Duren Manis

Duren Manis
Mau dihukum


__ADS_3

Keesokan harinya,


Alex terbangun dengan rasa sakit di kepalanya. Ia mencoba melihat sekeliling


kamar itu. Alex memegangi kepalanya yang terasa berputar.


Alex : “Mia?!”


Mia : “Hmm...”


Mendengar suara di


sebelahnya, Alex langsung menyingkap selimut dan melihat tubuh polos istrinya


itu.


Alex : “Mia, apa


yang terjadi semalam?”


Mia : “Hmm... apa?”


Mia beneran


setengah sadar, tubuhnya terasa remuk dan tidak nyaman. Alex mengintip keadaan


Mia dan matanya terbelalak melihat sekujur tubuh Mia penuh dengan tanda merah.


Alex : “Mia? Kamu


kenapa?”


Mia : “Gara-gara


mas...”


Alex : “Aku?!”


Mia : “Mas


menyerangku semalam. Sakit nich.”


Alex : “Kita


dimana?”


Mia : “Di hotel,


kamar 307. Mas gak inget apa yang terjadi?”


Alex menggeleng, ia


memejamkan matanya lagi dan menarik nafas panjang.


Alex : “Jam berapa


sekarang?”


Mia : “Mas kan pake


jam, lihat disana.”


Alex melihat ke jam


di tangannya dan seketika bangkit dari baringnya.


Alex : “Aku telat


ngantor. Si kembar gimana?”


Mia : “Masih


dijagain Bianca sama Rara kayaknya. Badanku sakit semua nich, mas.”


Alex : “Sayang,


maafin mas ya. Mas beneran gak sadar semalam. Apa yang sakit?”


Mia : “Kayaknya


jahitanku robek dech, mas.”


Alex : “Apa??!!”


*****


Alex dan Mia tiba


di rumah jam 9 pagi. Mia masih tidak mau cerita apa yang terjadi semalam karena


ia masih kesal dengan Alex. Tapi yang membuat Mia khawatir, karena Alex gak


pakai pengaman, dan mereka harus mampir ke apotik untuk membeli obat untuk Mia.


Mama Mia dan


seorang wanita tampak duduk di ruang tamu, sedang berbicara dengan Nenek dan


Rara.


Mia : “Pagi, mah.”


Alex : “Pagi, mb.”


Mama Mia : “Kalian


udah dateng. Darimana?”


Mia : “Dari pesta


semalem dan... nanti aja Mia cerita detail ya. Mia mau ganti baju dulu.”


Alex dan Mia segera


masuk ke kamar mereka. ASI Mia sudah membanjir dan kebetulan Reva sudah bangun


juga. Bianca ada di dalam kamar mereka bersama mb Minah, baru selesai


memandikan si kembar.


Bianca : “Nah, ini


mamanya datang.”


Mia : “Aku ganti


baju dulu ya.”


Saat melihat


kamarnya penuh, Alex memilih masuk ke ruang kerjanya dan ganti pakaian disana. Mia


segera menyusui Reva dan mb Minah membantu memindahkan Rava untuk menyusu juga.


Bianca : “Gimana


semalam? Kami lihat loh film actionnya. Mantap.”


Mia : “Ntar dech

__ADS_1


aku cerita habis nyusui. Makasi banget uda jagain si kembar. Kamu uda sarapan?”


Bianca : “Uda tadi


sama Ilham juga.”


Mia : “Trus Ilham


kemana?”


Bianca : “Udah


berangkat ke kantor lah.”


Mama Mia menyusul


Mia ke kamarnya dan memperkenalkan wanita asing tadi.


Mama Mia : “Mia,


ini mb Roh. Dia pengasuh bayi yang kamu minta kemarin.”


Mia : “Mb Roh, saya


Mia. Ini si kembar Rava dan Reva. Nanti mb bantu saya jaga si kembar ya.”


Mb Roh : “Iya,


Nyonya Mia.”


Mia : “Panggil saya


mb Mia saja. Ini mb Minah, nanti sama mb Minah juga bantu disini ya.”


Mb Roh : “Iya, mb


Mia.”


Mb Minah mengajak


mb Roh ke kamarnya untuk meletakkan tas dan menyiapkan tempat tidur untuknya.


Rara juga ikut masuk ke kamar Mia. Kamar itu langsung penuh dengan adanya Mia,


si kembar, Mama Mia, Rara, dan Bianca. Sementara nenek beristirahat di


kamarnya.


Bianca : “Ayo


cerita dong apa yang terjadi semalam?”


Rara : “Iya, mah.


Siapa wanita itu? Kenapa mama seret dia keluar kamar?”


Mia : “Satu-satu


dong. Aku harus jawab yang mana dulu nich?”


Bianca & Rara :


“Cerita aja dech.”


Mia mulai


menceritakan kejadian semalam dari awal ia merasa curiga dengan kelakuan


pelayan sampai ia bersembunyi di kamar mandi dan terakhir menendang pelakor


keluar dari kamar.


Mia : “Mia gak


jebakan itu.”


Bianca : “Trus,


kenapa kalian gak pulang aja?”


Bianca dan Rara


saling menatap dan tersenyum penuh arti. Apalagi mereka melihat beberapa tanda


merah di tubuh Mia yang tidak tertutup pakaian. Mia sampai lupa kalau ia sedang


menyusui si kembar dan memperlihatkan tanda kemerahan itu dari leher sampai


dadanya.


Mia : “Mia gak bisa


pulang karena itu...”


Bianca : “Karena


apa? Kalian ngapain? Hayo...”


Mia : “Gimana mau


pulang, mas Alex tiba-tiba aja nyerang gak pake jeda lagi. Jahitan Mia sampe


robek lagi.”


Mama Mia : “Belum cukup


ya pelajaran yang dia dapet terakhir, masih mau mama hukum lagi.”


Mia : “Jangan mah!!


Jangan disunat mas Alexnya!”


Rara dan Bianca


hampir ketawa ngakak mendengar permohonan Mia.


Mama Mia : “Belain


aja terus. Uda sampe gini badanmu gak jelas, masih kamu bela suamimu itu.”


Mia : “Mas Alex gak


salah, mah. Dia dijebak dan gak bisa nahan dirinya. Mia juga gak apa-apa kok.


Udah beli obat juga.”


Mama Mia : “Haih,


udah mama gak mau debat lagi. Sini, Rava udah tidur kan.”


Mia membiarkan


mamanya mengambil baby Rava yang memang sudah melepaskan apa yang tadi di


sedotnya.


Mia : “Darimana


mama tahu itu Rava?”

__ADS_1


Mama Mia :


“Rambutnya masih rapi.”


Mama Mia menimang


baby Rava sebentar dan meletakkannya di boks bayi. Ia kembali ke depan Mia dan


mengambil baby Reva. Kali ini menggendong baby Reva lebih lama, berusaha


merapikan rambut baby Reva yang sudah tegak berdiri menantang langit.


Mama Mia : “Cepat


obati yang robek itu. Untuk sementara jangan berhubungan dulu sampai kamu


benar-benar pulih. Seganas apa sich, sampai bisa gitu?”


Mia : “Kasar


banget, mah. Tapi...”


Bianca & Rara :


“Tapi apa?”


Keduanya bertanya


bersamaan dengan cepat dan saling pandang, sebelum terkikik geli.


Mia : “Tapi enak


banget...”


Mama Mia kehilangan


kata-katanya mendengar jawaban Mia yang menjawab sambil nyengir. Ia meletakkan


baby Reva setelah mencium pipi bayi bulat itu.


Mama Mia : “Si


kembar cuma minum ASI aja ya?”


Mia : “Iya, mah.


ASI Mia keluarnya deres banget.”


Rara : “Rara harus


belajar dari mama nich, nanti kalo uda lahir baby boy.”


Mia : “Dari


sekarang aja, suruh Arnold lebih aktif.”


Rara : “Aktif


ngapain, mah?”


Mia : “Menyusu...


masa gak paham sich?”


Bianca : “Wah, kalo


itu sich Ilham demen banget. Pasti minta nambah.”


Mia menyodorkan


tangannya, tos dengan Bianca.


Mia : “Trus Bianca


uda ada tanda-tanda belum nich?”


Bianca : “Belum


sich, aku santai aja. Kalau udah waktunya juga pasti dapet giliran. Lagian


Ilham sibuk terus akhir-akhir ini.”


Bianca melirik Rara


yang merasa tidak enak,


Rara : “Iya dech,


habis ini Ilham kukasi libur 2 hari.”


Bianca : “Mau


ngapain cuma 2 hari?”


Rara : “Emangnya


mau berapa hari? Jangan lama-lama dong.”


Bianca : “Biar bisa


gitu honeymoon ke Turki.”


Rara : “Jauh amat.”


Bianca : “Hehe...


bercanda. 2 hari juga lumayan, bisa ke villa sambil refreshing.”


Rara : “Kayaknya


aku juga perlu refreshing.”


Bianca : “Ayo pergi


sama-sama kalo gitu.”


Rara : “Terus


perusahaan siapa yang handle?”


Bianca : “Iya, ya.


Minta tolong papanya Arnold aja.”


Rara dan Bianca


mengangguk bersamaan dan melakukan tos.


Rara : “Saatnya


ngerepotin papa mertua. Hehe...”


Mama Mia cuma


senyum-senyum sambil mengawasi baby kembar yang tertidur lelap, tidak mendengar


pembicaraan menjurus dari wanita-wanita di dalam kamar itu.


🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).


__ADS_2