Duren Manis

Duren Manis
Extra part 36


__ADS_3

Extra part 36


Sampai di kantor Alex, Keira tidak melihat Bilar.


Ia cukup lega karena tidak perlu bertemu pria itu pagi ini atau emosinya akan


terpancing lagi. Keira segera duduk di ruang kerja Rio dan mulai mengerjakan


tugasnya seperti biasanya.


Ketika Rio datang, ia melihat kaki Keira lebih


parah dari sebelumnya. Tapi sebelum Rio bertanya, Keira sudah lebih dulu


menyodorkan tumpukan dokumen untuk ia periksa.


“Ini, om. Hari ini harus di fotocopy. Tolong


dicek,” kata Keira menunjuk dokumen di atas meja Rio.


Pria itu sampai tidak bisa berkata apa-apa terutama


setelah mendapat chat dari papanya kalau Bilar batal kerja di perusahaan Alex.


Tidak bisa dipungkiri Rio kalau Keira memang bekerja dengan baik dan


sungguh-sungguh, walaupun kelakuannya menyebalkan.


**


Beberapa hari kemudian, Bilar muncul lagi di kantor


Alex. Keira hampir jatuh ketika mendapati putra Bianca itu berdiri di


sampingnya.


“Elo! Ngapain disini?!” reaksi Keira sedikit


berlebihan. Ia langsung memasang mode waspada kalau saja Bilar membawa mamanya


yang galak ke kantor Alex. Salah-salah, dirinya bisa lebih babak belur dari


sebelumnya.


“Aku kerja lah. Emangnya kesini cuma main,” sahut


Bilar.


Keira bengong melihat pria itu mengambil dokumen


yang menumpuk di meja Rio, lalu membawanya ke tray yang biasa dipakai Reva.


“T—tapi, mama lo... Nggak, lupakan. Bye.” Keira


memutuskan kembali konsentrasi dengan pekerjaannya, alih-alih memikirkan alasan


kenapa Bilar bisa bekerja lagi di kantor Alex. Tapi sejujurnya, ia sangat


penasaran dengan apa yang terjadi.


...Flash back on...


Setelah Bilar terbangun dari mabuknya, ia merasa


sangat segar. Tidak pusing ataupun lemas. Tidurnya juga sangat nyenyak, tidak


terbangun sedikitpun.


Mengetahui putranya terbangun dalam keadaan sangat


bugar, Bianca mulai mengomel lagi. Ia langsung melarang Bilar kembali bekerja


di kantor Alex. Bilar tentu saja menurut apa yang dikatakan Bianca, meskipun ia


kecewa karena tidak bisa bertemu lagi dengan Keira.


Bilar mulai bekerja di perusahaan Bianca, tapi


pekerjaannya hanya menonton yutub di ponselnya. Staf Bianca yang bertugas


mengajari Bilar jadi bingung sendiri bagaimana menyuruh Bilar bekerja. Mau menegur


tapi takut karena Bilar anak pemilik perusahaan. Nggak ditegur, anaknya semakin


seenaknya sendiri. Bahkan Bilar tidak mau bicara dengan siapapun kecuali


bodyguard yang mengantarnya ke kantor.


Bianca yang mendapat laporan kalau Bilar tidak mau


melakukan apa-apa, ingin mengomeli Bilar lagi. Tapi X memberitahu Bianca, kalau


setidaknya setelah bekerja di kantor Alex, Bilar mau pergi ke club.


“Apa maksudmu, X?” tanya Bianca emosi.


“Nyonya ingin tuan muda lebih banyak bergaul, kan?


Memang awalnya salah, sampai ke club dan pulang dini hari. Tapi setidaknya,


tuan muda sudah mau pergi kesana tanpa dipaksa, nyonya.” X mencoba merubah


keputusan Bianca.


“Trus aku harus gimana? Membiarkan Bilar bergaul


dengan gadis liar itu?!” Bianca masih emosi dengan Keira.


“Nyonya bisa memberikan tuan muda kesempatan.


Pelan-pelan diarahkan untuk berteman dengan yang lain juga, nyonya.” X berhasil

__ADS_1


mempengaruhi Bianca.


Akhirnya Bianca terpaksa meralat kata-katanya pada


Alex. Ia ingin Bilar kembali bekerja di kantor Alex.


...Flash back off...


Bilar terus saja mengejar Keira dengan dokumen di


tangannya. Sekali dua kali, Keira masih bersabar memberitahu hal yang sama.


Tapi sampai ketiga kalinya, gadis itu sudah tidak sabaran lagi. Ia mengacuhkan


Bilar ketika pria itu bertanya hal yang sama.


“Kei, aku masih belum ngerti. Ini gimana tadi?”


tanya Bilar sedikit manja. Keira menatap geli pria culun di depannya itu.


“Tuan Superman, makanya kalo gue jelasin itu


dengerin. Bukannya cengar-cengir kayak sapi ompong. Sekali lagi nanya, gue kasi


piring lo,” kata Keira sewot.


Bilar malah senyam-senyum mendengar omelan Keira.


Gadis itu makin kesal lalu menendang kaki Bilar, “Udah ngerti blum?! Nanya


lagi! Cepetan!” Keira mendorong tubuh Bilar agar cepat-cepat menyelesaikan


pekerjaannya. Mereka sudah selesai memfotocopy dokumen yang diperlukan Alex


untuk meeting dan sekarang harus merapikan file di ruang kerja Alex.


Keira duduk di lantai tanpa alas. Kaki jenjangnya


tampak terlentang lurus tanpa sepatu. Bekas luka di lututnya mulai membaik,


bahkan pergelangan kakinya juga sudah sembuh. Bilar ikut duduk di depan Keira,


berhadapan dengan gadis itu.


“Lutut kamu kenapa?” tanya Bilar yang baru sempat


mengobrol dengan Keira.


“Jatuh, trus luka,” sahut Keira tanpa menoleh pada


Bilar.


Bilar menyentuh pergelangan kaki Keira. Gadis itu berjengit


geli, sebelum menggeser kakinya. Bilar ganti menyentuh lutut Keira.


“Lo bisa diem nggak sich! Kerjaan kita masih


telunjuknya.


Bilar menangkap tangan Keira, lalu menggenggamnya.


Sejujurnya Keira suka dengan apa yang dilakukan Bilar, tapi ia teringat dengan


mama Bilar yang galak. Keira menarik tangannya lalu mengacuhkan pria


berkacamata itu.


Ketika Alex kembali ke ruangannya, Keira dan Bilar


keluar dari sana. Melihat Rio sudah duduk di ruang kerjanya, Keira langsung


mendekat lalu merangkul leher Rio dari belakang.


“Om..., aku capek. Pijitin dong,” rayu Keira mulai


kumat lagi.


“Lepasin, Kei. Kalo capek, istirahat sana. Jangan


ganggu aku,” pinta Rio berusaha bersikap baik pada Keira.


Keira memanyunkan bibirnya, ia memilih pergi ke


pantry tanpa menyadari kalau Bilar mengikutinya. Sampai di pantry, Keira melepas


sepatunya. Ia kembali berkeliaran di pantry tanpa memakai alas kaki. Saat Keira


sedang melihat-lihat aneka mie didalam lemari, tiba-tiba ada seseorang yang


menyentuh pundaknya.


“Hii...,” jengit Keira kaget.


Gadis itu melirik ke belakang, Bilar berdiri di


belakangnya dengan kedua tangan di pundak Keira. Pijatan lembut mulai menekan


pundak Keira. Gadis itu menepis tangan Bilar, tapi pria itu tidak menyerah.


“Stop, Bilar. Udah cukup. Tolong jauhin aku, okey.


Aku ini pengaruh yang buruk buat kamu,” kata Keira sambil menatap mata Bilar.


“Aku nggak ngerasa gitu. Meskipun kamu genit sama


pria lain,” sahut Bilar.


Keira menarik nafas panjang, “Mamamu nggak suka


sama aku. Okey. Udah paham kan? Pergi sana,” kata Keira hampir berbalik. Tapi Bilar

__ADS_1


menarik tangan gadis itu untuk menghadap padanya lagi.


“Apa maksudmu?” tanya Bilar.


**


Sementara itu di kantor Alex, kedatangan Bianca dan


X. Bianca sengaja melakukan inspeksi mendadak untuk mengecek apa yang dilakukan


Bilar. Sampai di ruang kerja Alex, Bianca tetap tidak menemukan putranya itu.


“Tadi dia ada disini,” kata Alex ketika Bianca


bertanya padanya.


Alex mengatakan mungkin Bilar pergi ke toilet. Bianca


yang sudah mendapat firasat buruk, buru-buru ke toilet dan mengecek ke dalam


sana. Tidak ada seorang pun di dalam sana. Tapi saat ia melihat ke dalam pantry


yang berdekatan dengan toilet, mata Bianca terbelalak melihat Bilar dan Keira


dalam posisi yang sangat intim.


Keira tampak duduk di meja pantry dengan Bilar


berdiri di depannya. Tangan Keira tampak merangkul leher Bilar dan sepertinya


mereka hampir berciuman atau sudah melakukannya.


“Bilar!!!” jerit Bianca histeris.


X menepuk keningnya melihat Bilar dan Keira yang


langsung menjauh satu sama lain.


“Kamu! Masih berani godain anak saya! Alex harusnya


pecat kamu, gadis liar!” teriak Bianca sambil berjalan mendekati Keira.


“Tanya tuch, anak tante yang maksa!” Keira mengusap


kasar bibirnya, ia juga menendang kaki Bilar saking emosinya.


Bilar meringis kesakitan sambil memegang kakinya.


Memang dia yang salah, karena kesal tidak mendapat jawaban dari Keira, Bilar


nekat menggendong gadis itu. Ia mendudukkan Keira diatas meja pantry, lalu


memaksa ingin mencium bibir pink gadis itu. Keira sempat menghindar hingga


terkena sudut bibirnya saja. Dan Bianca keburu datang memergoki mereka berdua.


“Tidak mungkin anak saya berbuat begitu. Dia sangat


kalem dan polos!” bela Bianca tidak mau kalah dari Keira.


“Polos?! Heh! Dia lebih liar dari saya, tante!”


kata Keira sewot.


Bianca hampir menjambak rambut Keira, tapi Bilar menghentikannya.


Bilar menarik Bianca keluar dari pantry bersama X. Ia meminta Bianca tenang


agar tidak mempermalukan dirinya sendiri. Keira yang ikut keluar dari pantry,


hanya menatap Bianca dengan pandangan tajam menusuk.


“Bilar! Kamu harus ikut pulang sama mama. Mama


nggak rela kamu dirusak sama gadis liar itu. Nggak rela!” kata Bianca ganti


menyeret Bilar masuk ke dalam lift.


“Bilar nggak mau, mah! Bilar suka disini. Bilar


suka sama Keira!” teriak Bilar membuat Keira melotot kaget.


”Mampus! Dia ngomong apa sich?! Sembarangan


ngomong! Matilah aku sekarang!” batin Keira menjerit panik.


Mendengar teriakan Bilar, Bianca hanya terdiam


shock. Anak baik yang selalu menurut padanya itu, kini sudah berani


membentaknya. Cuma gara-gara membela seorang gadis liar yang baru dikenalnya.


Keira bisa melihat tatapan maut penuh kebencian


yang diberikan Bianca padanya. Sungguh, Keira ingin mengusir ibu dan anak itu


agar segera pergi dari kantor Alex.


“Lo ngomong apa sich?!” bentak Keira pada Bilar.


“Kamu seneng kan? Anak saya sudah berani melawan


mamanya,” kata Bianca dengan nafas ngos-ngosan.


“Lo lihat sendiri kan? Denger sendiri! Mama lo


nggak mau lo deket-deket sama gue. Gue ini cuma gadis liar! Bilar, lo tinggal


pilih, lo pergi sama mama lo atau gue yang pergi dari kantor ini!” kata Keira


tegas dan galak.

__ADS_1


__ADS_2