
Jodi baru sampai di rumah Katty jam 1 dini hari. Ia merasa sangat lelah dan ingin tidur saja. Untung saja besok pagi dia tidak perlu menjemput Rara karena papa mertuanya akan menjemputnya di rumah.
Jodi melihat seluruh lampu sudah dimatikan dan hanya kamar Katty yang masih terang. Ia berjalan masuk ke kamar Katty yang lebih rapi dan wangi dari biasanya.
Diatas ranjang, Katty tertidur dengan pose yang cukup menggoda iman. Jodi tersenyum melihat baju tidur baru yang dipakai Katty.
Jodi : "Malam, sayang. Apa kamu menyiapkan semua ini?"
Jodi bicara pada Katty yang masih tidur.
Jodi membersihkan tubuhnya di kamar mandi dan keluar hanya memakai boxer. Seharusnya malam ini ia meminta haknya atas Katty. Tapi biarlah, ia sudah cukup lelah dan hanya ingin tidur.
Belum lagi suasana kamar Katty yang sangat nyaman, membuat Jodi mengantuk.
Jodi masuk ke bawah selimut, ia memeluk tubuh Katty yang membelakanginya dan menariknya mendekat. Katty menggeliat dan terbangun,
Katty : "Jodi... Kamu uda pulang?"
Jodi : "Iya, kamu baru tidur?"
Katty : "Sepertinya aku ketiduran."
Jodi : "Apa ini baju tidur barumu?"
Katty : "Iya. Bagus kan?"
Jodi : "Iya bagus, cuma ada yang kurang..."
Katty : "Kurang apa?"
Jodi : "Kurang tipis."
Katty : "Ish, mesum."
Jodi : "Tidurlah."
Katty : "Kamu capek?"
Jodi : "Dikit. Tapi kalau kamu gak sabaran, aku bisa sekarang."
Katty : "Sekarang?!"
Tangan Jodi mulai bergerilya menyusuri tubuh Katty. Ia mendengar nafas Katty mulai berat. Jodi menengok melihat wajah Katty yang sudah memerah.
Katty menatapnya, ia memejamkan mata ketika Jodi mendekat. Dan... Kening Katty mengkerut, ia tidak merasakan ciuman Jodi.
Tubuhnya terasa berat ditimpa Jodi. Ketika ia membuka mata, ia mendengar dengkuran halus Jodi. Katty tersenyum, ia mengusap rambut Jodi dan menepuk punggungnya.
Katty : "I love you, Jodi."
Kening Jodi mengkerut mendengar kata-kata Katty. Dengan cepat Katty menepuk punggung Jodi lagi. Ia takut kata-katanya terdengar Jodi. Katty malu kalau sampai isi hatinya diketahui Jodi. Ia tidak mau sakit hati mendengar penolakan Jodi nantinya. Biar saja hidup mereka seperti ini sekarang, saling menjaga.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Keesokan harinya, Katty terbangun jam 6 pagi. Ia segera memasak sarapan untuk Jodi yang biasanya bangun setengah jam kemudian.
Katty membuat sarapan simple saja dengan roti bakar dan kopi. Ia juga menyeduh teh hangat untuknya sendiri.
Setelah selesai menyiapkan semuanya, Katty melirik jam dinding. Sudah jam 6.45, mana Jodi?
Penasaran, Katty masuk kembali ke kamarnya. Ia melihat Jodi masih tidur diatas ranjang.
Katty : "Jodi...? Bangun..."
Jodi masih tidur, gak bergeming ketika Katty mengguncang tubuhnya perlahan. Ketika Katty mengguncangnya lebih keras, Jodi langsung menarik Katty hingga wanita itu terjatuh diatasnya.
Katty sibuk menarik baju tidurnya yang tersingkap. Tapi tangan Jodi dengan cepat membalik tubuh mereka.
Jodi meloloskan baju tidur Katty dari tubuhnya.
Katty : "Jodi! Ini sudah pagi, kamu bisa telat ke kantor."
Jodi : "Aku cuti hari ini."
__ADS_1
Katty : "Cuti? Bukannya kamu juga harus nganter Rara?"
Jodi : "Rara dijemput mertuanya."
Katty : "Bukannya..."
Jodi : "Apalagi? Semalam kamu uda dandan cantik, tapi aku malah ketiduran. Pagi ini, kamu bahkan lebih menggodaku."
Katty tidak melawan lagi ketika Jodi mulai membuai lembut tubuhnya dalam kenikmatan.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Rara sudah dalam perjalanan ke rumah sakit pagi itu. Mertuanya menjemput Rara di rumah Alex.
Ronald : "Ra, gimana keadaan bayimu?"
Rara : "Baik, pah. Beratnya normal dan dia laki-laki, pah."
Ronald : "Laki-laki? Waduh, mah. Kapan kita punya cucu perempuan nich?"
Mama Ronald : "Sabar, napa pah. Abis bayi ini lahir, suruh Arnold bikin lagi yang banyak."
Wajah Rara memerah mendengar kata-kata mertuanya. Ia memiliki harapan yang sama.
Mereka sampai juga di rumah sakit tempat Arnold dirawat. Sampai di ruang ICU, Arnold masih dimandikan. Mereka harus menunggu sebentar.
Ronald bersiap masuk ke ruang ICU setelah melihat suster selesai memandikan Arnold. Ia memakai baju steril dan mendekati bilik tempat Arnold.
Ronald : "Nak. Gimana kondisimu sekarang?"
Arnold : "Lebih baik, pah. Mana Rara?"
Ronald : "Ada diluar sama mama. Akhirnya kamu sadar, nak."
Arnold : "Iya, pah. Pah, lihat nich."
Arnold mencoba menggerakkan kakinya dan Ronald bisa melihat tubuh Arnold tidak lumpuh.
Arnold : "Jangan kasi tahu Rara dulu ya, pah. Arnold mau kasi kejutan nanti kalau uda bisa jalan normal."
Arnold : "Sebentar lagi, pah. Sebentar aja."
Ronald : "Terserah kamu aja, nak.
Ayah dan anak itu tidak bisa banyak bicara karena terbatasnya waktu besuk di ICU. Ronald keluar dan gantian mamanya yang masuk.
Rara duduk bersama Ronald menunggu gilirannya.
Ronald : "Ra..."
Rara : "Ya, pah?"
Ronald : "Gak pa-pa."
Ronald ingin mengatakan kalau Arnold bisa menggerakkan kakinya. Tapi ia sudah menyerahkan pada Arnold. Ia hanya berharap Rara tidak marah setelah mengetahui yang sebenarnya.
Setelah menunggu 15 menit, mama Arnold keluar dari ruang ICU. Rara bersiap masuk, ia sudah tidak sabar ingin mencium suaminya itu.
Ketika melihat Rara masuk, Arnold mengulurkan tangannya. Rara bisa melihat tubuh kurus suaminya terlihat lebih segar sekarang.
Rara : "Mas, apa kabarmu?"
Arnold : "Baik, sayang. Anak kita?"
Rara : "Dia menendangku, mas. Mau pegang?"
Rara menempelkan tangan Arnold ke perutnya.
Rara : "Nak, ini papa. Say hi."
Duk! Arnold tersenyum girang saat merasakan tangannya ditendang anaknya.
Rara : "Mas..."
__ADS_1
Arnold : "Apa, sayang?"
Rara : "Aku kangen, mas."
Rara celingukan sebentar, ia menunduk dan mencium bibir Arnold. Arnold segera merespon ciuman Rara. Menarik tengkuk Rara hingga Rara harus menahan tubuhnya dengan kedua tangannya atau anak mereka akan tergencet.
Suster yang lewat di dekat mereka sampai berdehem karena malu melihat ciuman keduanya.
Rara menegakkan tubuhnya lagi. Ia mengusap lipstiknya yang menempel di bibir Arnold. Wajahnya memerah,
Arnold : "Coba kita dikamar..."
Rara : "Mas, belum pulih gini masih mikir gituan?"
Arnold : "Minimal aku bisa..."
Arnold tidak melanjutkan ucapannya, tangannya terulur menekan dada Rara yang semakin montok karena hormon kehamilannya.
Rara : "Maass.." Rara merendahkan suaranya agar tidak didengar orang lain.
Arnold : "Aku kangen kamu, sayang."
Rara : "Aku juga, mas."
Keduanya berciuman lagi, melepaskan kerinduan selama tiga bulan ini ketika Arnold koma pasca operasi.
Rara sampai diperingatkan suster karena membuat suasana ICU yang dingin menjadi lebih hangat.
Dengan senyum mengembang, ia keluar dari ruang ICU setelah melambaikan tangan heboh pada Arnold.
Sampai diluar, kedua mertuanya bingung melihat bibir Rara yang bengkak dan memerah.
Ronald : "Kamu kenapa, Ra?"
Rara : "Kenapa apanya, pah?"
Rara gak ngeh kalau mertuanya sedang menatap bibirnya yang aduhai.
Ronald : "Bibir kamu kenapa?"
Rara : "Oh, itu... anu..."
Mama Arnold : "Masak papa gak tau sich? Pernah muda kan?"
Mama Arnold menyatukan semua ujung jarinya dan mengatupkan kedua tangannya. Rara nyengir lebar ketahuan mertuanya habis ciuman dengan Arnold.
Ronald : "Perasaan papa gak gitu amat waktu muda."
Mama Arnold : "Siapa bilang gak gitu? Lupa?!"
Ronald ikutan nyengir ketahuan menantunya kalau dia lebih nakal dari Arnold.
Rara : "Hihi... Sama aja ternyata. Kita makan yuk, pah, mah. Laper."
Mama Arnold : "Ayo, ayo. Cucu nenek mau apa? Hari ini kakek yang bayar semuanya."
Ronald melongo ditinggal jalan duluan oleh kedua wanita dewasa itu. Ia merogoh dompetnya mengecek uang yang ia bawa.
Dirinya mewek karena uang yang ada didompetnya cuma tinggal seratus ribu. Biasanya asistennya yang membayar semua keperluannya.
Diam-diam Ronald menelpon asistennya minta dibawakan uang tunai untuk belanja makanan.
γ
π»π»π»π»π»
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain βMenantu untuk Ibuβ, βPerempuan IDOLβ, βJebakan Cintaβ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya para reader.
Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya..
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
__ADS_1
π²π²π²π²π²