Duren Manis

Duren Manis
Mengelak


__ADS_3

Mengelak


“Siapa M? Kamu kenal dia?”tanya Rio.


“Aku gak tau siapa yang ngirim. Gak ada cowok lain


yang kukenal inisialnya M.”


“Bohong!”bentak Rio.


“Terserah!”bentak Gadis juga.


Gadis duduk kembali di mejanya dengan kesal. Ia


mengangkat gelasnya yang berisi air putih dan mengancam akan menyiram Rio kalau


Rio tidak pergi dari hadapannya. Alex maju dan menarik Rio masuk ke ruang kerja


Romi.


Mereka tampak berdebat di dalam sana, tapi Gadis


tidak peduli. Ia membereskan mejanya dengan cepat. Pekerjaannya hari ini


selesai lebih cepat dan ia ingin pulang tepat waktu. Saat Alex keluar dari


ruang kerja Romi, Gadis minta ijin untuk pulang. Rio yang mendengarnya,


langsung bangun dan menahan Gadis.


“Aku anterin ya. Jangan pulang dulu.”tahan Rio.


“Gak! Aku bisa pulang sendiri.”ketus Gadis yang


masih kesal.


“Gadis, tunggu bentar ya. Aku anterin kamu pulang,


sekalian aku juga mau pulang.”kata Romi.


“Gadis, aku anterin ya. Jangan marah lagi.”bujuk


Rio.


Gadis menghela nafasnya, ia duduk lagi di kursi


sambil mengelus perutnya. Sebaiknya ia menenangkan diri dulu sebelum pulang.


”Nak, papamu nyebelin banget sich. Mama capek


debat sama papamu. Ntar kamu tendang papamu kalo dah keluar ya.”


“Kenapa? Perutmu sakit?”tanya Rio.


“Anakmu minta makan. Kesel katanya sama kamu.”jawab


Gadis asal.


“Mau makan apa? Ayo, kita cari makan.”ajak Rio yang


semangat sekali.


“Masakin telur orak-arik lagi.”kata Gadis sambil


manyun.


“Pah, ayo kita pulang sekarang.”


Rio mengejar papanya ke dalam ruang kerjanya dan


membantu membereskan berkas diatas meja. Ia juga membawakan tas Alex dan juga


jas-nya.


“Ayo, kita pulang. Om, ayo.”


Alex dan Romi saling pandang, tersenyum melihat


kebahagiaan Rio yang menuntun Gadis menuju lift.


Mereka sampai di rumah dengan cepat dan Rio mulai


memasak telur orak-arik untuk Gadis. Gadis berterima kasih pada Mia saat


mengembalikan kotak bekal makanan. Gadis menunggu Rio selesai sambil bermain


dengan si kembar Rava dan Reva. Baby Reynold sedang dimandikan mb Roh di


kamarnya. Rava asyik bermain sendiri, sementara Reva menggelayut pada Gadis.


“Mah, mb Rara, mana? Tumben gak ada di rumah.”tanya


Rio.


“Loh, kamu gak tahu? Katty udah lahiran. Rara sama


Arnold lagi jengukin di rumah sakit.”kata Mia.


“Hmm. Kok kak Katty gak ngasih tau ya.”kata Rio


sambil membawa piring berisi telur orak-arik dan nasi mendekati Gadis.

__ADS_1


Reva tidak mau melepaskan pegangannya dari baju


Gadis. Bayi itu tampak sangat nyaman dipelukan wanita itu.


“Hei, kau mulai menunjukkan sifat aslimu ya.


Playboy kecil.”kata Rio sambil menekan-nekan pipi Reva yang gembul.


Bayi itu membuang muka pada Rio dan bersandar


dengan sangat nyaman di dada Gadis.


“Kau tidak akan bisa bersandar sesantai itu lagi


kalau ponakanmu mulai membesar nanti.”kata Rio lagi.


“Jangan menganggunya. Kenapa kau begitu sama adikmu


sendiri?”tegur Gadis.


“Dia akan menarik perhatianmu dengan mata genitnya


itu dan mulutnya yang ileran.”kata Rio sambil menjulurkan lidahnya pada Reva.


“Yang benar saja. Apa kau cemburu pada Reva?”tanya


Gadis.


Rio menyuapkan sesendok besar telur orak-arik untuk


membungkam mulut Gadis. Ia tidak mau Gadis mengungkit masalah cemburu. Ia tidak


cemburu, hanya tidak suka Gadis dekat dengan pria lain.


“Kenapa kau cemburu pada Reva?”kejar Gadis lagi.


“Kenapa kau terus bertanya? Cepat selesaikan


makanmu. Kita jenguk kak Katty habis ini.”kata Rio sambil terus menyuapi Gadis


makan.


Mia senyum-senyum sendiri melihat kedekatan Rio dan


Gadis. Ia sedang menanyakan tentang keadaan Katty dan dimana rumah sakit tempat


Katty melahirkan pada Rara.


“Aku gak ikut ya.”kata Gadis.


“Kenapa? Temenin aku. Masa aku sendiri?”kata Rio.


enak disana.”


“Kan aku dah cerita kalau kak Katty gak marah sama


hubungan kita. Ayo, kita tengok bayinya kak Katty.”


“Iya, Gadis. Tengok aja kesana. Ini, bawain kado


juga. Titip juga kado dari mama.”kata Mia sambil mendekatkan dua kotak hadiah ke


samping Gadis.


“Kapan mama nyiapin ini?”tanya Rio sambil


memberikan minum untuk Gadis.


“Ini kadonya si kembar. Masih banyak yang belum


dibuka. Mama pilih aja buat kado bayinya Katty. Si kembar juga gak make ini.”kata


Mia lagi.


“Tapi kita mampir ke rumahku dulu ya. Aku belum


mandi.”pinta Gadis pada Rio.


“Mandi disini aja ya. Tapi mama belanja baju, mama


beliin juga baju untuk Gadis. Udah mama taruh di kamar Riri.”kata Mia.


“Gadis ngrepotin mama. Makasih ya, mah.”


“Masalah sudah teratasi. Ayo, mandi.”kata Rio


sambil mengambil Reva dari pelukan Gadis dan memberikannya pada Mia.


Bayi itu mengamuk dipisahkan dari Gadis dan Rio


memeletkan lidahnya pada adiknya.


“Reva harus cari wanita lain ya. Kak Gadis sudah


punya kak Rio. Wek.”kata Rio.


“Bisa-bisanya kau cemburu pada adikmu yang masih


bayi. Kekanakan banget. Eh, tunggu... apa kau cemburu juga tadi di kantor?”tanya


Gadis pada Rio.

__ADS_1


“Cemburu apa? Aku gak cemburu. Aku cuma tanya, itu


bunga dari siapa.”kata Rio mencoba mengelak.


“Ya, kalo nanya gak pake ngegas, aku gak curiga.


Ini pake bentak-bentak. Pake bilang siapa cowok itu. Emangnya kamu yakin yang


ngirim bunga itu cowok?”kata Gadis lagi.


“Mana ada cewek ngirim bunga ke cewek. Pake kartu


rayuan gombal.”kata Rio.


“Tuch, kan cemburu. Ngaku aja, Rio. Kau sudah


tertangkap basah.”


“Aku gak cemburu! Hiss.”bantah Rio.


“Sudah-sudah, kalian mau sampai kapan ribut gini.


Keburu malem loh.”kata Alex yang sudah selesai mandi.


Gadis dan Rio menurut untuk mandi lebih dulu.


Seperti biasa, Gadis membantu Rio mandi dan kali ini mengganti perbannya.


“Sepertinya gak perlu di tutup lagi ya. Lukanya


sudah hampir sembuh.”kata Rio.


“Tutup sehari lagi ya. Lagian nanti kan kita ke


rumah sakit. Kamu bisa periksa lukamu disana.”kata Gadis sambil memasang perban


lagi di lengan dan kaki Rio.


“Aku mau keramas nich. Uda berapa hari gak keramas.


Gatel.”keluh Rio.


“Sini, aku bantuin. Kamu kan bisa nunduk aja.”


Mereka berdua masuk ke kamar mandi. Gadis melepas


blusnya, menyisakan tank top. Rio melirik isi tank top Gadis sambil pura-pura


merapikan boxernya.


“Gak bisa kalau kamu nunduk. Tengadah aja.”kata


Gadis.


Rio masih bingung harus gimana. Gadis memintanya


duduk di closet menghadap ke belakang. Ia menahan leher dan kepala Rio dengan


satu tangannya. Sedangkan tangan satunya menghidupkan shower dan mengarahkannya


membasahi rambut Rio.


“Bajumu basah, Dis.”kata Rio saat merasakan tank


top Gadis basah.


“Biarin aja. Jangan gerak dong. Nanti kamu jatuh.”kata


Gadis sambil menggosok kepala Rio yang sudah berbusa.


Wajah Rio memerah. Ia bisa merasakan empuknya dada


Gadis yang menempel di pipinya. Gadis berpura-pura tidak merasakan gerakan Rio


menekan dadanya. Ia membilas kepala Rio hingga bersih kembali.


“Tunggu. Aku ambil handuknya dulu.”kata Gadis lagi.


Ia menjulurkan satu tangannya keatas tubuh Rio


dengan tangan satunya masih memegang kepalanya yang basah. Dada Gadis semakin


menekan ke wajah Rio sekarang.


“Nah. Tegakkan kepalamu. Ini handuknya.”


Rio menutup wajahnya yang merah padam dengan handuk


dan berjalan keluar kamar mandi. Gadis menutup pintu kamar mandi dan


menguncinya. Wajahnya terasa panas dan jantungnya berdegup kencang. Untuk


pertama kalinya secara sadar mereka berdua merasakan sentuhan berhasrat untuk


satu sama lain.


*****


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.

__ADS_1


__ADS_2