
Pernikahan seperti itu
“Apa kau akan naik? Kami juga akan bertemu tuan
muda Angelo. Bolehkan kami naik bersamamu?”tanya tuan Steve dengan tidak tau
malu.
Dio hampir menolaknya. Ia tidak ingin Riri bersama
dengan nona Gloria yang sombong dalam satu lift yang sama. Riri sedikit
terdorong ke samping saat pintu lift terbuka dan tuan Steve mengajak putrinya
masuk ke dalam tanpa permisi. Lili hampir menjambak wanita yang tidak tahu diri
itu karena hampir melukai Riri. Untung saja Lili selalu siap siaga di samping
Riri.
“Tidak apa. Ayo, masuk.”kata Riri pada Dion dan
Lili.
Lili masuk lebih dulu, disusul Riri dan Dion. Lift
tertutup dan langsung membawa mereka ke lantai paling atas di kantor itu.
“Putriku, kau harus terlihat cantik. Ini
kesempatanmu untuk menarik perhatian tuan muda Angelo.”kata tuan Steve pada
putrinya.
“Tenang saja, papa. Hari ini aku memakai pakaian
keluaran terbaru. Limited edition. Tuan muda tidak akan bisa menolakku.”kata
nona Gloria dengan yakin.
Lili mengepalkan tangannya mendengar kata-kata ayah
dan anak itu. Ia hampir maju tapi Riri menahannya.
“Lili. Sabar.”kata Riri.
“Tapi nona...”kata Lili kesal.
“Aku percaya mas tidak akan meliriknya.”kata Riri
lagi.
Tuan Steve melirik Riri yang terlihat sangat
tenang. Meskipun tidak berdandan seperti putrinya, aura kecantikan tetap
terpancar dari wajah Riri.
“Tuan Dion, siapa wanita yang bersama anda?”tanya
tuan Steve kepo.
“Tuan Steve akan mengetahuinya sebentar lagi.”kata
Dion santai.
Dion ingin memberi pelajaran dan melihat reaksi
tuan Steve saat mereka bertemu Elo nanti. Ia sengaja tidak memberitahu
kedatangan Riri pada Elo setelah ponselnya berbunyi tanda kalau ponsel Riri ada
di dekatnya.
Begitu pintu lift terbuka, tuan Steve dan nona
Gloria langsung keluar dari lift. Mereka berhenti di meja sekretaris Elo dan
diminta menunggu sebentar. Riri, Lili, dan Dion sampai di depan pintu ruang
kerja Elo saat sekretaris Elo membuka pintu untuk mereka.
Tuan Steve dan putrinya menyerobot masuk duluan
melewati sekretaris Elo. Nona Gloria bahkan menurunkan slayer yang tadi
menutupi pundak dan punggungnya yang terbuka. Elo yang melihat kedatangan
mereka langsung bangun dari duduknya.
“Sayang, kamu disini!”teriak Elo sambil tersenyum
senang.
Ia merentangkan tangannya sambil berjalan
menghampiri nona Gloria. Nona Gloria terlihat sangat antusias menyambut Elo. Ia
juga merentangkan tangannya. Tuan Steve sangat senang melihat putrinya bisa
menarik perhatian tuan muda Elo. Kening Elo mengkerut saat kedua orang itu
menghalangi jalannya.
“Bisa minggir?”kata Elo sambil mengelak dari
pelukan nona Gloria.
__ADS_1
Tuan Steve dan nona Gloria bengong melihat Elo
menghampiri Riri seperti anjing kecil menghampiri pemiliknya. Ia mengibaskan
ekornya dan menjulurkan lidahnya saat melihat senyuman manis Riri.
“Sayang, kamu naik apa kesini? Aku sangat
merindukanmu.”kata Elo sambil mengangkat tubuh Riri dan mencium bibir istrinya
itu.
“Mmm...”Riri panik dicium Elo tiba-tiba karena
disana masih banyak orang.
Tuan Steve hampir terkena serangan jantung melihat
Elo mencium wanita yang bahkan tidak ia pandang sama sekali tadi. Nona Gloria
juga sama terkejutnya, tas tangan mahalnya hampir jatuh. Dion menggigil menahan
tawanya melihat reaksi kedua orang yang menyebalkan itu. Sedangkan Lili
terpesona melihat cara Elo mencium Riri.
“Jangan bengong gitu. Aku bisa menciummu lebih baik
dari itu.”bisik Dion di telinga Lili.
“Aku ingin pernikahan seperti itu. Romantis sekali.”gumam
Lili.
“Aku juga bisa melakukannya sekarang.”bisik Dion
lagi sambil meraba punggung Lili.
“Mulai lagi dech. Mesum.”balas Lili.
Elo sudah melepaskan ciumannya dari Riri yang
wajahnya memerah. Tapi ia masih tetap merangkul pinggang Riri.
“Tuan Steve, apa kabar. Silakan duduk.”kata Elo.
“Tuan muda, siapa wanita yang bersama anda?”tanya
tuan Steve.
“Dia istri saya. Sayang, kamu tunggu aku di ruang
sebelah sebentar ya. Kamu sudah makan? Dion, pesankan makanan. Sana, sama
Lili.”kata Elo sambil mencium kening Riri.
Dion menunjukkan ruangan yang dimaksud kepada Riri
dan Lili. Ada tempat tidur besar didalam sana, dengan televisi besar, mini bar,
dan juga sebuah lemari besar.
“Kalian mau makan apa?”tanya Dion.
“Adanya apa?”tanya Riri.
“Masakan China, Jepang, burger, ayam?”kata Dion.
“Sesekali kita harus makan makanan orang disini. Bagaimana?
Burger, kentang, dan salad. Jangan lupa sodanya juga. Kau mau apa, Lili?”tanya
Riri.
“Tambahkan sosis juga. Aku mau float dan es krim.”kata
Lili dengan mata berbinar.
“Aih, kalian ini yakin bisa habiskan
semuanya?"tanya Dion sambil memesan semua yang diinginkan Riri dan Lili.
“Sudah pasti!”jawab keduanya kompak.
Pesanan mereka segera datang dan Lili menghidangkan
semua makanan itu di depan Riri. Riri mengajak Lili menyerbu makanan itu
sebelum Elo masuk ke ruangan itu. Elo tidak terlalu suka melihat Riri makan
junk food.
Benar saja, Elo yang curiga dengan apa yang mereka
pesan, mencoba mengusir tuan Steve dan nona Gloria secara halus. Tapi nona Gloria
tidak mau menyerah. Ia terus berusaha menarik perhatian Elo dengan memuji-muji
ruang kerja Elo. Dari gaya bicara dan bahasa tubuhnya, seperti ingin menerkam
Elo.
Untung saja Elo sudah berpesan pada sekretarisnya
kalau ia tidak mau berlama-lama dengan tuan Steve. Sekretaris Elo
menyelamatkannya tepat waktu dengan mengatakan kalau Elo sudah ada janji temu lain.
__ADS_1
Nyatanya Elo sudah membatalkan janji temu berikutnya karena kedatangan Riri.
Elo memergoki Riri sedang menggigit burger di
tangannya dengan sangat nikmat sampai jarinya belepotan saos. Lili hampir
mengelap tangan Riri tapi Elo dengan cepat menjilat jari istrinya itu.
“Enak, sayang?”tanya Elo.
“He-eh. Aku baru pertama makan burger asli sini
setelah pindah kesini. Ternyata enak banget ya.”kata Riri tanpa takut dimarahi
karena makan junk food.
“Kali ini boleh ya. Besok-besok gak boleh lagi.
Siapa yang beliin makanan ini?”tanya Elo yang langsung melihat arah tatapan
mata Riri.
Dion yang sedang ditatap Riri dan Elo, pura-pura
sibuk mengganggu Lili.
“Sayang, suapi aku. Aaaa...”kata Dion sambil
menarik paksa tangan Lili yang memegang kentang goreng.
“Aku sudah tahu siapa yang harus dihukum.”kata Elo
sambil menatap Dion yang tersenyum tipis.
“Ayo, sayang.”kata Elo lagi, menarik tangan Riri
dan hampir membawanya masuk ke kamar mandi.
“Aku mau dibawa kemana, mas? Makananku belum habis.”rengek
Riri manja pada Elo.
“Apa kau lupa ini?”tanya Dion sambil menggoyangkan
sebuah kotak yang ia keluarkan dari saku hoodie-nya.
“Ah, ya. Hampir aku lupa.”kata Elo sambil mengambil
kotak itu.
“Apa itu?”tanya Riri kepo.
“Biasa. Sayang, kau harus mandi. Baumu sudah
seperti tante-tante yang tadi.”kata Elo mengatai Gloria, tante-tante.
“Tante??!! Kapan aku ketemu tante-tante?”pekik Riri
sambil mengendus tubuhnya.
Elo tidak menjawab, ia tetap menarik Riri masuk ke
kamar mandi. Meninggalkan Lili yang memicingkan matanya pada Dion.
“Kenapa di hoodie-mu ada barang gituan?”tanya Lili
curiga.
“Aku baru membelinya tadi. Siapa tau mereka khilaf
di dalam sana, kan. Ayo, kita keluar. Bawa makananmu.”pinta Dion.
“Tapi aku belum selesai makan.”kata Lili.
“Memangnya kau mau tetap disini dan dengerin
mereka? Tuch dengerin.”kata Dion sambil berdiri.
Lili menajamkan telinganya dan suara-suara aneh
mulai terdengar dari kamar mandi. Lili menuruti Dion, membawa makanannya keluar
dari ruangan itu. Dion mengajaknya ke ruangan sebelah yang sepertinya ruang
tunggu untuk tamu.
“Tunggu disini. Aku kasi tau sekretaris Elo dulu.”kata
Dion.
Lili melihat-lihat pemandangan dari jendela besar
di ruangan itu. Saat ia mendengar pintu ditutup dan dikunci, Lili menengok ke
belakang dan melihat seorang pria mendekatinya. Jelas itu bukan Dion.
“Siapa kamu?! Kenapa pintunya dikunci?!”teriak
Lili.
“Apa kau lupa denganku, nona Lili?”kata pria itu
sambil menyeringai mesum.
*****
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
__ADS_1
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.