Duren Manis

Duren Manis
Extra part 48


__ADS_3

Extra part 48


Tangan Bilar mencari-cari retsleting gaun Keira.


Gadis itu kegelian saat tangan Bilar menyentuh ketiaknya. Suara tawa Keira


terdengar sampai keluar kamar. Rupanya karena kepo, kedua orang tua mereka


memutuskan menguping apa yang terjadi di dalam kamar Keira. Jordan yang ingin


ikut, langsung ditahan Pak Jang.


“Kenapa aku nggak boleh ikut?!” protes Jordan.


“Tuan muda, belum cukup umur untuk bisa ikut


sekarang,” kata Pak Jang sambil menggiring tuan mudanya ke kamarnya sendiri.


Jordan mendengus kesal, padahal ia ingin tahu apa


yang dilakukan Keira dan Bilar di dalam kamar kakaknya itu.


“Sepertinya mereka sudah baikan. Apa kita lanjutkan


saja pembicaraan tentang pernikahan mereka?” tanya Bianca setelah Jordan dibawa


pergi.


“Sebaiknya kita tanya dulu mereka. Siapa tahu masih


mau menikmati masa pacaran dulu. Mereka masih terlalu muda untuk menikah,”


sahut Ilham bijak.


“Kamu nich gimana sich? Kalo mereka cepet nikah, kita


kan bisa cepet dapet cucu,” protes Bianca.


“Sayang, nanti keriputmu nambah loh. Kita santai


saja dulu ya,” bisik Ilham berusaha menenangkan Bianca.


Bianca tidak berkomentar lagi, ia kembali


menempelkan telinganya ke pintu kamar Keira. Terdengar suara-suara dari dalam


sana.


“Bilar, masukin


dulu. Jangan ditarik lagi. Pelan-pelan, dong,” kata Keira dari dalam sana.


“Sempit


banget, susah masuknya. Ntar aku goyangin dikit,” sahut Bilar.


Bianca dan Katty saling pandang lalu menguping


lagi. Pikiran mereka sudah traveling memikirkan yang tidak-tidak. “Yank, mereka


bilang apa?” tanya Jodi.


“Tunggu, Bilar lagi goyang,” sahut Katty. Jodi dan


Ilham saling pandang. Apa maksud kata-kata Katty? Mereka berempat langsung


menempelkan telinga masing-masing ke pintu kamar. Empat orang dewasa nemplok di


pintu kamar Keira kayak cicak di dinding.


“Ouch! Pelan


dikit. Sini, biar aku aja,” kata Keira lagi.


“Nanggung,


bentar lagi nyampe,” sahut Bilar.


Bianca dan Katty yang tidak sabaran, membuka pintu


kamar Keira dan memergoki mereka berdua sedang duduk di sofa. Keira menoleh


menatap semua orang di pintu kamarnya. Sementara Bilar tetap sibuk dengan gaun


Keira.


“Nah, udah kebuka. Ribet banget gaunmu nich,” keluh


Bilar tanpa menyadari kehadiran orang tuanya. Ia ikut menoleh ketika Keira


menatap kearah pintu. Keduanya menunggu semacam kata sambutan, kata tanya, atau


kata-kata yang sejenisnya dari para orang tua mereka.


“Tuch, kan. Aku salah masuk kamar. Habis sama semua


pintunya. Kamar kita dimana, yank?” tanya Katty yang pura-pura lupa.


“Entahlah. Coba kita cek di sebelah,” sahut Jodi


sama pura-pura lupa ingatan.


Keira dan Bilar saling pandang bingung dengan


tingkah kedua orang tua mereka. Baru saja masuk, mereka sudah keluar lagi dari


kamar Keira.


“Apa mereka menguping kita?” tanya Keira.


Bilar hanya mengangkat bahunya. Ia masih penasaran


dengan gaun yang dipakai Keira. Pria itu mulai menarik gaun Keira hingga


terlepas dari tubuh gadis yang ia cintai itu. Bilar fokus merapikan gaun yang


barusan dipakai Keira sementara gadis itu beranjak ke lemarinya dan mengambil

__ADS_1


pakaian yang lebih santai.


Setelah Keira duduk lagi di dekat Bilar, keduanya


mulai mengobrol tentang banyak hal. Keira bersandar di sofa, ia masih mendengarkan


suara Bilar. Tapi rasa kantuk mulai menyerangnya. Selama beberapa hari ini ia


sering tidur larut malam dan bangun terlalu awal. Mendengar suara Bilar membuat


Keira merasa tenang. Perlahan mata Keira mulai terpejam. Ia tertidur lelap di


sofa kamarnya.


**


Keributan di depan kamarnya, membangunkan Keira


yang masih tidur. Gadis itu menguap lebar sambil merentangkan kedua tangannya


ke atas.


“Kak Bilar! Bangun dong!” teriak Jordan sambil


menggedor pintu kamar Keira.


Keria kebingungan mencari sosok Bilar di kamarnya.


Kamar itu sepi, hanya ada dirinya disana. Keira sempat berpikir apa mungkin Jordan


berjalan sambil tidur dan mengigau.


“Kak Bilar! Bangun! Ayo cepat kita pergi!” teriak


Jordan lagi.


Akhirnya Keira kesal mendengar suara Jordan, ia


menyibak selimutnya lalu berjalan mendekati pintu kamar. Setelah membuka pintu


kamarnya, Keira berkacak pinggang di depan Jordan.


“Jordan! Kamu ngapain nyari Bilar disini? Cari di


rumahnya sana,” usir Keira.


Suara seseorang dibelakang Keira, mengagetkan gadis


itu.


“Tunggu, bro. Kakak pake baju dulu,” sahut Bilar yang


baru keluar dari kamar mandi.


“Yei...!! Asyik. Aku tunggu di bawah ya, kak.”


Jordan berlalu dari hadapan Keira tanpa basa-basi lagi.


Keira melongo melihat Bilar berjalan melewatinya


“Kamu... nginep disini semalem? tanya Keira


bingung.


“Iya. Kamu ketiduran di sofa, aku angkat kamu ke


atas tempat tidur. Trus ijin sama mama sama papamu kalau aku mau nginep disini.


Eh, dikasi tuch. Hebat kan aku.” Bilar memuji dirinya sendiri.


Keira memanyunkan bibir bawahnya, tangannya refleks


memeriksa tubuhnya. Bagaimana bisa Keira tidak merasakan apa-apa saat Bilar


menggendongnya ke tempat tidur. Bukan hanya Jordan yang sudah disogok Bilar.


Sekarang orang tuanya juga berpihak pada pria itu. Keira mengeluh tentang


kebebasannya.


“Selamat tinggal kebebasanku. Trus, kalian mau


kemana sekarang?” tanya Keira kepo.


“Aku janji mau ajak Jordan jalan-jalan ke taman


hiburan. Kamu mau ikut?” tanya Bilar


Tapi Keira sudah masuk ke bawah selimutnya lagi.  Ia mengeluh masih sangat ngantuk dan ingin


lanjut tidur lagi. Bilar tidak bisa berbuat apa-apa ketika mendengar dengkuran


halus Keira. Jelas sekali terlihat kalau Keira sangat mengantuk. Bilar segera menyusul


Jordan ke lantai bawah setelah ia mengecup kening Keira.


**


Keira terbangun sebelum jam makan siang. Ia mandi


lalu berganti pakaian sebelum turun ke lantai bawah. Tampak Katty dan Jodi


sedang duduk di meja makan. Sepertinya papa dan mamanya itu sedang bertengkar.


“Siang ma, pa,” sapa Keira sambil menarik kursi.


Hening. Tidak ada yang menjawab Keira. Perasaan


semalem masih akur-akur saja, apa yang terjadi sebenarnya.


“Pokoknya kalau sampai ketahuan kamu bohongin aku,


nggak ada ampun. Kita pisah,” ucap Katty sambil menunjuk-nunjuk Jodi.


“Aku kan sudah bilang mau selidiki dulu. Kamu yang


keburu emosi,” sahut Jodi.

__ADS_1


“Ada apa sich, pah, mah. Kenapa mama sama papa


berantem gini?” tanya Keira lebih cepat.


Keduanya malah diam tidak menjawab Keira. Gadis itu


kesal, lalu bangkit dari duduknya dan melangkah kembali mendekati tangga. Jodi


yang melihat Keira marah, mengejar putrinya itu sampai ke kamarnya lagi.


“Kei, jangan marah. Mama cuma lagi emosi!” teriak


Jodi dramatis.


Keira mengerutkan keningnya mendengar teriakan


Jodi, untuk apa papanya itu berteriak seperti itu setelah mengejarnya.


Terdengar suara piring pecah di bawah sana. Keduanya menoleh menatap Katty yang


menendang kursi hingga jatuh, lalu pergi begitu saja.


“Hihihi...,” tawa Jodi mirip mba kunti.


“Papa kenapa ketawa? Mama marah kenapa sih?” tanya


Keira kepo.


Jodi mendorong Keira masuk ke kamarnya dan menutup


pintu. Mereka duduk di sofa dan Jodi malah lanjut tertawa.


“Hahahaha... mamamu tuch lucu banget,” kata Jodi di


sela tawanya.


“Apa papa udah gila? Mama marah papa bilang lucu.


Sebenarnya ada apa?” tanya Keira mulai kesal lagi pada papanya.


Jodi mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan


video yang sepertinya dikirimkan seseorang yang tidak dikenal. Keira menonton


video berdurasi tiga menit itu dan kemudian melotot pada papanya.


“Apa-apaan ini, pah? Papa selingkuh dari mama?”


tanya Keira dengan mata berkaca-kaca.


Jodi bukannya menjawab putrinya, malah tertawa


terpingkal-pingkal melihat reaksi Keira. Gadis itu jadi berpikir kalau video


itu tidak benar adanya. Jodi sedang mengerjai Katty.


“Pah, serius nich. Jangan buat aku takut, pah,”


kata Keira masih bingung.


“Kei, papa sengaja buat video seperti ini untuk ngprank


mamamu. Sebentar lagi ulang tahun pernikahan kami. Kamu lupa ya?” tanya Jodi.


Keira nyengir lebar, ia lupa anniversary pernikahan


orang tuanya. Mereka selalu merayakannya bersama di rumah besar itu. Tanpa tamu


undangan, hanya mereka berempat dan seluruh pekerja di rumah itu akan makan


bersama sambil mengobrol. Jadi apa yang membuat anniversary kali ini sangat


spesial?


“Papa cuma ingin anniversary kali ini lebih spesial


lagi. Karena kamu sudah punya calon suami. Jordan juga sudah besar. Papa ingin


menunjukkan sama mamamu kalau papa akan selalu mencintai mamamu selamanya.


Tidak ada wanita lain,” jelas Jodi membuat Keira terharu.


“Papa sweet banget sich. Apa Bilar juga bisa kayak


papa gini ya?” tanya Keira sambil mengkhayal.


“Mungkin lebih parah. Susah loh menjaga nafsu kalau


pria dan wanita berada dalam satu kamar semalaman. Hanya pria yang tulus


mencintai pacarnya yang tetap menjaga dan bukannya merusak pacarnya. Bilar itu


sangat mencintai kamu, Kei,” kata Jodi sambil mengelus rambut Keira.


“Apa dulu papa juga begitu sama mama?” tanya Keira.


Jodi menggaruk kepalanya, awal pertemuannya dengan


Katty tidak sesederhana apa yang dipikirkan Keira. Sampai ia jatuh cinta pada


istrinya itu dan melakukannya sebelum pernikahan. Jodi tertawa melihat ekspresi


kaget Keira yang akhirnya tahu kalau ia diproduksi sebelum kedua orang tuanya menikah.


“Apa mama nggak malu, pah? Papa maksa mama ya? Atau


sebaliknya?” tanya Keira kepo.


“Nggak ada pemaksaan. Papa sama mama memang awalnya


ada perjanjian yang saling menguntungkan. Mamamu perlu uang saat itu dan papa


perlu partner s***. Tapi papa pertama kali melakukannya dengan mamamu saat kami


sudah saling jatuh cinta. Maka jadilah kamu, putri papa yang paling cantik,”


kata Jodi.

__ADS_1


__ADS_2