
Jelita merapikan dokumen di meja kerjanya, ia sudah selesai memeriksa semua dokumen kontrak antara perusahaan Alex dengan perusahaan papanya dan tidak menemukan kesalahan pada dokumen-dokumen itu. Semuanya sudah sesuai prosedur dan peraturan.
Jelita melamun, ia ingat kejadian malam sebelumnya saat ia lembur dengan Romi, wajahnya bersemu merah,
Flash back...
Romi tersenyum melihat reaksi Jelita saat ia mendekatinya. Jelita terlihat sangat menggemaskan, tapi Romi tidak ingin bertindak jauh lagi. Ia ingin sebuah kejelasan status dulu sebelum melakukan hal lain.
Romi : "Katamu mau pesan makanan? Gak jadi?"
Jelita membuka matanya dan segera mengambil ponselnya, ia memesan makanan rumahan langganannya. Romi masih menunggu Jelita sadar kalau ia masih ada di pangkuan Romi. Ia sama sekali tidak bergerak, karena ia juga menikmati saat bersama Jelita.
Jelita yang malah asyik dengan ponselnya karena membalas chat dari teman-temannya, sesekali bergerak membuat Romi mulai gerah. Sampai akhirnya menegur Jelita,
Romi : "Mau sampai kapan kamu duduk disini?"
Jelita : "Tunggu, aku masih cek ojolnya sampai mana."
Romi : "Tolong jangan banyak bergerak." Suara Romi terdengar parau.
Jelita : "Emang kenapa sich?"
Jelita mengangkat kepalanya menoleh ke samping dan melihat wajah Romi sudah memerah. Keringat dingin tampak mengalir di pelipisnya.
Jelita mulai merasakan ada sesuatu yang bergerak mengeras di bawah bokongnya. Ia segera berdiri dari pangkuan Romi yang sibuk berdehem.
Jelita : "Ma... maaf aku gak sadar. Ojolnya sudah datang dibawah..."
Romi : "Biar security yang mengantarnya naik. Aku buka liftnya dulu."
Romi menekan tombol di ponselnya dan pintu lift terbuka. Security keluar dari lift bersama ojol yang membawa pesanan Jelita.
Jelita menerima pesanan makanan itu dan mengatakan kalau pembayarannya sudah dilakukan dengan non tunai. Romi sudah menyingkirkan laptopnya dan dokumen yang dibawa Jelita. Meja kerjanya jadi lebih lapang untuk meletakkan makanan.
Jelita : "Aku harap kamu suka makanan ini. Aku biasa langganan disini kalau gak sempat masak."
Jelita membuka bungkusan makanan, menuangkan air minum dan menyiapkan peralatan makan untuk Romi yang cuma senyum-senyum melihatnya dilayani.
Jomblo akut sejak lulus SMA, Romi terbiasa mengurus dirinya sendiri bahkan untuk makan sekali pun. Ia terbiasa memesan makanan atau makan bersama Alex. Dan sekarang ada seseorang yang menyiapkan makan malam untuknya.
Jelita : "Ayo makan."
Romi melahap makan malamnya yang terasa lebih nikmat saat makan berdua dengan Jelita. Romi menatap isi piring Jelita yang berbeda dengannya. Sepertinya makanan Jelita juga sama enaknya.
Jelita : "Kamu mau coba?"
Jelita menyodorkan potongan cumi bakar di sendoknya pada Romi yang langsung membuka mulutnya.
Jelita : "Enak kan?"
Romi mengangguk, sambil menelan makanan di mulutnya,
Romi : "Aku akan menikahimu..."
__ADS_1
Uhuk! Uhuk! Uhuk! Jelita terbatuk-batuk hampir menyemburkan nasi di mulutnya pada Romi. Meskipun Romi bergumam pelan, tapi Jelita bisa mendengarnya dengan sangat jelas.
Romi : "Pelan-pelan makannya, ini minum dulu."
Jelita : "Kamu... uhuk! bilang apa?"
Romi : "Aku mau menikah denganmu."
Jelita : "Apa kamu gila? Kamu pasti bercanda, kan."
Romi : "Aku tidak belum pernah seserius ini. Bisa kau pikirkan dulu?"
Jelita : "Aku belum memikirkan sebuah pernikahan, aku saja tidak punya pacar."
Romi : "Menikahlah denganku, setelah itu kita pacaran."
Jelita : "Sepertinya kamu keracunan tinta cumi. Apa makanan ini basi?"
Jelita meletakkan piringnya diatas meja, keringat dingin sudah mengalir di punggungnya. Tangannya terasa dingin mendengar kata-kata Romi. Apa dia sudah gila? Jatuh cinta membuat Romi tergila-gila pada Jelita. Tinggal menunggu hati wanita ini terbuka sempurna untuk bisa masuk ke dalamnya.
Flash back off...
Jelita menutup wajahnya dengan kedua tangannya, entah apa yang terjadi padanya. Semalam ia tidak bisa tidur nyenyak karena memikirkan lamaran Romi. Meskipun tidak romantis sama sekali, dan di ruang kerjanya yang sedikit berantakan tapi Jelita menyukainya.
Ia menyukai spontanitas Romi, membuatnya penasaran dan ingin merasakannya lagi. Jelita bukan tipe wanita yang suka digombali dengan kata-kata manis, bunga ataupun coklat.
Jelita kembali menatap pekerjaannya, ia belum perlu bantuan Romi sekarang, tapi ia ingin bertemu pria itu. Ia sedang memikirkan alasan yang tepat agar tidak terlihat berusaha mendekati Romi.
Bruk! Tumpukan berkas mendarat di mejanya. Salah satu rekan kerjanya membawakan berkas yang harus diperiksa Jelita. Jelita menghela nafas panjang, hari ini dia akan sangat sibuk sampai tidak sempat ke ruangan Romi.
-------
Jelita mengangkat kedua tangannya ke atas untuk merenggangkan tubuhnya. Saat ia melakukan itu, seseorang memijat bahu dan tengkuknya.
Jelita menoleh dengan cepat, jantungnya berdegup kencang melihat siapa yang sedang berdiri di belakangnya.
Jelita : "Romi? Kamu ngapain kesini?"
Romi : "Aku lihat kamu masih kerja, aku bawain makan malam. Ayo makan dulu. Atau kamu mau lanjutin dipijet?"
Jelita : "Kamu mau mijitin aku? Dibelakang sini pegal sekali."
Jelita menaikkan rambutnya dan menahannya dengan jepit. Ia menurunkan jas yang dipakainya dan punggung mulus Jelita terpampang jelas dihadapan Romi. Tubuh Jelita sedikit gemetar saat tangan Romi menyentuh punggungnya.
Pijatan lembut mulai dirasakan Jelita di bagian tubuhnya yang dipijat Romi. Sesekali ia meringis menahan sakit dibagian yang kaku.
Jelita : "Udah, Romi. Makasih."
Saat Jelita menarik jasnya agar menutup lagi, Romi menahan tangannya. Cup. Jelita merasakan punggungnya dicium Romi.
Jelita : "Kamu ngapain?"
Romi : "Apa kamu sudah memikirkannya?"
__ADS_1
Jelita : "Memikirkan apa?"
Romi : "Lamaranku."
Jelita : "Apa kau berani bilang sama papaku?"
Romi : "Kau terima lamaranku?"
Jelita : "Aku masih memikirkannya, tapi kalau papaku setuju, mungkin aku akan lebih cepat bisa memutuskannya."
Romi : "Apa kau ingin mempermainkan aku?"
Jelita merasakan jemari Romi menyusuri punggungnya. Apa yang akan dilakukannya? Ada CCTV diruangan kerja ini. Jelita segera memakai jas-nya lagi.
Jelita : "Aku tidak mempermainkanmu. Ini terlalu cepat, Romi. Aku bahkan tidak tahu apa aku sudah jatuh cinta padamu atau belum."
Romi : "Aku sudah jatuh cinta padamu. Ayo makan."
Romi membuka bungkusan makanan dan menyiapkan alat makan untuk Jelita. Ia makan dengan lahap karena sudah lapar. Sesekali mereka ngobrol tentang sifat mereka masing-masing.
-------
Hubungan mereka berdua mulai dekat dengan intensitas pertemuan yang semakin sering. Alex mengetahui kedekatan mereka dan bertanya pada Romi tentang keseriusan Romi melamar Jelita.
Alex : "Jadi, bagaimana? Sudah diterima lamaranmu?"
Romi : "Masih belum, sepertinya aku terlalu cepat melamarnya."
Alex : "Kau perlu teman untuk bicara dengan Pak Hary?"
Orang tua Romi sudah meninggal saat ia masih SMA dan ia tidak punya sanak saudara lain. Romi sudah menganggap ibu Alex sebagai orang tuanya sendiri.
Romi : "Iya, setidaknya akan ada yang membawaku ke rumah sakit kalau Pak Hary memukuliku. Tapi bagaimana dengan kerja sama perusahaan?"
Alex : "Aku rasa tidak ada hubungannya dengan kerja sama kita. Pak Hary sangat profesional, kau kan sudah kenal lama."
Romi : "Kapan kita bisa ke rumah Pak Hary? Kata Jelita, papanya akan datang besok sore. Aku akan buat janji untuk ketemu di rumahnya."
Alex : "Semangatlah. Kau harus berusaha mengejar cintamu."
Romi : "Kenapa juga sekalinya aku jatuh cinta, harus dengan putri seorang konglomerat. Rumahku bahkan tidak sebanding dengan rumah papanya."
Alex : "Hei, rumahmu sudah cukup bagus. Kau mendapatkannya dari hasil kerja kerasmu sendiri. Banggalah dengan itu."
Romi : "Aku akan berusaha, terima kasih sudah men-supportku."
------
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan sarannya ya para reader.
Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya...
__ADS_1
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
--------