Duren Manis

Duren Manis
Merawat Rara


__ADS_3

Rara mendorong tubuh Arnold yang terus menciumnya, ia perlu bernafas saat ini. Rara menarik nafas panjang, ia mencoba mengatur nafasnya yang terputus-putus.


Arnold menatap Rara lagi, ia ingin mencium Rara melepaskan semua emosi yang meledak di dadanya. Terapinya tadi membuat tubuhnya lebih berenergi dan jauh lebih ringan.


Rara : "Kakak kenapa nyium aku kayak gitu? Bibirku sakit, kak."


Arnold melihat akibat perbuatannya pada Rara, bibir merah muda itu sudah berubah jadi merah dan bengkak.


Arnold : "Maaf, Ra. Aku terlalu semangat. Aku benar-benar perlu penyaluran sekarang."


Rara : "Apa??!!"


Arnold memanggil sopir mereka dan meminta diantar ke taman bermain.


Rara yang mendengarnya langsung semangat, ia sangat senang pergi ke taman bermain.


Perjalanan mereka tidak makan waktu lama, Rara mengedarkan pandangannya ke pintu masuk taman bermain yang tidak terlalu ramai.


Arnold : "Ayo kita masuk, Ra."


Arnold memberikan dua tiket masuk pada penjaga depan dan menarik tangan Rara menuju wahana terdekat.


Mereka mulai memainkan satu persatu wahana di taman bermain itu, tanpa mempedulikan cuaca panas dan udara yang kering.


Mereka pun hanya makan junk food dan minum soda untuk mengisi perut yang keroncongan.


Sampai wahana rumah hantu, Rara mulai merasa kelelahan. Ia merasakan tubuhnya tidak nyaman, dan agak demam.


Suasana rumah hantu yang sepi dan dingin membuat tubuh Rara semakin tidak nyaman. Mereka baru panas-panasan diluar dan sekarang masuk ke ruangan yang dingin.


Rara : "Aarrgghh!!!"


Rara kaget melihat kuntilanak tiba-tiba muncul di depan kereta mereka. Ia memeluk lengan Arnold dengan erat.


Saat itu Arnold menyadari ada yang tidak beres dengan tubuh Rara, suhu tubuhnya agak panas padahal sekitarnya cukup dingin.


Arnold : "Kamu sakit, Ra?"


Rara : "Cuma gak enak badan, kak. Aku juga uda capek."


Arnold : "Habis ini kita pulang ya."


Rara cuma mengangguk. Beberapa hantu yang muncul di depan mereka tidak digubris keduanya yang tengah asyik berpelukan.


Kemesraan keduanya membuat para hantu jomblo ngenes dan memilih mematung saja di pinggir kereta.


Setelah kereta sampai di luar, Arnold membawa Rara keluar taman bermain. Sopir dan mobil mereka sudah siap mengantar mereka kembali.


-------


Sampai di apartment, Rara merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Tubuhnya menggigil dan berkeringat dalam waktu yang bersamaan.

__ADS_1


Arnold yang melihat kondisi Rara, jadi merasa bersalah padanya. Kondisi Rara drop karena perubahan suhu dan tidak makan teratur.


Ia menelpon ke pengurus apartment dan minta dikirimkan bubur dan sup panas, serta obat dan vitamin untuk Rara.


Arnold : "Ra, kamu mau mandi? Aku siapkan air hangat ya."


Rara : "Iya, kak."


Arnold masuk ke kamar mandi, ia memenuhi bath up dengan air hangat dan menyiapkan bathrobe untuk Rara.


Setelah selesai, Arnold membantu Rara berjalan ke kamar mandi. Ia menatap Rara sebentar dan hampir membantu melepas pakaiannya.


Arnold : "Eh, maaf Ra. Pintunya jangan dikunci ya. Kalau ada apa-apa, kamu teriak aja."


Rara : "Kakak jangan masuk ya. Aku..."


Arnold : "Aku gak akan masuk kalau kamu gak manggil. Mandinya jangan lama-lama."


Rara : "Iya, kak."


Arnold keluar dari kamar mandi dan menutup pintunya. Ia memegang kepalanya yang sedikit pusing karena kurang minum.


Arnold menuangkan air putih ke dalam gelas dan mulai meminumnya sampai rasa pusingnya berkurang.


Suara bel pintu membuatnya menoleh. Pengurus apartment datang membawa pesanan Arnold.


Pengurus apartment : "Apa bapak sakit? Mau saya panggilkan dokter?"


Arnold : "Istriku yang sakit. Tolong pesankan makan malam untuk kami nanti. Antarkan jam 8 malam. Menu nomor 5 dua porsi."


Pengurus apartment : "Oh, bapak sudah nikah toh. Baik, pak. Saya permisi."


Arnold menyiapkan bubur dan sup panas untuk Rara makan. Ia menunggu 10 menit, tapi Rara belum keluar juga.


Akhirnya Arnold mengetuk pintu kamar mandi,


Arnold : "Ra? Kamu gak pa-pa kan?"


Tidak ada jawaban dari dalam,


Arnold : "Rara?! Tolong jawab aku atau aku akan masuk!"


Masih belum ada jawaban, Arnold memejamkan matanya, ia harus memastikan kondisi Rara saat ini. Ceklek! Arnold mengintip ke dalam kamar mandi.


Ia melihat Rara memejamkan mata di bath up dengan wajah merah. Arnold menyambar bathrobe dengan cepat dan mengangkat tubuh Rara dari dalam bath up.


Ia menutupi tubuh Rara dengan bathrobe dan membawanya ke atas ranjang. Tubuh Rara panas sekali.


Arnold : "Ra? Rara bangun!"


Rara : "Hmm..."

__ADS_1


Rara menjawab panggilan Arnold, ia mengambil air putih dan kembali mengguncang tubuh Rara.


Arnold : "Ra, minum dulu. Ayo bangun."


Rara meneguk air putih pelan-pelan, dibantu Arnold.


Arnold : "Kamu mau makan? Kamu harus minum obat, Ra."


Rara hanya mengangguk, ia tidak bisa membuka matanya karena terasa berat. Arnold mengambil bubur dan sup panas, ia mulai menyuapi Rara makan dengan sabar.


Bubur di mangkuk tersisa setengahnya saat Rara menjauhkan mulutnya. Arnold meletakkan mangkuk dan menyodorkan air putih untuk Rara.


Arnold : "Tunggu bentar lagi ya. Kamu harus minum obat dulu, baru bisa tidur. Ra, kamu belum pakai baju. Mau kubantu?"


Rara : "Iya..."


Arnold garuk-garuk kepala, ia sekarang bingung bagaimana membantu Rara memakai bajunya. Akhirnya Arnold membuka lemari dan mengambil kaos oblong yang ukurannya cukup besar.


Arnold memasukkan kaos melewati kepala Rara, ia membuka bathrobe yang masih menutupi tubuh Rara dan menurunkannya tanpa melihat.


Setelah menurunkan kaos dan meloloskan kedua tangan Rara, Arnold menarik bathrobe dari dalam selimut dan membuangnya ke samping.


Setidaknya kondisi Rara tidak semakin parah karena masuk angin memakai bathrobe lembab. Arnold mengguncang tubuh Rara lagi, ia menyodorkan obat penurun panas yang langsung diminum Rara.


Setelah itu Rara mulai tertidur lelap dibalik selimut tebal.


-------


Jam 8 tepat, pengurus apartment mengantarkan makan malam untuk mereka. Ia melirik ke atas ranjang, kepo seperti apa istri Arnold.


Arnold sengaja berdiri menutupi ranjang, dan meminta pengurus apartment itu keluar. Ia makan malam sendiri sambil sesekali melirik ke arah Rara.


Setelah membereskan piring bekas makannya dan mangkuk bubur Rara tadi, Arnold mengambil vitamin dan meminumnya. Ia tidak ingin tertular demam juga hingga keduanya jatuh sakit.


Sebelum tidur, Arnold mandi dulu. Ia mandi dengan cepat dan keluar hanya memakai handuk. Merasa yakin Rara tidak terbangun, Arnold memakai pakaiannya di depan lemari.


Ia mendekati Rara dan menyentuh keningnya, masih panas. Akhirnya Arnold membuka kaosnya, berbaring di samping Rara dan menarik tubuh Rara ke dalam pelukannya.


Arnold merasakan tubuh bagian bawahnya mulai bereaksi dan menegang. Ia menahan hasratnya mati-matian melihat pakaian Rara yang minim.


Saat ini ia hanya ingin Rara sembuh dari sakitnya, agar besok mereka bisa segera kembali ke kota Y.


--------


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan sarannya ya para reader.


Sama tolong vote poin untuk karya author yang ini ya. Caranya cari detail dan klik vote.


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.

__ADS_1


--------


__ADS_2