
Kesalahan besar
Akibatnya kepala Gadis jadi berkunang-kunang
sekarang. Rio hanya meringis menerima pukulan Gadis. Ia tersenyum sambil
membelai pipi Gadis dan mengira itu pipi Kaori.
Rio : “Sayang, kamu nakal ya. Jangan pukul
kepalaku. Aku gelitikin nich.”
Gadis : “Nggaakk!! Lepasin!! Jangan!! Aku bukan
Kaori. Jangan!! Hiks, hiks..”
Rio melepas kancing kemeja yang dipakai Gadis malam
itu. Satu persatu sampai lepas semua. Gadis menatap ngeri melihat kemejanya
terbuka lebar memperlihatkan dadanya yang masih tertutup pada Rio.
Gadis : “Rio, sadar! Aku bukan Kaori!! Lihat aku!
Aku Gadis!!”
Rio menoleh menatap wajah Gadis, ia memicingkan
matanya terlihat wajah Gadis disitu. Ragu-ragu Rio melepaskan tangan Gadis.
Gadis : “Rio, aku Gadis. Aku bukan Kaori! Lepasin
aku ya!”
Rio kembali menggeleng, kali ini ia melihat sosok
Kaori sedang menggodanya untuk mendekat.
Rio : “Kamu yang menggodaku duluan, Kaori sayang.
Malam ini kau jadi milikku.”
Tiba-tiba Rio mendekat dan mencium bibir Gadis yang
sangat terkejut. Gadis mendorong Rio untuk melepaskan ciuman mereka, dan ciuman
Rio pindah ke lehernya.
Gadis : “Hiii....!! Lepasin!! Ach, sakit!”
Rio memberi tanda cinta diatas dada Gadis. Gadis
masih meronta dengan sisa-sisa tenaganya yang terakhir, ia melawan hasrat yang
mulai muncul karena perbuatan Rio pada tubuhnya. Gadis berusaha mempertahankan
kewarasannya meskipun tubuhnya merasakan kenikmatan sentuhan Rio.
Gadis : “Rio!! Lepasin!! Jangan!!”
Glegar!! Hujan mulai turun disertai petir yang
menyambar terus menerus. Di kamar apartment Rio, Gadis menangis kencang dan
menjerit kesakitan saat Rio memaksakan dirinya. Rio bahkan tidak melihat
keadaan Gadis yang sudah berantakan di bawahnya.
Mata Gadis menatap kosong ke foto Kaori saat Rio
menyentakkan tubuhnya, menyalurkan hasratnya yang membara untuk Kaori pada
tubuh gadis malang itu. Air mata Gadis terus mengalir membasahi seprai tempat
tidur Rio.
Gadis : “Aachh...”
Tangan Gadis terulur menggapai foto Kaori di
dinding, sebelum akhirnya dirinya jatuh pingsan dengan keadaan yang sangat
berantakan. Rio menjerit puas setelah permainan mereka akhirnya selesai. Rio
menjatuhkan tubuhnya diatas tubuh Gadis, ia langsung tertidur pulas tanpa
menyadari perbuatannya barusan.
*****
Katty tersentak bangun saat merasakan sakit di
__ADS_1
perutnya. Bayinya seolah sedang bermain sepak bola di dalam sana. Katty
merintih kesakitan sambil mengelus-elus perutnya. Jodi yang mendengar rintihan
Katty, ikutan bangun dari tidur lelapnya.
Jodi : “Kenapa, sayang?”
Katty : “Anakmu nakal nich. Nendang kenceng banget.
Sakit.”
Jodi mengelus-elus perut Katty dan mengajaknya
ngobrol.
Jodi : “Sayangnya papa, tunggu dua bulan lagi ya. Kamu akan lahir dan bisa
main sepak bola sepuasnya.”
Katty : “Memangnya kamu yakin dia laki-laki? Gimana
kalau perempuan?”
Jodi : “Ach, ralat kau bisa main rumah-rumahan
sepuasnya.”
Katty : “Apa hubungannya rumah-rumahan dengan
menendang? Kau mau anak kita jadi tukang bangunan?”
Jodi : “Bukan gitu, sayang.”
Ingin rasanya Jodi melemparkan dirinya keluar
jendela. Sejak hamil, emosi Katty sedikit tidak stabil. Ia jadi serba salah
setiap menjawab pertanyaan Katty. Kalau gak dijawab lebih salah lagi.
Glegar!! Hujan turun dengan deras. Katty merapatkan
selimutnya karena takut petir. Jodi tersenyum lebar, akhinya langitpun
membantunya. Katty juga takut petir sejak hamil.
Katty : “Takut...”
Sini peluk.”
Katty menurut masuk ke pelukan Jodi dan mulai
memejamkan matanya.
*****
Mia juga tersentak bangun mendengar suara gemuruh
petir yang terus-menerus menyambar diatas rumahnya. Ia melihat ke samping, Alex
bahkan tidak bergerak dari tidurnya. Masih betah ngorok. Mia mengambil air
minum di atas nakas. Ia menghabiskannya dan berjalan keluar kamar untuk
memeriksa kedua putranya.
Hati-hati sekali Mia membuka pintu, ia melihat mb
Roh sedang memberikan susu pada Reva, sementara mb Minah malam itu menemani
nenek yang sedang tidak enak badan.
Mia : “Rava bangun, mb?”
Mb Roh : “Nggak, mb. Masih anteng aja. Padahal suara
petirnya keras sekali.”
Mia : “Sama persis sama papanya. Gak peduli hujan
badai, kalau uda tidur ya tidur aja.”
Mb Roh meletakkan Reva yang sudah tertidur lagi.
Mia memintanya berbaring dan ia berjalan keluar kamar. Mia menuju dapur untuk
mengambil air minum lagi. Matanya menatap foto keluarga terbaru mereka yang
terpasang di ruang keluarga. Foto tanpa Kaori di belakang Rio.
Mia jadi kepikiran dengan Rio. Malam begini ada
__ADS_1
petir menggelegar dan Rio sendirian di apartment. Cukup lama Mia berdiri di
depan foto itu, menatap wajah semua orang dan berhenti lama pada wajah Rio.
Mia : “Semoga kau selalu bahagia, nak. Mama doakan
kebahagiaanmu bisa datang secepatnya.”
*****
Beberapa jam kemudian, Gadis merasakan sesak di
dadanya. Ia membuka matanya dan mencoba menarik nafas dalam-dalam. Dilihatnya
tubuh Rio sedang menindihnya. Gadis berusaha menggerakkan tubuhnya, ia
menggeser tubuhnya yang terasa sangat sakit.
Gadis : “Aaaooww... sss...”
Setelah lepas dari himpitan Rio, Gadis berusaha
bangun. Ia meringis kesakitan sambil memegang area bawah perutnya. Gadis
terisak mengingat peristiwa memalukan yang baru ia alami. Ia memeluk tubuhnya
sendiri yang gemetar kesakitan.
Ditariknya kemeja Gadis menutupi tubuh atasnya.
Branya terkoyak, Gadis berusaha membetulkan bra itu sebelum memakainya lagi
dengan susah payah. Ia mengancingkan kemejanya kembali.
Mata Gadis mencari celana dalamnya dan melihat
celana itu tergeletak di samping tempat tidur. Sambil menahan sakit, Gadis
memakai celana dalamnya lagi. Ia menurunkan roknya dan merapikan penampilannya
yang kacau. Gadis sudah tidak menoleh lagi pada Rio yang sepertinya sudah mulai
terbangun.
Gadis berjalan mendekati tasnya, ia membungkuk
mengambil tas itu. Sambil meringis kesakitan ia memakai sepatunya lagi. Gadis
memilih duduk di sofa sebentar untuk mengatur nafasnya. Ia tidak kuat menahan
sakit di area bawah perutnya. Gadis tidak menyadari Rio sudah bangun dan sedang
menatap dirinya.
Rio : “Jadi ini yang kau rencanakan. Mencoba
menarik perhatianku dan berakhir menjebakku seperti ini!!”
Gadis : “Apa? Tapi aku...”
Rio : “Kau puas sekarang?!! Pergi!!”
Gadis menahan air matanya mendengar teriakan Rio. Ia
ingin menjelaskan kalau semalam Rio memaksakan dirinya pada Gadis sambil
menyebut nama Kaori. Saat Gadis berusaha melawan, ia kalah tenaga dari Rio.
Dirinya hanya korban disitu. Tapi Rio bahkan menatapnya dengan pandangan jijik.
Gadis bangkit dari sofa, tertatih-tatih ia
mengambil tasnya dan berjalan keluar dari kamar apartment Rio. Mengacuhkan Rio
sepenuhnya tanpa berkata apa-apa lagi. Hatinya yang mulai pulih dari cinta
bertepuk sebelah tangan sudah hancur berkeping-keping bersama masa depannya.
Gadis menyandarkan dirinya di dinding apartment. Ia
mencoba berjalan lebih cepat menuju lift tapi tidak bisa. Harga dirinya,
kehormatannya, dirampas dengan paksa oleh orang yang paling ingin ia lupakan
seumur hidupnya. Baginya yang paling sakit adalah Rio melakukannya sambil
memanggil nama Kaori. *****
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).
__ADS_1