
Kehilangan lagi
“Pasien yang mana?”tanya Rio mulai gusar.
“Pasien yang pendarahan. Ibu Gadis.”kata suster
itu.
“Sialan! Pasti dia orangnya! Pah, dia client kita
juga. Manta. Om Romi pasti tahu dimana ******** itu tinggal!”teriak Rio dengan
emosi.
“Kamu yakin, Rio? Coba kamu tanya Gadis dulu.
Jangan emosi.”kata Jodi.
Rio mengikuti suster masuk dan menemui Gadis yang
masih mempertahankan kesadarannya. Rio menangis melihat Gadis merintih
kesakitan dan mencoba menenangkannya.
“Rio... sakit...”rintih Gadis.
“Iya, sayang. Tolong kuatlah. Siapa yang melakukan
ini?”tanya Rio dengan hati-hati.
“Manta. Suara dia...”Gadis tidak bisa melanjutkan
kata-katanya.
Ia pingsan karena kehilangan banyak darah. Dokter
meminta Rio keluar dari UGD dan menunggu di luar. Rio menemui papanya kembali,
“Memang Manta, pah. Gadis bilang gitu sebelum
pingsan.”kata Rio geram.
“Kalau gitu, om sama Rio tetap disini. Biar aku
yang tangkap ******** itu. Om, kasi detail informasinya ya. Sebaiknya om telpon
lagi ke salon itu. Siapa tahu ada petunjuk disana. Dia gak mungkin beraksi
sendirian.”kata Jodi.
Alex menelpon pemilik salon sementara Rio
mengirimkan kontak Jodi pada Romi dan meminta Romi mengirimkan alamat rumah dan
perusahaan Manta pada Jodi.
“Keluarga pasien ibu Mia.”panggil suster.
Rio mendekati suster itu yang memberikan resep obat
untuk ditebus. Alex memberikan dompetnya pada Rio karena ia masih menelpon
pemilik salon yang sedang menginterogasi therapist yang membantu Manta. Rio
berlari ke apotek di seberang rumah sakit dan kembali tak lama kemudian.
“Pemilik salon bilang ada seorang wanita yang
membayarnya, tapi dia gak tahu siapa wanita itu. Mereka sedang memeriksa CCTV
untuk mencari tahu wajah wanit itu.”
“Pah, papa ada dendam sama orang gak sich?”tanya
Rio.
“Gak ada. Kenapa kamu nanya gitu?”
“Trus kenapa Manta mau nyelakain mama sama Gadis? Mama
hampir diperkosa, pah. Gadis juga dianiaya. Papa yakin gak punya musuh?”
Alex mengingat kalau memang ia punya banyak saingan
bisnis, tapi tidak sampai saling mencelakai seperti itu. Pemilik salon
mengirimkan sebuah foto pada Alex dan bertanya apa Alex mengenai wanita itu. Jelas
__ADS_1
sekali terlihat kalau itu Linda.
“Papa ngerti sekarang. Ini perbuatan Linda. Tapi
apa hubungannya dengan Manta?”tanya Alex masih bingung.
“Siapa Linda?”tanya Rio.
“Wanita yang pernah mengejar papa, tapi papa tolak.
Papa harus tanya dia langsung, tapi gimana?”
“Papa kasi tau kak Jodi. Biar kak Jodi yang ngurus
dulu. Kita harus pastikan keadaan mama sama Gadis dulu.”
Alex mengirimkan chat pada Jodi untuk mampir ke
salon dan menangkap Linda untuk di interogasi. Jodi menelpon Arnold untuk
membantunya menangkap Linda dan Manta. Beberapa body guard juga bersama mereka.
Dokter memanggil mereka berdua masuk ke UGD lagi.
Pertama dokter membahas masalah Mia. Sepertinya Mia sudah minum sejenis obat
perangsang yang dicampur dengan sejenis narkoba. Ia hampir over dosis karena
obat itu.
“Maksud dokter, istri saya hampir meninggal?”tanya
Alex cemas.
“Ya. Tapi ibu Mia dibawa kesini tepat waktu.
Keadaannya sudah stabil sekarang. Tinggal menunggu sadar.”
Alex menghembuskan nafasnya sedikit lega. Ia memegangi
keningnya yang sedikit sakit Rio menepuk punggu Alex untuk menenangkannya.
“Bagaimana keadaan Gadis, dokter?”tanya Rio.
“Pasien belum selesai ditangani oleh dokter kandungan.
tempat periksa Gadis.
Alex giliran mengusap punggung Rio, menenangkannya.
“Pah, lihat mama dulu sana. Rio nunggu disini.”kata
Rio pada Alex.
Alex beranjak ke tempat periksa Mia, ia melihat
istrinya itu masih belum sadar. Alex mengusap air mata yang mengalir di pipi
Mia.
“Sayang, maafkan aku. Harusnya aku bisa
melindungimu. Cepatlah bangun, Mia.”
Rara yang mendapat kabar tentang keadaan Mia dan
Gadis, menyusul ke rumah sakit. Ia memanggil Rio dan memeluk adiknya itu.
“Rio, mana mama?”tanya Rara.
Rio menunjuk tempat Alex berdiri, ketika Rara
hampir beranjak mendekati papanya, dokter sudah kembali duduk di depan Rio. Rara
kembali duduk di samping Rio, menunggu dokter bicara.
“Keadaan Ibu Gadis masih kritis. Dia kehilangan
banyak darah dan sedang dilakukan transfusi saat ini. Maaf, pak. Kami tidak
bisa menyelamatkan bayi di kandungannya.”ucap dokter.
Rara menahan tubuh Rio yang hampir jatuh, shock
mendengar kabar calon anaknya sudah pergi. Rio menangis dalam pelukan Rara.
Rasa sakit kehilangan lagi-lagi ia rasakan.
__ADS_1
“Satu lagi, pak. Kemungkinan Ibu Gadis bisa hamil
lagi sangat kecil. Saya harap bapak bisa menerima kenyataan ini.”kata dokter
lagi.
“Dokter yakin? Ini anak pertama mereka. Apa tidak
ada yang bisa dilakukan?”tanya Rara.
“Maafkan saya, bu. Kami sudah berusaha melakukan
yang terbaik.”kata dokter.
“Aku hanya mau Gadis. Kapan dia sadar, dokter?”tanya
Rio sambil mengusap air matanya.
“Tapi Rio, kemungkinanannya kalian tidak bisa punya
anak lagi.”kata Rara.
“Aku gak peduli, kak. Anak itu sudah pergi, tapi
kalau sampai Gadis juga pergi. Aku gak sanggup hidup lagi, kak. Kaori pergi, Gadis
gak boleh pergi. Aku akan menjaga Gadis selamanya meskipun dia gak bisa ngasih
aku anak.”
Rio kembali menangis sedih, dokter dan Rara yang
melihat kepedihan Rio, ikut menitikkan air mata juga. Suster yang melihat Rio
menangis, juga jadi terharu.
“Tidak ada yang boleh ngasi tahu Gadis. Apapun yang
dokter katakan hari ini. Gadis tidak boleh tahu. Dia akan sembuh dan tidak
perlu tahu hal ini. Dokter bisa bantu saya, kan. Kak Rara, jangan kasih tahu
Gadis. Rio mau bahagia sama Gadis, kak.”
“Baik, pak. Saya akan bantu.”kata dokter.
“Iya, Rio. Kakak tidak akan bilang siapa-siapa.”kata
Rara sambil memeluk Rio.
Berapa banyak lagi kepedihan yang harus dirasakan Rio?
Baru saja kebahagiaan pernikahannya akan segera terwujud, Rio harus menghadapi
kemalangan lagi.
Rara mengeratkan pelukannya pada Rio. Ia mencoba
membagi penderitaan adiknya itu. Tanpa mereka sadari ada satu orang lagi yang
terluka mendengar kenyataan kalau Gadis tidak bisa hamil lagi. Aira yang sedang
berada di kantor saat Alex menelponnya dan mengabari tentang keadaan Gadis,
segera menyusul ke rumah sakit.
Ia masuk ke UGD tepat saat dokter mengatakan
tentang keadaan Gadis dan mendengar semuanya. Rasa haru ditahannya untuk
melihat reaksi Rio. Apa pria itu akan mencampakkan Gadis yang tidak sempurna?
Tapi Rio tetap teguh mempertahankan Gadis. Bahkan
berencana menutupi semua kenyataan itu. Aira beranjak keluar dari UGD. Ia duduk
di ruang tunggu untuk menenangkan dirinya.
“Nak, kamu beruntung bisa mencintai pria seperti Rio.
Ia bisa menerima semua kekuranganmu tanpa mengeluh. Apa mama harus mengatakan
yang sebenarnya, nak? Atau menyimpan rahasia ini juga.”
*****
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
__ADS_1
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.