Duren Manis

Duren Manis
Malam berdua


__ADS_3

Malam semakin larut dan mereka bersiap pergi dari gedung resepsi. Arnold meminta bicara pada Alex,


Arnold : "Pa, saya sama Rara ijin malam ini nginep di apartment ya."


Alex : "Kenapa? Kamu mau ngapain Rara?"


Arnold : "Gak ngapa-ngapain, pa. Beneran. Kan saya uda janji."


Alex : "Kamu yakin kuat?"


Arnold : "Ya harus kuat, beberapa hari ini juga kan bisa kami lewati dengan aman."


Alex : "Kalau gak kuat, papa ada obatnya. Mau coba?"


Arnold : "Maksud papa?"


Alex : "Papa cabut janjimu. Tapi jangan maksa, kalau Rara belum siap. Awas aja kamu bikin Rara nangis."


Arnold : "Papa beneran?" Mata Arnold berbinar, tapi ia masih ragu dengan apa yang didengarnya barusan.


Alex : "Mau apa gak?"


Arnold : "Mau, pah. Beneran mau. Arnold janji akan pelan-pelan."


Alex : "Nah, kan ketahuan kamu juga ngebet kawin."


Arnold : "..." Arnold menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia malu kepergok mertuanya gak sabaran melewati malam pertama.


Alex : "Sekarang Rara sudah jadi tanggung jawab kamu. Kamu kepala keluarga, jadi papa serahkan Rara sepenuhnya sama kamu. Papa sudah gak bisa campur tangan terlalu banyak dalam rumah tangga kalian."


Arnold : "Jadi, saya bisa..."


Alex : "Kalian bebas mau tinggal dimana saja. Mau di rumah papa, mau di apartment. Sesuka kalian saja. Tapi kalau ada apa-apa, tolong kasi tau papa ya."


Arnold : "Iya, pah. Makasi pah."


Mereka menoleh pada kedua mempelai wanita masing-masing yang asyik ngobrol sambil bercanda.


Keduanya masih terlihat cantik meskipun sudah kelelahan menyambut tamu yang datang.


Rara : "Mah, malam pertama sakit gak?"


Mia : "Sakit dikit..." Mia menyadari sesuatu dan menggantung kata-katanya.


Rara : "Emang mama uda... sama papa..."


Mia : "Iya, uda. Waktu nginep di apartment beberapa hari lalu."


------


Flash back...


Alex tidak mau menghentikan ciumannya pada Mia. Ia terus menekan Mia di dalam shower box itu sampai nafas mereka terasa terputus-putus.


Mia : "Mas, jangan..."


Bahkan Alex tidak mendengar apa yang Mia katakan. Ia terlalu sibuk mempermainkan tubuh Mia hingga bergetar hebat.


Alex menahan tubuh Mia dan menuntunnya keluar dari kamar mandi. Tangannya sempat mematikan kran air di bath up sebelum keluar dari kamar mandi.


Bruk! Tubuh Mia terjatuh diatas ranjang. Ia membuka matanya menatap sosok Alex yang sudah mengukungnya hingga tidak bisa bergerak.


Perlahan dengan kelembutan dan rayuan manis, Alex mulai membuai Mia lagi. Meski sesekali Mia masih melawan, Alex tetap maju tak gentar.

__ADS_1


Sampai teriakan Mia memecah keheningan malam yang panas di kamar apartement itu. Mia menangis menutupi wajahnya dengan tangan, saat Alex berhasil menjebol keperawanannya.


Rasa sakit pada tubuh bagian bawahnya membuatnya tidak nyaman dan ingin mengakhirinya. Tapi entah apa yang dilakukan Alex hingga Mia tidak merasakan sakit lagi.


Malam itu Alex melakukannya beberapa kali tanpa jeda. Staminanya terlalu kuat karena rajin berolahraga. Sampai-sampai Mia merasa hampir pingsan.


Tubuhnya menggigil kedinginan, AC yang dingin, rambut dan tubuh yang basah, membuat Mia masuk angin. Ia demam setelah malam pertama itu dan membuat Alex harus merawatnya.


Flash back end...


------


Rara : "Rasanya gimana, mah?"


Mia : "..." Mia kebingungan memilih kata-kata yang tepat untuk menggambarkan perasaannya saat itu.


Rara : "Kok diem sih, mah. Ayo bilang..."


Mia : "Eh, jadi kepo sich. Coba aja rasain sendiri dulu."


Rara : "Mama lupa ya, Rara kan gak dikasi sama papa sampai lulus kuliah. Masi lama nunggunya."


Mia : "Oh iya ya. Rasanya campur sari pokoknya, ada sakit, geli, tapi nikmat."


Rara : "Kenapa kayak orang lagi dipijet?"


Mia : "Bedalah, Ra. Gak bisa dijelasin dengan kata-kata. Harus dirasain sendiri."


Rara : "Ya uda dech, mah. Rara tunggu aja."


Si kembar yang sejak tadi memperhatikan keduanya, jadi kepo dengan apa yang mereka bicarakan.


Tapi saat keduanya ingin bertanya, Alex sudah meminta mereka naik ke dalam mobil. Riri membantu Mia masuk ke dalam mobil Alex yang sudah terparkir di depan mereka.


Nenek sudah pulang duluan bersama rombongan keluarga besar naik kendaraan yang disewa Alex.


Rara merenggangkan tubuhnya yang pegal, ia melihat sekeliling dan menyadari kalau ini bukan jalan menuju rumahnya.


Rara : "Mas, kita mau kemana?"


Arnold : "Kita nginep di apartment malam ini."


Rara : "Mas uda bilang sama papa?"


Arnold : "Udah, malahan uda dikasi ijin..."


Rara : "Ijin apa lagi?"


Arnold : "Ijin buat anak..."


Wajah Rara menghangat, ia terkejut sekaligus penasaran mendengar kata-kata Arnold.


Rara : "Papa beneran ngasi ijin? Kita boleh..."


Arnold : "Iya, kalau gak, mana boleh kita ke apartmentku malam ini."


Rara : "..." Rara melirik Arnold yang masih konsen menyetir.


Arnold : "Sebentar lagi kita sampai. Kamu istirahat dulu ya."


Mobil Arnold memasuki parkiran apartment, ia membantu Rara keluar dari mobil dan mereka memasuki lift bersama.


Arnold menatap Rara yang terlihat gelisah, tangannya juga dingin. Ia tersenyum pada Rara,

__ADS_1


Arnold : "Kamu kenapa? Kok gelisah gitu?"


Rara : " Aku gak bawa baju ganti, mas. Nanti aku ganti pake apa?"


Arnold : "Bentar lagi juga kamu gak perlu baju, Ra."


Rara : "Mas ngaco ach, aku bisa masuk angin kalo gak pake baju."


Arnold menggaruk kepalanya, ia lupa kalau Rara masih polos. Bahkan tidak mengerti kode yang ia katakan tadi.


Lift berhenti di lantai tempat apartment Arnold, beberapa orang tampak menunggu di depan lift. Mereka sedikit terkejut dan berbisik-bisik melihat penampilan Rara yang masih memakai baju pengantin lengkap.


Rara merangkul lengan Arnold yang menuntunnya menuju kamar apartmentnya. Setelah Arnold membuka pintu, Rara terpana melihat kamar itu.


Kamar Arnold yang selalu terlihat bersih dan rapi kini penuh dengan kelopak mawar merah yang memenuhi lantai kamar. Bahkan diatas ranjang juga penuh kelopak mawar merah.


Arnold membopong Rara dan mendudukkannya di pinggir ranjang. Ia berlutut di depan Rara membantunya melepas higheels yang dipakainya.


Tangan Arnold meraba betis Rara sampai ke lututnya. Rara yang merasa geli, menepis tangan Arnold.


Rara : "Mas, geli."


Arnold duduk di samping Rara, ia meraih rangkaian bunga melati yang menjuntai dari kepala Rara sampai ke pinggangnya. Perlahan Arnold melepaskan rangkaian itu.


Arnold meraih tangan Rara, mencium telapak tangan istrinya yang harum melati. Ia menatap mata Rara dengan penuh cinta.


Rara : "Mas, aku mau mandi dulu. Gerah."


Arnold : "Kita mandi sama-sama ya. Aku juga gerah. Boleh aku bantu?"


Rara mengangguk, Arnold mulai melepas hiasan rambut Rara, sementara Rara melepas kancing kebayanya.


Mereka berusaha melakukannya dengan cepat karena sudah lelah dan tidak sabaran.


Setelah berhasil melepas hiasan rambut Rara, Arnold mengalihkan pandangannya ke tubuh Rara yang hampir polos.


Arnold : "Ra, boleh malam ini? Aku gak maksa kalau kamu capek."


Rara : "Pelan-pelan ya, mas. Aku... aku takut sakit..."


Arnold melucuti pakaiannya dan pakaian yang tersisa di tubuh Rara. Ia membopong Rara masuk ke kamar mandi, mereka mandi bersama, Arnold membantu Rara membersihkan riasan wajahnya dan keramas.


Setelah selesai mandi dan mengeringkan rambut Rara, Arnold mendekati lemari pakaian dan memperlihatkan deretan pakaian wanita di dalam sana.


Arnold : "Ra, pakai ini ya. Aku mau lihat ukurannya pas gak."


Arnold memberikan piyama tidur untuk Rara. Ia berbalik menghadap ke lemarinya agar Rara leluasa memakai piyama itu.


Rara : "Mas, udah..."


Arnold menoleh menatap Rara, kakinya spontan melangkah mendekati istrinya itu. Rara menunduk malu, tangannya menyilang menutupi dadanya.


Arnold : "Sayang, lihat aku."


Saat Rara menatap Arnold, mereka berciuman mesra, melewati malam dingin saling menghangatkan satu sama lain.


------


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan sarannya ya para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya...

__ADS_1


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


--------


__ADS_2