
Gadis masih saja
menunggu Rio yang pamit ke toilet sebelum pesanannya datang. Rio menyelinap
menghindari tatapan Gadis dan dengan cepat mengejar Kaori ke taman. Ia terpaksa
berbohong pada Gadis agar gadis itu tidak mengikutinya lagi. Bahkan sampai
kantin mulai sepi, Gadis masih duduk disana.
Kasian sich, tapi
gak baik ya gangguin pacar orang. Kalau niatnya temenan gak pa-pa. Tapi kalau
ada maksud lain seperti Gadis, mending mikir 2 kali dech.
*****
Ditempat lain,
diwaktu yang sama. Katty sedang mengerjakan iklan pemasaran untuk produk
terbaru perusahaan Pak Brian ketika ia merasa mual dan pusing. Katty memijat
tengkuknya yang terasa pegal. Sejak kemarin ia begadang untuk menemukan konsep
yang tepat untuk iklan produk itu.
Sebenarnya ia sudah
lelah sejak kemarin, ketika Jodi membawanya ke acara lamaran Riri. Jodi dengan
semangat memberitahu semua orang kalau mereka akan menikah setelah pernikahan
Riri. Katty merenggangkan tubuhnya, ia harus menyelesaikan ini sekarang sebelum
Jodi memintanya berhenti bekerja sementara untuk mengurus pernikahan mereka.
Katty : “Sepertinya
aku harus minum kopi.”
Katty berjalan ke
pantry, tak lupa ia meng-save pekerjaannya dan membawa FD bersamanya. Katty
tidak mau mengambil resiko pekerjaannya ditiru seseorang atau bahkan dirusak.
Ya, iyalah.
Capek-capek berpikir, mengkhayal, mengerjakan, mengetik, trus dijiplak sama
orang yang gak punya etika (otak) gitu aja. Udah gak punya etika (otak), gak
punya hati lagi. Kalau gak punya ide, mending diem dech.
Beberapa orang yang
bertemu dengan Katty di lorong, menyapanya sekilas. Ia selalu bekerja di ruang
meeting kecil di dekat ruang kerja Pak Brian kalau Pak Brian memintanya datang.
Secangkir kopi
sudah di bawa Katty kembali ke ruangannya tadi. Ia meminumnya dan pusing yang
tadi dialaminya sedikit mereda.
Katty kembali
konsentrasi dengan pekerjaannya, sampai draft iklan selesai ia kerjakan dan
Katty segera mengirimkan desain itu ke e-mail Pak Brian.
Sambil menunggu
balasan e-mailnya, Katty melihat-lihat lagi pekerjaannya. Ia melihat ada
beberapa point yang kemungkinan akan di revisi oleh Pak Brian. Benar saja, Pak
Brian menghubunginya lewat v-call.
Pak Brian : “Halo,
Katty. Aku sudah terima e-mailmu.”
Katty : “Halo, Pak.
Bagaimana, pak?”
Pak Brian :
“Desainmu ok, coba diskusikan dengan manager pemasaran. Tanyakan pada mereka
kapan bisa segera tayang?”
Katty : “Itu saja,
pak?”
Pak Brian tampak
sedang menahan sesuatu, wajahnya mulai memerah dan keringat menetes dari
keningnya. Katty mendengar suara-suara aneh dan ia mencoba untuk tidak
mendengarkan suara itu.
Katty mengalihkan
pandangannya dari layar ponselnya, ia hanya menatap laptopnya, dan bersiap
__ADS_1
mengirimkan e-mail terusan ke manager pemasaran perusahaan Pak Brian.
Pak Brian : “Ach...
maaf, Katty. Ada sesuatu yang harus kukeluarkan tadi. Aku rasa itu saja.
Bisakah kau datang? Aku ada di rumah Elena.”
Katty : “Baik, pak.
Apa yang bapak perlukan?”
Pak Brian :
“Sepertinya Elena perlu beberapa minuman lagi.”
Katty : “Akan saya
siapkan segera.”
Pak Brian : “Bagus.
Sampai jumpa.”
Pak Brian menutup
telponnya, ia menatap Elena yang sedang berlutut di depannya.
Pak Brian :
“Sayang, kau selalu melakukannya dengan baik. Apalagi yang kau mau?”
Elena : “Om, aku
mau uang lagi yang banyak.”
Pak Brian :
“Apapun, sayang. Lakukan sekali lagi.”
Pak Brian menekan
kepala Elena semakin merunduk dan memulai lagi apa yang baru saja selesai tadi.
*****
Katty tiba di rumah
Elena, ia segera masuk karena security mengijinkan dia masuk. Dengan langkah
cepat, Katty menuju rak minuman dan melihat sebagian besar minuman itu sudah
kosong.
Katty berjalan
keluar lagi dan memanggil staf Pak Brian yang sudah membawakan minuman koleksi
Pak Brian. Mereka mulai bekerja memindahkan satu persatu minuman baru ke dalam
Sambil mengawasi
pekerjaan staf, Katty berjalan di sekitar dapur dan membuka kulkas. Ia
memastikan tidak ada makanan busuk yang tersimpan di dalam sana.
Tak lama, yang
punya rumah keluar dari kamar, berjalan dengan genit berlenggak-lenggok
menunjukkan sedikit asetnya.
Katty : “Nona
Elena, selamat siang.”
Elena : “Katty,
buatkan minuman untuk kami.”
Katty : “Baik,
nona.”
Katty segera
meracik minuman untuk Elena dan Pak Brian. Elena terlihat sangat lelah, ia
menegak minumannya dengan cepat dan minta dibuatkan lagi.
Katty hanya
melakukan tugasnya, membuat minuman dan memberikannya pada Elena. Wanita seksi
itu bahkan mulai limbung sekarang. Ia tidak fokus dan hampir jatuh dari
duduknya.
Pak Brian keluar
dari kamar, hanya memakai bathrobe, ia menatap Elena sekilas dan mengambil
minumannya sendiri.
Pak Brian : “Thanks,
Katty. Managerku bilang, iklannya akan tayang seminggu lagi.”
Katty : “Sama-sama,
pak. Kalau tidak ada yang bapak perlukan lagi, saya permisi pulang.”
__ADS_1
Pak Brian : “Ok,
sampai jumpa.”
Katty melirik Elena
yang bahkan sudah tertidur di meja bar. Biar saja pak Brian yang mengurusnya,
sudah cukup banyak orang di rumah itu yang bisa mengurus Elena.
Katty keluar dari
rumah Elena, ia mengemudikan mobilnya menuju ke arah rumahnya. Tapi saat akan
berbelok di suatu jalan yang sepi, Katty merasakan kepalanya sangat pusing. Ia
tidak bisa mengendalikan mobilnya dan tidak sengaja menabrak mobil seseorang.
Brak! Tabrakan
tidak bisa terhindarkan, Katty tidak sadarkan diri di dalam mobilnya. Kepalanya
terantuk dengan cukup keras pada setir mobil hingga terluka dan mengeluarkan
cukup banyak darah.
*****
Jodi sedang sibuk
di kantornya, ia full meeting hari ini untuk mengejar waktu liburnya. Ia ingin
libur beberapa hari sebelum dan setelah menikah dengan Katty nanti. Sebenarnya
ia melakukan itu untuk bisa terus bersama Katty sambil berusaha membuat wanita
yang dicintainya itu segera hamil.
Saking seriusnya
Jodi bekerja, ia tidak mendengar suara ponsel yang terus saja berdengung diatas
mejanya. Ponsel itu berdengung sampai lebih dari 5 kali, mati, kemudian
berdengung lagi dan mati lagi.
Pasti orang yang
menelpon Jodi sangat kesal, menunggunya mengangkat telpon di seberang sana.
Tidak hilang akal, orang itu malah menelpon Guntur.
Guntur : “Halo, Pak
Anton. Ada yang bisa saya bantu?”
Anton : “Dimana
Jodi? Dari tadi saya telpon gak diangkat juga.”
Guntur : “Pak Jodi
sedang di ruangannya, pak. Mungkin sedang ke toilet.”
Anton : “Ngapain di
toilet lama sekali. Coba cek. Urgent.”
Guntur : “Baik,
pak. Saya sedang jalan ke ruangannya.”
Guntur mengetuk
pintu dan masuk ke ruang kerja Jodi. Jodi menoleh menatap Guntur dengan
pandangan penuh tanya,
Jodi : “Ada apa?”
Guntur : “Pak Anton
menelpon, pak. Katanya bapak nggak angkat telpon.”
Jodi : “Mana?”
Guntur menyerahkan
ponselnya pada Jodi,
Jodi : “Halo, pah?
Tumben nelpon.”
Anton : “Anak gak
sopan, cepat ke rumah sakit! Katty kecelakaan!”
Jodi : “Apa?!!”
Jodi langsung
berlari keluar dari kantornya membawa ponsel Guntur.
🌻🌻🌻🌻🌻
Katty kecelakaan
dan Jodi saking paniknya salah membawa ponsel. Kira-kira gimana kondisi Katty
ya?
__ADS_1
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).