
Akhirnya perjuangan hampir sampai tujuan akhir. Ujian skripsi yang sangat menakutkan itu harus dihadapi juga oleh Rara. Sejak pagi Rara sudah belajar, membaca semua detail skripsinya.
Padahal ujian masih dua hari lagi tapi stress mulai dialami Rara. Mia yang mendampingi Rara belajar, jadi ikut merasakan stress Rara.
Mia : "Kita istirahat dulu ya."
Rara : "Sepertinya kepalaku mau meledak, mah. Sakit."
Mia memijat pundak dan tengkuk Rara yang tegang. Ia memikirkan sesuatu yang bisa membantu Rara belajar.
Mia : "Apa kita panggil Elo aja ya? Kalian bisa diskusi, kan cuma subjek penelitian kalian yang beda."
Rara : " Harus ijin mas Arnold dulu, mah. Kalo gak bakalan ngamuk."
Mia : "Ya uda, mama yang ngomong. Kamu istirahat aja dulu."
Mia mengambil ponselnya untuk menelpon Arnold, cukup lama Mia ngobrol dan akhirnya menutup telpon.
Mia : "Iih, suamimu itu menyebalkan."
Rara : "Nah, kan. Mama juga tau rasanya kalo mas Arnold cemburu. Jatah aja mintanya dua kali lipat baru mau diem."
Mia : "Mama ralat, bukan menyebalkan tapi mengerikan. Dia otw pulang katanya."
Rara : "Bisa nambah stress kalo gini."
Mia : "Uda, biarin aja. Telpon Elo sana."
Rara mengambil ponselnya dan menelpon Elo,
Rara : "Halo, kak?"
Elo : "Rara, ada apa?"
Rara : "Kakak sibuk? Mau belajar bareng?"
Elo : "Wah, pas banget. Aku perlu teman diskusi."
Rara : "Kalo gitu kakak ke rumahku ya. Ntar ku share loc."
Elo : "...Ada Riri gak? Eh, maksudku Arnold... iya, Arnold."
Elo memukul bibirnya perlahan, kenapa juga dia sebut nama Riri. Riri sama Arnold kan jauh banget bedanya.
Rara : "Riri ada. Mas Arnold juga ntar lagi dateng."
Elo : "Eh, aku gak maksud nanyain Riri. Maksudku Arnold ada gak, biar dia gak cemburu gitu."
Rara : "Nanyain Riri juga gak masalah kok, kak. Aku tunggu ya, kak."
Elo : "Ok, aku otw."
Rara menutup telponnya, ia senyum-senyum menatap Mia.
Mia : "Dia suka sama Riri?"
Rara : "Gak tau, mah. Tapi kayaknya suka dech. Pake ngeles segala nanyain Arnold."
Mia : "Haih, gini ya rasanya punya anak uda dewasa, satunya uda nikah, tinggal dua lagi."
Rara : "Trus mama kapan ngasi Rara adik lagi?"
Mia : "Mama belum bisa hamil, belum setahun, Ra. Kamu aja duluan."
Rara : "Rara gak mau ach. Masi ada waktu, Rara mau pacaran dulu sama mas Arnold."
__ADS_1
Mia : "Yee... Kelamaan nich, mertuamu emang gak nanyain?"
Rara : "Gak pernah, mah. Mau ketemu berapa kali pun, telpon juga gak pernah sekalipun nanyain kapan mau punya anak atau uda hamil belum."
Mia : "Kamu enak, lah mama diteror dari dua pihak. Dikira gampang bikinnya."
Rara : "Bikinnya gampang, mah. Jadinya yang susah."
Keduanya terkikik geli, mereka sama-sama mengerti gimana rasanya jadi istri yang melayani suami masing-masing.
Riri yang baru turun dari kamarnya, menatap mereka bingung.
Riri : "Ngomongin apa sich? Seru banget."
Riri mengambil materi skripsi Rara dan membacanya. Ia terlihat cantik dengan baju kaos dan celana jeans pendeknya. Rambutnya ia biarkan tergerai dengan model gelombang yang menambah kesan seksi.
Riri benar-benar terlihat dewasa dengan penampilan barunya setelah lulus SMA.
Riri : "Kak, kenapa bagian ini kakak nulisnya seperti ini?"
Rara : "Emangnya kamu ngerti, Ri? Kakak nulis gitu karena..."
Rara menjawab pertanyaan Riri dengan baik, gak seperti waktu Mia menanyainya. Mia hanya mengamati kedua anak itu yang terus berdiskusi.
Tak lama kemudian, pintu rumah Rara diketuk seseorang. Mia membukakan pintu dan melihat Elo berdiri disana, membawa pizza dan juga minuman ringan.
Elo : "Hai, Mia. Boleh masuk?"
Mia : "Hai, Elo. Silakan masuk. Kita ke ruang keluarga aja ya. Rara sudah disana."
Elo mengikuti Mia masuk ke ruang keluarga, sementara itu Arnold baru sampai di depan rumah. Ia melihat sebuah motor parkir disamping mobil besar. Arnold memarkir mobilnya di belakang mobil besar dan turun.
Elo : "Hai, Ra. Hai, Riri..."
Elo terpesona melihat penampilan Riri yang hot. Ia hampir tersandung bantal yang berserakan di ruang keluarga itu.
Riri : "Hai, kak."
Keduanya sama-sama merona ketika saling pandang. Rara dan Mia sampai bergantian melihat keduanya yang malu-malu. Situasi macam apa ini.
Mia : "Ehem... Elo, silakan duduk."
Elo : " Eh, iya. Makasi. Ini aku bawakan makanan."
Elo menyerahkan kotak pizza pada Mia yang langsung meletakkannya di meja di samping mereka. Arnold masuk ke rumah saat itu,
Rara : "Mas uda pulang..."
Rara menyambut kedatangan Arnold dengan senyum manisnya. Arnold mencium kening Rara dan memeluk pinggangnya.
Rara : "Mas uda makan? "
Arnold : "Uda tadi. Kalian uda mulai?"
Rara : "Belum, mas. Kak Elo baru datang."
Elo hanya melambaikan tangannya canggung pada Arnold yang sudah menatapnya tajam.
Arnold : "Aku ke kamar dulu."
Rara : "Aku buatin kopi ya."
Arnold : "Ntar aja. Ikut bentar yuk."
Arnold menarik tangan Rara masuk ke kamar mereka, meninggalkan yang lainnya melongo melihat mereka berdua berlalu. Sampai di dalam kamar, Arnold mencium bibir Rara sampai istrinya itu megap-megap gak bisa nafas.
__ADS_1
Rara : "Maaass... Udaa..."
Arnold : "Uda sana. Awas deket-deket."
Rara keluar dari kamar dengan nafas ngos-ngosan seperti habis lari.
Mia : "Kenapa?"
Rara : "Biasa..."
Elo yang kepo ingin bertanya lebih detail tapi Arnold uda keluar kamar setelah berganti pakaian. Ia ikut duduk di ruang keluarga, mengawasi mereka.
-----
Tak terasa 5 jam berlalu, saatnya Alex pulang dari kantor. Ia mengkerutkan keningnya saat masuk ke dalam rumah. Masalahnya Elo dan Mia sedang dalam posisi sangat dekat hanya berdua.
Riri yang awalnya bergabung dengan mereka, semakin salting karena dilihatin intens oleh Elo yang mengagumi sosoknya. Riri memilih kabur dari sana dan naik ke lantai 2. Ia harus menenangkan jantungnya dulu.
Sedangkan Arnold dan Rara masuk ke dalam kamar mereka untuk mandi. Arnold kumat manjanya karena masih cemburu dan ingin Rara memandikannya. Wajah Rara sampai merah padam ketika Arnold membisikkan apa saja yang akan dia lakukan padanya.
Jadilah Mia dan Elo tinggal berdua di ruang keluarga itu.
Alex : "Ehem..."
Mia : "Mas, uda pulang."
Pandangan Alex menatap tajam ke arah Elo, Mia menyadari hal itu dan langsung menjauh sedikit.
Mia : "Mas, kenalin ini Elo. Dia kakak kelas Rara di kampus. Lagi belajar buat ujian skripsi mereka."
Alex : "Oh, kamu kok gak cerita, sayang."
Mia mendengar nada bicara Alex tidak seperti biasanya. Alex mengangguk pada Elo dan berlalu ke kamarnya.
Elo : "Kayaknya ada yang cemburu juga. Maafkan aku."
Mia : "Kamu manis sich, makanya suami-suami pada cemburu. Ntar ya."
Mia meninggalkan Elo menyusul Alex, ia harus menenangkan suaminya dulu agar tidak panas terbakar api cemburu. Elo yang ditinggal sendiri, cuma bisa bengong aja. Dia ingin pamit pulang tapi penghuni rumahnya lagi sibuk.
Riri yang baru turun dari lantai 2 bersama Rio, tersenyum malu pada Elo yang duduk sendirian. Ia menghampiri Elo dan menanyakan yang lainnya.
Riri : "Kak, yang lain kemana?"
Elo : "Pada masuk kamar, untung kamu datang. Aku pulang dulu ya. Dari tadi mau pamit tapi gak ada orang. Besok aku datang lagi, tolong kasih tahu Mia sama Rara ya. Besok kamu mau dibawain apa?"
Riri : "Gak usah, kak. Ngrepotin kakak."
Elo : "Aku emang suka direpotin kok. Ayo, bilang mau apa?"
Rio : "Riri paling suka kue bolu pandan."
Riri : "Itu kesukaanmu, aku sukanya bolu coklat. Eh... Gak usah, kak."
Elo : "Bolu coklat ya. Besok aku bawain, untuk kamu juga Rio. Sampai jumpa besok ya."
Habis ngomong gitu, Elo bukannya bangun dari duduknya, dia malah menatap Riri dengan intens. Keduanya saling menatap, lupa dengan sekitar. Bahkan Rio juga dicuekin.
-----
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya para reader.
Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya...
__ADS_1
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
--------