
Rio keluar dari kamarnya membawa baju kaos dan celana training. Ia melihat Kaori masih berdiri di depan kamar mandi.
Rio : "Nich baju ganti."
Kaori menerima baju itu dan masuk ke kamar mandi. Rio melirik gantungan handuk di sampingnya dan mengambilkan handuk bersih untuk Kaori.
Rio mengetuk pintu kamar mandi, Kaori membuka pintu sedikit, tangan dan rambutnya sedikit basah. Ia melongokkan kepalanya dari balik pintu menatap Rio.
Kaori : "Kenapa?"
Rio agak terpana melihat Kaori. Ia berdehem dan menyerahkan handuk padanya. Kaori mengambil handuk itu tapi Rio menahannya.
Kaori : "Apa lagi?"
Rio : "Boleh ikut masuk?"
Kaori merona mendengar kata-kata Rio. Ia mencoba menarik handuk dari tangan Rio, sampai Rio melepaskan handuk itu.
Rio : "Hmmppp... Lucu kali... Mukamu kenapa gitu? Malu? Hahahahaha..."
Kaori menatap judes Rio yang sibuk menertawakannya. Membalas apa yang ia lakukan sebelumnya. Brak! Kaori menutup pintu kamar mandi dengan kesal.
Rio masih tertawa, ia menyembunyikan wajahnya yang merona malu dengan kelakuannya sendiri. Keduanya deg-degan dengan kejadian yang baru saja mereka alami.
Setelah Kaori selesai ganti baju, ia keluar dari kamar mandi dan melihat Riri berdiri di depan kamarnya.
Riri : "Aduh, maaf ya. Bajumu jadi kotor. Sini aku cuciin dulu."
Kaori : "Uda aku bersihin kok. Tinggal di jemur bentar."
Mereka meletakkan tas Kaori di dalam kamar Riri dan turun ke bawah untuk menjemur baju Kaori. Hari itu Kaori memang sengaja ke rumah Riri karena mereka mau nonton sama-sama.
Rio sudah duduk di ruang keluarga ketika mereka bergabung. Ia melirik Kaori yang memakai bajunya dan tersenyum tipis. Baju itu agak kebesaran di tubuh Kaori.
Riri : "Kenapa kamu kasi bajumu? Bajuku kan ada di lemari."
Rio : "Males buka lemarimu ada yang pink, putih, pelangi." Rio menyebutkan warna pakaian dalam Riri.
Riri : "Emang ada yang pelangi?"
Rio : "Mejikuhibiniu. Aku uda pernah lihat semuanya. Dan gak mau lihat lagi."
Riri mencubit lengan Rio yang tertawa ngakak. Kaori ikutan senyum-senyum melihat saudara kembar itu asyik bercanda.
π»π»π»π»π»
Sebelumnya di dalam kamar Mia masih muntah-muntah. Mia sampai mendorong Rara karena bajunya bau bumbu bakar.
Mia : "Gak kuat... Jauh..."
Rara sempat sakit hati diusir Mia tapi Alex yang sudah menurunkan Mia di dalam kamar mandi, mengajak Rara keluar kamar mandi.
Alex : "Mamamu lagi ngidam. Tapi tolong jangan bilang sapa-sapa dulu ya. Biar gak stress."
Rara : "Oohhh... Kirain Rara salah apa."
Riri : "Mama hamil lagi?"
Alex : "Iya, Ri. Mama gak boleh stress."
Rara : "Kenapa gak bilang dari awal. Kirain cuma sakit biasa aja."
Alex : "Mama gak mau bilang karena takut kejadian kayak dulu. Jadi biarin dulu mama sendiri ya. Papa yang jagain. Kalian lanjut aja masak-masaknya. Dan ingat ya ini rahasia. Cuma keluarga kita yang boleh tahu."
Mereka menoleh mendengar suara muntahan Mia, Alex menyusul kedalam kamar mandi. Rara dan Riri keluar dari kamar Alex.
__ADS_1
π»π»π»π»π»
Balik lagi ke ruang keluarga, Kaori duduk di samping Rio yang tampak sibuk dengan ponselnya. Ia membuka ponselnya mencari jadwal film yang akan mereka tonton nanti.
Lagi asyik browsing, Kaori merasa Rio semakin dekat dengannya. Ia mengangkat kepalanya dan melihat Rio mengambil foto selfie mereka.
Kaori mengangkat tangannya membentuk huruf v dan tersenyum manis menghadap kamera. Ia mengambil ponsel Rio dan melihat hasilnya.
Kaori : "Ih, gak bagus anglenya. Ulang."
Kaori berpindah ke depan Rio dan mengambil foto selfie mereka yang sangat dekat. Ia bersandar di dada Rio yang langsung mengarahkan wajahnya ke arah pipi Kaori.
Kaori menekan tombol kamera dan melihat hasilnya.
Kaori : "Ini kalo diupload, pasti viral. Pas banget cuma wajahku yang kelihatan jelas."
Rio : "Upload aja. Aku gak keberatan."
Kaori : "Yee... Ntar dikira orang aku uda gak available lagi. Uda laku."
Rio : "Sapa juga yang mau sama kamu, selain..."
Kaori : "Sembarangan aja. Gini-gini aku punya penggemar tau."
Rio : "Gak percaya. Apa buktinya?"
Kaori membuka ponselnya, memperlihatkan chatnya dengan seorang laki-laki.
Kaori : "Nich kakak kelasku di SMA. Sampe sekarang masih chat. Orangnya ganteng loh."
Rio : "Gak mutu kali isi chatnya."
Kaori : "Biarin. Kirim fotonya dunk."
Rio : "Upload dong. Biar viral."
Kaori : "Ogah, eh follow aku, mana IG-mu?"
Rio : "Mana IG-mu?"
Mereka saling follow dan Kaori mencoba meng-upload foto mereka berdua untuk pertama kalinya.
Kaori : "Aku gak tag ya."
Rio : "Tag aja. Gak pa-pa."
Kaori : "Ganti fotonya kalo gitu. Jangan yang ini, terlalu intim."
Rio : "Oh ya. Lebih intim mana, foto itu atau kita sekarang?"
Kaori baru menyadari kalau ia masih bersandar pada tubuh Rio. Ia merasa nyaman bersandar disana, dada Rio terasa empuk dan lebar.
Kaori bergeser dari depan Rio yang nyengir lebar. Mereka duduk berdampingan kembali.
Rio : "Kok pindah?"
Kaori : "Tau ach."
Interaksi dan kemesraan Rio dan Kaori menarik perhatian penghuni rumah yang lainnya. Mereka senyum-senyum melihat Rio dan Kaori duduk sangat dekat. Kalau orang gak tahu pasti mengira mereka pacaran.
Riri juga merasa dicuekin dengan kedekatan mereka ikutan senyum-senyum. Entah apa yang akan terjadi kalau mereka jadian.
π»π»π»π»π»
Mia memeluk Rara saat mereka akan berangkat ke mall. Mia meminta maaf karena melanggar janjinya untuk shopping bersama. Ia merasa sangat lelah setelah banyak muntah.
__ADS_1
Rara : "Mama istirahat aja ya. Jaga kondisi. Kita bisa shopping kapan-kapan kok."
Mia : "Maaf ya, sayang. Kalau mama uda lebih kuat, kita shopping bareng."
Rara : "Iya, mah. Kita pergi dulu ya. Si kembar uda gak sabar."
Mia : "Hati-hati di jalan ya."
Rara keluar dari kamar Alex dan keluar menyusul si kembar yang sudah siap. Rio menyetir mobilnya mundur dari parkiran dan mereka siap berangkat.
Sampai di mall, Kaori turun duluan dari mobil. Rio juga turun menyusul Kaori. Mereka berdiri di belakang mobil menunggu Riri dan Rara keluar dari mobil.
Rio melihat rambut Kaori agak berantakan. Ia masih menyimpan ikat rambut KaoriΒ di saku celananya dan tidak mau mengembalikannya.
Tangan Rio terulur merapikan rambut Kaori, membuat gadis itu memandangnya.
Kaori : "Kenapa? Rambutku berantakan?"
Rio : "Iya, uda aku rapiin. Cantik."
Kaori : "Ach, kamu gak tulus."
Rio : "Maksudmu?"
Kaori : "Abis muji ntar ngledek lagi."
Rio : "Beneran kok kamu cantik."
Kaori : "Gombal."
Rara & Riri : "Ciieee..."
Rara : "Duluan aja yuks. Kita ganggu kayaknya."
Kaori : "Apaan sich kak. Gak ada gitu."
Mereka berjalan beriringan masuk ke dalam mall. Rio berjalan di belakang mereka membiarkan ketiga perempuan itu berjalan di depannya.
Film yang mereka ingin tonton akan diputar setengah jam lagi. Kaori sudah memesan tiket secara online dan mereka tinggal membayarnya saat sampai di loket.
Kaori mengantri di depan loket sendirian. Rio ke toilet, Rara dan Riri membeli minuman dan popcorn.
Seorang laki-laki yang ikut mengantri di belakang Kaori, menggoda gadis itu. Kaori tidak menanggapi dan hanya tersenyum sekilas. Saat laki-laki itu mulai berani memegang tangan Kaori, Rio menepuk pundak laki-laki itu.
Rio : "Bro, mau apa sama pacarku?"
Kaori merasakan pinggangnya dirangkul Rio. Laki-laki itu beringsut pergi melihat tubuh kekar Rio. Kaori menatap Rio,
Rio : "Kamu gak pa-pa."
Kaori : "Iya."
Rio melepaskan tangannya dari pinggang Kaori dan berdiri di sampingnya. Wajah keduanya merona lagi.
π»π»π»π»π»
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain βMenantu untuk Ibuβ, βPerempuan IDOLβ, βJebakan Cintaβ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya para reader.
Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya..
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
π²π²π²π²π²
__ADS_1