Duren Manis

Duren Manis
Masak untuk suami


__ADS_3

Setelah pernikahannya, Rara dan Arnold memilih tinggal bersama di rumah Alex. Sebagai seorang istri, Rara juga ingin menyiapkan makanan untuk suaminya.


Ia mulai belajar memasak dari nenek dan Mia. Tapi karena kondisi kehamilan Mia yang ngidam parah, Rara hanya bisa belajar dari nenek.


Hari itu sepulang kuliah, Rara ingin memasak makan malam untuk Arnold yang masih berada di kantor. Malam itu mereka akan menginap di apartment untuk menghabiskan waktu berdua saja.


Deretan bahan makanan sudah siap diatas meja dapur, Rara mulai mengupas bahan-bahan itu sambil mengikuti petunjuk dari nenek. Mereka akan masak sup iga, perkedel kentang, dan ayam dengan sambal goreng.


Nenek memberitahu Rara kalau sudah ada bumbu instan untuk setiap masakan. Jadi Rara tidak perlu membuat bumbu lagi, ia cukup mencampurkannya dengan bahan makanan dan masakan pun jadi.


Rara belajar membuat perkedel kentang yang cukup rumit menurutnya. Ia harus ingat untuk menggoreng potongan kentang sebelum menghaluskannya. Atau adonannya akan hancur saat di goreng.


Rara berjengit ketika minyak panas beriak saat Rara memasukkan potongan kentang yang masih basah. Nenek meminta Rara meniriskan sebentar potongan kentang yang tersisa sebelum memasukkannya ke dalam penggorengan.


Nenek : "Kalau minyak panas kena air, bisa muncrat. Jadi hati-hati ya."


Rara memasukkan potongan kentang sisanya dan tidak ada lagi percikan minyak. Rara membalik potongan kentang sambil mengulek bumbu untuk perkedel kentang itu.


Ada bawang merah, bawah putih, sedikit pala, merica bubuk dan garam. Bau khas perkedel kentang tercium dari cobek yang dipakai Rara.


Nenek membantu mengangkat kentang setelah setengah matang dan meniriskannya.


Nenek : "Sekarang ulek kentang sama bumbunya juga."


Rara melakukan sesuai petunjuk neneknya.


Nenek : "Kalau sudah tercampur rata, tambahkan irisan seledri dan sedikit cabai. Aduk lagi."


Rara : "Apalagi, nek?"


Nenek : "Bentuk bundar pipih seperti perkedel biasanya. Waktu mau goreng, celupkan ke kocokan telur dulu baru digoreng."


Akhirnya perkedel kentang buatan Rara jadi juga. Nenek mencicipi perkedel itu dan memujinya.


Nenek : "Wah, enak. Baru pertama kali tapi uda enak gini. Rara bakat masak."


Rara : "Beneran, nek?"


Nenek : "Ini coba sendiri. Gak boong kok."


Rara mencoba satu dan terpana dengan rasanya. Ternyata beneran enak.


Rara : "Sekarang bikin apa, nek?"


Nenek : "Bikin sup iganya dulu, sekalian ayamnya yang uda dipotong direbus."


Rara menaikkan panci tinggi yang sudah diisi air ke atas kompor. Ia menyalakan kompor dengan api besar. Sambil menunggu air mendidih, Rara menyiapkan sayuran yang akan dimasukkan ke dalam sup.


Setelah menunggu beberapa saat, air di panci mulai mendidih. Nenek meminta Rara memasukkan iga sapi dan daging sapi yang sudah dipotong-potong.


Nenek : "Jangan dilempar ya, nanti air panasnya kena tanganmu. Masukkan pelan-pelan."


Setelah semua potongan iga dan daging itu masuk ke dalam panci, Rara ingin memasukkan bumbu, tapi nenek mencegahnya.


Nenek : "Tunggu, Ra. Kita masukkan bumbunya di rebusan kedua ya. Rebus iga dan daging itu sebentar, lalu tiriskan airnya. Kasi lagi air dan didihkan, baru masukkan bumbu. Kamu tahu kenapa harus gitu?"


Rara menggeleng, ia sedang meniriskan air pada panci tinggi dengan hati-hati. Uap panas membuat tangannya kepanasan, ia meletakkan panci itu di tempat cuci piring dan mengibaskan tangannya.


Nenek tersenyum melihat Rara meniup tangannya. Ia membantu Rara meniriskan daging dengan cepat.


Nenek : "Kalau kita tidak merebus iga dan daging dulu sebelum memasaknya dengan bumbu, sup iganya akan mudah basi. Dan juga kalau meniriskan rebusan, pegang kedua telinga panci dengan lap yang menutup sebagian pancinya. Jadi uap panasnya tidak kena tangan."


Rara manggut-manggut, ternyata banyak teknik memasak yang ia tidak tahu. Selama ini ia hanya belajar membuat minuman saja itupun ketika ada tamu saja.

__ADS_1


Rara kembali berdiri di depan panci tinggi. Kepulan asap keluar dari air yang mendidih di dalam sana. Nenek menyodorkan bumbu, daun salam, sereh, dan penyedap rasa pada Rara.


Nenek : "Masukkan semua ini dan aduk rata. Coba cicipi, sudah terasa enak atau belum."


Rara mencampurkan semuanya dan mencicipi rasanya. Masih terasa kurang garam, Rara mengambil sedikit garam dan mengaduknya ke dalam panci. Kali ini sudah lumayan, ia tidak menambahkannya lagi.


Nenek : "Kalau garamnya sudah terasa, dan air sup mendidih lagi, baru masukkan wortel dan kentang. Pelan-pelan..."


Rara memasukkan wortel dan kentang, tak sengaja tangannya terkena kuah panas. Rara kembali mengibaskan tangannya dan nenek segera menarik tangannya ke bawah guyuran air dingin di tempat cuci piring.


Nenek : "Ini pertolongan pertama kalo kena minyak panas atau kuah panas ya. Habis itu kasi salep atau odol."


Rara mengangguk-angguk, banyak pelajaran hari ini tapi ia belum mencatatnya. Semoga saja dia belum lupa nanti.


Sup iga selesai dibuat Rara. Nenek kembali mencicipi dan puas dengan rasanya.


Nenek : "Kalau papa makan ini pasti dibilang kurang garam. Nanti bilang sama papa, jangan kebanyakan makan garam ya."


Rara memeluk neneknya dengan senang. Hari itu dia sudah menyelesaikan dua masakan dengan baik.


Untuk masakan yang ketiga, nenek sudah menyiapkan semuanya di kulkas. Rara tinggal memanaskannya hingga matang diatas kompor.


Rara menghidangkan semua makan malam diatas meja. Ia sudah menghubungi Arnold yang ingin makan malam dulu baru sama-sama ke apartment.


Sebelum makan malam, Rara memutuskan untuk mandi dulu. Ia berdiri di bawah shower, bersenandung sambil menggosok punggungnya.


Tiba-tiba seseorang memeluk tubuhnya dari belakang.


Rara : "Siapa?"


Rara menoleh ke samping dan melihat Arnold sedang mengusap-usap punggungnya yang penuh sabun.


Rara : "Mas, kapan pulangnya?"


Rara : "Siapa juga yang godain, memangnya siapa yang berani masuk kalo bukan mas."


Arnold melanjutkan aktifitasnya menelusuri tubuh Rara. Mereka saling mengusap tubuh satu sama lain dengan sabun mandi.


Rara merangkul erat leher Arnold saat penyatuan mereka dibawah shower yang mengalirkan air hangat.


Nafas keduanya berpacu dibawah guyuran air, sampai Rara memeluk erat tubuh Arnold. Kakinya gemetar akibat klimaks dasyat yang menjalari tubuhnya.


Arnold menggendong Rara keluar dari kamar mandi setelah membersihkan hasil perbuatannya. Ia membaringkan tubuh Rara di tempat tidur, lagi-lagi tangan Arnold menggerayangi tubuh Rara.


Rara : "Maas... jangan lagi..."


Arnold : "Apa sich? Aku lagi ngeringin badan kamu. Kamu gak mau pakai baju?"


Rara membuka sedikit matanya dan melihat Arnold mengusap tubuhnya dengan handuk kecil. Rara tersenyum manis, ia ingin dimanja Arnold untuk saat ini.


Arnold : "Mau pakai baju apa?"


Rara : "Mas yang pilihin, pakein sekalian."


Arnold : "Ini ya?"


Rara melotot kaget melihat lingeri yang dikeluarkan Arnold dari lemari. Masa iya dia memakai itu untuk makan malam.


Rara : "Mas ngaco ach.."


Arnold : "Kalo aku disuruh milih, mending kamu gak pake baju. Aku gak perlu repot bukanya."


Rara : "Maass...!!"

__ADS_1


Arnold mengambilkan pakaian dalam dan baju ganti untuk Rara. Ia langsung memakaikan pakaian pada Rara sambil menggerayangi tubuhnya lagi.


Alhasil Rara sibuk memukul tangan Arnold seperti memukul nyamuk.


-------


Saat makan malam, nenek sengaja mengatakan kalau makan malam kali ini dimasak langsung oleh Rara.


Rara tersenyum senang, apalagi melihat Arnold makan dengan lahap sampai nambah dua kali.


Rara : "Tumben nambah, mas. Laper ya."


Arnold : "Iya, tenagaku uda habis tadi..."


Arnold menghentikan kata-katanya karena semua orang sudah menatapnya dan Rara yang wajahnya memerah. Alex sampai berdehem untuk menyadarkan semua orang.


Mereka yang mengerti langsung melanjutkan makan sambil senyum-senyum gaje, tapi tidak untuk si kembar. Mereka jadi kepo dan lanjut bertanya pada Arnold,


Rio : "Emangnya kakak abis ngapain?"


Arnold : "Itu tadi... olahraga, iya olahraga."


Rio : "Kakak fitness juga, dimana?"


Rio yang suka fitness, jadi semangat bicara pada Arnold.


Arnold : "Gak fitness sich, cuma olahraga rutin yang cukup melelahkan."


Rio : "Emang ada ya olahraga macam itu?"


Riri : "Pasti adalah, buktinya kak Arnold sampai capek gitu."


Rio : "Emang kamu tahu? Coba tebak olahraga apa?"


Riri : "Mungkin kamu harus nikah dulu baru ngerti olahraga apa yang dimaksud kak Arnold."


Kata-kata Riri membuat Arnold dan Alex melongo. Mereka gak habis pikir dengan pola pikir Riri, entah ngerti atau gak dengan apa yang ia katakan. Tapi kata-katanya selalu tepat sasaran.


Alex : "Sudah-sudah lanjutkan makannya, keburu dingin sup-nya."


Rara : "Mama uda makan, pah?"


Alex : "Tadi uda papa bawain ke kamar, abis makan langsung tidur. Biasa gitu kalau ngidam. Mama kalian dulu juga gitu."


Rara : "Tapi mama gak pa-pa kan?"


Alex : "Gak pa-pa, itu normal aja kok."


Mereka melanjutkan makan sampai habis dan Rara membantu membawakan piring kotor ke dapur.


Setelah berbincang sebentar, Rara dan Arnold pamit untuk menginap di apartment Arnold. Mereka tidak membawa apa-apa karena di apartment Arnold sudah melengkapi kebutuhan mereka.


------


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan sarannya ya para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya...


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


--------

__ADS_1


__ADS_2