
DM2 - Ketularan
“Kamu mikir apa sih? Kenapa mukamu merah
gitu?”
”Aku juga gak tau aku kenapa? Semalaman
bersamamu melakukan hal gila seperti itu, yang belum pernah aku lakukan
sebelumnya. Semakin lama bersamamu, pikiranku sepertinya ketularan otak
kotormu.”
“Apa kamu mau lagi? Yang semalem masih
kurang? Kita bisa check in lagi, mumpung masih disini.”
Kata-kata gak tau malu Rio sukses membuat wajah
Gadis merona merah. Ia menunduk malu, sambil memukul dada Rio yang tertawa
jahil.
“Beneran nich. Bilang aja kalo masih
penasaran.”
“Rio, udah dech. Atau...”
“Atau apa? Kamu berani nolak suami, dosa
loh.”
“Suami mesum gini, ampun dah.”kata Gadis
sambil manyun.
“Sini, kubuat lebih seksi bibirmu.”
“Hiyaa...” Gadis menutup mulutnya dengan
kedua tangannya. Keduanya asyik bercanda sampai resepsionis mengatakan kalau
mereka bisa check out sekarang. Rio menandatangani dokumen check out dan mereka
keluar dari lobby hotel.
Sebuah mobil mewah sudah menunggu mereka di
lobby, supir mengatakan kalau ia diperintahkan untuk mengantar Rio dan Gadis
pulang ke rumah Alex. Meta yang masih memperhatikan Rio, melongo melihat mobil
mewah itu.
“Wah, orang tajir melintir nich. Tampan,
muda, dan kaya raya. Gak boleh dilewatkan gitu aja.”
Bukan hanya Meta yang berpikir begitu,
beberapa wanita di lobby hotel itu juga melakukan hal yang sama.
Sampai di rumah Alex, Rio tidak sabar untuk
melihat kamar mereka. Ia menarik Gadis yang sudah duduk di ruang keluarga, naik
ke lantai 2.
“Gadis, ayo kita lihat kamar kita.”
“Ada apa sich? Bukannya udah lihat waktu
ini?”kata Gadis ketika sampai di depan kamar mereka. “Wow! Ini keren banget.”
Gadis memasuki kamar mereka, ia menyapukan
pandangannya ke seluruh penjuru kamar yang dominan berwarna krem itu. Di salah
satu dinding di gambar sebuah pohon dengan ranting yang ujungnya banyak
terdapat foto-foto Gadis dan Rio saat mereka berfoto prawedding di studio.
Gadis tersenyum lebar melihat foto-foto lucu
mereka. Ia juga melihat foto pernikahan mereka sudah diperbesar dan di pasang
diatas tempat tidur mereka. Saking asyiknya melihat sekeliling kamar mereka,
Gadis tidak menyadari kalau Rio sudah mengunci kamar dan menyembunyikan
kuncinya di dalam laci nakas.
__ADS_1
Rio berjalan mendekati Gadis, memeluk
pinggangnya dari belakang. “Sayang, kamu gak mau coba ranjangnya?”
“Rio...”
“Kau akan menyukainya, Gadis.”bisik Rio
mesra di telinga Gadis.
Gadis menangkup pipinya yang memerah lagi,
dadanya berdisko ria saat Rio mulai menciumi lehernya. Mereka menghabiskan
sepanjang sisa hari itu dengan bercengkrama diatas tempat tidur. Mungkin juga
dengan sedikit kesibukan lainnya yang author tidak tahu.
Keesokan harinya, pasangan pengantin baru sudah
siap berangkat ke kantor. Mereka sudah selesai sarapan bersama, dan berangkat
ke kantor bersama-sama dengan Alex. Rutinitas semacam itu mulai dijalani Gadis
dan Rio. Mereka bekerja sama membangun perusahaan Alex hingga berkembang semakin
pesat.
Tujuh tahun kemudian...
“Rava, Reva! Ayo cepat. Kakak tinggal nich.”ancam
Rio pada kedua adik kembarnya.
“Iya, kak!”balas si kembar kompak. Keduanya
masih memakai sepatu mereka dibantu mb Minah dan mb Roh. Kehebohan pagi seperti
biasa di rumah Alex.
Gadis sudah menuntun si ganteng Reynold keluar
dari rumah Alex. Mereka berdua menunggu si kembar dan Rio di dekat mobil agar
bisa berangkat bersama.
“Mama Gadis, mereka lama dech.”ujar Reynold
“Sabar ya, sayang. Bentar lagi kita
berangkat.”
Mia membawa keluar kotak bekal untuk mereka
semua dan memberikannya pada Gadis.
“Ini kotak bekalnya ya. Gadis, nanti
masukkan ke tas mereka ya.”
“Iya, mah.”
“Reynold sayang, mama Rara nanya semalem
kenapa gak balas chat dari mama?”
“Reynold sibuk, oma.”jawab Reynold cuek.
“Iih, cucu oma yang ganteng. Gemes dech.
Nanti bales dong chat dari mama Rara ya.”
Reynold mengangguk dengan wajah merah
karena Mia mencubit kedua pipinya. Alex menatap kehebohan pagi itu dari depan
pintu rumahnya.
Sejak Reynold berumur 2 tahun, Rara dan Arnold
pindah keluar kota untuk mengurus bisnis Ronald disana. Gadis dan Rio yang
sampai saat itu belum dikarunia momongan menerima tugas mengasuh si kecil
Reynold. Rara terpaksa menitipkan Reynold karena mereka sangat sibuk mengurus
perusahaan Ronald setelah ayah mertua Rara itu memutuskan pensiun dingin karena
alasan kesehatannya.
Sesekali Rara dan Arnold mengunjungi Reynold,
demikian juga sebaliknya Rio dan Gadis membawa Reynold menemui orang tuanya. Sedangkan
__ADS_1
perusahaan Rara dan Arnold disini diserahkan pada Rio untuk mengelolanya. Rio
menjabat sebagai direktur menggantikan Rara di perusahaan Arnold, dan Gadis
tetap menjadi sekretaris Alex.
Gadis sangat senang diberikan kesempatan
mengasuh Reynold. Apalagi sejak menikah dengan Rio dan tinggal di rumah Alex,
Reynold menempel ketat pada Gadis. Ia selalu mendominasi Gadis dari Rio, hingga
Rio sering kesal dibuatnya.
“Rey, jangan peluk mama Gadis lama-lama.”kata
Rio ketika melihat Reynold memeluk pinggang Gadis karena bosan menunggu.
“Papa Rio pelit.”ujar Reynold tetap memeluk
Gadis.
Rio menarik-narik tangan keponakannya dari
pinggang Gadis. Alex melihat dirinya yang dulu bersikap seperti itu ketika Rio
memeluk Mia.
“Lepasin, gak?”tanya Rio galak.
“Gak mau.”
“Ya, udah. Papa Rio peluk oma Mia aja.”
Melihat Mia dipeluk Rio, Alex segera datang
dan menarik tangan Mia. Terjadilah tarik-tarikan legendaris antara Alex dan Rio
di pagi yang sibuk itu.
Gadis hanya geleng-geleng kepala melihat
kedua pria dewasa itu yang tidak pernah jadi dewasa ketika memperebutkan Mia.
Ia membuka pintu, menuntun Reynold masuk dan duduk di dalam mobil. Si kembar
yang sudah siap, melewati ketiga orang yang masih asyik rebutan itu dan ikut
masuk ke dalam mobil juga.
“Pak Yanto, ayo jalan.”pinta Rava yang
duduk di tengah diantara Reva dan Reynold.
“Loh, kak Rio kan belum masuk, Rava.”kata
Gadis.
“Kelamaan nunggu kakak.”
Rio yang melihat pintu mobil hampir
ditutup, melepaskan Mia dan bergegas masuk ke dalam mobil.
“Rava! Kamu ya, yang nutup pintu.”
“Gak. Reva tuch.”
“Idih, kamu yang gak sabaran, aku yang
kena.”omel Reva.
“Sudah, sudah. Sini tas kalian.” Gadis
mengambil tas anak-anak itu dan memasukkan kotak bekal mereka ke dalam sana. Ia
memberikan tas itu kembali ke pemiliknya.
“Gak ada yang ketinggalan kan? Kita
berangkat sekarang ya.”kata Rio sambil meminta Pak Yanto menjalankan mobil.
Mereka melambaikan tangan pada Mia dan Alex
yang masih berdiri di samping mobil. Setelah beberapa menit kemudian, mereka
sampai di sekolah si kembar dan Reynold. Ketiganya turun bersama Rio dan Gadis.
*****
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.
__ADS_1