Duren Manis

Duren Manis
Tante rese


__ADS_3

Baru selesai 1 bayi, bayi lainnya juga perlu penanganan yang sama. Mia ganti menyusui baby Rava.


Rio : "Ini kalau nangis samaan, gimana mama ngurusnya?"


Mia : "Belum pernah sich nangis samaan. Baby Rava selalu anteng. Tipe kakak yang sabar banget."


Mereka semua menoleh ke depan. Alex sudah pulang, ia tampak membawa bungkusan besar di tangannya.


Alex : "Wah, kebetulan. Abang Rio, tolong turunkan bungkusan lain dari mobil ya. Papa capek."


Rio : "Itu apa?"


Alex : "Kado buat si kembar, masih ada lagi di mobil."


Rio : "Ayo, Kaori."


Rio dan Kaori berjalan keluar rumah dan mulai mengeluarkan bungkusan serupa yang memenuhi kursi penumpang dan kursi belakang. Bahkan di bagasi juga ada.


Mia : "Dari siapa, mas?"


Alex : "Semua karyawan di kantor. Aku mandi dulu ya." Kata Alex pada Mia.


Mia berpikir mungkin dari perwakilan department saja. Alex cepat-cepat mandi sebelum membantu Mia mengurus di kembar.


Mia mulai kebingungan ketika Rio dan Kaori bolak balik sampai lebih dari 5 kali membawa banyak sekali bungkusan yang sama.


Mia : "Masih banyak, Rio?"


Rio : "Lagi 4 tas kayaknya, mah."


Setelah beres, Rio geletakan di ruang keluarga disamping baby twin yang sudah tertidur lelap. Kaori dan Mia menatap penuh minat pada semua bungkusan kado itu.


Kaori : "Boleh dibuka, kak?"


Mia : "Kayaknya boleh. Coba aku tanya mas Alex dulu ya."


Mia beranjak ke kamar dan tidak kembali lagi lumayan lama. Kaori yang gabut, mulai mengeluarkan satu persatu kado dalam tas sambil mengocoknya.


Lagi asyik melihat-lihat kertas kado, tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang.


Rio : "Kamu ngapain?"


Kaori : "Aku penasaran sama isinya tapi kak Mia masih nanya om Alex, boleh dibuka gak. Sampe sekarang belum balik. Entah ngapain mereka di kamar."


Rio mengunyel-unyel hidungnya di punggung Kaori. Tangannya menyelinap masuk ke dalam baju Kaori memegang perutnya.


Kaori : "Tanganmu tuch. Jangan pegang disitu!"


Rio : "Cium aku..."


Kaori : "Apa? Kamu gak liat ada adikmu disini."


Rio : "Mereka lagi tidur. Cepetan..."


Kaori : "Gak mau... Mmmpphh..."


Rio sudah menarik dagu Kaori dan menciumnya tanpa aba-aba. Di peluk tubuh kekar Rio, membuat tubuh mungil Kaori tidak bisa bergerak.


Saat mereka berdua sedang asyik dengan bibir satu sama lain, Rara yang baru datang dengan Jodi, hanya melongo melihat adegan panas itu.


Jodi menyenggol lengan Rara, minta pertimbangan apa yang harusnya mereka lakukan. Rara cuma menggeleng, bingung juga harus menyapa atau pura-pura gak liat.


Tapi akhirnya Rara harus pura-pura gak lihat karena dia kebelet pipis. Dengan langkah pelan, Rara berjalan diantara tumpukan kado yang menggunung karena ulah Kaori.


Ia menoleh lagi menatap kedua abg yang masih asyik ciuman gak nyadar diri mereka jadi tontonan. Rara segera masuk ke kamarnya.


Jodi yang iseng ingin mengganggu mereka. Ia duduk di ruang keluarga sambil mengambil foto baby twin yang tertidur. Ia sengaja memasang suara pada kameranya agar di dengar pasangan kekasih di depannya.

__ADS_1


Bukannya menoleh, mereka malah semakin asyik. Jodi menepuk keningnya, Rara keluar dari kamarnya dan duduk di samping baby twin juga.


Rara : "Teriak sana 'paket' gitu." Bisiknya pada Jodi.


Jodi : "Kenapa aku?"


Rara : "Cepetan... Mulai panas tuh."


Jodi melotot melihat tangan Rio bergerak dibalik baju Kaori. Spontan tangannya mengambil bantal dan buk! Bantal melayang mengenai kepala Rio.


Rio : "Aaoowww...!! Sapa sich?!"


Rio dan Kaori menoleh ke belakang mereka. Kaori langsung menarik bajunya melihat Jodi dan Rara.


Rio nyengir pada kakaknya,


Jodi : "Dapet salam dari Katty tuch."


Kaori : "Mana, kak?"


Jodi : "Ada, mau aku v-call?"


Kaori : "Jangan, kak! Rio nich, kak!"


Rio : "Kok aku? Kamu juga mau kan."


Keduanya saling menyalahkan membuat baby Reva terganggu dan mulai menangis.


Tangisannya membuat Mia dan Alex berlari keluar kamar. Wajah keduanya memerah dengan nafas ngos-ngosan.


Kaori sampai memalingkan wajahnya karena Alex keluar cuma pakai boxer.


Rara : "Pah! Pake baju dulu!"


Alex ngibrit lagi ke kamarnya, Mia mengancingkan kemejanya yang terbuka. Ia tersenyum manis pada semua orang disana.


Mia : "Itu... menyusui..."


Mia hanya bicara secukupnya, cukup membuat keempat orang di depannya mengkhayal yang tidak-tidak.


🌼🌼🌼🌼🌼


Baru kembali dari peternakan, Riri dan Elo kembali lagi ke ruang tamu tempat kakek Elo duduk tadi. Riri mengipasi tubuhnya yang keringatan.


Elo : "Panas, ya."


Riri : "Lumayan, kak. Padahal habis hujan ya."


Elo beranjak ke dapur untuk minta dibuatkan jus dingin. Saat melihat Elo menjauh dari Riri, tante Dewi yang sedari tadi mengawasi mereka, berjalan mendekati Riri.


Tante Dewi : "Heh, gadis ******, ngapain kamu masih kesini? Levelmu jauh dari Angelo."


Riri : "Siang, tante."


Sungguh, Riri ingin menjambak wanita paruh baya di depannya ini. Mulut gak pernah sekolah, seenak udel ngatain Riri ******. Gak sadar anaknya sendiri apaan.


Tante Dewi : "Mending kamu cepat pergi. Sana. Hus, hus.."


Riri mengacuhkan tante Dewi, ia sibuk mengipasi tubuhnya yang masih keringatan.


Tante Dewi : "Diajak ngomong malah cuek. Emang gak sopan ya. Mamamu gak ngajarin sopan santun."


Riri : "Saya..."


Elo : "Tante ngapain disini?"


Elo datang dari arah dapur membawaΒ  dua gelas air dingin untuk mereka berdua. Ia mulai kesal dengan sikap sombong tante Dewi pada Riri.

__ADS_1


Tante Dewi : "Kebetulan kamu datang, gadis gak sopan ini gak level sama kita. Ngapain masih kamu bawa kesini?"


Elo : "Level seseorang bukan kita yang nentuin, tante. Tolong tante ngaca dulu sebelum ngomong."


Tante Dewi : "Anak gak sopan! Kamu lihat, sejak ada kamu, Angelo kami jadi liar. Dasar gadis liar!"


Tante Dewi menyambar air minum yang dibawa Elo dan menyiram Riri dengan cepat.


Elo : "Riri! Tante Dewi!!"


Elo hampir melakukan hal yang sama pada tante Dewi, tapi Riri menghentikannya.


Riri : "Kak... Kita pergi aja ya..."


Elo melihat tubuh Riri menggigil entah karena kedinginan atau menahan marah. Ia terlihat sangat tenang mendapat perlakuan jahat dari tante Dewi.


Elo meletakkan gelas yang masih dipegangnya diatas meja dan membopong Riri dengan cepat ke lantai 2 masuk ke kamarnya.


Di sudut ruangan, kakek Elo melihat semua kejadian itu dan tampak tersenyum puas.


🌸🌸🌸🌸🌸


Di dalam kamar Elo,


Riri : "Kak, turunin aku! Bisa jalan sendiri."


Elo : "Jangan bantah!"


Riri diam lagi, ia melihat Elo sangat marah sampai wajah dan telinganya memerah. Brak!! Elo menendang pintu menutup dengan sangat kencang.


Riri meringkuk dalam dekapan Elo, semakin gemetar. Ia tidak suka mendengar suara yang terlalu keras.


Elo ingin menurunkan Riri diatas ranjang, tapi dekapan Riri membuatnya bingung.


Elo : "Kamu kenapa, Ri? Riri?"


Riri : "Kak... Jangan banting pintunya..."


Elo : "Maaf... Kamu kaget ya. Maaf, Ri."


Elo duduk di atas ranjang, masih memangku Riri. Perlahan air mata Riri mulai mengalir. Ia menangis sedih sekali.


Elo : "Jangan nangis, Ri. Maafin aku. Janji gak gitu lagi."


Riri : "Aku... hiks... salah.... hiks... apa, kak? Kenapa... hiks... tante... hiks... tega..."


Elo : "Dia bilang apa, Ri?"


Riri : "Aku..."


Elo : "Jangan takut, Ri. Dia bilang apa sama kamu?"


Riri : "Dia bilang... hiks... gadis ******, hiks... gadis liar... aku gak... hiks... gitu, kak."


Elo memeluk Riri erat-erat, pacarnya itu terluka mendengar kata-kata kasar tante Dewi.


🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain β€˜Menantu untuk Ibu’, β€˜Perempuan IDOL’, β€˜Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya..


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


🌲🌲🌲🌲🌲

__ADS_1


__ADS_2