Duren Manis

Duren Manis
DM2 – Pertemuan rahasia


__ADS_3

DM2 – Pertemuan rahasia


Pikiran ruwet Gadis terlihat oleh Mia,


“Gadis, kamu mikirin apa sich?”


Gadis menatap Mia, ganti melirik si kembar


yang sudah selesai makan tapi masih mau bergabung mendengarkan pembicaraan


orang dewasa. Mia yang mengerti kalau Gadis tidak mau bicara karena ada si


kembar, meminta mereka masuk ke kamarnya.


“Anak-anak, balik ke kamar ya, udah malem.”


“Yah, mama gak seru.”kata Reva tapi


beranjak dari kursinya juga. Rava mengikuti kembarannya tanpa komentar.


“Anak-anak itu, sejak kapan mereka jadi


kepo seperti itu. Kadang aku bingung menjawab pertanyaan mereka. Bikin stress


aja.”Mia ngdumel.


“Lebih baik gitu, mah. Daripada gak punya


anak.”celetuk Gadis. Ia langsung menatap mertuanya dan menggeleng. “Nggak, mah.


Aku gak mikirin itu. Aku mikirin yang lain. Tadi...” Gadis hampir mengatakan


tentang apa yang ia dengar dari kamar Kinanti, tapi ibu hamil itu tiba-tiba


memanggilnya.


“Gadis, tolong ambilin susu dong.”teriak


Kinanti dari lantai 2.


“Iya, ntar.”balas Gadis. Ia beranjak dari


duduknya membuatkan segelas susu untuk Kinanti. Mia melirik piring Gadis yang


belum habis. Dilihatnya Gadis berjalan menaiki tangga membawa segelas susu di


tangannya.


“Hais, dia bahkan belum selesai makan.


Kinanti itu gak bisa bikin susu sendiri ya. Nyebelin banget.”


Alex yang sejak tadi hanya menyimak,


“Tenang, sayang. Ntar juga Gadis turun lagi.”


“Mas, mas gak curiga ya sama Kinanti?”


“Maksudmu?”


“Aku ngrasa ada yang aneh sama kejadian


ini. Harusnya kita selidiki dulu dan bukannya menekan Rio seperti itu. Astaga!


Apa karena aku?”


Alex menatap bingung pada Mia, apalagi yang


dipikirkan istrinya itu. Bukti sudah jelas kalau mereka memang tidur bersama.


Waktu kehamilan Kinanti juga cocok dengan saat mereka pergi bersama. Kecuali


Kinanti punya kekasih, mereka bisa mencurigai itu.


“Apa karena aku gak bela Rio, mas? Dia jadi


depresi seperti ini.”tanya Mia lagi.


Alex menenangkan Mia yang mulai panik. “Tenang,


sayang. Jadi kamu mulai curiga sama Kinanti?”


“Aku...”Mia menghentikan ucapannya, Gadis


sudah kembali bergabung bersama mereka.


Mereka bertiga saling bertatapan bingung,


“Kenapa mah? Pah?” tanya Gadis.


“Nggak. Cepat selesaiin makanmu. Mama mau


bicara ntar.”saut Mia.


Alex mengangguk, ia lebih dulu kembali ke


kamarnya. Tak sampai 10 menit, Gadis dan Mia sudah bergabung di kamar Alex. Mia


menarik tangan Gadis, duduk di sofa. “Ada apa sich, mah?”


“Gadis, kamu gak merasa aneh sama Kinanti?”

__ADS_1


Gadis mengingat sesuatu, “Iya, sih mah.


Pertama foto yang dia kasi waktu itu ada foto dia sama Rio masuk ke kamar


hotel. Foto itu gak burem seperti foto dari CCTV, jelas banget. Padahal yang


lain dari CCTV. Sepertinya sengaja ngambil foto itu biar keliatan jelas mereka


berdua. Trus yang kedua, tadi Gadis gak sengaja denger dia lagi manggil nama


Endy. Gadis merasa aneh aja. Padahal mungkin itu salah satu temennya.”


“Apa kita minta tolong Riri sama Rara


ya?”tanya Mia. “Mas gak bisa bantu selidiki?”


“Sejauh ini yang aku temukan cuma dia


sekretaris Rio dan tinggal di apartment yang cukup elit. Sepertinya dari


keluarga kaya juga. Gaji sekretaris gak mungkin bisa bayar sewa per bulannya.”


“Oh ya, pah. Rio pernah cerita kalau


Kinanti itu sepupunya Kaori.”


“Apa?!”jerit Mia kaget. “Pantesan mukanya


familiar ya. Tapi kayaknya dulu suaranya Kaori gak gitu dech.”


“Apa jangan-jangan gara-gara mirip itu, Rio


khilaf?”tanya Alex.


Mereka bertiga terdiam lagi. “Mama mau


bicara sama Riri sama Rara besok.”


“Sekalian aja mama ketemuan sama kak Jodi.


Kasi tau kalo Kinanti sepupunya kak Katty. Masa kak Katty gak kenal.”


Mia manggut-manggut. Gadis keluar dari


kamar Mia, naik ke lantai 2 setelah mengambil teko air minum. Ia membuka pintu


kamar dan mendapati Kinanti hampir mencium Rio yang terbaring diatas ranjang.


Tangan Gadis mengepal menahan amarah dan sedihnya melihat pemandangan itu.


“Ehem, belum tidur kamu?”tanya Gadis seolah


tidak melihat hal yang hampir terjadi di depan matanya.


sayang, aku tidur dulu ya.”


Gadis membelakangi Rio dan Kinanti, tidak


mau melihat apa yang dilakukan Kinanti pada Rio. Biar bagaimanapun, Kinanti


belum jadi istri sah Rio, jadi mereka masih tidur di kamar yang berbeda. Tapi


Gadis tidak bisa melarang Kinanti mendekati Rio karena anak di dalam


kandungannya.


Entah itu anak Rio atau anak orang lain,


mereka belum tahu kebenarannya.


“Aku tidur dulu ya, Gadis.”


“Hmm.”saut Gadis tanpa menoleh. Kinanti


tersenyum senang melihat Gadis cemburu.


Gadis menarik nafas menenangkan dadanya


yang bergemuruh. Ia duduk di samping Rio, mengambil tisu basah lalu mengusap


wajah dan tangan Rio sampai bersih.


“Maaf kalau aku juga egois. Ternyata aku


gak bisa gak cemburu melihat dia menyentuhmu. Aku sangat mencintaimu, Rio.”


Gadis tersenyum menatap Rio, ada air mata


mengalir di sudut mata Rio. “Rio, kamu dengar aku?”


Tidak ada respon, Rio tetap masih seperti


sebelumnya. Gadis berbaring di samping Rio, ia memejamkan matanya yang langsung


membawanya ke alam mimpi.


Keesokan harinya,


Mia sudah sampai di rumah Rara untuk


membicarakan apa yang dikatakan Gadis semalam. Riri dan Jodi juga menyusul

__ADS_1


mereka. Pengasuh baby Ello dan body guard Riri tampak membawa dua tas besar


masuk ke rumah Rara. Rara bengong melihat perlengkapan Riri sudah seperti mau


pindahan rumah.


“Ri, kamu mau pindahan? Kenapa barangnya


banyak banget?”tanya Rara.


“Hehe, biar baby Ello gak bosen, kak. Dia


kalo udah bosen, harus dibawa masuk ke ruang baca soalnya. Ntar kita gak bisa


ngobrol lama.”


Jreng! Ruang tengah Rara langsung disulap


jadi ruang bermain baby Ello. Mia bermain sebentar dengan baby Ello sebelum


mereka mulai bicara serius.


“Mama masih cocok ya gendong anak kecil.”ucap


Rara.


“Gitu ya? Kalo mama hamil lagi boleh gak?”tanya


Mia.


Rara dan Riri saling pandang, sementara


Jodi sibuk mengunyah makanan yang disajikan Rara. Jodi belum tau kenapa dirinya


dipanggil kesini ketemu dengan tiga wanita yang malah asyik sendiri sejak tadi.


“Emangnya mama hamil lagi?”tanya Riri.


“Kalo boleh, mama mau hamil lagi. Tapi ijin


sama kalian dulu.”


“Boleh aja sich.”saut Rara. “Seru kali ntar


Ray manggil om atau tante yang umurnya lebih kecil dari dia.”


“Riri juga gak masalah, mah. Papa gimana?”tanya


Riri.


“Papamu semangat banget buatnya.”jelas Mia.


Rara dan Riri memutar bola matanya udah tau kelakuan om Alex. Mia mengatakan


kalau kehamilan Kinanti membuatnya berpikir lagi mau punya bayi lagi. Apalagi


keadaan Rio seperti sekarang ini, membuat Mia jadi kepikiran. Kalau dia hamil


bisa repot semua orang.


“Maaf nyela. Aku dipanggil kesini buat apa


ya? Gak mungkin buat ngabisin makanan kan?”


Ketiga wanita itu menoleh pada Jodi dan


piring kosong di tangannya. Mereka melupakan tujuan mereka memanggil Jodi ke


rumah Rara.


“Ehehe... Sory, kak. Lupa ada kakak.


Makanannya enak kak?”tanya Rara basa basi.


“Hmm, cepat bilang ada apa?”tanya Jodi.


Mia mengeluarkan foto dan bukti video CCTV


dari dalam tas-nya. Rara dan Riri bergantian menceritakan apa yang menimpa Rio


sampai kondisinya depresi sekarang ini. Dan kecurigaan mereka tentang Kinanti


dan bayi yang dikandungnya.


“Mas Elo sudah berusaha mencari rekaman


CCTV ini sebelumnya tapi gak bisa karena sudah rusak. Aku gak yakin kalau


rekaman CCTV ini beneran asli. Kan aneh kalau Kinanti punya.”jelas Riri.


“Dan yang paling membuat kaget, kemarin Gadis


bilang kalau Kinanti itu masih ada hubungan sepupu sama Kaori. Jodi, itu


artinya dia masih sepupu sama Katty.”ucap Mia serius.


“Apa?!”teriak Rara dan Riri berbarengan.


*****


Klik profil author ya, ada novel karya author yang

__ADS_1


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.


__ADS_2