
Jaga jarak
Mia : “Rio?”
Rio menegakkan kepalanya saat mendengar suara Mia.
Rio : “Mah. Gimana Gadis?”
Mia : “Kenapa kamu duduk disini? Masuk yuk.”
Rio menggeleng, ia tidak ingin membuat Gadis
ketakutan lagi. Kalau sampai terjadi sesuatu padanya gara-gara takut melihat
Rio, lebih baik Rio gak ketemu lagi dengan Gadis. Mia merasakan ketakutan Rio.
Ia baru saja kehilangan Kaori dan sekarang punya masalah dengan Gadis dan
bayinya.
Mia : “Tapi kamu harus ketemu dia, Rio.”
Rio : “Apa yang terjadi, mah?”
...Flash back...
Gadis kembali melamun setelah Rio pergi. Mia
mengatakan kalau Gadis bisa memakai kamar Riri karena Rio tidak akan kembali ke
rumah itu. Gadis menatap Mia dan bertanya kenapa Rio pergi. Mia mengelus kepala
Gadis dan mengatakan kalau Rio tidak ingin menyakiti Gadis lagi.
Gadis : “Mah, apa Gadis sudah buat salah?”
Mia : “Gadis, kalian hanya perlu waktu untuk saling
menyembuhkan. Kamu trauma karena Rio dan Rio terluka melihat kamu trauma. Kamu
yang tenang ya. Jangan banyak berpikir.”
Gadis : “Ini semua salah Gadis, mah. Kalau saja gak
ada bayi ini, Rio gak akan menderita.”
Mia : “Apa kamu sangat mencintai Rio, Gadis?”
Gadis tidak bisa mengatakan pada Mia bagaimana rasa
cinta yang ia rasakan untuk pria itu. Setelah menolak cintanya, menghancurkan
masa depannya dengan paksa, bahkan menghamilinya, Gadis masih mencintai Rio
dari lubuk hatinya yang paling dalam.
Mia : “Kamu sangat mencintainya ya.”
Gadis sudah menangis dalam pelukan Mia. Tiba-tiba
Gadis memegangi perutnya, ia merintih kesakitan. Mia bisa melihat di celana
Gadis ada bercak merah. Tidak membuang waktu lagi, Mia membawa Gadis ke rumah
sakit bersama mb Minah.
...Flash back end...
Rio : “Tuch kan, mah. Gara-gara Rio. Gimana keadaan
Gadis sekarang, mah?”
Mia : “Tadi mama tinggal masih tidur. Dokter bilang
dia harus disini dulu dan gak boleh stres. Tapi bayi kalian sehat. Rio, bajumu
kenapa basah begini?”
Rio : “Tadi kehujanan, mah. Biarin aja. Mah,
kayaknya Gadis manggil mama.”
Mia menajamkan telinganya, memang terdengar suara
Gadis memanggil mama dari dalam kamar yang tidak tertutup rapat. Mia segera
__ADS_1
masuk lagi ke dalam kamar itu, dan Rio bisa melihat kaki Gadis bergerak di
bawah selimutnya.
Rio mengepalkan tangannya, ia ingin memastikan
sendiri keadaan Gadis. Dia bahkan sudah tidak ingat menanyakan kondisi bayinya.
Baginya sekarang adalah Gadis harus baik-baik saja. Rio melihat Mia kembali
mendatanginya.
Mia : “Ayo, Rio. Kamu harus ganti baju.”
Rio : “Tapi Gadis, mah...”
Mia : “Gadis sudah mengijinkan kamu masuk. Ayo
cepat. Nanti kamu keburu masuk angin.”
Rio masuk ke kamar itu dengan kepala tertunduk. Ia
duduk disofa tanpa menoleh pada Gadis. Mia mengambil bathrobe dan meminta Rio
melepas bajunya. Rio duduk menyamping membelakangi Gadis. Ia mengganti bajunya
yang basah dengan bathrobe.
Rio duduk lagi di sofa. Ia terus menunduk tidak
berani menatap Gadis. Sampai Mia menyodorkan teh hangat pada Rio. Rio hanya
menggenggam cangkir di tangannya yang sudah hampir mati rasa karena kedinginan.
Mia : “Rio, minum tehnya. Kamu sudah makan?”
Rio hanya mengangguk. Mia yang merasa lelah,
memilih duduk di samping Rio. Ia bersandar pada tubuh Rio yang sedingin es.
Diwajahnya bahkan tidak ada ekspresi yang berarti. Ekspresi wajahnya sedingin
tubuh Rio.
ikutan sedih melihat keadaan Rio. Tadi Alex sempat cerita kalau Rio datang ke
kantor dan baru pulang jam 10 malam. Ia tidak makan apapun, bekerja seperti
mesin.
Gadis merasa sedih melihat keadaan Rio sekarang
tapi ia masih trauma dengan kejadian itu. Kalau saja Rio tidak mendadak
mendekatinya dan mencengkeram tangannya, ia bisa merasa tenang berada di
sekitar Rio.
Gadis : “Rio, kamu udah makan?”
Gadis mencoba bicara pada Rio, biar bagaimanapun
dia harus tetap makan atau Rio tidak akan bisa bertahan. Rio yang mendengar
suara Gadis, spontan menoleh padanya dan menggeleng.
Gadis : “Makan dulu ya. Ini ada roti. Sini.”
Rio menoleh ke samping, Mia sudah tertidur pulas.
Perlahan Rio menggeser kepala Mia dan membaringkannya di sofa itu. Sambil
menunduk, Rio berjalan mendekati Gadis. Ia menerima roti yang disodorkan Gadis
dan mulai memakannya perlahan.
Gadis : “Kamu kerja hari ini?”
Rio mengangguk. Ia belum berani menatap Gadis. Satu
potong roti habis dimakan Rio. Gadis menunjuk kotak makan di samping tempat
tidurnya.
Gadis : “Ada makanan disitu. Kamu habiskan ya. Tadi
__ADS_1
papa yang beli, tapi gak habis.”
Rio mengambil kotak makanan itu dan membukanya.
Wangi ayam goreng dan sambal memenuhi kamar itu. Gadis tersenyum lega melihat
Rio makan dengan lahap. Ia mengelus perutnya yang terasa geli, ia sudah merasa
lebih baik sekarang. Setelah Rio selesai makan, ia merapikan kotak makan itu
dan menghabiskan sebotol air minum.
Rio : “Gadis, kamu sudah baikan? Apa masih sakit?”
Gadis : “Iya. Aku payah ya. Aku kira aku bisa lupa
kejadian malam itu, tapi belum bisa.”
Rio : “Maafkan aku, Gadis. Aku kasar sama kamu. Aku
juga sudah menghancurkan masa depan kamu.”
Gadis : “Aku sudah maafin kamu, Rio. Tapi tolong
jangan tiba-tiba mendekatiku seperti itu. Aku masih takut.”
Rio : “Ya, aku akan jaga jarak dari kamu. Apa kata
dokter tadi?”
Gadis : “Dokter bilang aku gak boleh stress. Harus
banyak istirahat. Bayinya sehat kok, sudah masuk minggu ke 6.”
Rio : “Hmm. Tidur sana. Istirahat.”
Gadis : “Kamu gak tidur? Ntar kamu tidur dimana?”
Rio : “Dimana aja bisa. Aku belum ngantuk.”
Gadis menatap wajah lelah Rio, perlahan matanya
terpejam membawanya ke alam mimpi yang dalam. Rio masih duduk di samping Gadis,
ia ingin menggenggam tangan Gadis, tapi tidak mau menyakiti Gadis lagi.
*****
Rio membuka matanya saat ia merasakan ada yang
mengelus kepalanya. Dilihatnya Mia masih tertidur di sofa. Mungkin ini tangan Gadis
yang mengelus kepalanya. Tidak mau membuat Gadis terkejut, Rio kembali
memejamkan matanya. Ia menikmati pijatan lembut di kepalanya.
Gadis : “Rio, bangun. Rio.”
Rio : “Hmm...”
Rio pura-pura baru bangun tidur. Ia meraih tangan
Gadis di kepalanya dan menggenggamnya.
Gadis : “Rio, tolong bantu aku mau ke toilet.”
Rio : “Boleh?”
Gadis : “Iya.”
Rio mengambil infus yang tergantung disisi tempat
tidur Gadis. Ia menyodorkan infus itu pada Gadis dan menggendongnya masuk ke
kamar mandi. Setelah mendudukkan Gadis di toilet, Rio bingung gimana caranya
tetap menahan infus sementara Gadis melakukan apa yang seharusnya ia lakukan di
toilet.
*****
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.
__ADS_1