Duren Manis

Duren Manis
Bicara dengan hati


__ADS_3

Bicara dengan hati


Prak! Bunyi piring beradu terdengar dari meja di


belakang Gadis. Manta memiringkan kepalanya sebentar untuk melihat apa yang


terjadi. Tapi ia tidak melihat Rio yang langsung sembunyi saat tangannya tidak


sengaja menyenggol piring kotor bekas tamu sebelumnya yang belum sempat


dibereskan pelayan.


”Berani ngaku gak punya pacar, trus aku dianggap


apa? Eh, kapan aku nembak Gadis ya?”


Rio meremas linen yang menutupi meja makan itu.


Pelayan sudah membereskan meja itu dan Rio memesan salah satu menu disana. Ia kembali


menguping pembicaraan Gadis dengan pria itu.


“Baguslah kalau gak punya pacar. Saya juga gak


punya. Hehe. Ach, makanannya sudah datang. Ayo, cepat dimakan.”ucap Manta.


“Sebenarnya pak Manta mengajak saya makan siang


untuk apa ya?”tanya Gadis sedikit curiga.


“Simple. Saya ingin makan tapi gak mau sendiri.


Saya merasa kita sudah jadi teman, kenapa saya gak ngudang Gadis makan siang


bersama. Iya, kan?”


”Heh! Teman gundulmu. Dimana-mana pria ngasih


bunga ke wanita, pasti ada maunya. Siapa sich pria itu? Kenapa aku gak pernah


lihat? Tapi kayaknya Gadis kenal dia.”


Rio lebih banyak menguping daripada makan. Dari


pembicaraan yang ia dengar sepertinya Manta ini salah satu client perusahaan


yang sedang bekerja sama dalam satu proyek. Rio mencoba mengingat tapi ia


beneran belum pernah ketemu pria ini.


Gadis mengucapkan terima kasih setelah mereka


selesai makan siang dan pelayan membereskan meja mereka. Gadis berpamitan


karena harus segera kembali ke kantor.


“Gadis, terima kasih sudah menemaniku makan. Sampai


jumpa.”kata Manta.


Rio mengikuti Gadis kembali ke kantor. Ia menahan


dirinya untuk tidak marah saat bertanya pada Gadis.


“Kamu makan dimana? Kenapa gak ngajak aku?”tanya


Rio sambil duduk di samping Gadis.


“Aku makan di sebelah sama client.”kata Gadis sekedarnya.


“Cowok?”tanya Rio lagi.


“Iya.”balas Gadis cuek.


Rio merasa Gadis sedikit berubah sejak makan siang


dengan Manta. Ia kembali ke ruangan Romi dan melanjutkan pekerjaannya.


Saat jam pulang kerja, Gadis sedang membereskan


tasnya. Ia melihat bunga mawar yang diberikan Manta tadi masih tergeletak di


samping mejanya. Andai saja bunga itu dari Rio, pasti dirinya akan sangat


senang sekali.


“Gadis, ayo pulang.”ajak Rio.


“Iya.”

__ADS_1


Mereka berjalan bersama sampai ke mobil Rio yang


terparkir di depan lobby. Rio mengantar Gadis pulang ke rumahnya tanpa bicara


apapun. Gadis yang merasa Rio sedikit berubah, mengajaknya bicara.


“Rio, kamu kenapa? Lukamu masih sakit?”tanya Gadis.


Rio tidak menjawabnya, hanya menggeleng. Ia fokus


menyetir sambil sesekali melirik Gadis seperti ingin mengatakan sesuatu.


“Rio, mampir kesana dulu. Aku mau es krim.”kata


Gadis sambil menunjuk McD.


Rio membelokkan setir mobil mengarah ke drivethru.


Gadis memesan es krim yang ia inginkan dan menanyakan pesanan Rio. Rio memesan


kentang, burger, dan juga minuman. Setelah menunggu sebentar, pesanan mereka


selesai juga. Rio kembali menjalankan mobilnya kearah rumah Gadis.


“Rio, mampir beli lalapan.”pinta Gadis lagi.


Rio mengingat lalapan yang enak cuma yang dekat


apartment papanya. Sudah lama ia tidak makan disana. Rio memutar balik mobil


dan berhenti di depan penjual lalapan.


“Aku mau ayam sama tempe ya. Isi nasi juga.


Sambelnya pedesin dikit.”pesan Gadis.


Rio membeli semua pesanan Gadis. Ia juga membeli


pecel lele untuk dirinya sendiri. Saat Rio kembali menjalankan mobilnya dan


hampir memutar balik, Gadis meminta Rio untuk mampir ke apartmentnya.


“Rio, kita mampir ke apartmentmu ya. Kita makan


disana.”pinta Gadis.


yang takut Gadis jadi trauma lagi.


“Aku udah laper banget. Sebentar aja ya.”rengek


Gadis.


Rio terpaksa mengikuti kemauan Gadis meskipun


kemungkinannya Gadis akan trauma lagi. Mereka sampai di depan pintu kamar


apartment. Rio membuka pintunya dan masuk lebih dulu. Gadis menenangkan dirinya


sebelum mengikuti Rio masuk.


Untuk pertama kalinya setelah kejadian malam itu,


Gadis menginjakkan kakinya lagi di apartment Rio. Ia menatap tempat tidur yang


terlihat rapi dan bersih. Ditempat tidur itu kisah mereka bermula lagi. Gadis


mengalihkan pandangannya ke dinding di depan tempat tidur itu. Dinding itu


kosong, bahkan barang-barang dibawahnya juga hilang. Seharusnya ada foto besar


Kaori tergantung disana.


Rio meletakkan makanan yang mereka beli di atas


meja makan. Ia mengambil piring dan gelas air minum untuk mereka berdua.


“Gadis, ayo makan dulu.”ajak Rio.


Rio melihat Gadis masih terpaku melihat sekeliling


kamar. Ia tahu kalau Gadis mengingat kejadian menyakitkan itu lagi.


“Gadis, kita pulang aja ya. Makan di rumah atau di


mobil. Aku ambil air minum dulu.”kata Rio sambil mengambil botol minuman di


kulkas.


Saat Rio berbalik, ia melihat Gadis sudah duduk di

__ADS_1


meja makan sedang membuka bungkus lalapan. Gadis beranjak ke tempat cuci piring


dan mencuci tangannya. Ia kembali duduk dan mulai memakan lalapan yang sedikit


pedas itu.


“Haduh, pedes ternyata.”kata Gadis.


“Jangan makan lagi, nanti perutmu sakit. Ini, makan


kentang gorengnya.”kata Rio sambil membuka bungkus kentang goreng dan burger.


Rio kasihan melihat Gadis menjulurkan lidahnya yang


kepedesan. Ia memberikan air putih tapi tidak mengatasi masalah. Gadis tetep


kelimpungan  karena pedas yang ia


rasakan. Rio mendekat pada Gadis, tersenyum padanya dan mencium bibir wanita


itu.


“Gadis, tenang. Pedesnya akan hilang.”bisik Rio


saat ia merasakan tubuh Gadis menegang.


“Rio...”


Rio menarik tangan Gadis tanpa melepaskan ciuman


mereka. Ia membawa Gadis ke dekat tempat cuci piring dan membantu mencuci


tangan Gadis yang masih belepotan sambel. Ciuman mereka makin intens sampai


Gadis menyadari keberadaan mereka diatas tempat tidur Rio.


Bayangan kejadian malam itu, membuat Gadis mulai


meronta. Rio menahan tangan Gadis dan menciumi tangan wanita itu.


“Gadis, tenang. Sstt...”ucap Rio saat mereka


bertatapan.


“Rio, aku sangat mencintaimu.”bisik Gadis.


“Iya. Aku tahu. Gadis, apa kamu akan ninggalin aku?


Seperti Kaori.”


“Nggak, Rio. Kenapa kamu bilang gitu?”tanya Gadis.


“Aku takut. Saat aku mengatakan kata itu ‘cinta’


aku akan kehilangan lagi. Aku gak sanggup, Dis.”kata Rio.


Rio menarik tangan Gadis untuk memegang dadanya


yang berdegup kencang. Gadis memejamkan matanya merasakan debaran jantung Rio.


“Kau bisa merasakannya, dadaku berdetak kencang


untukmu. Gadis, menikahlah denganku.”pinta Rio sambil mencium pipi Gadis.


Gadis tidak menjawab Rio, ia menikmati sentuhan Rio


di tubuhnya. Malam itu, Rio memperlakukan Gadis dengan sangat lembut.


Menyentuhnya seolah Gadis serapuh gelas kaca yang kalau digenggam terlalu keras


akan retak dan hancur.


“Rio... jangan.”cegah Gadis


“Aku menginginkanmu, Gadis. Jadi istriku, ibu


anak-anakku.”rayu Rio


Rio masih melanjutkan apa yang ia mulai tadi.


Benar-benar fotocopyan Alex, Rio mengikuti jejak papanya dalam hal percintaan.


*****


Ada yang masih penasaran siapa Manta? Inget Linda? Wanita yang hampir menjebak Alex dengan obat perangsang. Kali ini rencana apa lagi yang mereka buat untuk bisa mendapatkan keinginan mereka? Nantikan up berikutnya.


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.

__ADS_1


__ADS_2