Duren Manis

Duren Manis
Kehilangan lagi


__ADS_3

Kehilangan lagi


“Pasien yang mana?”tanya Rio mulai gusar.


“Pasien yang pendarahan. Ibu Gadis.”kata suster


itu.


“Sialan! Pasti dia orangnya! Pah, dia client kita


juga. Manta. Om Romi pasti tahu dimana ******** itu tinggal!”teriak Rio dengan


emosi.


“Kamu yakin, Rio? Coba kamu tanya Gadis dulu.


Jangan emosi.”kata Jodi.


Rio mengikuti suster masuk dan menemui Gadis yang


masih mempertahankan kesadarannya. Rio menangis melihat Gadis merintih


kesakitan dan mencoba menenangkannya.


“Rio... sakit...”rintih Gadis.


“Iya, sayang. Tolong kuatlah. Siapa yang melakukan


ini?”tanya Rio dengan hati-hati.


“Manta. Suara dia...”Gadis tidak bisa melanjutkan


kata-katanya.


Ia pingsan karena kehilangan banyak darah. Dokter


meminta Rio keluar dari UGD dan menunggu di luar. Rio menemui papanya kembali,


“Memang Manta, pah. Gadis bilang gitu sebelum


pingsan.”kata Rio geram.


“Kalau gitu, om sama Rio tetap disini. Biar aku


yang tangkap ******** itu. Om, kasi detail informasinya ya. Sebaiknya om telpon


lagi ke salon itu. Siapa tahu ada petunjuk disana. Dia gak mungkin beraksi


sendirian.”kata Jodi.


Alex menelpon pemilik salon sementara Rio


mengirimkan kontak Jodi pada Romi dan meminta Romi mengirimkan alamat rumah dan


perusahaan Manta pada Jodi.


“Keluarga pasien ibu Mia.”panggil suster.


Rio mendekati suster itu yang memberikan resep obat


untuk ditebus. Alex memberikan dompetnya pada Rio karena ia masih menelpon


pemilik salon yang sedang menginterogasi therapist yang membantu Manta. Rio


berlari ke apotek di seberang rumah sakit dan kembali tak lama kemudian.


“Pemilik salon bilang ada seorang wanita yang


membayarnya, tapi dia gak tahu siapa wanita itu. Mereka sedang memeriksa CCTV


untuk mencari tahu wajah wanit itu.”


“Pah, papa ada dendam sama orang gak sich?”tanya


Rio.


“Gak ada. Kenapa kamu nanya gitu?”


“Trus kenapa Manta mau nyelakain mama sama Gadis? Mama


hampir diperkosa, pah. Gadis juga dianiaya. Papa yakin gak punya musuh?”


Alex mengingat kalau memang ia punya banyak saingan


bisnis, tapi tidak sampai saling mencelakai seperti itu. Pemilik salon


mengirimkan sebuah foto pada Alex dan bertanya apa Alex mengenai wanita itu. Jelas

__ADS_1


sekali terlihat kalau itu Linda.


“Papa ngerti sekarang. Ini perbuatan Linda. Tapi


apa hubungannya dengan Manta?”tanya Alex masih bingung.


“Siapa Linda?”tanya Rio.


“Wanita yang pernah mengejar papa, tapi papa tolak.


Papa harus tanya dia langsung, tapi gimana?”


“Papa kasi tau kak Jodi. Biar kak Jodi yang ngurus


dulu. Kita harus pastikan keadaan mama sama Gadis dulu.”


Alex mengirimkan chat pada Jodi untuk mampir ke


salon dan menangkap Linda untuk di interogasi. Jodi menelpon Arnold untuk


membantunya menangkap Linda dan Manta. Beberapa body guard juga bersama mereka.


Dokter memanggil mereka berdua masuk ke UGD lagi.


Pertama dokter membahas masalah Mia. Sepertinya Mia sudah minum sejenis obat


perangsang yang dicampur dengan sejenis narkoba. Ia hampir over dosis karena


obat itu.


“Maksud dokter, istri saya hampir meninggal?”tanya


Alex cemas.


“Ya. Tapi ibu Mia dibawa kesini tepat waktu.


Keadaannya sudah stabil sekarang. Tinggal menunggu sadar.”


Alex menghembuskan nafasnya sedikit lega. Ia memegangi


keningnya yang sedikit sakit Rio menepuk punggu Alex untuk menenangkannya.


“Bagaimana keadaan Gadis, dokter?”tanya Rio.


“Pasien belum selesai ditangani oleh dokter kandungan.


tempat periksa Gadis.


Alex giliran mengusap punggung Rio, menenangkannya.


“Pah, lihat mama dulu sana. Rio nunggu disini.”kata


Rio pada Alex.


Alex beranjak ke tempat periksa Mia, ia melihat


istrinya itu masih belum sadar. Alex mengusap air mata yang mengalir di pipi


Mia.


“Sayang, maafkan aku. Harusnya aku bisa


melindungimu. Cepatlah bangun, Mia.”


Rara yang mendapat kabar tentang keadaan Mia dan


Gadis, menyusul ke rumah sakit. Ia memanggil Rio dan memeluk adiknya itu.


“Rio, mana mama?”tanya Rara.


Rio menunjuk tempat Alex berdiri, ketika Rara


hampir beranjak mendekati papanya, dokter sudah kembali duduk di depan Rio. Rara


kembali duduk di samping Rio, menunggu dokter bicara.


“Keadaan Ibu Gadis masih kritis. Dia kehilangan


banyak darah dan sedang dilakukan transfusi saat ini. Maaf, pak. Kami tidak


bisa menyelamatkan bayi di kandungannya.”ucap dokter.


Rara menahan tubuh Rio yang hampir jatuh, shock


mendengar kabar calon anaknya sudah pergi. Rio menangis dalam pelukan Rara.


Rasa sakit kehilangan lagi-lagi ia rasakan.

__ADS_1


“Satu lagi, pak. Kemungkinan Ibu Gadis bisa hamil


lagi sangat kecil. Saya harap bapak bisa menerima kenyataan ini.”kata dokter


lagi.


“Dokter yakin? Ini anak pertama mereka. Apa tidak


ada yang bisa dilakukan?”tanya Rara.


“Maafkan saya, bu. Kami sudah berusaha melakukan


yang terbaik.”kata dokter.


“Aku hanya mau Gadis. Kapan dia sadar, dokter?”tanya


Rio sambil mengusap air matanya.


“Tapi Rio, kemungkinanannya kalian tidak bisa punya


anak lagi.”kata Rara.


“Aku gak peduli, kak. Anak itu sudah pergi, tapi


kalau sampai Gadis juga pergi. Aku gak sanggup hidup lagi, kak. Kaori pergi, Gadis


gak boleh pergi. Aku akan menjaga Gadis selamanya meskipun dia gak bisa ngasih


aku anak.”


Rio kembali menangis sedih, dokter dan Rara yang


melihat kepedihan Rio, ikut menitikkan air mata juga. Suster yang melihat Rio


menangis, juga jadi terharu.


“Tidak ada yang boleh ngasi tahu Gadis. Apapun yang


dokter katakan hari ini. Gadis tidak boleh tahu. Dia akan sembuh dan tidak


perlu tahu hal ini. Dokter bisa bantu saya, kan. Kak Rara, jangan kasih tahu


Gadis. Rio mau bahagia sama Gadis, kak.”


“Baik, pak. Saya akan bantu.”kata dokter.


“Iya, Rio. Kakak tidak akan bilang siapa-siapa.”kata


Rara sambil memeluk Rio.


Berapa banyak lagi kepedihan yang harus dirasakan Rio?


Baru saja kebahagiaan pernikahannya akan segera terwujud, Rio harus menghadapi


kemalangan lagi.


Rara mengeratkan pelukannya pada Rio. Ia mencoba


membagi penderitaan adiknya itu. Tanpa mereka sadari ada satu orang lagi yang


terluka mendengar kenyataan kalau Gadis tidak bisa hamil lagi. Aira yang sedang


berada di kantor saat Alex menelponnya dan mengabari tentang keadaan Gadis,


segera menyusul ke rumah sakit.


Ia masuk ke UGD tepat saat dokter mengatakan


tentang keadaan Gadis dan mendengar semuanya. Rasa haru ditahannya untuk


melihat reaksi Rio. Apa pria itu akan mencampakkan Gadis yang tidak sempurna?


Tapi Rio tetap teguh mempertahankan Gadis. Bahkan


berencana menutupi semua kenyataan itu. Aira beranjak keluar dari UGD. Ia duduk


di ruang tunggu untuk menenangkan dirinya.


“Nak, kamu beruntung bisa mencintai pria seperti Rio.


Ia bisa menerima semua kekuranganmu tanpa mengeluh. Apa mama harus mengatakan


yang sebenarnya, nak? Atau menyimpan rahasia ini juga.”


*****


Klik profil author ya, ada novel karya author yang

__ADS_1


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.


__ADS_2