
Setelah kejadian di ruang kerja Alex, Jelita masih tetap membawakan bekal makan siang untuk Alex. Ia juga tetap membuatkan kopi atau minuman lain untuk Alex.
Alex memilih menghindari Jelita dan memberi banyak kesempatan untuk asistennya agar bisa mendekati wanita itu. Jelita yang merasa kalau Alex menghindarinya, berusaha bicara dengannya.
Jelita datang ke ruang kerja Alex setelah jam makan siang dan beralasan ingin berdiskusi tentang projek. Alex tidak bisa menghindarinya, mereka duduk saling berhadapan dan dipisahkan oleh meja kerja Alex.
Alex : "Apa yang mau kamu bicarakan, Jelita?"
Jelita : "Pak, kenapa bapak menghindari saya?"
Alex : "Saya rasa kamu sudah tahu alasannya. Saya sudah punya istri yang sedang hamil. Perhatian yang kamu berikan, itu agak berlebihan dan saya tidak bisa menerimanya."
Jelita : "Bapak marah ya..."
Alex : "Saya tidak marah, hanya saja saya tidak mau ada salah paham diantara kita. Semuanya harus jelas disini."
Tok, tok, tok... Romi masuk ke dalam ruang kerja sambil membawa beberapa dokumen yang cukup banyak. Sejenak wajah Jelita memerah, ia mengalihkan pandangannya dari Romi yang sudah meliriknya.
Alex sengaja tidak meminta Jelita pergi, ia memeriksa dokumen yang dibawa Romi sambil sesekali melirik keduanya. Romi terang-terangan duduk di samping Jelita, menggodanya dengan sengaja menyenggol lengannya.
Meskipun Jelita tidak menunjukkan reaksi apapun, wajahnya sangat jelas memerah dengan keisengan Romi. Ia ingin pergi dari sana secepatnya, tapi pembicaraannya dengan Alex masih belum selesai.
Jelita meringkuk di kursinya, ia ingin menggeser kursinya sedikit menjauh dari Romi, tapi apa daya kursi itu seperti dipasangi lem dan tidak bisa bergerak.
Jelita mulai kesal dengan Romi, biasanya asisten Alex itu akan tetap berdiri di samping Alex saat dia memeriksa dokumen di depannya.
Jelita : "Pak Alex, saya permisi dulu. Nanti saya kembali lagi."
Alex : "Tunggu sebentar lagi selesai. Kita belum selesai bicara."
Jelita lagi-lagi pasrah duduk di samping Romi yang semakin gencar menggodanya. Ia mengambil dokumen dihadapan Jelita dan sempat-sempatnya menatap wanita itu sebelum menarik tangannya.
Alex tersenyum tipis melihat kemajuan hubungan kedua insan didepannya, setidaknya ia tidak perlu khawatir pada Mia akan cemburu padanya.
Alex menutup dokumen terakhir yang sudah ia tanda tangani, dan menyerahkannya pada Romi. Romi belum juga beranjak dari kursinya, ia memeriksa ulang setiap lembar dokumen itu.
Alex melanjutkan pembicaraannya dengan Jelita,
Alex : "Sekali lagi saya tegaskan untuk berhenti mengirimkan makanan dan minuman untuk saya. Karena saya tidak nyaman dengan itu. Atau kamu bisa mengirim makanan untuk Romi."
Jelita : "Saya mengerti, pak. Tapi tolong bantu saya belajar bisnis juga ya. Kalau saya gagal dalam dua bulan ini, bisa-bisa saya dikirim lagi ke luar negeri."
Alex : "Romi bisa membantumu. Seringlah lembur dengan dia, kamu akan bisa menguasai projek papamu dalam waktu sebulan."
Wajah Jelita menegang, kemarin saat mereka berdua saja Romi berani menciumnya. Bagaimana kalau mereka lembur nanti?
Alex : "Romi bisa bantu Jelita, kan?"
Romi : "Siap bos. I'll do my best."
__ADS_1
Jelita hanya mengangguk meratapi nasibnya. Awas saja kalau Romi berani macam-macam padanya lagi. Tapi kenapa lidahnya terasa kelu saat ingin mengadu pada Alex tentang kejadian kemarin?
Saat ingin kembali ke ruangannya, Jelita merasakan tangannya ditarik seseorang. Romi menarik tangan Jelita masuk ke ruang arsip di samping ruangan Alex.
Jelita : "Romi!! Kamu mau apa?"
Romi : "Nanti malam kita lembur ya. Aku mau makan masakan buatanmu."
Jelita : "Kita lembur dimana? Gimana juga aku masaknya."
Romi : "Jadi kamu mau masak untukku?"
Jelita : "Apa? Nggak mau. Lepasin aku."
Jelita meronta tapi Romi mendorong tubuhnya hingga membentur deretan arsip di belakangnya.
Jelita : "Aooww... sakit. Kasar banget sich."
Bukannya merasa bersalah, Romi justru menyudutkan Jelita dan menciumnya lagi. Jelita mendorong Romi dengan keras dan plak!
Tamparan tepat mengenai pipi kanan Romi, Jelita menghentakkan kakinya dengan kesal. Ia juga menendang kaki Romi sebelum melangkah keluar dari ruang arsip.
Romi tersenyum mendapat tamparan dari Jelita. Sepertinya ia harus mengubah strateginya dalam mengejar wanita itu.
-------
Jam 6 sore, Jelita masih berkutat di meja kerjanya. Keningnya mengkerut membaca beberapa dokumen projek yang nota bene cukup rumit bagi kepalanya.
Akhirnya ia menyerah pada dokumen itu dan membawanya ke ruang kerja Romi. Bukannya tadi Alex sudah meminta Romi agar membantunya.
Jelita keluar dari lift dan berjalan pelan sambil celingukan seperti maling. Ia melihat ruang kerja Romi yang masih menyala lampunya.
Romi tampak sedang duduk di depan laptopnya,
Jelita : "Permisi... Romi, bisa gak bantu aku bentar?"
Romi menoleh dari laptopnya sebentar dan meminta Jelita duduk di sampingnya. Romi menatap layar laptopnya dengan serius. Ia terlihat imut dengan kacamata dan wajah seriusnya. Jelita diam-diam terpesona juga melihat penampakan Romi saat itu.
Cukup lama Jelita menunggu, cukup waktunya juga untuk memperhatikan Romi bekerja. Meskipun kurang ajar padanya, tapi saat Romi bekerja, ia terlihat serius dan tekun.
Romi : "Ada yang bisa kubantu?"
Jelita masih melongo menatap visual Romi yang kini sudah menghadap padanya. Ia menatap Romi dan menyadari kalau ia sudah melamun.
Jelita : "Aku bingung dengan dokumen ini. Sebenarnya untuk apa dokumen ini diperlukan?"
Romi mengambil dokumen dari tangan Jelita dan membacanya dengan cepat. Ia langsung menjelaskannya dengan perlahan sampai Jelita mengangguk mengerti.
Jelita : "Jadi di semua pengeluaran dana nanti ada dokumen seperti ini ya?"
__ADS_1
Romi : "Iya, kalau sampai tidak ada, maka bisa dicurigai ada pengambilan dana tanpa sepengetahuan dari pihak-pihak yang bertanda tangan di bawah dokumen ini."
Jelita : "Oooo... trus kalau dokumen ini untuk apa?"
Romi membaca dokumen berikutnya dan kembali menjelaskannya kepada Jelita. Kali ini Jelita kebingungan dengan peruntukan pada dokumen itu. Romi membuat contoh sederhana di laptopnya.
Kepala mereka berdua sangat dekat dengan Rara yang hampir menempel pada Romi untuk melihat contoh yang diberikan Romi. Romi tersenyum tipis, ia menikmati wangi parfum Jelita yang berkeliaran di sekitarnya.
Jelita tersenyum senang saat ia mulai memahami contoh yang diberikan Romi. Ternyata dokumen-dokumen itu tidak terlalu rumit dan bisa diingat dengan cepat.
Jelita membereskan dokumen yang diserahkan Romi kepadanya, ia melirik jam tangan sudah jam 8 malam. Tidak terasa hampir 2 jam ia diskusi dengan Romi. Perutnya sedikit lapar dan ia yakin Romi juga sudah lapar.
Jelita melirik Romi yang kembali berkutat dengan laptopnya, bersikap acuh padanya. Ini sangat berbeda dengan apa yang ditunjukkan Romi sebelumnya.
Romi : "Ada yang kau perlukan lagi?"
Jelita : "Itu... kamu uda makan?"
Romi : "Nanti aja sambil pulang. Nanggung."
Jelita : "Kamu jam berapa mau pulang? Aku traktir makan ya."
Romi : "Aku biasa pulang jam 11, pulanglah dulu. Uda malam."
Jelita : "Kamu baru makan jam segitu?!!"
Romi : "Iya, emang kenapa?"
Jelita : "Itu terlalu malam, aku pesankan makan malam ya?"
Romi : "Gak usah merepotkanmu."
Jelita : "Kamu kan sudah bantu aku, aku pesankan sekarang. Kamu mau makan apa?"
Romi menarik tangan Jelita membuat wanita cantik itu terjatuh di pangkuannya. Untung saja ia belum mengambil ponselnya diatas meja. Kalau iya, bisa-bisa ponsel itu terlempar jatuh.
Romi : "Kalau aku bilang aku mau makan kamu, boleh?"
Jelita melotot kesal, karena merasa dipermainkan Romi. Ia ingin bangun dari pangkuan Romi, tapi Romi tidak membiarkannya. Jelita yang tidak bisa berkutik, memejamkan matanya takut melihat Romi mendekatkan tubuhnya.
------
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan sarannya ya para reader.
Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya...
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
__ADS_1
--------