
DM2 – Tidak sempurna
Gadis membiarkan Endy mengurus semuanya
tentang Kinanti. Ia masih bertanya-tanya benarkah orang di hadapannya ini
adalah Endy. Pria yang sudah dicari sekian bulan lamanya, sekarang muncul
begitu saja di hadapannya.
Kinanti dipindahkan ke ruang operasi, Gadis
duduk di depan ruang operasi bersama Endy. Ia menatap Endy, tapi takut untuk
bertanya. Gadis menghela nafasnya, “Maaf, kita belum kenalan. Aku Gadis.”
Endy tidak ingin menjawab Gadis, tapi
akhirnya buka mulut juga. “Aku Endy.”
Keduanya saling diam lagi. Gadis ingin
sekali menanyakan ada hubungan apa antara Kinanti dengan Endy, tapi ia memilih
bungkam. Sesekali Gadis melirik melihat kecemasan di wajah Endy.
Setengah jam kemudian, dokter keluar dari
ruang operasi. Gadis dan Endy berdiri bersamaan, “Bagaimana keadaan Kinanti,
dokter?”tanya Gadis.
“Operasinya berjalan lancar, tapi
sepertinya kondisi bayinya tidak terlalu baik. Saat ini sedang ditangani dokter
anak. Bayi itu lahir sebelum waktunya.”
“Kinanti gimana, dokter?”tanya Endy.
“Pasien masih belum sadarkan diri. Satu jam
lagi, akan kami pindahkan ke ruang ICU untuk memantau perkembangannya.”
“Bayinya ada dimana, dokter?”tanya Gadis.
“Saat ini sedang ditangani di ruang bayi.
Di sebelah sana. Saya permisi dulu.”
Gadisberjalan cepat menuju ruang bayi,
ia tidak mengajak Endy yang masih menunggu Kinanti di depan ruang operasi. Sampai
di depan ruang bayi, ia membuka pintu perlahan. Seorang suster menegurnya, “Ada
keperluan apa?”
“Saya kakaknya pasien Kinanti yang baru
habis melahirkan. Bayinya prematur. Boleh saya tahu keadaan bayinya?”tanya
Gadis.
“Saat ini bayinya sedang ditangani dokter
dan belum bisa ditemui. Bisa minta tolong isi data ibu dan ayahnya
disini?”tanya suster.
“Saya ambil KTP adik saya dulu ya, suster.”
Gadisterpaksa kembali ke depan ruang
operasi. Ia meminta Endy mengisi data Kinanti di ruang bayi. “Tapi
Kinanti...”kata Endy enggan meninggalkan tempat duduknya.
“Anda lihat kesana.”tunjuk Gadis ke ruang
ICU. “Disana ruang ICU-nya. Kalau Kinanti dipindahkan, dia pasti ada disana.
Cepatlah ke ruang bayi.”pinta Gadis lagi.
“Kenapa aku harus kesana? Itukan anaknya
pria bodoh... Rio.”
Gadis kehilangan kesabarannya, ia menyambar
__ADS_1
tas Kinanti yang masih dibawa Endy tadi. Diambilnya KTP Kinanti dari dalam
dompet. Gadis mengembalikan tas Kinanti ke samping Endy, lalu bergegas kembali
ke ruang bayi.
Suster memberikan beberapa formulir yang
harus diisi Gadis. Saat ia dimintai informasi tentang suami Kinanti, Gadis
hampir keceplosan bilang kalau Kinanti belum menikah. Dengan berat hati Gadis
menyebut nama Rio, hanya itu yang sanggup ia katakan. Selebihnya suster hanya
perlu tanda tangan Gadis.
Dokter anak yang menangani bayi Kinanti,
keluar dari ruang periksa. “Suster, mana catatan bayi barusan?”pinta dokter.
“Maaf, dok. Saya boleh tahu keadaan bayi
dari Kinanti?”tanya Gadis hati-hati.
“Anda siapa? Dimana suaminya?”tanya dokter
itu sambil menatap Gadis.
“Saya kakaknya, dokter. Suaminya... sedang
sakit dirumah, kondisinya tidak memungkinkan untuk kesini. Bagaimana keadaan
bayinya, dokter?”tanya Gadis lagi.
“Kami masih melakukan observasi. Saya sudah
memeriksa semua anggota tubuhnya, semuanya lengkap. Jenis kelaminnya perempuan,
apa anda sudah tahu?”
Gadis menggeleng, Kinanti tidak mau
mengetahui jenis kelamin anaknya. Ia selalu menghindar kalau dokter ingin
membahas mengenai jenis kelamin bayi di kandungannya. Dokter mengangguk-angguk,
“Satu hal yang harus saya pastikan lagi. Sepertinya mata bayi ini tidak
“Ma... maksud dokter?”tanya Gadis gugup.
“Kemungkinannya ada kebutaan. Untuk saat
ini, kami masih menunggu perkembangannya. Apa ibunya sudah sadar?”
Gadis menggeleng dalam keterkejutannya,
bagaimana bisa bayi itu tidak sempurna. Selama kehamilannya, Kinanti selalu
makan-makanan yang bergizi dan juga selalu minum susu. Gadis larut dalam
pikirannya, sampai tidak mendengar kata-kata dokter berikutnya.
“Maaf, bisa tolong dengarkan saya?”pinta
dokter pada Gadis.
“Eh, iya. Maaf, dokter. Saya kaget tahu
kondisi bayinya seperti itu.”
Dokter menjelaskan kalau hal itu mungkin saja
terjadi saat di dalam kandungan ibunya kekurangan suatu zat yang berguna disaat
masa pertumbuhan janin. Atau juga mengalami stres. Gadis mengangguk, mengatakan
pada dokter kalau Kinanti sempat stres ketika melihat Rio depresi.
Emosi Kinanti sempat tidak stabil selama
beberapa minggu, meskipun tetap makan teratur, tapi pikirannya selalu tidak
tenang. Dokter mengatakan ibu hamil tidak boleh sampai stres karena akan
berpengaruh terhadap perkembangan bayinya.
Gadis ingin melihat bayi Kinanti, ia
meminta ijin pada dokter dan dokter mengijinkannya. Gadis memakai baju steril
__ADS_1
di balik pakaiannya. Ia mendekati inkubator tempat bayi Kinanti diletakkan.
Setidaknya perlu satu bulan lamanya sebelum bayi itu bisa benar-benar keluar
dari inkubator.
Gadis melihat wajah bayi lucu yang sangat
mungil itu. Beratnya masih 1,8 kg saat lahir. “Hai, baby Kaori.”panggil Gadis. Ia
ingat Rio mengatakan kalau punya bayi perempuan dia akan menamainya Kaori.
“Kamu cantik sekali ya. Sama seperti ibumu.
Cepat keluar dari sini ya, baby. Nanti tante ajak ke rumah opa Alex. Disana ada
oma Mia, om kembar, mb Minah, mb Roh, dan... papa Rio.”Gadis meneteskan air
matanya, suaranya tercekat.
Ia menarik nafas panjang sambil mengusap
air matanya. “Mama Kinanti juga ada. Kita tinggal sama-sama ya. Sehat terus ya,
baby Kaori.”
Dokter memanggil Gadis, ia hanya diberi
waktu 10 menit untuk menemui bayi Kaori. Gadis segera keluar dari ruang bayi,
ia menggantung baju steril di tempat semula dan kembali ke ruangan suster. Dokter memberikan beberapa petunjuk
tentang merawat bayi prematur, selama bayi Kaori masih ada di inkubator, ibunya
harus datang juga untuk menjenguk bayinya.
“Tapi saat ini ibunya belum sadar juga,
dokter. Tapi coba saya cek dulu ya.”kata Gadis.
Ia melangkah kembali ke ruang operasi,
tampak Endy masih ada disana. Gadis duduk di samping Endy, memberi jarak satu
kursi dari pria itu.
“Bayi itu... buta.”kata Gadis hanya
sepenggal kalimat, tapi memberi reaksi yang berlebihan pada Endy.
Pria itu langsung menatapnya, “Buta?
Tapi...” Gadis menatap heran pada Endy. Kenapa reaksinya berlebihan sekali
untuk seorang bayi yang bukan anak kandungnya? Jangan-jangan...
Endy cepat menguasai dirinya, ia merubah
raut wajahnya dengan cepat. Kembali berandar pada kursi dengan tenang.
“Kemungkinannya karena ibunya sempat stres
di awal masa kehamilannya.”jelas Gadis tanpa diminta.
*”Atau karena faktor keturunan”*
Endy bergumam dalam hati, bayi perempuan itu
memang anaknya. Papa Endy juga memiliki seorang kakak perempuan yang buta.
Setiap keturunan perempuan di keluarga papa Endy, selalu terlahir buta. Tapi
entah kenapa kakek Endy sangat menyayangi anak perempuannya itu. Bahkan
pernikahannya diatur sangat meriah dan mewah melebihi pernikahan orang tuanya
dulu.
Endy berpikir bagaimana kalau papanya tahu
Endy sudah mempunyai seorang putri yang buta? Akankah papanya menyayangi
putrinya? Cucu kandungnya? Tapi Kinanti mungkin tidak akan setuju karena sejak
awal itu rencana mereka. Menggunakan anak itu sebagai jalan memuluskan rencana
Kinanti untuk mendapat Rio.
*****
__ADS_1
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.