
Sesuai dengan janji, hari ini Romi dan Alex akan menemui Pak Hary di rumahnya yang terletak di pusat kota.
Romi terus menarik nafas panjang untuk menghilangkan rasa gugupnya. Biasanya ia akan bicara bisnis dengan Pak Hary, kali ini ia akan melamar putrinya.
Setelah berkendara selama setengah jam mereka tiba di depan rumah Pak Hary. Security membukakan pintu untuk mereka dan mengantar mereka masuk ke dalam rumah.
Pak Hary keluar dari ruangan di dekat ruang tamu tempat Romi dan Alex sudah menunggunya.
Pak Hary : "Alex, apa kabar? Ada angin apa kalian kesini?"
Pak Hary menjabat tangan Alex dan Romi.
Alex : "Bukan saya, tapi Romi mau menyampaikan sesuatu pada Pak Hary."
Alex menoleh menatap Romi dan mengangguk. Romi juga mengangguk.
Romi : "Langsung saja, pak Hary, maksud kedatangan saya hari ini untuk melamar Jelita."
Pak Hary sedikit terkejut, wajahnya terlihat mengeras sejenak tapi kembali seperti semula.
Pak Hary : "Apa kalian sudah lama kenal? Kau mengenal sifatnya dengan baik?"
Romi : "Lebih tepatnya jatuh cinta pada pandangan pertama, pak."
Pak Hary : "Apa yang kau punya sampai memiliki keberanian melamar putriku?"
Romi : "Rasa cinta yang cukup untuk memperjuangkan Jelita."
Pak Hary : "I see. Hmm, Alex kalau tidak keberatan, boleh kami bicara berdua saja?"
Alex : "Ok, tidak masalah."
Pak Hary mengajak Romi masuk ke ruangan tempat ia keluar tadi.
Mereka cukup lama berada disana, Alex sampai bisa menelpon Mia menanyakan keadaannya.
Mia : "Jadi gimana?"
Alex : "Entahlah, mereka belum keluar juga. Tidak mungkin kan kalau Romi dipukuli di dalam sana?"
Mia : "Apa? Memangnya Pak Hary itu mafia?!"
Alex : "Aku cuma bercanda. Sayang, nanti malam bisa kan?
Mia : "Mas, sempat-sempatnya kamu minta begituan. Lagi serius nich."
Alex : "Aku juga serius, sayang. Boleh ya."
Mia : "Tapi pelan-pelan. Mas dengar kan kata dokter."
Alex : "Iya, mas akan pelan-pelan. Eh, mereka keluar. Ntar sambung lagi ya, sayang."
Romi tampak berjalan cepat keluar dari ruangan itu. Ia menatap Alex dengan mata memerah seperti menahan tangis.
Alex : "Ada apa? Romi, kamu kenapa?"
Romi : "Kita pulang saja. Pembicaraannya sudah selesai. Kami permisi, pak Hary."
Romi sedikit membungkukkan badannya dan berjalan keluar dari rumah Pak Hary. Alex menatap Pak Hary yang tersenyum sinis.
-------
__ADS_1
Selama perjalanan kembali ke kantor, Romi tidak banyak bicara. Ia hanya menjawab pertanyaan Alex sekedarnya.
Alex yang merasa sikap Romi sangat aneh, terus mencercanya dengan berbagai pertanyaan.
Romi : "Tolong berhentilah bertanya lagi. Aku tidak bisa memenuhi persyaratannya. Jadi lamaranku ditolak. Ok."
Alex : "Tapi apa syaratnya?"
Romi : "Aku tidak mau membicarakannya."
Alex hanya bisa diam saja setelah itu. Ia tidak akan mendapatkan informasi apapun dari Romi kalau dia sudah masuk mode ngambek.
Romi mengemudikan mobil kembali ke kantor. Ia akan menghabiskan hari ini dengan lembur sampai pagi.
Sesampainya di kantor, Romi berjalan dengan cepat kembali ke ruangannya. Sekretaris Alex, Wanda menatap ke arahnya dengan heran. Padahal saat pergi tadi, mereka masih dalam keadaan baik.
Alex yang menyusul di belakangnya, menanyakan schedulenya pada Wanda. Siang itu masih ada meeting dengan client B. Alex menatap Romi di ruang kerjanya.
Alex geleng-geleng kepala dan berjalan masuk ke ruang kerjanya. Entah Romi bisa ikut meeting atau tidak nanti.
Mia menelpon Alex, ia menanyakan perkembangan lamaran Romi,
Mia : "Gimana, mas? Aku penasaran."
Alex : "Lamarannya ditolak karena Romi gak bisa menuhin persyaratan Pak Hary."
Mia : "Emang apa syaratnya?"
Alex : "Romi gak mau kasih tahu."
Mia : "Yah, gak seru."
Alex : "Aku akan coba cari tahu, sabar ya."
Mia : "Iya dech, mas."
Alex meletakkan ponselnya, ia memikirkan cara membujuk Romi untuk cerita dan menemukan satu cara yang cukup ekstrem.
------
Jelita yang tidak mengetahui lamaran Romi untuknya, tetap bekerja seperti biasa. Ia sedang memeriksa laporan keuangan projek yang ia terima kemarin dan mengkerutkan keningnya melihat angka yang tidak masuk akal.
Ia membongkar dokumen pendukung yang sudah diceknya dan menemukan perbedaan besar itu. Terlebih lagi ada satu dokumen pendukung yang kurang dicantumkan.
Dokumen penarikan dana yang sudah di ttd oleh beberapa pihak terkait. Apa ini artinya ada penyelewengan dana? Transaksi itu baru terjadi bulan lalu.
Pihak audit Alex kemungkinan belum selesai memeriksanya. Jelita ingin menemui Romi dengan alasan ini. Ia membawa berkas-berkas itu dan pergi ke kantor Romi.
Sampai disana, Romi tidak ada di tempat. Ia sedang meeting dengan Alex. Wanda memberitahu Jelita untuk kembali nanti sore. Jelita berbalik kecewa karena tidak bisa bertemu Romi.
------
Sore harinya, Jelita kembali mendatangi ruang kerja Romi. Saat itu Romi baru selesai meeting dan harus mengirimkan proposal baru secepatnya.
Jelita : "Romi, bisa kita bicara sebentar?"
Romi : "Ada apa?" Jawaban Romi yang sedikit ketus dan dingin, membuat Jelita sedikit ragu.
Jelita : "Itu... aku akan kembali nanti."
Jelita keluar dari ruang kerja Romi, ia hampir menabrak Alex yang baru keluar dari ruang kerjanya. Alex melihat mata Jelita berkaca-kaca seperti akan menangis.
__ADS_1
Ia meminta Jelita mengikutinya masuk ke ruang kerjanya. Jelita duduk di depan meja kerja Alex dan meletakkan berkas ditangannya diatas meja.
Alex : "Ada apa, Jelita?"
Jelita : "Pak, saya menemukan selisih pada laporan keuangan dan berkas pendukungnya tidak ada. Tadi saya bermaksud bertanya pada Romi, tapi sepertinya dia sedang sibuk."
Alex bisa merasakan nada sedih pada suara Jelita, ia mengambil berkas-berkas itu dan menelpon Wanda agar masuk juga ke ruangannya.
Mereka menghabiskan setengah jam untuk memeriksa semua berkas termasuk yang dibawa Jelita dan memang ada selisih pada laporan keuangan projek terbaru mereka yang baru selesai bulan lalu.
Alex meminta Jelita tidak mengatakan apa-apa dulu, Jelita agar kembali ke ruangannya dan memperhatikan setiap orang yang ada disana, terutama yang mengetahui kalau ia pergi ke ruang kerja Alex.
Alex : "Catat saja, siapa yang terlihat mencurigakan. Aku akan melakukan cara lain untuk menangkap basah siapa yang melakukan ini."
Jelita keluar dari ruang kerja Alex, ia melirik punggung Romi yang masih duduk di ruang kerjanya. ia ingin menyapanya, tapi takut dibentak lagi. Akhirnya Jelita hanya lewat saja tanpa bicara apa-apa.
Langkah kakinya tidak bisa membuat Romi tidak menoleh padanya, mata Romi terus mengikuti Jelita sampai menghilang ke dalam lift.
Romi meremas kasar kertas di hadapannya, padahal ia sudah selesai mengeprint semua tugasnya hari ini. Ia teringat lagi pembicaraannya dengan Pak Hary yang membuatnya membuang bekas remasan kertas itu ke tempat sampah.
Flash back...
Pak Hary meminta Romi duduk di sofa sementara ia duduk di hadapan Romi. Ia menanyakan asal usul Romi dengan detail dan lengkap, seolah mereka sedang interview kerja.
Pak Hary mengangguk puas dengan jawaban Romi termasuk saat mendengar kalau dia lulusan terbaik salah satu kampus terkenal di Cambridge melalui beasiswa.
Romi juga dapat menjawab dengan tepat cara penyelesaian komplain dari contoh kasus yang diberikan Pak Hary, serasa ujian skripsi. Ini lamaran atau ujian kenaikan kelas?
Sampai Pak Hary mengatakan sesuatu tentang mahar yang harus dibayar Romi untuk bisa menikahi Jelita.
Pak Hary : "Saya minta kamu menyerahkan rahasia perusahaan Alex. Saya minta kamu jadi mata-mata saya di perusahaan Alex."
Romi mengepalkan tangannya, ia berusaha mati-matian menahan emosi yang bergejolak di dadanya. Setelah bertahun-tahun mengenal Pak Hary sebagai pebisnis yang jujur, kekaguman Romi runtuh dalam sekejap.
Pak Hary : "Kalau kau setuju, kalian bisa menikah."
Romi menunduk menahan amarahnya, ia menarik nafas kasar dan bangkit berdiri.
Romi : "Saya rasa pembicaraan kita sudah selesai sampai disini, pak Hary. Saya akan kembali ke kantor dan mohon maaf sebelumnya kalau saya menarik kembali lamaran saya pada Jelita."
Pak Hary : "Tunggu, kenapa kamu menolak? Ini kesempatan bagus, kan. Jelita juga anak tunggal, kau tidak akan kehilangan apapun kalau Alex mengetahuinya dan membuangmu."
Romi : "Saya tidak bisa melakukan itu, pak. Sekali berkhianat, selamanya akan jadi pengkhianat. Saya permisi."
Pak Hary : "Kamu akan rugi besar kalau tidak menerima tawaran ini."
Romi : "Mungkin sekarang saya rugi besar, tapi dimasa depan saya akan menerima keuntungan yang lebih besar dari ini."
Flash back end...
------
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan sarannya ya para reader.
Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya...
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
--------
__ADS_1