Duren Manis

Duren Manis
Chapter Eight - Nomor Siti


__ADS_3

Malam semakin larut. Jalan raya pun mulai sepi. Sunyi. Beberapa kios-kios dipinggir jalan pun mulai tutup pintunya. Udara malam semakin dingin. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Beberapa anjing liar berkeliaran di jalan.


Siti masih berdiri di pinggir trotoar depan cafe menunggu bapaknya menjemput. Cafe tepat ia bekerja sudah tutup. Meskipun masih ada beberapa pegawai didalam. Ia memutuskan untuk menunggu bapaknya diluar.


" Siti " merasa namanya dipanggil, siti menoleh kearah sumber suara. Ternyata yang memanggilnya Fera. Salah satu pegawai cafe.


" Kau belum pulang? " tanya fera. Ia mengunci pintu cafe. Karena memang semua pegawai sudah pulang.


" Belum mbak. Masih nunggu bapak jemput " Balas siti, seraya tersenyum simpul.


" Mau ku temani? " Fera menghampiri siti. Ia berdiri di samping siti.


" Ah- tidak perlu mbak. Mbak fera bisa pulang duluan " ujar Siti berusaha menolak. Tapi sepertinya fera kuekueh menemani siti.


" Tidak baik seorang gadis sendirian malam-malam begini. Bagaimana tiba-tiba ada orang jahat dan preman menghampirimu. Memangnya tidak takut "


Siti bergidik ngeri membayangkan jika ada orang jahat ingin menyelakainya. Siti menggeleng berusaha menghilangkan pikiran negatif itu. Ia menatap fera. Lalu mengangguk setuju.Fera tersenyum kemenangan. Ia duduk dipinggir trotoar. Lalu di ikuti siti. Mereka berdua menikmati udara malam yang dingin. Menatap jalan raya yang mulai sepi. Beberapa anjing liar menggonggong bersautan. Menambah suasana malam hari ini.


" Rumah mbak fera dimana? " Tanya siti berusaha melepas kecanggungan di antara mereka. Fera melirik siti sebentar, " Tak jauh dari sini. Dari perempatan jalan ini belok kiri, lurus, lalu ada toko butik besar. Tepat dipinggir butik itu ada gang kecil. Lalu masuk sedikit. Rumahku bercat orange " terang fera.


" Kalau rumahmu di mana? " Fera balik menanya siti.


" Jalan semanggi no. 2 " sahutnya.


" Lumayan jauh dari sini ya "


Siti mengangguk.


" kamu nggak capek tiap hari naik sepeda? "


Siti menggeleng sebagai pertanda tidak. Hening sejenak. Sampai akhirnya fera membuka suaranya kembali.


" Kamu tau sit, aku benar-benar salut sama kamu. Diantara remaja yang seumuran denganmu sedang menikmati masa bahagia mereka dengan gemerlap. Tapi kamu enggak. Setiap hari naik sepeda, sepulang sekolah bekerja. Kamu memang gadis yang luar biasa. Dulu waktu seusia denganmu mbak nggak pernah seperti itu. Setiap hari sesalu bergantung dengan orang tua " fera terkekeh sebentar.


" Sampai akhirnya mereka meninggalkan mbak untuk selama-lamanya " Sambungnya lagi. Mendengar hal itu siti sedikit terkejut. Ia manatap fera dalam. Ia menggenggam tangan fera. Berusaha menenangkan fera yang terlihat berkaca-kaca.


" Maaf mbak. Karena siti mbak jadi ingat orang tua mbak " sesalnya. Fera mengusap sudut matanya yang mengeluarkan air mata. Lalu tersenyum pada siti.


" Tak apa, ini bukan salah kamu sit. Jadi tak perlu minta maaf "


Mereka diam sejenak. Hingga seseorang dari kejauhan memanggil nama siti. Ternyata itu bapak siti yang memakai motor usangnya.


" mbak, bapak udah jemput, mbak bisa pulang duluan. mbak fera pasti capek " siti berdiri di ikuti dengan fera.


" Baiklah mbak pulang dulu ya. Hati-hati dijalan " fera mengenakan helmnya. Lalu menaiki motornya yang terparkir tak jauh dari mereka.


" mbak makasih udah nemani siti. Hati-hati dijalan " siti melambaikan tangannya sebelum fera beranjak dari sana.


Fera mengangguk. Ia akhirnya beranjak pergi dari sama dengan motornya.


" Kamu tadi sama siapa sit? " tanya wisman, bapak siti. Ketika tepat berhenti di depan siti.


" Sama mbak fera, pegawai cafe "


" Oh. Yaudah ayo pulang " Wisman memberikan helm untuk siti kenakan. Siti naik. Mereka bergegas pulang karena hari semakin malam.




" Kak siti udah pulang? " Tanya nana. Saat siti telah sampai dirumah. Nana sengaja menunggu kakaknya untuk meminjam ponsel untuk mengerjakan PR dan untuk alasan lain.


" Loh kamu belum tidur na " siti menaruh helmnya di atas meja. Menatap heran adiknya yang masib terjaga hingga larut malam.


Nana menggeleng, " nana nungguin kak siti. Mau pinjam hp buat ngerjain PR, boleh ya? " Ujar nana memohon.


" Boleh kok " siti merogoh tas selempang kecil yang ia bawa. Mengambil ponsel pintarnya. Tanpa rasa curiga siti memberikan ponselnya pada nana.


" Nana pinjam sebentar ya "


" Iya. Ibu kemana? "


" Di dapur "


Nana bergegas memasuki kamarnya. Atau lebih tepatnya memasuki kamar siti. Karena mereka memang tidur berdua. Terkadang.


" Eh, adikmu kenapa lari-lari " Tanya wisman setelah memakirkan motornya disebelah rumah.


" Nana pinjam hp buat ngerjain PR "


Setelah mengucapkan itu. Menemui ibunya yang berada di dapur.


Sedangakan didalam kamar. Nana kelimpungan mencari nomor siti. Ia sibuk menggeser ke bawah kontak ponsel siti.

__ADS_1


Ish.. Mana sih nomor kak siti. Diberi nama apa pula. Nana kan jadi susah carinya.


Setelah 2 menit mencari akhirnya ketemu juga. Ia segera mencatat nomor kakaknya itu pada selembar kertas.


Harus cepat-cepat. Sebelum ketahuan kak siti.


Setelah mencatat nomor kakaknya. Nana berpikir sejenak.


Sama nomor whasap ( WhatsAap ) juga nggak *ya? Tulis aja deh*.


Nana memastikan data dalam ponsel kakaknya menyala atau tidak. Setelah memastikan. Datanya mati. Nana membuka aplikasi chat itu. Lalu memeriksa nomor siti.


Ternyata nggak sama ya. Tulis aja deh. Siapa tau om itu butuh.


" Yes, akhirnya selesai juga. Dengan ini om itu akan membelikan nana barbie " nana tertawa cekikikan sambil mengangkat selembar kertas yang terdapat nomor kakaknya itu tinggi - tinggi.


Sampai nana sadar ada yang memutar kenop pintu kamarnya itu. Lalu segera memasukkan kertas tersebut kedalam tasnya.


Clekk.....


" Kamu nggak apa-apa kan na. Kakak dengar kamu tertawa sendiri?, kamu nggak lihat aneh-aneh kan " Siti memasuki kamar dengan tatapan curiga pada nana.


" E-nggak kok. Ini udah selesai. Makasih ya kak " nana memberikan ponsel itu pada kakaknya.


" Nana mau tidur, udah ngantuk " Sambungnya, nana berpura-pura menguap. Lalu menaiki ranjang. Memakai selimut. Merebahkan dirinya menghadap tembok.


Melihat kelakuan adiknya membuat siti geleng-gelang. Ia segera mengganti pakaiannya. Lalu segera menyusul nana.





Pagi pun tiba. Membawa kebahagian baru di hati semua orang. Tak kecuali Rendy. Dengan balutan setelan jas hitam, kemeja putih, dan dasi merah maroon. Menambah kadar ketampanannya. Dengan percaya diri ia bercermin dengan berbagai gaya layaknya seorang model profesional. Sudah sejak subuh tadi ia berdiri didepan cermin memandang dirinya sendiri. Berkali-kali menata dasi agar terlihat lebih rapi. Tentu saja ini hari pertama ia mengajar setelah sekitaran 4 tahun yang lalu ia berhenti menjadi guru. Dan sekarang ia kembali pada profesi awalnya sebelum menjadi CEO perusahaan ayahnya itu. Menjadi guru agama adalah hal yang paling ia sukai. Mengamalkan apa yang ia dapat selama kuliah jurusan pendidikan agama untuk memperbaiki akhlak-akhlak yang telah rusak seiring berkembangnya zaman. Demi kebaikan didunia ini. Rendy ikhlas. Dan untuk Siti tentunya.


Pria itu sibuk mencoba beberapa peci yang ia miliki. Rendy terlihat bingung harus memakai peci yang mana. Hitam polos? Atau hitam bercorak? Pikirnya.


Sibuk dengan kegiatan sampai ia tak tau jika sedari tadi ia diperhatikan seseorang dari balik pintu kamarnya. Orang itu tersenyum diam-diam melihat kelakuan majikannya itu. orang itu adalah bi saras. Wanita yang juga sama pentingnya bagi rendy.


Bi saras memperhatikan rendy dan sesekali tersenyum geli melihat tingkah rendy yang masih seperti ABG. Padagal niat awalnya ia ingin membangunkan rendy. Ternyata mungkin niatnya itu sudah tidak berguna, karena rendy sudah bangun lebih awal bahkan ia sudah terlihat rapi dengan setelan Jas yang melekat pada tubuhnya yang menggoda iman itu.


Sudah beberapa menit bi saras berdiri di depan pintu kamar rendy. Akhirnya ia memutuskan untuk melangkah masuk ke dalan kamar. Menghampiri rendy yang sedang bercermin. Rendy yang tidak mengetahui kedatangan bi saras, masih sibuk dengan kegiatannya.


Rendy terserentak kaget. Ia menoleh kebelakang dan melihat bi saras berdiri menatapnya sambil tersenyum hangat. Rendy mengusap dadanya beberapa kali.


" Bibi mengagetkan ku saja " keluh rendy


Bi saras hanya tersenyum menanggapi tuan mudanya itu, " Selamat pagi tuan muda "


" Ah iya, selamat pagi "


"Sepertinya, taun muda sudah tidak sabar ya "


Rendy mengangguk, ia tersenyum memandang bi saras. Lalu melanjutkan bercerminnya.


" aku hanya bingung harus memakai peci yang, bisakah bibi membantuku? " Pintanya, bi saras dengan senang hati membantu rendy. Ia mendekat ke arah rendy.


" Bi rasa yang hitam itu bagus " Saran bi saras. Rendy mencoba peci hitamnya lagi. Bi saras terlihat berpikir.


" Emm, ini cocok tapi tuan muda seperti calon pengantin pria " bi saras tertawa ringan.


" aku sependapat dengan bibi, kurasa tak masalah jika aku memakai peci ini " ujarnya sedikit tertawa.


" Kurasa itu akan jadi masalah tuan muda " mendengar ucapan bi saras rendy berkerut heran.


" Masalah? "


" Iya, taun muda akan mengajar Anak SMS bukan anak SMP lagi. Dan itu pasti akan membuat pandangan mereka sedikit berbeda, mungkin saja mereka akan berteriak histeris jika melihat tuan muda "


" Itu mungkin saja "


Semoga saja tidak.


Akhirnya rendy memutuskan untuk menggunkan peci hitamnya. Walau sedikit kontras dengan rambutnya yang coklat tapi hanya peci itu yang cocok dengan setelan jas nya.


" Tuan muda tidak ingin menggunakan sarung? " Canda bi saras


" bibi aku ini seorang guru bukan seorang ustads " Rendy membalas candaan bi saras ia tertawa sebentar.


" Tapi bibi rasa menggunakan sarung bukan hal buruk " Bi saras masih terkekeh, niatnya hanya menggoda tuan mudanya saja.


Rendy berpikir sejenak, " mungkin lain kali bi, kelihatannya bukan hal buruk ".

__ADS_1




" ish, om ganteng lama banget sih " gerutu gadis yang tak lain adalah nana. Nana terlihat kesal menunggu seseorang yang tak kunjung datang.


" Om ganteng mana sih mau bel masuk nih " Nana celingukan mencari seseorang. Pipinya menggembung, alisnya bertautan menahan kesal.


Dari kejauhan rendy terlihat berlari sambil menggendong anak kecil. Nana tersenyum senang. ia menghampiri Rendy.


" Om lama banget sih nana capek nungguin dari tadi "


" Maaf na, tadi macet " Rendy menetralkan napasnya yang tak karuan. Rendy menurunkan Rafie dari gendongannya.


" itu siapa om? " Tanya nana.


" Anak om, ganteng kan? " Rendy merapikan pakaian Rafie yang sedikit berantakan. wajah Rafie terlihat datar memandang papanya itu.


" ih ganteng banget sih kayak om " ujar nana gemas, nana menghampiri rafie lalu mencubit kedua pipinya. tapi rafie tak memberikat ekspresi apapun, ia masih memasang wajah datarnya.


" Yaudah Rafie masuk gih "


Rafie hanya mengangguk singkat, mencium tangan rendy lalu segera beranjak masuk ke kelasnya.


" Maaf ya na, lagi badmood dia " sesal rendy


" Nggak papa om, namanya siapa "


" namanya rafie "


" oh, ngomong-ngomong. boneka nya nggak lupa kan om "


" Astaghfirullah, boneka ada di mobil bentar ya om ambil "


untung nggak ketinggalan. batin nana gemas


rendy berlari keluar menuju mobilnya, lalu mengambil boneka barbie yang berada dikursi penumpang.


" Nomornya nggak lupa kan? " tanya rendy setelah mengambil boneka barbie itu.


" Tenang om, aman " nana membuka tas nya mencari kertas yang berisi nomor kakaknya itu, lalu memberikan nya kepada rendy.


" Nih om. boneka nya mana " pinta nana setelah Rendy menerima kertas itu.


" kalau di tanya orang tua mu, tentang boneka itu bagaimana? " Tanya rendy penasaran.


" Nana udah siapin alasannya. om nggak usah khawatir " sahut nana santai, ia memasukkan boneka barbie itu kedalam tasnya.


" Lalu soal uang kemarin? " tanya rendy lagi


" Nana masukan tabungan "


Rendy mengangguk mengerti. lalu melihat isi kertas yang di berikan nana tadi.


" ini aslikan "


" ya asli lah om "


" Yaudah makasih ya na " Rendy memasukkan kertas tersebut kedalam saku jasnya.


" No problem " balas nana sok inggris


" Yaudah kamu masuk gih, udah bel "


" Oke om. kalo om butuh bantuan cari nana aja, nanti nana bantu "


Rendy mengangguk. lalu berbalik, beranjak pergi meninggalkan nana. setelah melangkah beberapa meter. nana memanggilnya.


" Ommm "


Rendy menoleh, " iya? "


" Om tambah ganteng kalau pakai jas sama peci, kayak orang mau kawin. hahaha " ujar nana, ia sedikit menaikkan nada suaranya, agar rendy mendengar. lalu berlari pergi sambil tertawa.


Rendy yang mendengar hal itu hanya bisa melotot memandang kepergian nana, sampai bola matanya seakan mau keluar dari kepalanya.


Untung aja masih kecil.




**TBC....

__ADS_1


#stayathome....🙏**


__ADS_2