
Mengelak
“Siapa M? Kamu kenal dia?”tanya Rio.
“Aku gak tau siapa yang ngirim. Gak ada cowok lain
yang kukenal inisialnya M.”
“Bohong!”bentak Rio.
“Terserah!”bentak Gadis juga.
Gadis duduk kembali di mejanya dengan kesal. Ia
mengangkat gelasnya yang berisi air putih dan mengancam akan menyiram Rio kalau
Rio tidak pergi dari hadapannya. Alex maju dan menarik Rio masuk ke ruang kerja
Romi.
Mereka tampak berdebat di dalam sana, tapi Gadis
tidak peduli. Ia membereskan mejanya dengan cepat. Pekerjaannya hari ini
selesai lebih cepat dan ia ingin pulang tepat waktu. Saat Alex keluar dari
ruang kerja Romi, Gadis minta ijin untuk pulang. Rio yang mendengarnya,
langsung bangun dan menahan Gadis.
“Aku anterin ya. Jangan pulang dulu.”tahan Rio.
“Gak! Aku bisa pulang sendiri.”ketus Gadis yang
masih kesal.
“Gadis, tunggu bentar ya. Aku anterin kamu pulang,
sekalian aku juga mau pulang.”kata Romi.
“Gadis, aku anterin ya. Jangan marah lagi.”bujuk
Rio.
Gadis menghela nafasnya, ia duduk lagi di kursi
sambil mengelus perutnya. Sebaiknya ia menenangkan diri dulu sebelum pulang.
”Nak, papamu nyebelin banget sich. Mama capek
debat sama papamu. Ntar kamu tendang papamu kalo dah keluar ya.”
“Kenapa? Perutmu sakit?”tanya Rio.
“Anakmu minta makan. Kesel katanya sama kamu.”jawab
Gadis asal.
“Mau makan apa? Ayo, kita cari makan.”ajak Rio yang
semangat sekali.
“Masakin telur orak-arik lagi.”kata Gadis sambil
manyun.
“Pah, ayo kita pulang sekarang.”
Rio mengejar papanya ke dalam ruang kerjanya dan
membantu membereskan berkas diatas meja. Ia juga membawakan tas Alex dan juga
jas-nya.
“Ayo, kita pulang. Om, ayo.”
Alex dan Romi saling pandang, tersenyum melihat
kebahagiaan Rio yang menuntun Gadis menuju lift.
Mereka sampai di rumah dengan cepat dan Rio mulai
memasak telur orak-arik untuk Gadis. Gadis berterima kasih pada Mia saat
mengembalikan kotak bekal makanan. Gadis menunggu Rio selesai sambil bermain
dengan si kembar Rava dan Reva. Baby Reynold sedang dimandikan mb Roh di
kamarnya. Rava asyik bermain sendiri, sementara Reva menggelayut pada Gadis.
“Mah, mb Rara, mana? Tumben gak ada di rumah.”tanya
Rio.
“Loh, kamu gak tahu? Katty udah lahiran. Rara sama
Arnold lagi jengukin di rumah sakit.”kata Mia.
“Hmm. Kok kak Katty gak ngasih tau ya.”kata Rio
sambil membawa piring berisi telur orak-arik dan nasi mendekati Gadis.
__ADS_1
Reva tidak mau melepaskan pegangannya dari baju
Gadis. Bayi itu tampak sangat nyaman dipelukan wanita itu.
“Hei, kau mulai menunjukkan sifat aslimu ya.
Playboy kecil.”kata Rio sambil menekan-nekan pipi Reva yang gembul.
Bayi itu membuang muka pada Rio dan bersandar
dengan sangat nyaman di dada Gadis.
“Kau tidak akan bisa bersandar sesantai itu lagi
kalau ponakanmu mulai membesar nanti.”kata Rio lagi.
“Jangan menganggunya. Kenapa kau begitu sama adikmu
sendiri?”tegur Gadis.
“Dia akan menarik perhatianmu dengan mata genitnya
itu dan mulutnya yang ileran.”kata Rio sambil menjulurkan lidahnya pada Reva.
“Yang benar saja. Apa kau cemburu pada Reva?”tanya
Gadis.
Rio menyuapkan sesendok besar telur orak-arik untuk
membungkam mulut Gadis. Ia tidak mau Gadis mengungkit masalah cemburu. Ia tidak
cemburu, hanya tidak suka Gadis dekat dengan pria lain.
“Kenapa kau cemburu pada Reva?”kejar Gadis lagi.
“Kenapa kau terus bertanya? Cepat selesaikan
makanmu. Kita jenguk kak Katty habis ini.”kata Rio sambil terus menyuapi Gadis
makan.
Mia senyum-senyum sendiri melihat kedekatan Rio dan
Gadis. Ia sedang menanyakan tentang keadaan Katty dan dimana rumah sakit tempat
Katty melahirkan pada Rara.
“Aku gak ikut ya.”kata Gadis.
“Kenapa? Temenin aku. Masa aku sendiri?”kata Rio.
enak disana.”
“Kan aku dah cerita kalau kak Katty gak marah sama
hubungan kita. Ayo, kita tengok bayinya kak Katty.”
“Iya, Gadis. Tengok aja kesana. Ini, bawain kado
juga. Titip juga kado dari mama.”kata Mia sambil mendekatkan dua kotak hadiah ke
samping Gadis.
“Kapan mama nyiapin ini?”tanya Rio sambil
memberikan minum untuk Gadis.
“Ini kadonya si kembar. Masih banyak yang belum
dibuka. Mama pilih aja buat kado bayinya Katty. Si kembar juga gak make ini.”kata
Mia lagi.
“Tapi kita mampir ke rumahku dulu ya. Aku belum
mandi.”pinta Gadis pada Rio.
“Mandi disini aja ya. Tapi mama belanja baju, mama
beliin juga baju untuk Gadis. Udah mama taruh di kamar Riri.”kata Mia.
“Gadis ngrepotin mama. Makasih ya, mah.”
“Masalah sudah teratasi. Ayo, mandi.”kata Rio
sambil mengambil Reva dari pelukan Gadis dan memberikannya pada Mia.
Bayi itu mengamuk dipisahkan dari Gadis dan Rio
memeletkan lidahnya pada adiknya.
“Reva harus cari wanita lain ya. Kak Gadis sudah
punya kak Rio. Wek.”kata Rio.
“Bisa-bisanya kau cemburu pada adikmu yang masih
bayi. Kekanakan banget. Eh, tunggu... apa kau cemburu juga tadi di kantor?”tanya
Gadis pada Rio.
__ADS_1
“Cemburu apa? Aku gak cemburu. Aku cuma tanya, itu
bunga dari siapa.”kata Rio mencoba mengelak.
“Ya, kalo nanya gak pake ngegas, aku gak curiga.
Ini pake bentak-bentak. Pake bilang siapa cowok itu. Emangnya kamu yakin yang
ngirim bunga itu cowok?”kata Gadis lagi.
“Mana ada cewek ngirim bunga ke cewek. Pake kartu
rayuan gombal.”kata Rio.
“Tuch, kan cemburu. Ngaku aja, Rio. Kau sudah
tertangkap basah.”
“Aku gak cemburu! Hiss.”bantah Rio.
“Sudah-sudah, kalian mau sampai kapan ribut gini.
Keburu malem loh.”kata Alex yang sudah selesai mandi.
Gadis dan Rio menurut untuk mandi lebih dulu.
Seperti biasa, Gadis membantu Rio mandi dan kali ini mengganti perbannya.
“Sepertinya gak perlu di tutup lagi ya. Lukanya
sudah hampir sembuh.”kata Rio.
“Tutup sehari lagi ya. Lagian nanti kan kita ke
rumah sakit. Kamu bisa periksa lukamu disana.”kata Gadis sambil memasang perban
lagi di lengan dan kaki Rio.
“Aku mau keramas nich. Uda berapa hari gak keramas.
Gatel.”keluh Rio.
“Sini, aku bantuin. Kamu kan bisa nunduk aja.”
Mereka berdua masuk ke kamar mandi. Gadis melepas
blusnya, menyisakan tank top. Rio melirik isi tank top Gadis sambil pura-pura
merapikan boxernya.
“Gak bisa kalau kamu nunduk. Tengadah aja.”kata
Gadis.
Rio masih bingung harus gimana. Gadis memintanya
duduk di closet menghadap ke belakang. Ia menahan leher dan kepala Rio dengan
satu tangannya. Sedangkan tangan satunya menghidupkan shower dan mengarahkannya
membasahi rambut Rio.
“Bajumu basah, Dis.”kata Rio saat merasakan tank
top Gadis basah.
“Biarin aja. Jangan gerak dong. Nanti kamu jatuh.”kata
Gadis sambil menggosok kepala Rio yang sudah berbusa.
Wajah Rio memerah. Ia bisa merasakan empuknya dada
Gadis yang menempel di pipinya. Gadis berpura-pura tidak merasakan gerakan Rio
menekan dadanya. Ia membilas kepala Rio hingga bersih kembali.
“Tunggu. Aku ambil handuknya dulu.”kata Gadis lagi.
Ia menjulurkan satu tangannya keatas tubuh Rio
dengan tangan satunya masih memegang kepalanya yang basah. Dada Gadis semakin
menekan ke wajah Rio sekarang.
“Nah. Tegakkan kepalamu. Ini handuknya.”
Rio menutup wajahnya yang merah padam dengan handuk
dan berjalan keluar kamar mandi. Gadis menutup pintu kamar mandi dan
menguncinya. Wajahnya terasa panas dan jantungnya berdegup kencang. Untuk
pertama kalinya secara sadar mereka berdua merasakan sentuhan berhasrat untuk
satu sama lain.
*****
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.
__ADS_1