
Kepergok bobok bareng
Alex : “Kalau ini, mau gak?”
Gadis mencium wangi pizza daging yang membuat
liurnya menetes. Alex menyodorkan pizza lebih dekat dan meminta Gadis
mencobanya. Gadis langsung mengambil pizza itu dan memakannya dengan nikmat.
Mia membawakan segelas air untuk Gadis.
Gadis : “Makasi, pah, mah.”
Mia : “Makan yang banyak. Tapi pelan-pelan ya.”
Gadis mengangguk sambil tersenyum manis. Ia sangat
nyaman berada diantara keluarga Alex yang hangat. Rio terburu-buru turun dari
lantai dua, ia hampir jatuh di pijakan tangga terakhir. Membuat nenek terpekik
kaget,
Nenek : “Rio! Hati-hati!”
Rio : “Maaf, nek. Mana Gadis?”
Yang dicariin lagi asyik mengunyah pizza sampai
tidak peduli dengan sekitarnya. Rio duduk di meja makan setelah melihat
keberadaan Gadis. Ia mulai makan bersama nenek, Arnold, dan Alex. Mia masih
menemani Gadis makan, sementara Rara menjaga ketiga bayi bersama mb Roh.
Setelah semua orang makan dengan bahagia, Rio
menghidupkan televisi dan asyik menonton. Gadis yang gabut, menoel-noel pipi
Rava yang sedang asyik bermain sendiri. Sementara Reva punya mainan baru,
mengganggu baby Reynold.
Gadis tersenyum melihat Rava asyik menggigit
mainannya. Ia mencoba menarik mainan itu dari Rava tapi malah ganti diliatin
oleh Rava.
Gadis : “Rava. Rava ganteng. Manis banget
senyumnya.”
Rava membalik tubuhnya, ia merangkak ke dekat Gadis
dan memanjat tubuhnya. Rava mencoba berdiri sambil berpegangan erat pada tangan
Gadis. Melihat Gadis tersenyum bahagia karena bermain dengan Rava, membuat Rio
sedikit lega.
Dirinya mungkin belum bisa membuat Gadis tersenyum
bahagia seperti itu, tapi ia akan berusaha menerima Gadis. Belajar mencintai
wanita itu seperti Rio mencintai Kaori. Rio menggeleng. Ia tidak bisa mencintai
seseorang seperti ia mencintai Kaori.
Rio memegangi kepalanya yang sakit karena berpikir
terlalu banyak. Ia kembali menatap Gadis yang sudah menatapnya juga. Senyuman
Gadis langsung menghilang saat mereka bertemu pandang.
”Haih, melihatku saja senyumnya langsung hilang.
Apa aku harus pakai topeng?”
Satu persatu penghuni rumah mulai masuk ke kamar
masing-masing. Meninggalkan Gadis dan Rio yang masih di ruang keluarga. Mia
sudah menunjukkan tempat makanan pada Gadis jika ia ingin makan di malam hari.
Rio : “Kamu gak ngantuk?”
__ADS_1
Gadis : “Aku masih mau nonton.”
Rio : “Sini baring.”
Gadis menoleh ke samping, ia berbaring di samping
Rio dengan sekat bantal yang ia buat sebelumnya. Rio menggeleng melihat
kelakuan Gadis tapi dirinya gak protes. Gadis kembali fokus menonton film
komedi romantis di TV. Sesekali ia tersenyum bahkan terkikik geli melihat
adegan lucu di film itu.
Tapi wajahnya berubah sendu saat adegan romantis
mulai muncul. Dulu ia sering membayangkan melakukan salah satu adegan romantis
di film yang ia tonton bersama Rio. Ia akan tersenyum malu sendiri dan mulai
menendang-nendang kemana saja. Hal sama ia lakukan saat ini, membuat Rio
melongo melihatnya.
Rio : “Kamu ngapain?”
Gadis : “Kepo! Berisik, diem dech!”
Rio bingung dengan reaksi Gadis. Sedikit berlebihan
menjawab pertanyaannya tadi atas tingkah aneh Gadis sendiri. Rio tidak mau
ambil pusing lagi. Ia mulai mengantuk dan akhirnya tertidur di sebelah Gadis.
Gadis mematikan TV setelah film itu habis. Ia
melihat ke samping, Rio tertidur lelap membelakanginya. Sebuah bedcover di
letakkan Mia di dekat mereka tadi. Gadis menarik bedcover itu dan menyelimuti
mereka berdua.
Gadis : “Selamat malam, Rio. Selamat malam, baby.”
Gadis berbaring dengan posisi terlentang. Ia
membayangkan dirinya disana, berdiri di belakang Rio sambil memegang bahunya.
Gadis memukul kepalanya, ia harus sadar kalau hal semacam itu hanya indah
sebagai mimpi saja. Ia mengusap air matanya sebelum jatuh tertidur membelakangi
Rio.
*****
Mia baru keluar dari kamarnya ketika memergoki Rio
dan Gadis tidur di ruang keluarga. Keduanya berpelukan sangat dekat. Bahkan
bibir Rio menempel di leher Gadis. Rara yang juga baru keluar kamar, mendekati
Mia dan melotot melihat kedua orang yang tertidur di depannya.
Rara : “Mereka kenapa tidur disini, mah?”
Mia : “Ketiduran kali. Mereka manis banget ya.”
Rara : “Itu, kenapa posenya mesra gitu? Gak boleh
dibiarin, mah. Ntar kalo Rio khilaf lagi gimana?”
Mia : “Oh iya ya. Bangunin gih.”
Rara baru mau bangun, tapi Gadis keburu membuka
matanya. Ia merasa geli ketika hidung Rio menggesek-gesek lehernya. Mata Gadis
melotot melihat Rio tidur sambil memeluk tubuhnya.
Gadis : “Hiii..!! Lepas!!”
Gadis mendorong-dorong kepala Rio dan tidak sengaja
menampar pipinya. Plak!
Rio : “Addooww..!”
__ADS_1
Rio memicingkan matanya sambil memegangi pipinya
yang terasa sakit. Ia bahkan belum sepenuhnya bangun dari tidurnya.
Rio : “Kenapa aku ditampar?!”
Gadis : “Kamu ngapain nyium leherku!! Pake
peluk-peluk segala. Mau cari kesempatan!!”
Rio : “Aku? Nggak mungkin!!”
Gadis : “Nich, basah kena liurmu. Ih, jorok
banget!!”
Gadis mengelap tangannya yang basah ke kaos Rio. Rio
membalas sengit pada Gadis yang menampar pipinya. Gadis berteriak kalau Rio
pantas mendapatkannya. Bahkan Gadis belum menamparnya karena perbuatannya dulu.
Keduanya hampir jambak-jambakan kalau Mia tidak segera melerai mereka.
Gadis : “Mama..”
Rio : “Mama sejak kapan disitu? Kak Rara juga.”
Mia : “Sejak kalian masih tidur sambil pelukan dan
hidung kamu nempel di leher Gadis. Eh, itu cupangan ya?”
Mia menunjuk leher Gadis yang merah-merah. Entah
apa yang dilakukan Rio semalam pada leher Gadis. Gadis yang tidak bisa melihat lehernya,
mempercayai Mia dan melayangkan pukulan pada lengan kekar Rio. Rio nyengir
melihat bekas ciuman di leher Gadis. Ia jadi mengerti apa yang terjadi
sebelumnya. Tadi ia bermimpi sedang makan kepiting dan menyedot daging kepiting
dari cangkangnya.
Cengiran Rio hilang setelah melihat Rara berjalan
mendekatinya. Rara duduk di depan mereka berdua sambil melipat kedua tangannya
di depan dada.
Rara : “Ingat, kalian belum nikah. Jangan tidur
dekat-dekat gitu.”
Gadis : “Siapa yang mau dekat-dekat dia. Iih.”
Rio : “Terus sapa yang nyelimutin aku semalem?”
Wajah Gadis merona mendengar pertanyaan Rio. Ia
tidak mau menjawabnya dan memilih membuang muka.
Rio : “Kau tidak bisa mengakuinya, kan?”
Rara : “Rio, cepat mandi. Kamu gak ke kantor?”
Gadis : “Oh, iya. Kantor.”
Mia : “Kamu mau kerja, Gadis? Kuat?”
Gadis : “Iya, mah. Dari pada diem di rumah. Eh, iya
belum ke dokter kandungan ya.”
Rio : “Ke kantor dulu. Agak siangan kita ke dokter
sambil makan siang.”
Gadis : “Okey. Mah, boleh minta roti buat bekel?”
Mia : “Tentu, sayang. Mau sarapan apa?”
Gadis : “Telur orak-arik. Tapi...”
*****
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
__ADS_1
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.