
Tiga bulan kemudian...
Jodi memarkir mobilnya di halaman kantor Arnold. Ia memasuki lobby perusahaan dan menebarkan senyum manisnya pada semua orang disana.
Resepsionis mempersilakan Jodi masuk ke dalam lift yang membawanya ke lantai tempat ruang kerja Arnold berada.
Ilham memberi salam pada Jodi saat mereka berpapasan di pintu keluar lift.
Jodi : "Kamu mau kemana?"
Ilham : "Saya ada meeting di lantai bawah. Pak Jodi mau langsung berangkat dengan bu Rara?"
Jodi : "Ya, kami hampir terlambat."
Ilham : "Sepertinya bu Rara sudah siap. Tadi sempat saya lihat."
Jodi : "Ok, aku kesana dulu ya."
Ilham hanya mengangguk dan gantian memasuki lift.
Jodi mendekati pintu ruang kerja Arnold. Ia mengetuk pintu itu tapi tidak ada jawaban dari dalam.
Jodi memberanikan diri membuka pintu dan celingukan didalam mencari Rara.
Jodi : "Ra? Rara?"
Rara : "Bentar, kak. Aku masih ganti baju."
Jodi : "Ok, tapi agak cepat ya. Kita hampir telat nih."
Ceklek! Kepala Rara melongok dari dalam kamar gantinya. Jodi menoleh menatapnya,
Jodi : "Kenapa?"
Rara : "Kak, sini. Bantuin."
Jodi mendekati kamar ganti.
Jodi : "Apa?"
Rara : "Bantuin tarik retsletingnya. Tanganku gak nyampe."
Jodi : "Astaga?"
Rara membalik tubuhnya dan Jodi langsung menarik retsleting dress hamil Rara menutup.
Jodi : "Sejak kapan kamu perlu bantuan?"
Rara : "Sejak kemarin, kak."
Jodi : "Dressmu kok keliatan lebih sempit dari sebelumnya?"
Rara : "Emang rasanya sesak, kak. Disini dipinggirnya."
Jodi melihat bagian dress yang ditunjuk Rara.
Jodi : "Uda harusnya beli yang lebih besar."
Rara : "Aku gak punya waktu belinya, kak."
Jodi : "Ntar aku yang beli. Aku bawain ke rumah, kamu pilih yang kamu suka. Kalau ada yang gak kamu suka, balikin aja."
Rara : "Gak ngrepotin, kak?"
Jodi : "Nggak. Uda siap?"
Rara : "Iya, ayo berangkat, kak."
Rara dan Jodi berjalan beriringan keluar dari ruang kerja Arnold. Beberapa karyawan yang baru selesai meeting tampak menunggu lift juga. Mereka memberi salam pada Rara dan Jodi.
Perusahaan Arnold sekarang dipegang sepenuhnya oleh Rara. Berkat bantuan Ronald, Jodi dan Ilham, Rara bisa mengelola perusahaan dengan baik. Bahkan semakin berkembang.
Sebenarnya Rara tidak ingin memegang jabatan direktur, tapi setelah pemindahan saham Arnold ke Rara, ia memiliki hak untuk menjadi direktur menggantikan Arnold.
Rara berjinjit sedikit merasakan sesuatu masuk ke flat shoesnya. Jodi melihat hal itu dan berjongkok membantu melepas sepatu Rara.
Jodi : "Ada batu."
Ia membantu Rara memakai sepatunya lagi. Beberapa karyawan yang melihat hal itu kembali bisik-bisik.
Sudah jadi rahasia umum kalau Rara memiliki hubungan spesial dengan Jodi. Rara menoleh melihat karyawannya bisik-bisik.
Rara : "Ada apa?"
Karyawannya menggeleng dan pintu lift terbuka. Rara dan Jodi masuk duluan.
__ADS_1
Rara : "Kalian gak ikut masuk?"
Staf : "Kami nanti saja, bu. Silakan duluan."
Jodi menekan tombol dan pintu lift tertutup.
Rara : "Rese. Tukang gosip."
Jodi : "Siapa?"
Rara : "Itu tadi. Nyebelin."
Jodi : "Biarin mereka ngomong apa. Ngapain sewot."
Rara : "Aku gak suka, kak."
Jodi : "Yang penting petinggi di kantormu dan keluarga kita tahu yang sebenarnya. Kalau kamu gak suka, pecat saja mereka."
Rara : "Kakak sadis."
Jodi : "Demi ketenangan kamu dan bayimu. Lakukan saja kalau memang perlu."
Pintu lift terbuka, Ilham ada di depan lift.
Ilham : "Loh, belum berangkat juga?"
Rara : "Ini baru mau berangkat."
Jodi : "Sampai ketemu, Ilham."
Ilham hanya mengangguk dan menatap mereka berdua yang berjalan keluar dari lobby.
Jodi membuka pintu mobilnya untuk Rara dan menunggunya masuk. Rara mengatur duduknya agar nyaman dan Jodi menutup pintu.
Jodi : "Kamu mau cemilan?"
Rara : "Yang biasanya? Mau."
Jodi : "Ok, kita mampir sebentar."
Jodi menjalankan mobilnya keluar dari halaman kantor Arnold.
Mereka mampir sebentar di toko kue membeli puding buah untuk Rara. Jodi juga membeli roti untuk dirinya sendiri.
Rara : "Makasih, kak."
Usia kandungan Rara sekarang sudah masuk bulan kelima. Ia mulai merasakan pegal di pinggangnya dan kakinya mulai bengkak.
Jodi mengantar Rara ke dokter kandungan hari ini. Ia memenuhi janjinya pada Arnold untuk menjaga Rara dan bayinya.
Sebenarnya Jodi tidak diijinkan melakukan itu oleh Alex, tapi Ronald membela Jodi setelah melihat ketulusan Jodi terhadap Arnold.
Mereka berdua sampai di rumah sakit. Antrian dokter kandungan tampak panjang di tempat biasanya Rara periksa. Jodi membantu Rara duduk di kursi tunggu, dan pergi ke tempat pendaftaran untuk mengambil berkas Rara. Ia sudah mendaftar duluan dan mendapat nomor 7. Mereka hanya perlu menunggu sebentar sebelum giliran Rara.
Setelah menyelesaikan urusan administrasi, Jodi berdiri di depan Rara karena tidak ada kursi kosong lagi.
Rara : "Kak, gak pegel berdiri gitu?"
Jodi : "Nggak, Ra. Cuma sebentar kan."
Benar saja, suster memanggil nama Rara masuk ke dalam ruang praktek dokter kandungannya.
Jodi membantu Rara berdiri dan mereka masuk ke dalam bersama-sama.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Mia sedang berjalan-jalan di depan rumahnya. Perutnya tampak sangat besar karena dua bayi montok di dalamnya. Alex memperhatikan Mia sambil duduk di trotoar.
Mia : "Mas, ambilin air."
Alex menghampiri Mia yang ngos-ngosan.
Alex : "Udahan dulu yuk. Capek kan."
Mia : "Aduduuh, mas."
Alex : "Kenapa? Ada apa?"
Mia : "Mules..."
Alex : "Mau ke toilet? Ayo, pelan-pelan."
Mia : "Eh, uda hilang."
Alex : "Uda gak mules?"
__ADS_1
Mia : "Iya, mas."
Alex menuntun Mia masuk ke halaman rumah mereka, saat sebuah mobil box berhenti di depan rumah.
Alex membantu Mia duduk di teras. Ia melihat sopir mobil box keluar dari dalam mobilnya dan berdiri di depan gerbang yang terbuka.
Sopir : "Permisi, kiriman untuk Ny. Rara."
Alex : "Ya. Disini."
Sopir : "Dengan bapak siapa?"
Alex : "Saya Alex. Papanya."
Sopir : "Baik, pak. Ayo turunkan."
Kernetnya membuka mobil box dan menurunkan dua gantungan baju.
Sopir dan kernet membawa baju-baju itu masuk dan meletakkannya di ruang keluarga. Mereka keluar lagi mengambil dua gantungan lagi dan meletakkannya di ruang keluarga.
Alex : "Ini yang ngirim siapa?"
Sopir : "Kami hanya diminta mengirimkannya, pak. Dan ini dokumennya. Nanti setelah Ny. Rara selesai memilih bajunya, silakan mengisi dokumen ini. Terima kasih. Kami permisi dulu."
Mia mengambil dokumen di tangan Alex, matanya langsung bersinar melihat gambar baju-baju hamil yang lucu-lucu.
Mia : "Rara belanja baju? Banyak banget."
Alex : "Buat apa baju sebanyak itu? Boros banget."
Mia : "Coba HP-ku mas. Aku mau telpon anaknya dulu."
Alex memberikan ponselnya, dan Mia mengeluh perutnya mules lagi.
Mia : "Aduh, mules lagi."
Alex : "Ayo, ke dalem dulu."
Mia berjalan pelan-pelan sambil meringis. Ia merasa nyeri dibawah perutnya.
Setelah mendudukkan Mia di ruang keluarga dan mengganjal pinggangnya, Alex menelpon Rara.
Alex : "Ra? Mama mau bicara."
Mia : "Halo, Ra? Kamu belanja baju hamil?"
Rara : "Baju hamil? Gak, mah. Emang kenapa?"
Mia : "Ada yang ngirim baju hamil ke rumah. Banyak banget."
Rara : "Mereka salah alamat kali."
Mia : "Beneran kok alamat sama penerimanya."
Rara melirik Jodi yang sedang menebus obatnya di apotik.
Rara : "Bentar Rara tanya kak Jodi dulu."
Mia : "Kok tanya Jodi?"
Rara : "Tadi dia lihat baju Rara uda sempit. Bentar, mah."
Rara menghampiri Jodi yang sudah berjalan ke arahnya.
Rara : "Kak, kakak ngirim baju ke rumah ya?"
Jodi : "Uda nyampe? Aku bilang kirim agak sorean."
Rara : "Kak Jodi yang ngirim, mah. Bentar lagi Rara pulang. Baru selesai nebus obat."
Jodi menarik tangan Rara yang hampir menabrak seseorang yang lewat di depan mereka.
Jodi : "Hati-hati. Selesaikan dulu nelponnya. Jangan sambil jalan."
Rara : "Makasi, kak."
Mereka berdiri di pinggir lorong rumah sakit, menunggu Rara selesai bicara dengan Mi
π»π»π»π»π»
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain βMenantu untuk Ibuβ, βPerempuan IDOLβ, βJebakan Cintaβ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya para reader.
Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya..
__ADS_1
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
π²π²π²π²π²