Duren Manis

Duren Manis
DM2 - Ketularan


__ADS_3

DM2 - Ketularan


“Kamu mikir apa sih? Kenapa mukamu merah


gitu?”


”Aku juga gak tau aku kenapa? Semalaman


bersamamu melakukan hal gila seperti itu, yang belum pernah aku lakukan


sebelumnya. Semakin lama bersamamu, pikiranku sepertinya ketularan otak


kotormu.”


“Apa kamu mau lagi? Yang semalem masih


kurang? Kita bisa check in lagi, mumpung masih disini.”


Kata-kata gak tau malu Rio sukses membuat wajah


Gadis merona merah. Ia menunduk malu, sambil memukul dada Rio yang tertawa


jahil.


“Beneran nich. Bilang aja kalo masih


penasaran.”


“Rio, udah dech. Atau...”


“Atau apa? Kamu berani nolak suami, dosa


loh.”


“Suami mesum gini, ampun dah.”kata Gadis


sambil manyun.


“Sini, kubuat lebih seksi bibirmu.”


“Hiyaa...” Gadis menutup mulutnya dengan


kedua tangannya. Keduanya asyik bercanda sampai resepsionis mengatakan kalau


mereka bisa check out sekarang. Rio menandatangani dokumen check out dan mereka


keluar dari lobby hotel.


Sebuah mobil mewah sudah menunggu mereka di


lobby, supir mengatakan kalau ia diperintahkan untuk mengantar Rio dan Gadis


pulang ke rumah Alex. Meta yang masih memperhatikan Rio, melongo melihat mobil


mewah itu.


“Wah, orang tajir melintir nich. Tampan,


muda, dan kaya raya. Gak boleh dilewatkan gitu aja.”


Bukan hanya Meta yang berpikir begitu,


beberapa wanita di lobby hotel itu juga melakukan hal yang sama.


Sampai di rumah Alex, Rio tidak sabar untuk


melihat kamar mereka. Ia menarik Gadis yang sudah duduk di ruang keluarga, naik


ke lantai 2.


“Gadis, ayo kita lihat kamar kita.”


“Ada apa sich? Bukannya udah lihat waktu


ini?”kata Gadis ketika sampai di depan kamar mereka. “Wow! Ini keren banget.”


Gadis memasuki kamar mereka, ia menyapukan


pandangannya ke seluruh penjuru kamar yang dominan berwarna krem itu. Di salah


satu dinding di gambar sebuah pohon dengan ranting yang ujungnya banyak


terdapat foto-foto Gadis dan Rio saat mereka berfoto prawedding di studio.


Gadis tersenyum lebar melihat foto-foto lucu


mereka. Ia juga melihat foto pernikahan mereka sudah diperbesar dan di pasang


diatas tempat tidur mereka. Saking asyiknya melihat sekeliling kamar mereka,


Gadis tidak menyadari kalau Rio sudah mengunci kamar dan menyembunyikan


kuncinya di dalam laci nakas.

__ADS_1


Rio berjalan mendekati Gadis, memeluk


pinggangnya dari belakang. “Sayang, kamu gak mau coba ranjangnya?”


“Rio...”


“Kau akan menyukainya, Gadis.”bisik Rio


mesra di telinga Gadis.


Gadis menangkup pipinya yang memerah lagi,


dadanya berdisko ria saat Rio mulai menciumi lehernya. Mereka menghabiskan


sepanjang sisa hari itu dengan bercengkrama diatas tempat tidur. Mungkin juga


dengan sedikit kesibukan lainnya yang author tidak tahu.


Keesokan harinya, pasangan pengantin baru sudah


siap berangkat ke kantor. Mereka sudah selesai sarapan bersama, dan berangkat


ke kantor bersama-sama dengan Alex. Rutinitas semacam itu mulai dijalani Gadis


dan Rio. Mereka bekerja sama membangun perusahaan Alex hingga berkembang semakin


pesat.


Tujuh tahun kemudian...


“Rava, Reva! Ayo cepat. Kakak tinggal nich.”ancam


Rio pada kedua adik kembarnya.


“Iya, kak!”balas si kembar kompak. Keduanya


masih memakai sepatu mereka dibantu mb Minah dan mb Roh. Kehebohan pagi seperti


biasa di rumah Alex.


Gadis sudah menuntun si ganteng Reynold keluar


dari rumah Alex. Mereka berdua menunggu si kembar dan Rio di dekat mobil agar


bisa berangkat bersama.


“Mama Gadis, mereka lama dech.”ujar Reynold


“Sabar ya, sayang. Bentar lagi kita


berangkat.”


Mia membawa keluar kotak bekal untuk mereka


semua dan memberikannya pada Gadis.


“Ini kotak bekalnya ya. Gadis, nanti


masukkan ke tas mereka ya.”


“Iya, mah.”


“Reynold sayang, mama Rara nanya semalem


kenapa gak balas chat dari mama?”


“Reynold sibuk, oma.”jawab Reynold cuek.


“Iih, cucu oma yang ganteng. Gemes dech.


Nanti bales dong chat dari mama Rara ya.”


Reynold mengangguk dengan wajah merah


karena Mia mencubit kedua pipinya. Alex menatap kehebohan pagi itu dari depan


pintu rumahnya.


Sejak Reynold berumur 2 tahun, Rara dan Arnold


pindah keluar kota untuk mengurus bisnis Ronald disana. Gadis dan Rio yang


sampai saat itu belum dikarunia momongan menerima tugas mengasuh si kecil


Reynold. Rara terpaksa menitipkan Reynold karena mereka sangat sibuk mengurus


perusahaan Ronald setelah ayah mertua Rara itu memutuskan pensiun dingin karena


alasan kesehatannya.


Sesekali Rara dan Arnold mengunjungi Reynold,


demikian juga sebaliknya Rio dan Gadis membawa Reynold menemui orang tuanya. Sedangkan

__ADS_1


perusahaan Rara dan Arnold disini diserahkan pada Rio untuk mengelolanya. Rio


menjabat sebagai direktur menggantikan Rara di perusahaan Arnold, dan Gadis


tetap menjadi sekretaris Alex.


Gadis sangat senang diberikan kesempatan


mengasuh Reynold. Apalagi sejak menikah dengan Rio dan tinggal di rumah Alex,


Reynold menempel ketat pada Gadis. Ia selalu mendominasi Gadis dari Rio, hingga


Rio sering kesal dibuatnya.


“Rey, jangan peluk mama Gadis lama-lama.”kata


Rio ketika melihat Reynold memeluk pinggang Gadis karena bosan menunggu.


“Papa Rio pelit.”ujar Reynold tetap memeluk


Gadis.


Rio menarik-narik tangan keponakannya dari


pinggang Gadis. Alex melihat dirinya yang dulu bersikap seperti itu ketika Rio


memeluk Mia.


“Lepasin, gak?”tanya Rio galak.


“Gak mau.”


“Ya, udah. Papa Rio peluk oma Mia aja.”


Melihat Mia dipeluk Rio, Alex segera datang


dan menarik tangan Mia. Terjadilah tarik-tarikan legendaris antara Alex dan Rio


di pagi yang sibuk itu.


Gadis hanya geleng-geleng kepala melihat


kedua pria dewasa itu yang tidak pernah jadi dewasa ketika memperebutkan Mia.


Ia membuka pintu, menuntun Reynold masuk dan duduk di dalam mobil. Si kembar


yang sudah siap, melewati ketiga orang yang masih asyik rebutan itu dan ikut


masuk ke dalam mobil juga.


“Pak Yanto, ayo jalan.”pinta Rava yang


duduk di tengah diantara Reva dan Reynold.


“Loh, kak Rio kan belum masuk, Rava.”kata


Gadis.


“Kelamaan nunggu kakak.”


Rio yang melihat pintu mobil hampir


ditutup, melepaskan Mia dan bergegas masuk ke dalam mobil.


“Rava! Kamu ya, yang nutup pintu.”


“Gak. Reva tuch.”


“Idih, kamu yang gak sabaran, aku yang


kena.”omel Reva.


“Sudah, sudah. Sini tas kalian.” Gadis


mengambil tas anak-anak itu dan memasukkan kotak bekal mereka ke dalam sana. Ia


memberikan tas itu kembali ke pemiliknya.


“Gak ada yang ketinggalan kan? Kita


berangkat sekarang ya.”kata Rio sambil meminta Pak Yanto menjalankan mobil.


Mereka melambaikan tangan pada Mia dan Alex


yang masih berdiri di samping mobil. Setelah beberapa menit kemudian, mereka


sampai di sekolah si kembar dan Reynold. Ketiganya turun bersama Rio dan Gadis.


*****


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.

__ADS_1


__ADS_2