Duren Manis

Duren Manis
Bertemu teman lama


__ADS_3

Arnold memasuki hotel X tempat ia akan bertemu pria yang mengiriminya surat. Entah kenapa ia merasakan tindakannya kali ini sangat tepat. Fillingnya tidak pernah salah selama ini.


Hal terbaik yang ia miliki dan sangat berguna dalam bisnisnya. Arnold memberitahu resepsionis siapa yang ia cari. Resepsionis tersenyum dan sedikit membungkuk mengantarkannya menuju lift.


Resepsionis : "Silakan, tuan Arnold."


Mereka berdua masuk ke dalam lift. Resepsionis itu menekan beberapa nomor di lift dan lift mulai merayap naik ke tempat tertinggi di hotel itu.


Ting! Ketika akhirnya pintu terbuka, Arnold melihat kamar yang sangat luas dihadapannya. Resepsionis mempersilahkannya masuk. Arnold melangkah masuk ke sana dan melihat seseorang berdiri di dekat jendela.


Orang itu berbalik dan tersenyum menatapnya.


Jodi : "Selamat datang, Arnold. Silakan duduk."


🌺🌺🌺🌺🌺


Masih ingat orang yang terobsesi pada Rara dan hampir memperkosanya di gudang olahraga kampus? Seharusnya Jodi masih mendekam di penjara tapi ia dibebaskan dengan jaminan yang sangat mahal.


Alex dan Mia berusaha menahan Jodi agar tidak sampai bebas tapi kekuasaan papanya terlalu besar. Jodi dikirim keluar negeri setelahnya. Sejak itu tidak terdengar kabarnya lagi.


Apa yang terjadi pada Jodi?


🌺🌺🌺🌺🌺


Arnold duduk di sofa bersama Jodi, ia tidak mengatakan apa-apa sekarang. Arnold menahan dirinya tidak mengatakan apapun sampai Jodi selesai bicara.


Jodi : "Aku tahu kamu pasti masih marah padaku setelah apa yang kulakukan pada Rara dan Mamanya. Tapi sungguh aku ingin menebus kesalahanku."


Arnold : "Menebus? Maksudmu?" Arnold tidak tahan ingin bicara juga.


Jodi menunjuk sebuah map coklat diatas meja. Arnold membukanya dan terbelalak membaca isinya. Ia menatap Jodi yang berdiri dan membuka kancing kemeja bawahnya.


Arnold melihat bekas operasi yang panjang di perut Jodi.


Jodi : "Ini karmaku selama ini. Dokter memvonisku kanker hati stadium 4 tepat setelah aku sampai di luar negeri." Jodi tersenyum menyentuh bekas lukanya.


Arnold : "Jadi kau sudah operasi?"


Jodi : "Ya, dokter membuang sebagian besar hati yang sudah rusak. Aku hampir mati setelahnya. Aku sekarat dan sempat kehilangan kesadaranku. Kau tahu rasanya kan? Apa saja yang kau lihat, kau rasakan."


Arnold mengangguk. Ia pernah merasakan apa yang Jodi rasakan.


Jodi : "Aku diberi kesempatan kedua dan aku menghabiskan setahun ini untuk membayar kesalahanku, menebusnya dengan meminta maaf pada orang-orang yang pernah kusakiti."

__ADS_1


Arnold melihat kondisi Jodi sekarang, tampak lebih kurus dan lelah. Berbeda sekali dengan dirinya yang dulu tampak sehat, arogan dan juga nakal. Jodi benar-benar berubah 180'.


Arnold : "Kalau kamu mau minta maaf, minta maaf saja sama Rara dan mamanya. Aku rasa mereka sudah memaafkanmu."


Jodi : "Tadinya aku berpikir begitu, tapi aku rasa tidak akan semudah itu. Terlebih aku mendengar tentang penyakitmu. Aku berpikir akan menebus kesalahanku dengan cara membantumu."


Arnold : "Aku rasa penyakitku akan jadi urusanku saja."


Jodi : "Dengar, Arnold. Kau tahu apa resikonya, semuanya sudah aku sampaikan di dalam surat itu. Termasuk kontak dokter ahli yang bisa kau temui untuk konsultasi."


Arnold : "Siapa yang tahu kalau kau membayar mereka untuk mengatakan semua omong kosong itu."


Jodi : "Kau tahu itu kebenaran dan bukan omong kosong."


Arnold : "Aku belum bisa percaya padamu."


Jodi : "Aku tahu yang kau pikirkan, ini semua hanya bentuk balas dendamku. Tapi aku sudah benar-benar berubah sekarang."


Arnold : "Apa yang akan kau dapatkan? Permintaan maaf atau hati istriku?"


Jodi : "Apa maksudmu?"


Arnold : "Kau mencintai Rara?"


Arnold tersenyum miris, pria dihadapannya ini jelas-jelas mencintai Rara. Semua yang ia lakukan ini jelas untuk menjaga kebahagiaan Rara.


Arnold : "Apa setelah aku mati, kau akan mengejarnya?"


Jodi : "Aku janji tidak akan melakukan hal itu."


Arnold : "Jangan menjanjikan sesuatu yang tidak bisa kau tepati atau aku akan menghantuimu seumur hidupmu."


Jodi : "Kau tidak akan mati. Kau akan tetap bersamanya."


Arnold : "Pilihannya hanya mati atau lumpuh. Lebih baik aku mati daripada lumpuh seumur hidupku."


Arnold berdiri hendak meninggalkan tempat itu tapi lagi-lagi sakit pinggang itu datang menyerangnya. Tubuhnya meluncur turun jatuh ke lantai.


Ia melihat dan mendengar bagaimana Jodi panik dan memanggil anak buahnya. Arnold tetap bertahan menjaga kesadarannya. Ia menahan sakit yang teramat sangat saat anak buah Jodi membopongnya ke atas ranjang.


Arnold melihat beberapa orang berpakaian putih masuk ke dalam kamar juga. Ia bisa mengenali kalau itu dokter ahli yang dikatakan Jodi dalam suratnya.


Mereka memberikan suntikan pada Arnold yang pelan-pelan bisa menghilangkan rasa sakit di pinggangnya. Nafasnya juga tidak sesak lagi.

__ADS_1


Jodi tampak cemas menunggu keadaan Arnold membaik. Ia hampir menelpon Rara tapi diurungkan niatnya itu.


Dokter : "Ini hanya suntikan penghilang rasa sakit. Tidak menyembuhkan sakitmu. Meskipun kamu mau ikut terapi, kamu akan tetap membutuhkan suntikan ini seumur hidupmu."


Arnold : "Kalau aku dioperasi juga sama kan? Bahkan lebih parah, aku bisa lumpuh."


Dokter : "Sampai sejauh ini, banyak alat diciptakan untuk membantu penderita kelumpuhan hingga bisa mandiri. Tergantung kemauanmu untuk itu."


Arnold : "Akan kupikirkan, dokter. Tapi untuk saat ini, aku hanya ingin ikut terapi."


Jodi : "Kau bisa segera memulainya. Aku sudah mengatur semua jadwalnya dengan dokter. Tapi kau harus semangat ya."


Arnold menatap Jodi yang tersenyum tulus. Kematian bisa merubah seseorang yang jahat menjadi orang baik.


Arnold : "Tolong jangan katakan apapun pada Rara sekarang. Aku akan berusaha sembuh. Aku tidak akan menyerah sekarang."


Jodi : "Aku akan membantumu. Apapun yang bisa kulakukan untuk menebus kesalahanku."


Arnold : "Terima kasih."


Jodi : "Aku yang harusnya berterima kasih. Terima kasih sudah mempercayai aku."


Arnold memejamkan matanya, ia sedikit mengantuk dan Jodi membiarkannya beristirahat.


Jodi kembali berbicara dengan dokter ahli,


Jodi : "Lakukan yang terbaik, semua terapi, obat, apapun yang bisa membuatnya sembuh. Termasuk perawatan psikis-nya. Aku rasa dokter Kevin bisa membantu. Dokter itu sudah merawatnya sejak awal."


Arnold mendengar semua yang dikatakan Jodi. Pria itu mengetahui dengan jelas apa yang terjadi pada tubuh Arnold melebihi Arnold sendiri.


Inikah yang disebut cinta yang tulus? Melakukan semuanya untuk menjaga orang yang ia cintai tetap bahagia. Termasuk menjaga saingan cintanya. Bukan, mereka bukan saingan cinta.


Ini bukan cinta segitiga, hanya cinta dalam diam yang menjaga cintanya.


🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain β€˜Menantu untuk Ibu’, β€˜Perempuan IDOL’, β€˜Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya..


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.

__ADS_1


🌲🌲🌲🌲🌲


__ADS_2