
Extra part 31
Keira sedang membantu Rio seperti biasanya di
kantor Alex. Ia cukup sibuk karena semua orang sedang mengerjakan proyek
terbaru untuk client perusahaan Alex. Bukan hanya Rio yang harus Keira bantu,
tapi juga Reva dan Romi.
Setumpuk dokumen yang sudah selesai dikerjakan
Keira tampak menggunung di samping gadis itu. Ia terus menumpuk dokumen itu
hingga sangat tinggi sampai melewati kepalanya. Sesekali bibir seksinya
mengomel karena lelah kesana kemari membawa dokumen. Tapi Rio yang mendengarnya
hanya memeletkan lidahnya.
“Om, capek om. Pijitin, om,” rengek Keira pada Rio.
Sejak Gadis memaafkannya, Rio bersikap dingin pada
Keira. Ia tidak peduli ada atau tidak Keira di sampingnya. Baginya tidak ada celah
sedikitpun untuk wanita lain bisa mempengaruhinya lagi. Keira bahkan tidak
tersinggung dengan sikap Rio. Ia tetap bersikap biasa pada pria itu, terkadang
kurang ajar sampai membuat Rio ingin menendangnya keluar dari kantor Alex.
“Nich, bawa ke mejanya Reva. Semuanya,” perintah
Rio sambil menunjuk dokumen yang menjulang di samping kakinya.
Keira malah melepas sepatunya lalu menaikkan kaki
jenjangnya ke atas paha Rio. “Om, kasi aku gini bentar ya. Aku kan perlu
charger. Om sich, nggak mau diapa-apain,” goda Keira membuat Rio menjatuhkan
kaki gadis itu ke lantai. Gadis itu tidak bisa menahan dirinya untuk menggoda
pria tampan.
“Bisa diem nggak. Mau kulakban mulutmu?” Rio mulai
kesal lagi.
Keira memonyongkan bibirnya, manyun. Tanpa memakai
alas kakinya, Keira mengambil beberapa dokumen di samping Rio, lalu membawanya
ke meja Reva. Bolak-balik beberapa kali, Keira tidak menyadari kehadiran
seseorang yang berjalan keluar dari lift.
Brak! Dokumen yang dibawa Keira jatuh dari
tangannya lalu menimpa kaki gadis itu setelah mereka bertabrakan.
“Aduch!! Addooww!!” jerit Keira kesakitan.
“Sory,” kata Bilar.
“Lo jalan
pake mata nggak sich?” desis Keira kesal.
Keira mengeluh sakit di kaki dan pinggangnya, ia
menatap sengit ke arah pria yang barusan menabraknya. Gadis itu berusaha
bangun, tapi ia terjatuh lagi karena sepertinya kakinya terkilir. Bilar
membantu Keira berdiri lalu mendudukkan gadis sintal itu di kursi terdekat. Tampak
kaki Keira lebam kebiruan.
“Ugh! Sakit! Jangan dipegang!” larang Keira sambil
memukul tangan Bilar yang menyentuh lebam di kakinya.
“Baru juga mau di cek. Mau ke rumah sakit?” tanya
Bilar dengan wajah datarnya.
Keira malah semakin kesal melihat Bilar yang
terlihat biasa saja, tidak merasa bersalah sama sekali. Keributan di luar ruang
kerjanya membuat Rio melongok keluar.
“Wei! Bilar, sudah datang kamu. Lo ngapain sich
duduk disitu? Menuh-menuhin frame aja.” Rio mempersilakan Bilar masuk ke ruang
kerjanya tanpa bertanya keadaan Keira.
Gadis itu mendengus kesal, tertatih-tatih ia
__ADS_1
berjalan ke meja Melda untuk mencari kotak P3K. Keira mengoleskan salep untuk
obat terkilir ke kakinya yang membiru setelah ia menemukannya. Setelah merasa
lebih baik, Keira menghilang entah kemana.
Di dalam ruang kerja Rio, Bilar sesekali melirik
keluar menatap sosok Keira yang sibuk sendiri mengobati kakinya. Ia bingung
melihat Rio yang cuek pada keadaan karyawannya. Pria berkacamata itu sempat
berpikir kalau Rio termasuk atasan yang kejam.
“Kamu ngerti, Bilar. Selama kamu kerja disini, kamu
akan jadi tanggung jawabku. Mamamu berpesan agar kamu sering-sering
berinteraksi dengan orang lain juga,” kata Rio menjelaskan tugas Bilar.
Siapa Bilar? Pria berkacamata itu adalah putra
pertama Bianca dan Ilham. Bianca adalah salah satu wanita yang sempat menyukai
Alex dan akhirnya menjadi asisten Mia. Sedangkan Ilham adalah asisten Arnold,
ayah Reynold. Keduanya menikah tentu saja dalam campur tangan Mia dan Alex.
Bianca stress menghadapi sikap Bilar yang kelewat
kalem dan tertutup. Putra pertamanya itu persis sekali sifatnya dengan Ilham.
Padahal Bianca berharap kalau Bilar yang akan menggantikan dirinya mengurus
perusahaan keluarga.
Untuk merubah sifat Bilar menjadi sedikit terbuka,
Bianca meminta tolong pada Alex untuk memperbolehkan Bilar bekerja di
perusahaan Alex. Kalau perlu tergabung di dalam tim marketing sekalian. Bianca
berharap Bilar bisa lebih terbuka setelah bekerja di perusahaan Alex.
Mendengar Bilar akan bergabung dengan perusahaan,
Rio meminta Bilar menjadi asistennya menggantikan Keira yang akan segera pergi
keluar negeri mengusul Reynold. Padahal skripsi gadis itu belum selesai, tapi
Rio sudah ingin Keira cepat-cepat pergi dari sana.
“Kemana lagi perginya? Bilar, tolong cari Keira di pantry. Itu dekat tangga darurat,”
tunjuk Rio ke pintu disamping lift.
Bilar berjalan menuju pintu yang dimaksud Rio dan
membuka pintu itu. Tampak Keira sedang berdiri dengan satu kakinya sedangkan
kakinya yang lebam tampak ia gantung. Sedikit meloncat, Keira berpindah dari
satu tempat ke tempat lain. Gadis itu sibuk memfotocopy sesuatu yang cukup
banyak.
“Keira? Om Rio manggil kamu,” kata Bilar.
“Ya, sebentar,” sahut Keira lalu memberi tanda
batasan sampai dimana pekerjaannya.
Tertatih-tatih, Keira berjalan tanpa alas kaki
keluar dari pantry. Bilar memperhatikan kegigihan Keira, padahal kakinya masih
sakit tapi gadis itu menahan rasa sakitnya, tetap bekerja seperti biasa. Sampai
di ruang kerja Rio, Keira langsung berubah sikap. Ia mengeluh kakinya sakit
pada Rio. Bilar jadi bingung, apa Keira punya kepribadian ganda.
“Udah tau sakit, kenapa masih keliaran. Itu tugasmu
suruh Bilar lanjutkan. Kamu duduk, selesaikan tugasmu,” kata Rio dingin,
padahal sebenarnya ia kuatir juga melihat kaki Keira yang mulai bengkak.
“Om jahat!” rengek Keira tapi tetap melanjutkan
pekerjaannya.
Bilar gantian bolak-balik membawa dokumen yang tadi
dibawa Keira ke meja Reva. Ia menyelesaikannya dengan cepat, lalu Keira
memintanya untuk melanjutkan fotocopy yang tadi tertunda. Lagi-lagi Keira
berjalan tertatih-tatih kembali ke pantry untuk mengajari Bilar cara
menggunakan mesin fotocopy.
__ADS_1
Tiba-tiba Bilar mendorong Keira sampai terduduk di
kursi pantry. Keira menatap Bilar, ingin tahu apa yang akan dilakukan pria itu
padanya. Dengan gerakan yang sensual, Keira menaikkan kaki kirinya yang bengkak
bertengger diatas paha kanannya. Rok ketat yang gadis itu pakai, sampai ikut
tertarik ke atas.
Wajah Bilar merona melihat gerakan Keira yang
menggodanya. Sungguh, Bilar bukan selera Keira. Penampilan Bilar biasa saja
dengan kemeja dan celana kain. Lalu kacamata yang bertengger di hidungnya. Sekilas
mirip Clark Kent yang culun.
“Kamu mau ngapain sich?” tanya Keira dengan suara
seksi menggoda.
Bilar menelan salivanya, ia belum pernah bertemu
gadis yang sangat agresif seperti Keira. Adanya juga wanita galak, yaitu
mamanya, Bianca. Perlahan Bilar mendekati Bianca.
**
“Ach! Sakit!” pekik Keira di dalam pantry. Suara
desahannya membuat Rio salfok. Pria itu terpaksa mencari Keira karena gadis itu
kelamaan berada di pantry bersama Bilar. Padahal pekerjaan mereka masih banyak
dan harus selesai sebelum jam pulang kantor.
Rio cepat-cepat membuka pintu pantry, ia melihat
Keira duduk di kursi membelakangi pintu dan sepertinya Bilar berjongkok di
depannya.
“Ach!! Pelan-pelan!” rengek Keira manja.
Otak Rio langsung traveling memikirkan yang
tidak-tidak. Ini di kantor dan sedang jam kantor, tapi Keira melakukan sesuatu
yang ambigu bersama Bilar di pantry.
“Kalian lagi ngapain?” tanya Rio berusaha tidak
menoleh ke bawah.
Keira dan Bilar menoleh. Kursi pantry berputar dan
Jeng! Jeng! Mereka berdua tidak melakukan apa-apa. Bilar sepertinya sedang
mengobati kaki Keira.
“Apa, om? Kangen ya?” tanya Keira sambil mengerling
genit.
Tenggelamkan saja gadis liar ini. Rio sampai lupa
maksudnya ingin memanggil Keira. Ia keluar dari pantry, tapi sedetik kemudian
masuk lagi hanya untuk mengatakan kalau mereka bisa makan siang duluan.
Keira mencari ponselnya yang ternyata ketinggalan
di meja kerja Rio. Keira ingin memesan makanan karena ia lupa membawa bekal
hari ini. Melihat Keira ingin bangkit dari kursi, Bilar menahannya lagi.
“Kamu mau apa lagi? Apa kamu ingin aku membayarmu
dengan sesuatu?” tanya Keira sambil menarik dasi pria itu agar wajah mereka
berdua sangat dekat.
Bilar menelan salivanya dan langsung memejamkan
mata, mungkin ia mengira kalau Keira akan menciumnya. Keira tersenyum jahil,
Bilar sangat menggemaskan karena tingkahnya yang polos. Merasa tidak terjadi
apa-apa, Bilar membuka matanya dan melihat Keira menatapnya.
“Apa kau kira aku akan menciummu? Mungkin nanti
kalau kau sudah lebih tampan, sayang,” rayu Keira sambil mendorong Bilar
menjauh. Rona merah semakin jelas menghiasi kedua pipi Bilar.
**
Keira sepertinya akan membuat Bilar baper, pemirsa.
__ADS_1