Duren Manis

Duren Manis
Kesalahan besar


__ADS_3

Kesalahan besar


Akibatnya kepala Gadis jadi berkunang-kunang


sekarang. Rio hanya meringis menerima pukulan Gadis. Ia tersenyum sambil


membelai pipi Gadis dan mengira itu pipi Kaori.


Rio : “Sayang, kamu nakal ya. Jangan pukul


kepalaku. Aku gelitikin nich.”


Gadis : “Nggaakk!! Lepasin!! Jangan!! Aku bukan


Kaori. Jangan!! Hiks, hiks..”


Rio melepas kancing kemeja yang dipakai Gadis malam


itu. Satu persatu sampai lepas semua. Gadis menatap ngeri melihat kemejanya


terbuka lebar memperlihatkan dadanya yang masih tertutup pada Rio.


Gadis : “Rio, sadar! Aku bukan Kaori!! Lihat aku!


Aku Gadis!!”


Rio menoleh menatap wajah Gadis, ia memicingkan


matanya terlihat wajah Gadis disitu. Ragu-ragu Rio melepaskan tangan Gadis.


Gadis : “Rio, aku Gadis. Aku bukan Kaori! Lepasin


aku ya!”


Rio kembali menggeleng, kali ini ia melihat sosok


Kaori sedang menggodanya untuk mendekat.


Rio : “Kamu yang menggodaku duluan, Kaori sayang.


Malam ini kau jadi milikku.”


Tiba-tiba Rio mendekat dan mencium bibir Gadis yang


sangat terkejut. Gadis mendorong Rio untuk melepaskan ciuman mereka, dan ciuman


Rio pindah ke lehernya.


Gadis : “Hiii....!! Lepasin!! Ach, sakit!”


Rio memberi tanda cinta diatas dada Gadis. Gadis


masih meronta dengan sisa-sisa tenaganya yang terakhir, ia melawan hasrat yang


mulai muncul karena perbuatan Rio pada tubuhnya. Gadis berusaha mempertahankan


kewarasannya meskipun tubuhnya merasakan kenikmatan sentuhan Rio.


Gadis : “Rio!! Lepasin!! Jangan!!”


Glegar!! Hujan mulai turun disertai petir yang


menyambar terus menerus. Di kamar apartment Rio, Gadis menangis kencang dan


menjerit kesakitan saat Rio memaksakan dirinya. Rio bahkan tidak melihat


keadaan Gadis yang sudah berantakan di bawahnya.


Mata Gadis menatap kosong ke foto Kaori saat Rio


menyentakkan tubuhnya, menyalurkan hasratnya yang membara untuk Kaori pada


tubuh gadis malang itu. Air mata Gadis terus mengalir membasahi seprai tempat


tidur Rio.


Gadis : “Aachh...”


Tangan Gadis terulur menggapai foto Kaori di


dinding, sebelum akhirnya dirinya jatuh pingsan dengan keadaan yang sangat


berantakan. Rio menjerit puas setelah permainan mereka akhirnya selesai. Rio


menjatuhkan tubuhnya diatas tubuh Gadis, ia langsung tertidur pulas tanpa


menyadari perbuatannya barusan.


*****


Katty tersentak bangun saat merasakan sakit di

__ADS_1


perutnya. Bayinya seolah sedang bermain sepak bola di dalam sana. Katty


merintih kesakitan sambil mengelus-elus perutnya. Jodi yang mendengar rintihan


Katty, ikutan bangun dari tidur lelapnya.


Jodi : “Kenapa, sayang?”


Katty : “Anakmu nakal nich. Nendang kenceng banget.


Sakit.”


Jodi mengelus-elus perut Katty dan mengajaknya


ngobrol.


Jodi : “Sayangnya papa, tunggu  dua bulan lagi ya. Kamu akan lahir dan bisa


main sepak bola sepuasnya.”


Katty : “Memangnya kamu yakin dia laki-laki? Gimana


kalau perempuan?”


Jodi : “Ach, ralat kau bisa main rumah-rumahan


sepuasnya.”


Katty : “Apa hubungannya rumah-rumahan dengan


menendang? Kau mau anak kita jadi tukang bangunan?”


Jodi : “Bukan gitu, sayang.”


Ingin rasanya Jodi melemparkan dirinya keluar


jendela. Sejak hamil, emosi Katty sedikit tidak stabil. Ia jadi serba salah


setiap menjawab pertanyaan Katty. Kalau gak dijawab lebih salah lagi.


Glegar!! Hujan turun dengan deras. Katty merapatkan


selimutnya karena takut petir. Jodi tersenyum lebar, akhinya langitpun


membantunya. Katty juga takut petir sejak hamil.


Katty : “Takut...”


Sini peluk.”


Katty menurut masuk ke pelukan Jodi dan mulai


memejamkan matanya.


*****


Mia juga tersentak bangun mendengar suara gemuruh


petir yang terus-menerus menyambar diatas rumahnya. Ia melihat ke samping, Alex


bahkan tidak bergerak dari tidurnya. Masih betah ngorok. Mia mengambil air


minum di atas nakas. Ia menghabiskannya dan berjalan keluar kamar untuk


memeriksa kedua putranya.


Hati-hati sekali Mia membuka pintu, ia melihat mb


Roh sedang memberikan susu pada Reva, sementara mb Minah malam itu menemani


nenek yang sedang tidak enak badan.


Mia : “Rava bangun, mb?”


Mb Roh : “Nggak, mb. Masih anteng aja. Padahal suara


petirnya keras sekali.”


Mia : “Sama persis sama papanya. Gak peduli hujan


badai, kalau uda tidur ya tidur aja.”


Mb Roh meletakkan Reva yang sudah tertidur lagi.


Mia memintanya berbaring dan ia berjalan keluar kamar. Mia menuju dapur untuk


mengambil air minum lagi. Matanya menatap foto keluarga terbaru mereka yang


terpasang di ruang keluarga. Foto tanpa Kaori di belakang Rio.


Mia jadi kepikiran dengan Rio. Malam begini ada

__ADS_1


petir menggelegar dan Rio sendirian di apartment. Cukup lama Mia berdiri di


depan foto itu, menatap wajah semua orang dan berhenti lama pada wajah Rio.


Mia : “Semoga kau selalu bahagia, nak. Mama doakan


kebahagiaanmu bisa datang secepatnya.”


*****


Beberapa jam kemudian, Gadis merasakan sesak di


dadanya. Ia membuka matanya dan mencoba menarik nafas dalam-dalam. Dilihatnya


tubuh Rio sedang menindihnya. Gadis berusaha menggerakkan tubuhnya, ia


menggeser tubuhnya yang terasa sangat sakit.


Gadis : “Aaaooww... sss...”


Setelah lepas dari himpitan Rio, Gadis berusaha


bangun. Ia meringis kesakitan sambil memegang area bawah perutnya. Gadis


terisak mengingat peristiwa memalukan yang baru ia alami. Ia memeluk tubuhnya


sendiri yang gemetar kesakitan.


Ditariknya kemeja Gadis menutupi tubuh atasnya.


Branya terkoyak, Gadis berusaha membetulkan bra itu sebelum memakainya lagi


dengan susah payah. Ia mengancingkan kemejanya kembali.


Mata Gadis mencari celana dalamnya dan melihat


celana itu tergeletak di samping tempat tidur. Sambil menahan sakit, Gadis


memakai celana dalamnya lagi. Ia menurunkan roknya dan merapikan penampilannya


yang kacau. Gadis sudah tidak menoleh lagi pada Rio yang sepertinya sudah mulai


terbangun.


Gadis berjalan mendekati tasnya, ia membungkuk


mengambil tas itu. Sambil meringis kesakitan ia memakai sepatunya lagi. Gadis


memilih duduk di sofa sebentar untuk mengatur nafasnya. Ia tidak kuat menahan


sakit di area bawah perutnya. Gadis tidak menyadari Rio sudah bangun dan sedang


menatap dirinya.


Rio : “Jadi ini yang kau rencanakan. Mencoba


menarik perhatianku dan berakhir menjebakku seperti ini!!”


Gadis : “Apa? Tapi aku...”


Rio : “Kau puas sekarang?!! Pergi!!”


Gadis menahan air matanya mendengar teriakan Rio. Ia


ingin menjelaskan kalau semalam Rio memaksakan dirinya pada Gadis sambil


menyebut nama Kaori. Saat Gadis berusaha melawan, ia kalah tenaga dari Rio.


Dirinya hanya korban disitu. Tapi Rio bahkan menatapnya dengan pandangan jijik.


Gadis bangkit dari sofa, tertatih-tatih ia


mengambil tasnya dan berjalan keluar dari kamar apartment Rio. Mengacuhkan Rio


sepenuhnya tanpa berkata apa-apa lagi. Hatinya yang mulai pulih dari cinta


bertepuk sebelah tangan sudah hancur berkeping-keping bersama masa depannya.


Gadis menyandarkan dirinya di dinding apartment. Ia


mencoba berjalan lebih cepat menuju lift tapi tidak bisa. Harga dirinya,


kehormatannya, dirampas dengan paksa oleh orang yang paling ingin ia lupakan


seumur hidupnya. Baginya yang paling sakit adalah Rio melakukannya sambil


memanggil nama Kaori. *****


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).

__ADS_1


__ADS_2