Duren Manis

Duren Manis
Debaran si kembar


__ADS_3

Riri tertegun di tempatnya berdiri. Ia merasakan Elo berdiri di belakangnya. Jemari Elo membelai rambut Riri yang masih basah.


Elo : "Rambutmu masih basah, Ri. Aku bantu keringkan ya."


Riri membawa tehnya duduk di sofa, sementara Elo menghidupkan hair dryer lagi. Pelan-pelan Elo membolak-balik ujung rambut Riri.


Gadis itu tersenyum sambil menyeruput tehnya lagi.


Riri : "Kak, gosok lebih keras. Jangan cuma di bolak-balik. Memangnya kakak lagi goreng ayam. Hihi..."


Elo : "Oh, gimana caranya? Digosok seperti apa?"


Riri mencontohkan sekali, aroma shampoo milik Elo menguar dari rambut Riri, membuat Elo deg-degan lagi.


Riri : "Giniin, kak. Coba dech."


Elo mulai mengikuti petunjuk Riri dan selang 15 menit kemudian, rambut Riri hampir kering seluruhnya.


Elo : "Ri, apa kamu lapar?"


Riri : "Ini jam berapa, kak?"


Elo : "Jam 11 siang."


Riri : "Aku lapar sich, kak. Tapi bajuku..."


Elo : "Kita makan disini saja. Aku telpon ke bawah dulu."


Riri meletakkan cangkir teh keatas meja. Ia menyisir rambut panjangnya ke samping, tak sengaja memperlihatkan tengkuknya pada Elo.


Wajah Elo memanas ketika teringat kalau Riri tidak memakai pakaian dalam dibalik kaosnya. Meskipun Riri menutupinya dengan bathrobe, tapi tetap saja aset Riri tanpa bra sesekali bergoyang menggoda Elo.


Elo memilih berdiri di dekat pintu yang terbuka, ia membiarkan Riri menyelesaikan menyisir rambutnya dulu.


Tak lama, kepala pelayan Elo datang bersama beberapa pelayan yang membawa makanan untuk mereka berdua.


Riri menunduk malu, ia merapatkan bathrobenya. Kepala pelayan menyodorkan sebuah kantong belanja pada Riri dan memintanya berganti pakaian.


Elo : "Pak Kim, siapa yang memberikan baju itu?"


Pak Kim : "Tuan besar sudah datang, tuan muda. Dan ingin bertemu dengan nona Riri. Saya sudah sampaikan apa yang terjadi tadi dan Tuan besar memerintahkan menyiapkan pakaian untuk nona Riri."


Elo : "Sekarang kakek dimana"


Pak Kim : "Tuan besar sedang istirahat di kamarnya, tuan."


Elo : "Ri, ganti bajumu dulu ya. Kita makan dulu, baru ketemu kakek."


Riri : "Iya, kak."


Riri berganti pakaian di dalam kamar mandi, Elo mengatur meja untuk mereka makan.


Pak Kim dan pelayan lain senyum-senyum melihat Elo tampak serius mengatur letak makanan diatas meja untuk Riri. Terakhir kali mereka melihat hal itu ketika Elo menyiapkan dinner romantis untuk Elena yang berakhir dengan kekecewaan Elo karena Elena tidak datang.


Ceklek! Pintu kamar mandi terbuka, Riri keluar dari dalam kamar mandi sudah memakai dress yang sangat cocok melekat di tubuhnya.


Riri menyibak rambut panjangnya, visualnya membuat Elo melongo. Riri menatap Elo yang hampir ngeces.


Pak Kim : "Ehheemm.. Tuan Muda..."


Elo gelagapan dan segera membalik tubuhnya menutupi wajah bodohnya yang terpesona melihat Riri. Riri terkikik geli melihat kelakuan Elo.


Pak Kim memberi tanda pada pelayan di belakangnya yang langsung mengangguk dan mendekati Riri. Riri didudukkan di sofa dan mulai di dandani.


Seorang pelayan menutupi aktivitas di belakangnya dari pandangan Elo yang mencoba mengintip.


Setelah selesai, semua pelayan berbaris di depan Riri dan perlahan menyingkir. Riri tersenyum melihat Elo yang lagi-lagi melongo.


Riri : "Kak, kita makan sekarang?"


Elo : "Iya..."


Riri sudah duduk duluan di sofa, menunggu Elo yang masih bengong.


Pak Kim : "Ehem... Ehem..."


Elo : "Apa? Kenapa, Ri?"


Riri tertawa melihat Elo yang salah tingkah. Pak Kim mempersilakan Elo makan siang. Elo segera duduk di samping Riri.


Elo : "Kamu mau makan apa, Ri?"


Riri menatap penuh minat pada makanan yang dihidangkan diatas meja. Pak Kim dan pelayan masih stand by disana.


Riri : "Mau coba udangnya, boleh?"


Pelayan dibelakang Pak Kim terkikik geli melihat reaksi Elo yang bengong lagi melihat tingkah imut Riri. Pak Kim sampai berdehem lagi untuk menyadarkan tuan mudanya.


Elo : "Haduh, kalau terus gini aku harus ke dokter."


Riri : "Kenapa, kak?"


Wajah Riri terlihat khawatir karena Elo menyebut dokter.


Elo : "Jantungku gak kuat liat kamu terlalu imut."


Buahahahaha... Pelayan tertawa mendengar gombalan Elo termasuk Pak Kim juga menarik keatas garis bibirnya. Pak Kim memberi tanda agar pelayan dibelakangnya diam.


Reaksi Riri diluar dugaan, ia menatap Elo dengan tatapan menggoda dengan tangan mengambil udang dan mulai mengunyahnya.

__ADS_1


Riri : "Enak banget. Pak Kim udah makan?"


Pak Kim : "Saya sudah, nona. Terima kasih."


Riri : "Kakak sekalian juga, udah makan? Ayo makan sama-sama."


Para pelayan menunduk hormat dan mengucapkan hal yang sama dengan Pak Kim. Elo memberi tanda pada Pak Kim agar keluar dari kamarnya.


Pak Kim memberi tanda danΒ  pelayan dibelakangnya mulai keluar kamar satu persatu.


Saat Pak Kim hampir keluar dari kamar Elo, Riri memanggilnya.


Riri : "Pak Kim mau kemana?"


Sesungguhnya Riri masih takut hanya berdua dengan Elo di dalam kamarnya.


Pak Kim : "Saya harus kembali ke bawah, nona. Silakan menikmati makan siangnya."


Riri meringkuk di sofa dengan piring ditangannya. Elo melihat perubahan sikap Riri dan mulai tersenyum lebar.


Elo : "Ternyata gitu ya."


Riri : "Apa, kak?"


Elo : "Kau hanya berani menggodaku saat kita tidak sedang berdua saja."


Riri : "Sepertinya itu hanya perasaan kakak saja."


Elo : "Oh, ya?"


Riri mengangguk, ia ingin mengambil makanan lagi. Elo membiarkan Riri mengambil apapun yang ingin ia makan di atas meja.


Elo : "Kamu suka seafood ya?"


Riri : "Iya, kak. Enak banget, apalagi pake sambal pedes."


Riri menjilat jemarinya yang terkena sambal. Entah kenapa Elo mengukai apa yang ia lihat barusan.


Elo : "Mau nambah lagi?"


Riri : "Nggak, kak. Udah cukup. Tapi makanannya sisa banyak ini mubazir, kak."


Elo : "Aku yang habiskan, aku belum selesai makan."


Riri : "Loh, kakak belum makan? Dari tadi ngapain aja?"


Elo : "Ngupasin kamu udang sama kepiting..."


Riri : "Aku kira kakak ikutan makan juga. Aku bantu ngupasin ya, kak."


Elo : "Suapin juga dong."


Elo : "Sekali aja..."


Riri menyuapi Elo potongan lobster yang sudah ia kupas. Elo terus membuka mulutnya minta disuapi Riri, padahal ia belum mencuci tangannya dan bisa makan sendiri.


Situasi romantis itu tak lepas dari pengawasan seseorang yang sejak Pak Kim pergi dari sana, sudah berdiri di dekat pintu kamar Elo.


🌸🌸🌸🌸🌸


Kaori melongo melihat dimana mereka berada sekarang. Bangunan tinggi itu mirip dengan hotel.


Kaori : "Kita dimana?"


Rio : "Ayo turun."


Kaori : "Aku gak mau."


Rio : "Kita cuma sebentar disini."


Kaori : "Kita ngapain disini?"


Rio : "Kalo kamu penasaran, ayo turun."


Kaori : "..." Kaori galau mau ikut atau tetap diam di mobil.


Rio : "Kalau gak mau turun, aku tinggal."


Kaori : "Aku ikut."


Kaori turun dari mobil dan mereka berjalan memasuki bangunan itu.


Rio menarik Kaori ke dalam lift yang berhenti di lantai 14, kayaknya. Kaori tak sempat memperhatikan angka berapa itu.


Rio menariknya sampai di depan pintu sebuah kamar bertulis angka 475. Rio mengeluarkan sebuah kartu di tangannya yang ia pakai membuka pintu kamar itu.


Rio : "Ayo, masuk."


Kaori melihat sekeliling kamar itu,


Kaori : "Rio, ini kamar siapa?"


Rio : "Ini kamar apartment papaku."


Kaori : "Kita ngapain kesini?"


Rio : "Ngapain ya? Pacaran?"


Kaori : "Pacaran apa dalam kamar? Aku mau pulang..."

__ADS_1


Rio sudah menutup pintu di belakangnya. Ia berjalan mendekati Kaori yang sudah berjalan cepat mendekati pintu terdekat disana.


Kaori hampir membuka pintu kamar mandi, tapi Rio dengan cepat menarik tangannya. Rio mencium bibir Kaori sambil menyudutkan gadis itu ke dinding.


Rio : "Aku... sangat... ingin... menciummu..."


Kaori : "Mmmpphh...sto...op..."


Rio : "Sebentar... aja..."


Untuk sesaat Kaori membiarkan Rio melakukan apa yang ia inginkan. Tapi saat tangan Rio mulai menjelajahi bagian tubuhnya yang lain, Kaori tersentak dan tak sengaja menggigit bibir Rio.


Rio : "Aouch...!"


Kaori : "Rio, jangan nakal. Tanganmu..."


Wajah Rio memerah saat melihat dimana tangannya berada. Kaori merapatkan kemejanya yang sedikit terbuka.


Rio menatap wajah Kaori yang menatapnya tanpa ekspresi. Saat Rio berbalik, Kaori menarik lengan Rio dan memeluknya.


Kaori : "Kamu sangat menyukaiku ya?"


Rio : "Iya... Maaf, aku..."


Kaori : "Kenapa kau minta maaf kalau selalu melakukan kesalahan yang sama? Kesalahan yang sangat kusukai."


Rio melepas pelukan Kaori dan menatap wajah pacarnya itu. Kaori tersenyum sangat manis. Rio menempelkan keningnya di kening Kaori.


Rio : "Berjanjilah padaku."


Kaori : "Janji apa yang kau minta?"


Rio : "Janji kau akan menikahiku."


Kaori : "Janji macam apa itu? Kita masih kuliah dan proses mencapai kata pernikahan itu masih sangat lama."


Rio : "Kau tidak mau menikah denganku?"


Kaori : "Ayolah, Rio. Relistis sedikit, bagaimana kalau kamu ketemu perempuan lain yang lebih baik dari aku? Janji itu hanya akan memberatkan aku."


Rio : "Berat?"


Kaori : "Aku akan terancam jadi perawan tua gara-gara janjimu itu."


Rio : "Mungkin kau akan tua, tapi gak akan perawan lagi."


Kaori : "Idih, mesum!"


Rio menggesekkan pipinya ke pipi Kaori membuat gadis itu kegelian.


Kaori : "Stop... Geli..."


Rio : "Kamu ngegemesin banget sich."


Kaori : "Eh, si kembar kok gak ada kabar? Uda pulang dari rumah sakit?"


Rio : "Uda kemarin kayaknya."


Kaori : "Kita kerumahmu yuk. Aku mau nengok mereka."


Rio : "Kamu gak mau berduaan sama aku? Jarang banget kita quality time gini."


Kaori : "Aku merasa lebih aman quality time di rumahmu atau di tempat keramaian."


Rio : "Kenapa gitu?"


Kaori : "Setidaknya aku tidak khawatir kehilangan perawanku sebelum aku tanda tangan surat nikah."


Rio : "Jadi kamu mau nikah sama aku?"


Kaori : "Berjuanglah sedikit lagi untuk meyakinkan aku ya. Ayo pergi."


Rio : "Nginep dirumah ya."


Kaori : "Aku gak bawa baju ganti."


Rio : "Pake bajuku, tapi..."


Kaori memicingkan matanya menunggu kata-kata Rio selanjutnya.


Rio : "Tapi tidur sama aku."


Pletak! Pukulan telak mendarat di lengan Rio lanjut dengan cubitan beruntun.


Rio : "Ampun... Ampun...! Aku cuma bercanda! Pake aja bajuku, gak pake syarat. Suueerr..."


Keduanya tersenyum satu sama lain dan bersiap ke rumah Rio.


🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain β€˜Menantu untuk Ibu’, β€˜Perempuan IDOL’, β€˜Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya..


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


🌲🌲🌲🌲🌲

__ADS_1


__ADS_2