Duren Manis

Duren Manis
Nikah aja


__ADS_3

Nikah aja


Rio : “Mual lagi?”


Gadis mengangguk, kali ini ia beneran mau muntah.


Rio menarik tangan Gadis dan menuntunnya ke kamar mandi. Hoeek. Hoeek. Gadis


memuntahkan yang tersisa dalam perutnya. Mb Minah sampai ikutan ke depan kamar


mandi untuk memberikan minyak kayu putih. Rio memilih keluar dan membiarkan


Gadis diurus mb Minah.


Mb Minah menuntun Gadis keluar dari kamar mandi. Mb


Roh memberinya teh hangat untuk mengurangi mualnya. Gadis duduk kembali di


ruang keluarga. Ia menciumi minyak kayu putih yang diberikan Mb Minah dan


merasa lebih baik.


Mia : “Gadis. Saya Mia, mamanya Rio. Kamu uda


baikan?”


Gadis : “Sudah, tante. Makasih.”


Mia : “Waduh, jangan panggil tante dong.”


Rio : “Panggil kakak atau mama, mamaku sensi


dipanggil tante.”


Mia : “Panggil mama aja.”


Rio : “Mah, Rio bawa dia kesini biar mama bisa


jagain dia juga.”


Mia : “Sudah tugas mama jagain menantu mama. Kalian


akan segera menikah. Kita tunggu papanya Rio ya. Gadis mau makan apa?”


Gadis tersenyum miris, entah apa dia pantas


menyandang status sebagai menantu di keluarga Rio. Rio saja tidak menginginkan


dirinya. Semuanya karena janin di dalam perutnya saja. Rio melihat mata Gadis


berkaca-kaca lagi, ia menyodorkan tisu pada Gadis.


Mia : “Gadis? Kamu mau roti? Atau makan nasi ya?”


Gadis : “Saya... boleh minta roti, tante...?”


Mia : “Panggil mama ya, ayo ke meja makan. Kamu mau


roti bakar?”


Gadis : “Roti biasa aja, tante... mama. Makasih.”


Mia menuntun Gadis agar duduk di meja makan. Rio


melihat Gadis terlihat pucat dan murung. Ia duduk di samping Gadis dan mengusap


perutnya tanpa permisi. Gadis sempat tersentak saat menerima perlakuan itu dari


Rio tapi dirinya hanya diam ketika Rio menyentuh perutnya lagi. Biar


bagaimanapun janin di perutnya tetap anak Rio dan ia sudah berjanji untuk


membiarkan Rio bertemu anaknya.


Rio : “Kamu mau makan yang lain?”


Gadis menggeleng. Ia ingin makan sesuatu yang


sangat asam sekarang tapi tidak berani minta Rio untuk mencarikannya.


Gadis : “Tadi kamu beli rujak buat siapa?”


Rio : “Oh, lupa. Itu pesenan mama. Ntar aku ambil


dulu.”


Rio keluar rumah dan masuk lagi tak lama kemudian.


Ia meletakkan bungkusan rujak di atas meja makan. Gadis menelan liurnya yang

__ADS_1


tiba-tiba menetes deras di mulutnya. Rio melihat ekspresi Gadis yang menatap


buah mangga di dalam bungkusan itu tanpa berkedip.


Tanpa bicara apa-apa, Rio membuka bungkusan rujak


itu. Ia meletakkannya di depan Gadis yang secara nggak sadar bergerak mengambil


sepotong buah mangga muda dan memakannya dengan sangat nikmat.


Rio meringis melihat Gadis memakan buah yang sangat


asam itu. Gadis ingin memakan potongan berikutnya tapi ia menoleh pada Rio yang


sudah menatapnya. Ia menarik tangannya lagi dan menunduk. Rio mendekatkan


potongan buah mangga ke depan bibir Gadis.


Gadis yang sangat senang mendapatkan mangga muda,


tanpa pikir panjang langsung menggigit potongan mangga di depannya berikut


jemari Rio juga.


Rio : “Aduch!!!”


Rio mengibaskan jarinya yang memerah kena gigitan


Gadis. Ia menatap Gadis dengan kesal, tapi wanita itu malah asyik sendiri


mengunyah potongan mangga berikutnya. Mia yang sempat menoleh karena jeritan


Rio, tersenyum melihat Gadis menghabiskan buah rujak pesanannya.


Rio : “Kamu gak takut sakit perut makan asem gitu?”


Gadis : “Nggak.”


Rio : “Enak?”


Gadis : “He-eh. Mau?”


Rio mengambil sepotong dan langsung memasukkannya


ke mulutnya. Rasa asem, kecut buah mangga muda membuat Rio terbungkuk-bungkuk


gelas air putih dengan cepat.


Rio : “Asem banget! Gak enak rasanya!”


Lidah Rio gak karuan rasanya sekarang. Ia bingung


melihat Gadis menghabiskan buah asam itu dengan ekspresi sangat bahagia.


Mia : “Gadis lagi ngidam, Rio. Wanita hamil memang


wajar mengalami hal itu. Gadis mau mangga asem lagi? Nanti biar Rio yang


carikan.”


Gadis : “Gak mau lagi, tan... mama.”


Rio : “Ngomongnya gak mau tapi jilatin jempol sampe


segitunya. Tunggu sini. Aku beli lagi.”


Gadis menatap sebal pada Rio yang pergi keluar. Ia


mengelus perutnya yang terasa lapar. Mia mendekat pada Gadis, memberikan beberapa


potong roti hangat pada wanita itu dan juga susu hamil yang masih tersisa


banyak di lemari dapur.


Gadis menghabiskan sepotong demi sepotong roti  di depannya dan juga susu itu. Ia tersenyum


malu pada Mia dan mengucapkan terima kasih atas makanan yang diberikannya.


Mia : “Bilang saja kalau mau apa-apa ya. Jangan sungkan,


Gadis.”


Gadis : “Iya, mah.”


Alex masuk ke dalam rumah dengan terburu-buru, ia


melihat Mia dan Gadis dengan wajah bingung.


Alex : “Sayang, ada apa? Kenapa aku harus pulang?

__ADS_1


Gadis? Kenapa kamu disini?”


Mia : “Duduk dulu, mas. Kita tunggu Rio ya. Rio mau


bicara sama mas.”


Mia memberikan roti lagi pada Gadis yang gak jadi


makan karena takut melihat Alex. Ia takut Rio dan Alex bertengkar karena


dirinya hamil. Meskipun Mia sepertinya bisa menerima dengan baik, tapi ia gak


yakin dengan Alex.


Alex tidak perlu menunggu lama, Rio muncul membawa


buah mangga muda lagi dan langsung bergabung dengan mereka di meja makan. Rio


menarik nafasnya yang sesak ketika melihat papanya sudah datang.


Mia : “Rio, bilang sama papa.”


Rio : “Pah, Gadis... lagi hamil anak Rio.”


Alex membulatkan matanya, ia mengambil air minum


dan minum dengan terburu-buru sampai terbatuk-batuk.


Alex : “Ini bukan prank kan?”


Rio : “Serius, pah. Masih aja bercanda.”


Alex : “Oh, maaf. Maksud papa kalau kalian memang


mau nikah, ya nikah aja. Gak perlu sampe bilang uda hamil segala.”


Alex menatap wajah Gadis yang sudah merah merona. Dirinya


sangat terkejut mengetahui putra dan sekretarisnya memiliki hubungan istimewa


bahkan kelewatan istimewa.


Mia : “Sayang, ini serius. Gadis beneran lagi


hamil.”


Hummpph. Hummpphh. Rio bangun dengan cepat, ia menuntun


Gadis masuk ke kamar mandi dan terdengar suara orang muntah-muntah.


Alex : “Gimana bisa?!”


Mia : “Sepertinya Rio memaksa Gadis waktu dia


mabuk.”


Alex : “Oh, terjawab sudah siapa yang menghabiskan


minumanku di lemari.”


Mia : “Jadi mereka bisa nikah kan?”


Alex : “Ya, besok kita ke rumah Gadis untuk


membicarakan ini. Hamil berapa bulan?”


Mia : “Rio bilang mungkin sekitar 2 bulan.”


Alex : “Belum di cek? Gimana Rio itu?”


Mia : “Dia juga baru tahu tadi, mas.”


Gadis dan Rio kembali ke meja makan. Mia


menyodorkan teh hangat pada Gadis dan juga potongan roti tawar. Gadis menatap


Alex, Alex malah menatap Mia,


Alex :  “Kenapa?”


****


Mia : "Nggak, mas. Cuma ngingetin aja buat vote dan like novel ini. Jangan lupa."


Alex : "Oh, iya. Pasti dong."


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak ya kk).

__ADS_1


__ADS_2