
Nikah aja
Rio : “Mual lagi?”
Gadis mengangguk, kali ini ia beneran mau muntah.
Rio menarik tangan Gadis dan menuntunnya ke kamar mandi. Hoeek. Hoeek. Gadis
memuntahkan yang tersisa dalam perutnya. Mb Minah sampai ikutan ke depan kamar
mandi untuk memberikan minyak kayu putih. Rio memilih keluar dan membiarkan
Gadis diurus mb Minah.
Mb Minah menuntun Gadis keluar dari kamar mandi. Mb
Roh memberinya teh hangat untuk mengurangi mualnya. Gadis duduk kembali di
ruang keluarga. Ia menciumi minyak kayu putih yang diberikan Mb Minah dan
merasa lebih baik.
Mia : “Gadis. Saya Mia, mamanya Rio. Kamu uda
baikan?”
Gadis : “Sudah, tante. Makasih.”
Mia : “Waduh, jangan panggil tante dong.”
Rio : “Panggil kakak atau mama, mamaku sensi
dipanggil tante.”
Mia : “Panggil mama aja.”
Rio : “Mah, Rio bawa dia kesini biar mama bisa
jagain dia juga.”
Mia : “Sudah tugas mama jagain menantu mama. Kalian
akan segera menikah. Kita tunggu papanya Rio ya. Gadis mau makan apa?”
Gadis tersenyum miris, entah apa dia pantas
menyandang status sebagai menantu di keluarga Rio. Rio saja tidak menginginkan
dirinya. Semuanya karena janin di dalam perutnya saja. Rio melihat mata Gadis
berkaca-kaca lagi, ia menyodorkan tisu pada Gadis.
Mia : “Gadis? Kamu mau roti? Atau makan nasi ya?”
Gadis : “Saya... boleh minta roti, tante...?”
Mia : “Panggil mama ya, ayo ke meja makan. Kamu mau
roti bakar?”
Gadis : “Roti biasa aja, tante... mama. Makasih.”
Mia menuntun Gadis agar duduk di meja makan. Rio
melihat Gadis terlihat pucat dan murung. Ia duduk di samping Gadis dan mengusap
perutnya tanpa permisi. Gadis sempat tersentak saat menerima perlakuan itu dari
Rio tapi dirinya hanya diam ketika Rio menyentuh perutnya lagi. Biar
bagaimanapun janin di perutnya tetap anak Rio dan ia sudah berjanji untuk
membiarkan Rio bertemu anaknya.
Rio : “Kamu mau makan yang lain?”
Gadis menggeleng. Ia ingin makan sesuatu yang
sangat asam sekarang tapi tidak berani minta Rio untuk mencarikannya.
Gadis : “Tadi kamu beli rujak buat siapa?”
Rio : “Oh, lupa. Itu pesenan mama. Ntar aku ambil
dulu.”
Rio keluar rumah dan masuk lagi tak lama kemudian.
Ia meletakkan bungkusan rujak di atas meja makan. Gadis menelan liurnya yang
__ADS_1
tiba-tiba menetes deras di mulutnya. Rio melihat ekspresi Gadis yang menatap
buah mangga di dalam bungkusan itu tanpa berkedip.
Tanpa bicara apa-apa, Rio membuka bungkusan rujak
itu. Ia meletakkannya di depan Gadis yang secara nggak sadar bergerak mengambil
sepotong buah mangga muda dan memakannya dengan sangat nikmat.
Rio meringis melihat Gadis memakan buah yang sangat
asam itu. Gadis ingin memakan potongan berikutnya tapi ia menoleh pada Rio yang
sudah menatapnya. Ia menarik tangannya lagi dan menunduk. Rio mendekatkan
potongan buah mangga ke depan bibir Gadis.
Gadis yang sangat senang mendapatkan mangga muda,
tanpa pikir panjang langsung menggigit potongan mangga di depannya berikut
jemari Rio juga.
Rio : “Aduch!!!”
Rio mengibaskan jarinya yang memerah kena gigitan
Gadis. Ia menatap Gadis dengan kesal, tapi wanita itu malah asyik sendiri
mengunyah potongan mangga berikutnya. Mia yang sempat menoleh karena jeritan
Rio, tersenyum melihat Gadis menghabiskan buah rujak pesanannya.
Rio : “Kamu gak takut sakit perut makan asem gitu?”
Gadis : “Nggak.”
Rio : “Enak?”
Gadis : “He-eh. Mau?”
Rio mengambil sepotong dan langsung memasukkannya
ke mulutnya. Rasa asem, kecut buah mangga muda membuat Rio terbungkuk-bungkuk
gelas air putih dengan cepat.
Rio : “Asem banget! Gak enak rasanya!”
Lidah Rio gak karuan rasanya sekarang. Ia bingung
melihat Gadis menghabiskan buah asam itu dengan ekspresi sangat bahagia.
Mia : “Gadis lagi ngidam, Rio. Wanita hamil memang
wajar mengalami hal itu. Gadis mau mangga asem lagi? Nanti biar Rio yang
carikan.”
Gadis : “Gak mau lagi, tan... mama.”
Rio : “Ngomongnya gak mau tapi jilatin jempol sampe
segitunya. Tunggu sini. Aku beli lagi.”
Gadis menatap sebal pada Rio yang pergi keluar. Ia
mengelus perutnya yang terasa lapar. Mia mendekat pada Gadis, memberikan beberapa
potong roti hangat pada wanita itu dan juga susu hamil yang masih tersisa
banyak di lemari dapur.
Gadis menghabiskan sepotong demi sepotong roti di depannya dan juga susu itu. Ia tersenyum
malu pada Mia dan mengucapkan terima kasih atas makanan yang diberikannya.
Mia : “Bilang saja kalau mau apa-apa ya. Jangan sungkan,
Gadis.”
Gadis : “Iya, mah.”
Alex masuk ke dalam rumah dengan terburu-buru, ia
melihat Mia dan Gadis dengan wajah bingung.
Alex : “Sayang, ada apa? Kenapa aku harus pulang?
__ADS_1
Gadis? Kenapa kamu disini?”
Mia : “Duduk dulu, mas. Kita tunggu Rio ya. Rio mau
bicara sama mas.”
Mia memberikan roti lagi pada Gadis yang gak jadi
makan karena takut melihat Alex. Ia takut Rio dan Alex bertengkar karena
dirinya hamil. Meskipun Mia sepertinya bisa menerima dengan baik, tapi ia gak
yakin dengan Alex.
Alex tidak perlu menunggu lama, Rio muncul membawa
buah mangga muda lagi dan langsung bergabung dengan mereka di meja makan. Rio
menarik nafasnya yang sesak ketika melihat papanya sudah datang.
Mia : “Rio, bilang sama papa.”
Rio : “Pah, Gadis... lagi hamil anak Rio.”
Alex membulatkan matanya, ia mengambil air minum
dan minum dengan terburu-buru sampai terbatuk-batuk.
Alex : “Ini bukan prank kan?”
Rio : “Serius, pah. Masih aja bercanda.”
Alex : “Oh, maaf. Maksud papa kalau kalian memang
mau nikah, ya nikah aja. Gak perlu sampe bilang uda hamil segala.”
Alex menatap wajah Gadis yang sudah merah merona. Dirinya
sangat terkejut mengetahui putra dan sekretarisnya memiliki hubungan istimewa
bahkan kelewatan istimewa.
Mia : “Sayang, ini serius. Gadis beneran lagi
hamil.”
Hummpph. Hummpphh. Rio bangun dengan cepat, ia menuntun
Gadis masuk ke kamar mandi dan terdengar suara orang muntah-muntah.
Alex : “Gimana bisa?!”
Mia : “Sepertinya Rio memaksa Gadis waktu dia
mabuk.”
Alex : “Oh, terjawab sudah siapa yang menghabiskan
minumanku di lemari.”
Mia : “Jadi mereka bisa nikah kan?”
Alex : “Ya, besok kita ke rumah Gadis untuk
membicarakan ini. Hamil berapa bulan?”
Mia : “Rio bilang mungkin sekitar 2 bulan.”
Alex : “Belum di cek? Gimana Rio itu?”
Mia : “Dia juga baru tahu tadi, mas.”
Gadis dan Rio kembali ke meja makan. Mia
menyodorkan teh hangat pada Gadis dan juga potongan roti tawar. Gadis menatap
Alex, Alex malah menatap Mia,
Alex : “Kenapa?”
****
Mia : "Nggak, mas. Cuma ngingetin aja buat vote dan like novel ini. Jangan lupa."
Alex : "Oh, iya. Pasti dong."
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak ya kk).
__ADS_1