Duren Manis

Duren Manis
Extra part 52 Alan & Ginara


__ADS_3

Extra part 52


Wajah Alan memang imut-imut seperti anak SMA.


Banyak yang tidak menyangka kalau Alan sudah berumur dua puluh empat tahun.


“Aku udah kerja, om, tante. Kalau om sama tante perlu


bantuan, bilang aja. Harga nego tipis lah,” sahut Alan.


Jodi dan Katty kompak tertawa, mereka setuju dengan


usul Alan. Dan sepertinya sudah ada project yang harus dikerjakan Alan.


Pesta masih berlangsung dengan pembagian hadiah


untuk pelayan di rumah besar itu. Katty ternyata memborong isi mall untuk


memberi hadiah pada para pelayan yang setia mengabdi pada keluarga itu selama


bertahun-tahun. Para pelayan itu berjajar rapi di depan Katty, menunggu untuk


dipanggil.


Satu persatu mereka maju ke hadapan Katty ketika


nama mereka dipanggil. Rata-rata mendapat pakaian dan juga tas kecil. Sedangkan


untuk para body guard setianya, Katty memberikan hadiah berupa jam tangan. Para


pelayan dan body guard itu tentu saja sangat senang menerima hadiah. Mereka


mendoakan kebahagiaan Katty dan Jodi agar pernikahan mereka selalu bahagia


selamanya.


Spesial untuk Pak Jang, Katty sudah menyiapkan kacamata


baru dan juga jam bandul, tapi wanita itu berkelakar akan memberi Pak Jang cuti


selama dua hari agar ia bisa bersantai. Wajah Pak Jang memucat, ia paling tidak


suka diberi cuti. Itu sama saja membuatnya kehilangan pekerjaan.


“N—Nyonya, tolong pikirkan kembali. Saya tidak


memerlukan hadiah seperti itu,” bujuk Pak Jang gugup.


Katty tertawa ngakak, ia mengatakan kalau dirinya


hanya bergurau dan memberi penekanan untuk tidak mendukung Jodi lagi kalau


suaminya itu mau ngeprank dirinya lagi.


“Pak Jang mengerti maksud saya kan?” tanya Katty


dengan nada penuh ancaman.


Pak Jang hanya mengangguk pasrah. Nyonya Katty


sudah mulai menunjukkan kalau ia yang paling berkuasa di rumah itu. Rumah yang


sudah menjadi milik pribadinya. Jodi hanya menggaruk kepalanya karena prank


berikutnya, tidak akan ada yang berani mendukung Jodi.


Ketika Katty menyerahkan hadiah untuk Pak Jang,


pria tua itu terlihat bahagia sekali. Ia mengelus bingkai kacamata dari emas


itu dan juga jam bandul yang sama-sama terbuat dari emas.


“Terima kasih banyak, nyonya, tuan.” Seluruh


pelayan dan body guard termasuk Pak Jang kompak membungkuk di hadapan Katty dan


Jodi.  Mereka berdua saling pandang dan


tersenyum satu sama lain.


Ketika pesta berakhir, Alan mengikuti orang tuanya


berpamitan lebih dulu. Belum sampai di dekat Katty dan Jodi, Alan melihat


Ginara tersenyum padanya. Semburat merah muncul di kedua pipi Alan, ia berdehem


untuk menetralkan ekspresi wajahnya.


“Kenapa, Lan? Kamu batuk?” tanya Melda yang curiga


dengan gerak-gerik Alan.


“Nggak, mah. Cepetan pamitan, mah. Aku mau kerja,”


bisik Alan agar Melda tidak kepo.


“Kamu suka sama gadis itu?” tanya Melda membuat


Alan gelagapan.


Alan melotot kaget karena Melda tidak mengecilkan


suaranya. Masalahnya Anisa, Guntur, dan Ginara sedang ada di dekat mereka


berdua. Tentu saja mereka bertiga langsung menoleh mendengar kata-kata Melda.


Alan berusaha bersikap tenang, padahal ia malu sekali. Pemuda itu hampir


hopeless ketika melihat Melda mendekati Anisa.


Alan mendahului orang tuanya, untuk berpamitan

__ADS_1


dengan Katty dan Jodi. Ia memberikan nomor ponselnya pada Jodi dengan cepat


lalu segera menghilang dari sana. Melda sampai kebingungan mencari Alan, bahkan


X juga tidak melihat kemana Alan pergi.


“Mana Alan? Anak itu, katanya suka sama Ginara,”


kata Melda dihadapan Ginara.


“Ach, tante bisa aja. Saya juga suka sama Alan. Dia


baik sekali,” puji Ginara dengan polosnya.


Melda dan Anisa saling pandang dan sama-sama


tersenyum. Mereka semua segera berpamitan lalu pulang ke rumah masing-masing.


**


Beberapa hari kemudian, Alan datang ke kantor Jodi.


Pemuda itu diminta Jodi untuk memperbaiki tampilan web perusahaannya dan


menambahkan beberapa foto baru. Ia juga diminta untuk membuat tampilan web yang


lebih atraktif. Tentu saja hal seperti itu merupakan pekerjaan kecil bagi Alan.


Sampai di kantor Jodi, Alan bertemu lagi dengan


Ginara. Rupanya gadis itu bekerja juga di kantor Jodi sebagai staf marketing. Ginara


yang akan menemani Alan selama pemuda itu berada di kantor Jodi. Jangan kira


itu hanya kebetulan semata, Melda meminta secara khusus pada Jodi agar Alan dan


Ginara bisa bekerja bersama. Setelah mengetahui kalau Ginara juga bekerja di


perusahaan Jodi, Melda semakin bersemangat meminta Alan untuk bekerja.


“Alan, ini ruang kerjamu ya. Mejaku ada di sebelah


kalau kamu perlu apa-apa, bilang saja,” kata Ginara ramah.


Alan hanya mengangguk, ia tersenyum tipis bisa


bertemu dengan Ginara lagi. Sesekali Alan melirik Ginara yang bekerja di meja


sebelah. Gadis itu selalu tersenyum dalam setiap kesempatan. Ia sangat ramah


pada semua orang yang ia temui.


Setelah beberapa jam satu atmosfer dengan Ginara,


Alan mulai merasa rileks bekerja di ruangan itu. Ia tidak terlalu suka


bersosialisasi dan lebih suka bekerja sendirian. Makanya Endy tidak pernah


menjadi pekerjaan dua puluh empat jam yang sewaktu-waktu diperlukan Endy.


“Alan, sudah waktunya makan siang. Kamu mau makan


disini atau di kantin?” tanya Ginara.


“Aku nggak makan siang, kamu makan aja dulu,” kata


Alan tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptopnya.


“Atau kamu mau kopi? Snack? Air?” tawar Ginara


seperti pelayan restaurant.


Alan menggeleng, ia tetap tidak mengalihkan perhatian


dari layar laptopnya. Ginara memaklumi perilaku Alan yang sangat serius dalam


pekerjaannya. Gadis itu beranjak ke kantin bersama teman-temannya.


**


Sekembalinya Ginara dari kantin, ia tidak menemukan


Alan di ruangan tadi. Hanya ada laptop yang tertinggal disana. Sambil


celingukan seperti maling jemuran, Ginara mendekati laptop Alan. Ia ingin


melihat hasil pekerjaan pemuda itu. Dengan leher memanjang dan tubuh tetap di


seberang meja, Ginara mencoba mengintip laptop Alan.


“Kamu lagi ngapain?” tanya Alan yang baru kembali


dari toilet. Ia menoel-noel punggung Ginara.


“Aku mau liat laptopnya Alan. Diem dech,” kata Ginara


yang belum sadar kalau Alan ada di belakangnya.


“Kamu mau ngintip kerjaanku?” tanya Alan lagi,


masih menoel-noel punggung Ginara.


“Aku mau tau kerjaannya Alan, bukan kerjaanmu. Bisa


diem nggak?” tanya Ginara sambil balik badan.


Gadis itu tersenyum lebar ketika melihat siapa yang


dari tadi menoel-noel punggungnya. Alan menatap Ginara yang tertangkap basah


ingin mengintip laptopnya. Ginara jadi salah tingkah di depan Alan.

__ADS_1


“Eh, Alan. Aku baru mau nawarin kopi. Kamu mau?”


tanya Ginara mencoba mengalihkan perhatian Alan.


“Kamu kepo apa sich? Aku kan ngerjain desain baru


untuk web perusahaan. Bukannya kamu udah tahu bakalan jadi seperti apa?” tanya


Alan sambil duduk di kursinya lagi.


Ginara masih salah tingkah, ia malu kepergok Alan


hingga tidak bisa menjawab pertanyaan pemuda itu. Sambil senyum-senyum, Ginara


beringsut kembali ke mejanya.


“Tunggu,” panggil Alan lagi.


“Iy-Iyaa?” sahut Ginara gugup.


“Tawaran kopinya masih berlaku nggak? Ada capucino?”


tanya Alan.


Ginara tersenyum dan mengangguk. Ia segera ke


pantry untuk membuatkan pesanan Alan. Senyum tipis kembali menghiasi bibir Alan


siang itu.


Saking seriusnya bekerja, Alan sampai tidak


menyadari kalau secangkir capucino panas sudah mendarat di mejanya. Ginara


berdiri di hadapan Alan, berharap pemuda itu akan berpaling sebentar dari layar


laptopnya. Tapi setelah menunggu sekitar dua setengah menit, Alan tidak juga


mengalihkan pandangannya dari laptop.


Kepo tingkat tinggi, Ginara menjulurkan lehernya


lagi melihat laptop Alan. Dilayar hanya penuh dengan angka dan huruf yang terus


bertambah seiring dengan semakin cepatnya ketikan jemari Alan di keyboard. Mata


pemuda itu terus bergerak mengikuti tanda yang berkedip di beberapa titik di


layar laptopnya. Ketika jemari Alan berhenti bergerak, tampilan web yang baru,


muncul di layar laptop itu.


“Wow!” pekik Ginara melihat tampilan web yang sama


persis dengan presentasi yang dikirim Alan.


“Hmm, masih ada yang aneh,” sahut Alan sambil


mendekat ke layar laptopnya.


Ginara juga ikut mendekat, mencoba mencari apa yang


aneh. Kepala mereka nyaris beradu saat Alan menoleh menatap wajah Ginara yang


sangat dekat dengannya. Parahnya lagi, Ginara juga menoleh menatap Alan. Hanya


berjarak lima centimeter lagi, mereka akan berciuman.


Ginara tersenyum meskipun mereka sangat dekat,


sementara Alan langsung menelan salivanya dan menjauh. Wajahnya hampir sama merahnya


dengan lukisan yang terpasang di dinding ruangan itu.


“Apa yang aneh? Tidak ada yang aneh,” kata Ginara


pada Alan.


“Aneh? Apanya yang aneh?” tanya Alan balik membuat


Ginara tertawa.


“Hihihi..., kamu lucu ya. Kan kamu sendiri tadi


yang bilang kalau ada yang aneh. Gimana sich? Kamu kurang konsentrasi tuch.


Minum dulu sana,” kata Ginara sambil menunjuk capucino di samping Alan.


Alan benar-benar blank untuk sesaat karena senyuman


Ginara. Ia mengangkat cangkir capucino itu dan menyeruputnya dengan cepat.


“Eh, masih pa... nas.” Terlambat bagi Ginara untuk


memperingati Alan.


Pemuda itu menjulurkan lidahnya yang perih tersiram


capucino panas. Ginara cepat-cepat mengambilkan air mineral dingin di pantry


untuk menetralkan lidah Alan.


“Makanya jangan nggak makan siang. Jadi nggak fokus


kan. Harusnya kamu makan teratur, ntar kalo maag gimana? Trus kalo minum itu


liat-liat dulu. Jangan asal minum. Panas kan lidahmu,” cerocos Ginara seperti


air  hujan yang jatuh di atas atap seng.


Berisik sekali. Tapi semua yang dikatakan Ginara memang ada benarnya. Alan

__ADS_1


tidak bisa memungkiri itu, ia mulai menaruh minat pada gadis itu.


__ADS_2