Duren Manis

Duren Manis
Kepergok bobok bareng


__ADS_3

Kepergok bobok bareng


Alex : “Kalau ini, mau gak?”


Gadis mencium wangi pizza daging yang membuat


liurnya menetes. Alex menyodorkan pizza lebih dekat dan meminta Gadis


mencobanya. Gadis langsung mengambil pizza itu dan memakannya dengan nikmat.


Mia membawakan segelas air untuk Gadis.


Gadis : “Makasi, pah, mah.”


Mia : “Makan yang banyak. Tapi pelan-pelan ya.”


Gadis mengangguk sambil tersenyum manis. Ia sangat


nyaman berada diantara keluarga Alex yang hangat. Rio terburu-buru turun dari


lantai dua, ia hampir jatuh di pijakan tangga terakhir. Membuat nenek terpekik


kaget,


Nenek : “Rio! Hati-hati!”


Rio : “Maaf, nek. Mana Gadis?”


Yang dicariin lagi asyik mengunyah pizza sampai


tidak peduli dengan sekitarnya. Rio duduk di meja makan setelah melihat


keberadaan Gadis. Ia mulai makan bersama nenek, Arnold, dan Alex. Mia masih


menemani Gadis makan, sementara Rara menjaga ketiga bayi bersama mb Roh.


Setelah semua orang makan dengan bahagia, Rio


menghidupkan televisi dan asyik menonton. Gadis yang gabut, menoel-noel pipi


Rava yang sedang asyik bermain sendiri. Sementara Reva punya mainan baru,


mengganggu baby Reynold.


Gadis tersenyum melihat Rava asyik menggigit


mainannya. Ia mencoba menarik mainan itu dari Rava tapi malah ganti diliatin


oleh Rava.


Gadis : “Rava. Rava ganteng. Manis banget


senyumnya.”


Rava membalik tubuhnya, ia merangkak ke dekat Gadis


dan memanjat tubuhnya. Rava mencoba berdiri sambil berpegangan erat pada tangan


Gadis. Melihat Gadis tersenyum bahagia karena bermain dengan Rava, membuat Rio


sedikit lega.


Dirinya mungkin belum bisa membuat Gadis tersenyum


bahagia seperti itu, tapi ia akan berusaha menerima Gadis. Belajar mencintai


wanita itu seperti Rio mencintai Kaori. Rio menggeleng. Ia tidak bisa mencintai


seseorang seperti ia mencintai Kaori.


Rio memegangi kepalanya yang sakit karena berpikir


terlalu banyak. Ia kembali menatap Gadis yang sudah menatapnya juga. Senyuman


Gadis langsung menghilang saat mereka bertemu pandang.


”Haih, melihatku saja senyumnya langsung hilang.


Apa aku harus pakai topeng?”


Satu persatu penghuni rumah mulai masuk ke kamar


masing-masing. Meninggalkan Gadis dan Rio yang masih di ruang keluarga. Mia


sudah menunjukkan tempat makanan pada Gadis jika ia ingin makan di malam hari.


Rio : “Kamu gak ngantuk?”

__ADS_1


Gadis : “Aku masih mau nonton.”


Rio : “Sini baring.”


Gadis menoleh ke samping, ia berbaring di samping


Rio dengan sekat bantal yang ia buat sebelumnya. Rio menggeleng melihat


kelakuan Gadis tapi dirinya gak protes. Gadis kembali fokus menonton film


komedi romantis di TV. Sesekali ia tersenyum bahkan terkikik geli melihat


adegan lucu di film itu.


Tapi wajahnya berubah sendu saat adegan romantis


mulai muncul. Dulu ia sering membayangkan melakukan salah satu adegan romantis


di film yang ia tonton bersama Rio. Ia akan tersenyum malu sendiri dan mulai


menendang-nendang kemana saja. Hal sama ia lakukan saat ini, membuat Rio


melongo melihatnya.


Rio : “Kamu ngapain?”


Gadis : “Kepo! Berisik, diem dech!”


Rio bingung dengan reaksi Gadis. Sedikit berlebihan


menjawab pertanyaannya tadi atas tingkah aneh Gadis sendiri. Rio tidak mau


ambil pusing lagi. Ia mulai mengantuk dan akhirnya tertidur di sebelah Gadis.


Gadis mematikan TV setelah film itu habis. Ia


melihat ke samping, Rio tertidur lelap membelakanginya. Sebuah bedcover di


letakkan Mia di dekat mereka tadi. Gadis menarik bedcover itu dan menyelimuti


mereka berdua.


Gadis : “Selamat malam, Rio. Selamat malam, baby.”


Gadis berbaring dengan posisi terlentang. Ia


membayangkan dirinya disana, berdiri di belakang Rio sambil memegang bahunya.


Gadis memukul kepalanya, ia harus sadar kalau hal semacam itu hanya indah


sebagai mimpi saja. Ia mengusap air matanya sebelum jatuh tertidur membelakangi


Rio.


*****


Mia baru keluar dari kamarnya ketika memergoki Rio


dan Gadis tidur di ruang keluarga. Keduanya berpelukan sangat dekat. Bahkan


bibir Rio menempel di leher Gadis. Rara yang juga baru keluar kamar, mendekati


Mia dan melotot melihat kedua orang yang tertidur di depannya.


Rara : “Mereka kenapa tidur disini, mah?”


Mia : “Ketiduran kali. Mereka manis banget ya.”


Rara : “Itu, kenapa posenya mesra gitu? Gak boleh


dibiarin, mah. Ntar kalo Rio khilaf lagi gimana?”


Mia : “Oh iya ya. Bangunin gih.”


Rara baru mau bangun, tapi Gadis keburu membuka


matanya. Ia merasa geli ketika hidung Rio menggesek-gesek lehernya. Mata Gadis


melotot melihat Rio tidur sambil memeluk tubuhnya.


Gadis : “Hiii..!! Lepas!!”


Gadis mendorong-dorong kepala Rio dan tidak sengaja


menampar pipinya. Plak!


Rio : “Addooww..!”

__ADS_1


Rio memicingkan matanya sambil memegangi pipinya


yang terasa sakit. Ia bahkan belum sepenuhnya bangun dari tidurnya.


Rio : “Kenapa aku ditampar?!”


Gadis : “Kamu ngapain nyium leherku!! Pake


peluk-peluk segala. Mau cari kesempatan!!”


Rio : “Aku? Nggak mungkin!!”


Gadis : “Nich, basah kena liurmu. Ih, jorok


banget!!”


Gadis mengelap tangannya yang basah ke kaos Rio. Rio


membalas sengit pada Gadis yang menampar pipinya. Gadis berteriak kalau Rio


pantas mendapatkannya. Bahkan Gadis belum menamparnya karena perbuatannya dulu.


Keduanya hampir jambak-jambakan kalau Mia tidak segera melerai mereka.


Gadis : “Mama..”


Rio : “Mama sejak kapan disitu? Kak Rara juga.”


Mia : “Sejak kalian masih tidur sambil pelukan dan


hidung kamu nempel di leher Gadis. Eh, itu cupangan ya?”


Mia menunjuk leher Gadis yang merah-merah. Entah


apa yang dilakukan Rio semalam pada leher Gadis. Gadis yang tidak bisa melihat lehernya,


mempercayai Mia dan melayangkan pukulan pada lengan kekar Rio. Rio nyengir


melihat bekas ciuman di leher Gadis. Ia jadi mengerti apa yang terjadi


sebelumnya. Tadi ia bermimpi sedang makan kepiting dan menyedot daging kepiting


dari cangkangnya.


Cengiran Rio hilang setelah melihat Rara berjalan


mendekatinya. Rara duduk di depan mereka berdua sambil melipat kedua tangannya


di depan dada.


Rara : “Ingat, kalian belum nikah. Jangan tidur


dekat-dekat gitu.”


Gadis : “Siapa yang mau dekat-dekat dia. Iih.”


Rio : “Terus sapa yang nyelimutin aku semalem?”


Wajah Gadis merona mendengar pertanyaan Rio. Ia


tidak mau menjawabnya dan memilih membuang muka.


Rio : “Kau tidak bisa mengakuinya, kan?”


Rara : “Rio, cepat mandi. Kamu gak ke kantor?”


Gadis : “Oh, iya. Kantor.”


Mia : “Kamu mau kerja, Gadis? Kuat?”


Gadis : “Iya, mah. Dari pada diem di rumah. Eh, iya


belum ke dokter kandungan ya.”


Rio : “Ke kantor dulu. Agak siangan kita ke dokter


sambil makan siang.”


Gadis : “Okey. Mah, boleh minta roti buat bekel?”


Mia : “Tentu, sayang. Mau sarapan apa?”


Gadis : “Telur orak-arik. Tapi...”


*****


Klik profil author ya, ada novel karya author yang

__ADS_1


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.


__ADS_2