Duren Manis

Duren Manis
Extra part 63 Riri & Ello


__ADS_3

Extra part 63 Riri & Ello


“Kapten melihat sesuatu? Dimana Dion?” tanya Ello


masih berusaha melihat ke kapal itu.


“Sepertinya Dion mendekati kapal dengan berenang,


tuan. Di speed boat hanya ada anak buah saya,” jelas Kapten Bonbon.


”Badainya semakin besar, kapten. Apa dia bisa naik


kesana?” tanya Ello berusaha melihat menggunakan teropong.


Ia melihat seseorang menaiki kapal dan melumpuhkan


seorang penjaga.


“Itu Dion! Dia sudah naik!” teriak Ello senang.


Sekitar sepuluh menit berikutnya, badai semakin


parah. Hujan angin membuat jarak pandang nyaris nol. Kapten Bonbon berusaha


mendekatkan kapal agar bisa melihat apa yang terjadi. Tapi ombak besar mulai


memberi jarak diantara kedua kapal pesiar itu.


Beberapa menit kemudian, Ello melihat Riri dibawa


ke depan kapal. Istrinya itu ditarik paksa sampai ke ujung kapal oleh seseorang


yang menculiknya. Dion tampak mengikuti mereka dengan tetap berjaga-jaga. Kapal


oleng menghilangkan pandangan Ello dari Riri dan Dion. Ia berusaha melihat ke


kapal itu lagi dan Ello melihat pemandangan yang menyesakkan dadanya.


“Riri!!” jerit Ello shock. Ia melihat Riri dilempar


keluar dari kapal itu dan Dion langsung terjun ke air untuk menyelamatkannya.


Badai semakin buruk, angin dan hujan ditambah petir membuat kapal


terombang-ambing. Bahkan bantuan yang diminta Ello juga terlambat datang.


Kapten Bonbon berusaha mengendalikan kapal agar


tidak menabrak batu karang. Ia masih berusaha membawa kapal lebih mendekat,


tapi akhirnya memutar setelah melihat ada yang terjun ke air.


“Maaf, tuan Ello. Saya tidak bisa membawa kapal


mendekat, baling-baling kapal akan menyedot mereka kalau kita mendekat


sekarang,” kata Kapten Bonbon pada Ello.


Ello menjambak rambutnya, ia tidak tahu apa yang


terjadi pada Riri dan juga Dion. Keduanya sama-sama penting baginya. Kini Ello


hanya bisa berharap kalau keduanya akan selamat dari badai yang buruk itu.


**


Bagaimana kejadian diatas kapal penculik?


Dion yang berhasil naik ke atas kapal penculik sebelum


kapal itu pergi, berhasil mengejar penculik Riri. Ia memergoki Riri disuntik


sesuatu sebelum diseret ke depan kapal. Dion berusaha melumpuhkan penjaga yang


menghadangnya sebelum bisa mengejar Riri.


“Dokter!” teriak Dion yang mengenali penculik Riri.


Itu dokter yang ikut dengan kapal Ello, padahal dokter itu sudah turun ke pulau


sejak semalam. Rupanya ia termasuk dalam rencana penculikan Riri.


“Siapa yang nyuruh lo!” teriak Dion diantara


hembusan angin dan air hujan.


Dokter itu hanya tersenyum licik sebelum akhirnya


mendorong Riri ke laut. Tubuh Riri meluncur turun dan masuk ke air dengan


cepat. Mulut dan tangannya terikat lakban, Dion tidak sempat menyerang dokter


itu. Ia harus menyelamatkan Riri dulu sebelum terlambat. Byur! Tubuh Dion


meluncur turun, ia mencari sosok Riri yang semakin tenggelam. Dion mengejar


Riri, memegang tubuh Riri dengan erat sebelum ombak besar menggulung mereka


berdua.


Riri sepenuhnya tidak sadarkan diri saat mereka


berdua terdampar di pinggir pantai yang penuh batu karang. Dion menggelengkan


kepalanya yang sedikit pusing. Ia melihat sekeliling dan menemukan tempat untuk


mereka bersembunyi. Tidak sulit menemukan mereka kalau tetap berada di tempat


terbuka seperti itu. Dion tidak mau ambil resiko penculik Riri kembali lagi dan


menangkap mereka berdua.


Setelah menggendong Riri mendekati tebing, Dion


melihat ke arah kapal penculik yang masih berkutat dengan badai. Kapal Ello


tidak terlihat dari celah ia bersembunyi bersama Riri. Tampak beberapa orang


berusaha turun dari kapal itu, sepertinya mereka akan mengejar Riri dan Dion ke

__ADS_1


pulau.


Dion mengangkat Riri lagi, ia berjalan di pinggir


karang dengan air hujan dan ombak besar yang terus mengguyur. Pria itu berusaha


melihat sekeliling dengan kondisi basah kuyup. Sampai Dion menemukan gua yang


tersembunyi di balik tanaman rimbun.


Dion memeriksa sekeliling sebelum membaringkan Riri


di atas tanah yang cukup kering. Pria itu langsung memeriksa perhiasan Riri.


Kalungnya hilang entah kemana, tapi cincinnya masih ada. Dion terlihat lega,


pelacak di cincin Riri sudah terhubung dengan ponsel Ello. Mereka bisa segera


ditemukan.


Udara dingin membuat Dion sedikit menggigil. Ia


mengintip keluar memastikan tidak ada yang mengikuti mereka. Dion ingin mencari


kayu untuk membuat api agar Riri tidak kedinginan. Tapi melihat lebatnya hujan,


ia mengurungkan niatnya. Dion kembali memeriksa ke dalam gua, memastikan tidak


ada ular atau binatang berbahaya lainnya.


Riri yang masih belum sadar, tampak menggigil. Dion


mendekati wanita itu lalu memeriksa suhu tubuhnya. Sepertinya Riri hanya kedinginan


karena pakaiannya basah.


“Riri, Riri,” panggil Dion ketika Riri menggeliat.


Wanita itu membuka matanya, lalu memegang kepalanya


yang terasa sakit. “Aku dimana?” gumam Riri.


“Kita di pulau, Ri. Kamu nggak apa-apa? Ada yang


sakit?” tanya Dion.


“Kepalaku sakit, kak. Mana mas Ello?” tanya Riri


belum membuka matanya. Ia mengenali suara Dion.


“Ello di kapal. Tadi aku yang nyusul kamu. Kamu


gimana bisa diculik gitu?” tanya Dion berusaha membuat Riri tetap hangat dengan


menggosok telapak tangan Riri.


Riri menggeleng, ia merasa tubuhnya memanas dengan


cepat. “Panas...,” lirih Riri berusaha membuka pakaiannya.


“Kamu kenapa, Ri?” tanya Dion bingung. Ia menahan


Mata Riri terbuka sedikit, “Panas, kak. Mas Ello


mana?” lirih Riri yang mulai menggeliat tidak bisa diam.


Glegaarr!! Suara petir disertai kilatan cahaya


menerangi gua itu untuk sesaat. Dion bisa melihat wajah merona Riri dengan


nafas tersengal-sengal seperti orang habis berolahraga.


“Mas Ello...,” panggil Riri yang mulai


berhalusinasi. Wanita itu merangkul leher Dion dan mengira kalau pria itu


adalah suaminya.


“Riri! Sadar! Kamu kenapa?!” teriak Dion sambil


mengguncang tubuh Riri.


Dion teringat kalau tadi Riri disuntik sesuatu,


sepertinya efeknya mulai terjadi sekarang. Riri bertingkah seperti wanita nakal


yang terus meraba Dion. Pria itu mengepalkan tangannya penuh kemarahan.


Siapapun yang berani melakukan ini pada Riri akan mati di tangannya. Dion


berpikir cepat, ia harus menghentikan Riri sebelum terjadi sesuatu yang tidak


mereka inginkan.


“Ri, maafkan aku ya,” kata Dion sebelum merobek


pakaian yang dipakai Riri.


**


Badai masih menggelora di lautan. Kapten Bonbon


sudah mengamankan kapal dengan membawanya jauh dari pusat badai. Kapal penculik


sudah tidak terlihat lagi, entah karena sudah karam atau kabur.


“Tuan Ello, bantuan segera datang. Apa tuan sudah


mengecek pelacak nyonya Riri?” tanya kapten Bonbon seolah menyadarkan Ello


tentang sesuatu yang penting.


“Bagaimana kamu tahu tentang pelacak, kapten?”


tanya Ello sedikit curiga.


“Dion yang memberitahu saya kemarin malam. Kalau


terjadi sesuatu dengan Nyonya, ada pelacak yang selalu bersamanya dan tuan bisa

__ADS_1


melacaknya,” kata Kapten Bonbon kembali konsentrasi pada ombak besar.


Ello membuka ponselnya, ia menekan aplikasi pelacak


yang diinstal Dion di ponselnya. Kedua pelacak itu hidup, satunya tampak


menjauh dari kapal Ello tapi mendekat lagi. Satunya lagi tampak berada di


pulau. Ello berpikir cepat, bisa saja Riri di bawa ke pulau oleh Dion. Atau


masih ada diatas kapal.


Melihat keraguan Ello, Kapten Bonbon menanyakan


lokasi tempat Riri berada. Ketika Ello mengatakan ada dua tempat di lautan dan


di pulau, Kapten Bonbon menyarankan Ello untuk mencari di pulau dulu.


“Tidak mungkin rasanya pelacak bisa jalan sendiri


ke pulau kalau tidak ada yang membawanya. Itu sepertinya kapal bantuan, tuan


tunggu disini. Ada senjata di bawah meja. Saya akan keluar untuk memeriksanya,”


kata Kapten Bonbon sambil mengokang senjata laras panjang.


Ello melihat Kapten Bonbon berjalan keluar sambil


menodongkan senjatanya pada beberapa orang yang sudah naik ke atas kapal


mereka. Body guard khusus yang dipanggil Ello, tampak bicara dengan Kapten


Bonbon. Kapal penculik masih terombang-ambing di laut dekat dengan tempat


pelacak milik Riri. Mereka siap mencari melalui sisi pulau sambil berjaga-jaga


kalau para penculik juga mencari mereka


Kapten Bonbon menoleh saat seseorang menghampiri


mereka. Itu anak buah Kapten Bonbon yang baru bisa kembali ke kapal setelah


berjuang melewati ombak besar dengan speed boat.


“Kapten, nyonya Riri dan tuan Dion terjatuh ke


dalam laut! Tapi sepertinya mereka bisa sampai ke pinggir pantai! Tadi para


penculik itu mencoba mendekati pulau!” lapor anak buah itu.


Ello melihat kalau mereka semua segera berangkat untuk


mendekati pulau. Kapten Bonbon kembali ke dalam anjungan untuk memberi tahu


Ello tentang rencana body guardnya. Ello bisa menyusul mereka setelah badai


sedikit mereda.


“Anak buah saya sudah ikut mereka, tuan. Kita harus


menunggu badai reda untuk menyusul mereka. Terlalu beresiko keluar dari kapal


sekarang. Tuan harus bersabar sebentar lagi,” kata kapten Bonbon mencoba


menenangkan Ello yang mulai tidak sabaran.


Cuaca dengan cepat berubah, matahari mulai bersinar


cerah menguak awan hitam yang sebelumnya menutupi langit biru yang mulai tampak


kemerahan. Mereka harus cepat bergerak karena sebentar lagi hari akan gelap.


Ello bersama Kapten Bonbom mengejar rombongan body guard yang berangkat lebih


dulu. Mereka saling terhubung dengan HT yang Kapten Bonbon miliki.


Tidak sampai sepuluh menit kemudian, Ello menemukan


gua yang ditempat Riri dan Dion. Ia menguak rimbunan tanaman itu dengan cepat


dan mendapati pemandangan yang cukup membuat emosinya bergejolak. Di dalam gua


itu ia melihat Dion berpelukan dengan Riri. Ello terhenyak melihat keduanya


bahkan tidak memakai pakaian dengan benar.


Ello tidak membiarkan siapapun masuk. Ia meminta


selimut dari body guardnya dan masuk sendiri ke dalam gua itu. Dion yang


menyadari kehadiran seseorang, segera membuka matanya. Kedua pria itu


bertatapan di dalam keremangan gua itu.


“Ello, akhirnya lo dateng juga,” kata Dion sambil


menggeser Riri mendekat pada Ello.


“Apa yang terjadi? Kenapa kalian bisa....” Ello


menyampirkan selimut menutupi tubuh Riri yang hanya terbalut pakaian dalam.


Dion menarik lepas kain yang mengikat tangan dan


kaki Riri. Ello mengusap kening Riri yang terasa hangat, wanita itu demam


ringan. Pria itu melihat tangan Dion dibalut kain yang sama. Darah yang telah


mengering, mengotori kain itu.


“Maaf, Ello. Aku terpaksa mengikat Riri. Aku tidak


bisa membiarkan dia menyakiti dirinya sendiri. Dokter itu, dokter yang bekerja


di pulau, dia menyuntikkan sesuatu pada Riri. Aku melihatnya di kapal. Aku....”


Dion masih ingin menjelaskan pada Ello, tapi Ello memberi tanda dengan


tangannya. Ia tidak ingin membicarakan hal penting seperti ini sekarang. Mereka

__ADS_1


harus segera kembali ke kapal untuk mengobati Riri dan Dion.


__ADS_2