
Extra part 36
Sampai di kantor Alex, Keira tidak melihat Bilar.
Ia cukup lega karena tidak perlu bertemu pria itu pagi ini atau emosinya akan
terpancing lagi. Keira segera duduk di ruang kerja Rio dan mulai mengerjakan
tugasnya seperti biasanya.
Ketika Rio datang, ia melihat kaki Keira lebih
parah dari sebelumnya. Tapi sebelum Rio bertanya, Keira sudah lebih dulu
menyodorkan tumpukan dokumen untuk ia periksa.
“Ini, om. Hari ini harus di fotocopy. Tolong
dicek,” kata Keira menunjuk dokumen di atas meja Rio.
Pria itu sampai tidak bisa berkata apa-apa terutama
setelah mendapat chat dari papanya kalau Bilar batal kerja di perusahaan Alex.
Tidak bisa dipungkiri Rio kalau Keira memang bekerja dengan baik dan
sungguh-sungguh, walaupun kelakuannya menyebalkan.
**
Beberapa hari kemudian, Bilar muncul lagi di kantor
Alex. Keira hampir jatuh ketika mendapati putra Bianca itu berdiri di
sampingnya.
“Elo! Ngapain disini?!” reaksi Keira sedikit
berlebihan. Ia langsung memasang mode waspada kalau saja Bilar membawa mamanya
yang galak ke kantor Alex. Salah-salah, dirinya bisa lebih babak belur dari
sebelumnya.
“Aku kerja lah. Emangnya kesini cuma main,” sahut
Bilar.
Keira bengong melihat pria itu mengambil dokumen
yang menumpuk di meja Rio, lalu membawanya ke tray yang biasa dipakai Reva.
“T—tapi, mama lo... Nggak, lupakan. Bye.” Keira
memutuskan kembali konsentrasi dengan pekerjaannya, alih-alih memikirkan alasan
kenapa Bilar bisa bekerja lagi di kantor Alex. Tapi sejujurnya, ia sangat
penasaran dengan apa yang terjadi.
...Flash back on...
Setelah Bilar terbangun dari mabuknya, ia merasa
sangat segar. Tidak pusing ataupun lemas. Tidurnya juga sangat nyenyak, tidak
terbangun sedikitpun.
Mengetahui putranya terbangun dalam keadaan sangat
bugar, Bianca mulai mengomel lagi. Ia langsung melarang Bilar kembali bekerja
di kantor Alex. Bilar tentu saja menurut apa yang dikatakan Bianca, meskipun ia
kecewa karena tidak bisa bertemu lagi dengan Keira.
Bilar mulai bekerja di perusahaan Bianca, tapi
pekerjaannya hanya menonton yutub di ponselnya. Staf Bianca yang bertugas
mengajari Bilar jadi bingung sendiri bagaimana menyuruh Bilar bekerja. Mau menegur
tapi takut karena Bilar anak pemilik perusahaan. Nggak ditegur, anaknya semakin
seenaknya sendiri. Bahkan Bilar tidak mau bicara dengan siapapun kecuali
bodyguard yang mengantarnya ke kantor.
Bianca yang mendapat laporan kalau Bilar tidak mau
melakukan apa-apa, ingin mengomeli Bilar lagi. Tapi X memberitahu Bianca, kalau
setidaknya setelah bekerja di kantor Alex, Bilar mau pergi ke club.
“Apa maksudmu, X?” tanya Bianca emosi.
“Nyonya ingin tuan muda lebih banyak bergaul, kan?
Memang awalnya salah, sampai ke club dan pulang dini hari. Tapi setidaknya,
tuan muda sudah mau pergi kesana tanpa dipaksa, nyonya.” X mencoba merubah
keputusan Bianca.
“Trus aku harus gimana? Membiarkan Bilar bergaul
dengan gadis liar itu?!” Bianca masih emosi dengan Keira.
“Nyonya bisa memberikan tuan muda kesempatan.
Pelan-pelan diarahkan untuk berteman dengan yang lain juga, nyonya.” X berhasil
__ADS_1
mempengaruhi Bianca.
Akhirnya Bianca terpaksa meralat kata-katanya pada
Alex. Ia ingin Bilar kembali bekerja di kantor Alex.
...Flash back off...
Bilar terus saja mengejar Keira dengan dokumen di
tangannya. Sekali dua kali, Keira masih bersabar memberitahu hal yang sama.
Tapi sampai ketiga kalinya, gadis itu sudah tidak sabaran lagi. Ia mengacuhkan
Bilar ketika pria itu bertanya hal yang sama.
“Kei, aku masih belum ngerti. Ini gimana tadi?”
tanya Bilar sedikit manja. Keira menatap geli pria culun di depannya itu.
“Tuan Superman, makanya kalo gue jelasin itu
dengerin. Bukannya cengar-cengir kayak sapi ompong. Sekali lagi nanya, gue kasi
piring lo,” kata Keira sewot.
Bilar malah senyam-senyum mendengar omelan Keira.
Gadis itu makin kesal lalu menendang kaki Bilar, “Udah ngerti blum?! Nanya
lagi! Cepetan!” Keira mendorong tubuh Bilar agar cepat-cepat menyelesaikan
pekerjaannya. Mereka sudah selesai memfotocopy dokumen yang diperlukan Alex
untuk meeting dan sekarang harus merapikan file di ruang kerja Alex.
Keira duduk di lantai tanpa alas. Kaki jenjangnya
tampak terlentang lurus tanpa sepatu. Bekas luka di lututnya mulai membaik,
bahkan pergelangan kakinya juga sudah sembuh. Bilar ikut duduk di depan Keira,
berhadapan dengan gadis itu.
“Lutut kamu kenapa?” tanya Bilar yang baru sempat
mengobrol dengan Keira.
“Jatuh, trus luka,” sahut Keira tanpa menoleh pada
Bilar.
Bilar menyentuh pergelangan kaki Keira. Gadis itu berjengit
geli, sebelum menggeser kakinya. Bilar ganti menyentuh lutut Keira.
“Lo bisa diem nggak sich! Kerjaan kita masih
telunjuknya.
Bilar menangkap tangan Keira, lalu menggenggamnya.
Sejujurnya Keira suka dengan apa yang dilakukan Bilar, tapi ia teringat dengan
mama Bilar yang galak. Keira menarik tangannya lalu mengacuhkan pria
berkacamata itu.
Ketika Alex kembali ke ruangannya, Keira dan Bilar
keluar dari sana. Melihat Rio sudah duduk di ruang kerjanya, Keira langsung
mendekat lalu merangkul leher Rio dari belakang.
“Om..., aku capek. Pijitin dong,” rayu Keira mulai
kumat lagi.
“Lepasin, Kei. Kalo capek, istirahat sana. Jangan
ganggu aku,” pinta Rio berusaha bersikap baik pada Keira.
Keira memanyunkan bibirnya, ia memilih pergi ke
pantry tanpa menyadari kalau Bilar mengikutinya. Sampai di pantry, Keira melepas
sepatunya. Ia kembali berkeliaran di pantry tanpa memakai alas kaki. Saat Keira
sedang melihat-lihat aneka mie didalam lemari, tiba-tiba ada seseorang yang
menyentuh pundaknya.
“Hii...,” jengit Keira kaget.
Gadis itu melirik ke belakang, Bilar berdiri di
belakangnya dengan kedua tangan di pundak Keira. Pijatan lembut mulai menekan
pundak Keira. Gadis itu menepis tangan Bilar, tapi pria itu tidak menyerah.
“Stop, Bilar. Udah cukup. Tolong jauhin aku, okey.
Aku ini pengaruh yang buruk buat kamu,” kata Keira sambil menatap mata Bilar.
“Aku nggak ngerasa gitu. Meskipun kamu genit sama
pria lain,” sahut Bilar.
Keira menarik nafas panjang, “Mamamu nggak suka
sama aku. Okey. Udah paham kan? Pergi sana,” kata Keira hampir berbalik. Tapi Bilar
__ADS_1
menarik tangan gadis itu untuk menghadap padanya lagi.
“Apa maksudmu?” tanya Bilar.
**
Sementara itu di kantor Alex, kedatangan Bianca dan
X. Bianca sengaja melakukan inspeksi mendadak untuk mengecek apa yang dilakukan
Bilar. Sampai di ruang kerja Alex, Bianca tetap tidak menemukan putranya itu.
“Tadi dia ada disini,” kata Alex ketika Bianca
bertanya padanya.
Alex mengatakan mungkin Bilar pergi ke toilet. Bianca
yang sudah mendapat firasat buruk, buru-buru ke toilet dan mengecek ke dalam
sana. Tidak ada seorang pun di dalam sana. Tapi saat ia melihat ke dalam pantry
yang berdekatan dengan toilet, mata Bianca terbelalak melihat Bilar dan Keira
dalam posisi yang sangat intim.
Keira tampak duduk di meja pantry dengan Bilar
berdiri di depannya. Tangan Keira tampak merangkul leher Bilar dan sepertinya
mereka hampir berciuman atau sudah melakukannya.
“Bilar!!!” jerit Bianca histeris.
X menepuk keningnya melihat Bilar dan Keira yang
langsung menjauh satu sama lain.
“Kamu! Masih berani godain anak saya! Alex harusnya
pecat kamu, gadis liar!” teriak Bianca sambil berjalan mendekati Keira.
“Tanya tuch, anak tante yang maksa!” Keira mengusap
kasar bibirnya, ia juga menendang kaki Bilar saking emosinya.
Bilar meringis kesakitan sambil memegang kakinya.
Memang dia yang salah, karena kesal tidak mendapat jawaban dari Keira, Bilar
nekat menggendong gadis itu. Ia mendudukkan Keira diatas meja pantry, lalu
memaksa ingin mencium bibir pink gadis itu. Keira sempat menghindar hingga
terkena sudut bibirnya saja. Dan Bianca keburu datang memergoki mereka berdua.
“Tidak mungkin anak saya berbuat begitu. Dia sangat
kalem dan polos!” bela Bianca tidak mau kalah dari Keira.
“Polos?! Heh! Dia lebih liar dari saya, tante!”
kata Keira sewot.
Bianca hampir menjambak rambut Keira, tapi Bilar menghentikannya.
Bilar menarik Bianca keluar dari pantry bersama X. Ia meminta Bianca tenang
agar tidak mempermalukan dirinya sendiri. Keira yang ikut keluar dari pantry,
hanya menatap Bianca dengan pandangan tajam menusuk.
“Bilar! Kamu harus ikut pulang sama mama. Mama
nggak rela kamu dirusak sama gadis liar itu. Nggak rela!” kata Bianca ganti
menyeret Bilar masuk ke dalam lift.
“Bilar nggak mau, mah! Bilar suka disini. Bilar
suka sama Keira!” teriak Bilar membuat Keira melotot kaget.
”Mampus! Dia ngomong apa sich?! Sembarangan
ngomong! Matilah aku sekarang!” batin Keira menjerit panik.
Mendengar teriakan Bilar, Bianca hanya terdiam
shock. Anak baik yang selalu menurut padanya itu, kini sudah berani
membentaknya. Cuma gara-gara membela seorang gadis liar yang baru dikenalnya.
Keira bisa melihat tatapan maut penuh kebencian
yang diberikan Bianca padanya. Sungguh, Keira ingin mengusir ibu dan anak itu
agar segera pergi dari kantor Alex.
“Lo ngomong apa sich?!” bentak Keira pada Bilar.
“Kamu seneng kan? Anak saya sudah berani melawan
mamanya,” kata Bianca dengan nafas ngos-ngosan.
“Lo lihat sendiri kan? Denger sendiri! Mama lo
nggak mau lo deket-deket sama gue. Gue ini cuma gadis liar! Bilar, lo tinggal
pilih, lo pergi sama mama lo atau gue yang pergi dari kantor ini!” kata Keira
tegas dan galak.
__ADS_1