudah tertidur pulas.


Perlahan Rio menggeser kepala Mia dan membaringkannya di sofa itu. Sambil


menunduk, Rio berjalan mendekati Gadis. Ia menerima roti yang disodorkan Gadis


dan mulai memakannya perlahan.


Gadis : “Kamu kerja hari ini?”


Rio mengangguk. Ia belum berani menatap Gadis. Satu


potong roti habis dimakan Rio. Gadis menunjuk kotak makan di samping tempat


tidurnya.


Gadis : “Ada makanan disitu. Kamu habiskan ya. Tadi

__ADS_1


papa yang beli, tapi gak habis.”


Rio mengambil kotak makanan itu dan membukanya.


Wangi ayam goreng dan sambal memenuhi kamar itu. Gadis tersenyum lega melihat


Rio makan dengan lahap. Ia mengelus perutnya yang terasa geli, ia sudah merasa


lebih baik sekarang. Setelah Rio selesai makan, ia merapikan kotak makan itu


dan menghabiskan sebotol air minum.


Rio : “Gadis, kamu sudah baikan? Apa masih sakit?”


Gadis : “Iya. Aku payah ya. Aku kira aku bisa lupa


kejadian malam itu, tapi belum bisa.”


Rio : “Maafkan aku, Gadis. Aku kasar sama kamu. Aku


juga sudah menghancurkan masa depan kamu.”


Gadis : “Aku sudah maafin kamu, Rio. Tapi tolong


jangan tiba-tiba mendekatiku seperti itu. Aku masih takut.”


Rio : “Ya, aku akan jaga jarak dari kamu. Apa kata


dokter tadi?”


Gadis : “Dokter bilang aku gak boleh stress. Harus


banyak istirahat. Bayinya sehat kok, sudah masuk minggu ke 6.”


Rio : “Hmm. Tidur sana. Istirahat.”


Gadis : “Kamu gak tidur? Ntar kamu tidur dimana?”


Rio : “Dimana aja bisa. Aku belum ngantuk.”


Gadis menatap wajah lelah Rio, perlahan matanya


terpejam membawanya ke alam mimpi yang dalam. Rio masih duduk di samping Gadis,


ia ingin menggenggam tangan Gadis, tapi tidak mau menyakiti Gadis lagi.


*****


Rio membuka matanya saat ia merasakan ada yang


mengelus kepalanya. Dilihatnya Mia masih tertidur di sofa. Mungkin ini tangan Gadis


yang mengelus kepalanya. Tidak mau membuat Gadis terkejut, Rio kembali


memejamkan matanya. Ia menikmati pijatan lembut di kepalanya.


Gadis : “Rio, bangun. Rio.”


Rio : “Hmm...”


Rio pura-pura baru bangun tidur. Ia meraih tangan


Gadis di kepalanya dan menggenggamnya.


Gadis : “Rio, tolong bantu aku mau ke toilet.”


Rio : “Boleh?”


Gadis : “Iya.”


Rio mengambil infus yang tergantung disisi tempat


tidur Gadis. Ia menyodorkan infus itu pada Gadis dan menggendongnya masuk ke


kamar mandi. Setelah mendudukkan Gadis di toilet, Rio bingung gimana caranya


tetap menahan infus sementara Gadis melakukan apa yang seharusnya ia lakukan di


toilet.


*****


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.

__ADS_1


__ADS_2