
Bicara dengan hati
Prak! Bunyi piring beradu terdengar dari meja di
belakang Gadis. Manta memiringkan kepalanya sebentar untuk melihat apa yang
terjadi. Tapi ia tidak melihat Rio yang langsung sembunyi saat tangannya tidak
sengaja menyenggol piring kotor bekas tamu sebelumnya yang belum sempat
dibereskan pelayan.
”Berani ngaku gak punya pacar, trus aku dianggap
apa? Eh, kapan aku nembak Gadis ya?”
Rio meremas linen yang menutupi meja makan itu.
Pelayan sudah membereskan meja itu dan Rio memesan salah satu menu disana. Ia kembali
menguping pembicaraan Gadis dengan pria itu.
“Baguslah kalau gak punya pacar. Saya juga gak
punya. Hehe. Ach, makanannya sudah datang. Ayo, cepat dimakan.”ucap Manta.
“Sebenarnya pak Manta mengajak saya makan siang
untuk apa ya?”tanya Gadis sedikit curiga.
“Simple. Saya ingin makan tapi gak mau sendiri.
Saya merasa kita sudah jadi teman, kenapa saya gak ngudang Gadis makan siang
bersama. Iya, kan?”
”Heh! Teman gundulmu. Dimana-mana pria ngasih
bunga ke wanita, pasti ada maunya. Siapa sich pria itu? Kenapa aku gak pernah
lihat? Tapi kayaknya Gadis kenal dia.”
Rio lebih banyak menguping daripada makan. Dari
pembicaraan yang ia dengar sepertinya Manta ini salah satu client perusahaan
yang sedang bekerja sama dalam satu proyek. Rio mencoba mengingat tapi ia
beneran belum pernah ketemu pria ini.
Gadis mengucapkan terima kasih setelah mereka
selesai makan siang dan pelayan membereskan meja mereka. Gadis berpamitan
karena harus segera kembali ke kantor.
“Gadis, terima kasih sudah menemaniku makan. Sampai
jumpa.”kata Manta.
Rio mengikuti Gadis kembali ke kantor. Ia menahan
dirinya untuk tidak marah saat bertanya pada Gadis.
“Kamu makan dimana? Kenapa gak ngajak aku?”tanya
Rio sambil duduk di samping Gadis.
“Aku makan di sebelah sama client.”kata Gadis sekedarnya.
“Cowok?”tanya Rio lagi.
“Iya.”balas Gadis cuek.
Rio merasa Gadis sedikit berubah sejak makan siang
dengan Manta. Ia kembali ke ruangan Romi dan melanjutkan pekerjaannya.
Saat jam pulang kerja, Gadis sedang membereskan
tasnya. Ia melihat bunga mawar yang diberikan Manta tadi masih tergeletak di
samping mejanya. Andai saja bunga itu dari Rio, pasti dirinya akan sangat
senang sekali.
“Gadis, ayo pulang.”ajak Rio.
“Iya.”
__ADS_1
Mereka berjalan bersama sampai ke mobil Rio yang
terparkir di depan lobby. Rio mengantar Gadis pulang ke rumahnya tanpa bicara
apapun. Gadis yang merasa Rio sedikit berubah, mengajaknya bicara.
“Rio, kamu kenapa? Lukamu masih sakit?”tanya Gadis.
Rio tidak menjawabnya, hanya menggeleng. Ia fokus
menyetir sambil sesekali melirik Gadis seperti ingin mengatakan sesuatu.
“Rio, mampir kesana dulu. Aku mau es krim.”kata
Gadis sambil menunjuk McD.
Rio membelokkan setir mobil mengarah ke drivethru.
Gadis memesan es krim yang ia inginkan dan menanyakan pesanan Rio. Rio memesan
kentang, burger, dan juga minuman. Setelah menunggu sebentar, pesanan mereka
selesai juga. Rio kembali menjalankan mobilnya kearah rumah Gadis.
“Rio, mampir beli lalapan.”pinta Gadis lagi.
Rio mengingat lalapan yang enak cuma yang dekat
apartment papanya. Sudah lama ia tidak makan disana. Rio memutar balik mobil
dan berhenti di depan penjual lalapan.
“Aku mau ayam sama tempe ya. Isi nasi juga.
Sambelnya pedesin dikit.”pesan Gadis.
Rio membeli semua pesanan Gadis. Ia juga membeli
pecel lele untuk dirinya sendiri. Saat Rio kembali menjalankan mobilnya dan
hampir memutar balik, Gadis meminta Rio untuk mampir ke apartmentnya.
“Rio, kita mampir ke apartmentmu ya. Kita makan
disana.”pinta Gadis.
yang takut Gadis jadi trauma lagi.
“Aku udah laper banget. Sebentar aja ya.”rengek
Gadis.
Rio terpaksa mengikuti kemauan Gadis meskipun
kemungkinannya Gadis akan trauma lagi. Mereka sampai di depan pintu kamar
apartment. Rio membuka pintunya dan masuk lebih dulu. Gadis menenangkan dirinya
sebelum mengikuti Rio masuk.
Untuk pertama kalinya setelah kejadian malam itu,
Gadis menginjakkan kakinya lagi di apartment Rio. Ia menatap tempat tidur yang
terlihat rapi dan bersih. Ditempat tidur itu kisah mereka bermula lagi. Gadis
mengalihkan pandangannya ke dinding di depan tempat tidur itu. Dinding itu
kosong, bahkan barang-barang dibawahnya juga hilang. Seharusnya ada foto besar
Kaori tergantung disana.
Rio meletakkan makanan yang mereka beli di atas
meja makan. Ia mengambil piring dan gelas air minum untuk mereka berdua.
“Gadis, ayo makan dulu.”ajak Rio.
Rio melihat Gadis masih terpaku melihat sekeliling
kamar. Ia tahu kalau Gadis mengingat kejadian menyakitkan itu lagi.
“Gadis, kita pulang aja ya. Makan di rumah atau di
mobil. Aku ambil air minum dulu.”kata Rio sambil mengambil botol minuman di
kulkas.
Saat Rio berbalik, ia melihat Gadis sudah duduk di
__ADS_1
meja makan sedang membuka bungkus lalapan. Gadis beranjak ke tempat cuci piring
dan mencuci tangannya. Ia kembali duduk dan mulai memakan lalapan yang sedikit
pedas itu.
“Haduh, pedes ternyata.”kata Gadis.
“Jangan makan lagi, nanti perutmu sakit. Ini, makan
kentang gorengnya.”kata Rio sambil membuka bungkus kentang goreng dan burger.
Rio kasihan melihat Gadis menjulurkan lidahnya yang
kepedesan. Ia memberikan air putih tapi tidak mengatasi masalah. Gadis tetep
kelimpungan karena pedas yang ia
rasakan. Rio mendekat pada Gadis, tersenyum padanya dan mencium bibir wanita
itu.
“Gadis, tenang. Pedesnya akan hilang.”bisik Rio
saat ia merasakan tubuh Gadis menegang.
“Rio...”
Rio menarik tangan Gadis tanpa melepaskan ciuman
mereka. Ia membawa Gadis ke dekat tempat cuci piring dan membantu mencuci
tangan Gadis yang masih belepotan sambel. Ciuman mereka makin intens sampai
Gadis menyadari keberadaan mereka diatas tempat tidur Rio.
Bayangan kejadian malam itu, membuat Gadis mulai
meronta. Rio menahan tangan Gadis dan menciumi tangan wanita itu.
“Gadis, tenang. Sstt...”ucap Rio saat mereka
bertatapan.
“Rio, aku sangat mencintaimu.”bisik Gadis.
“Iya. Aku tahu. Gadis, apa kamu akan ninggalin aku?
Seperti Kaori.”
“Nggak, Rio. Kenapa kamu bilang gitu?”tanya Gadis.
“Aku takut. Saat aku mengatakan kata itu ‘cinta’
aku akan kehilangan lagi. Aku gak sanggup, Dis.”kata Rio.
Rio menarik tangan Gadis untuk memegang dadanya
yang berdegup kencang. Gadis memejamkan matanya merasakan debaran jantung Rio.
“Kau bisa merasakannya, dadaku berdetak kencang
untukmu. Gadis, menikahlah denganku.”pinta Rio sambil mencium pipi Gadis.
Gadis tidak menjawab Rio, ia menikmati sentuhan Rio
di tubuhnya. Malam itu, Rio memperlakukan Gadis dengan sangat lembut.
Menyentuhnya seolah Gadis serapuh gelas kaca yang kalau digenggam terlalu keras
akan retak dan hancur.
“Rio... jangan.”cegah Gadis
“Aku menginginkanmu, Gadis. Jadi istriku, ibu
anak-anakku.”rayu Rio
Rio masih melanjutkan apa yang ia mulai tadi.
Benar-benar fotocopyan Alex, Rio mengikuti jejak papanya dalam hal percintaan.
*****
Ada yang masih penasaran siapa Manta? Inget Linda? Wanita yang hampir menjebak Alex dengan obat perangsang. Kali ini rencana apa lagi yang mereka buat untuk bisa mendapatkan keinginan mereka? Nantikan up berikutnya.
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.
__ADS_1