Duren Manis

Duren Manis
DM2 – Tidak sempurna


__ADS_3

DM2 – Tidak sempurna


Gadis membiarkan Endy mengurus semuanya


tentang Kinanti. Ia masih bertanya-tanya benarkah orang di hadapannya ini


adalah Endy. Pria yang sudah dicari sekian bulan lamanya, sekarang muncul


begitu saja di hadapannya.


Kinanti dipindahkan ke ruang operasi, Gadis


duduk di depan ruang operasi bersama Endy. Ia menatap Endy, tapi takut untuk


bertanya. Gadis menghela nafasnya, “Maaf, kita belum kenalan. Aku Gadis.”


Endy tidak ingin menjawab Gadis, tapi


akhirnya buka mulut juga. “Aku Endy.”


Keduanya saling diam lagi. Gadis ingin


sekali menanyakan ada hubungan apa antara Kinanti dengan Endy, tapi ia memilih


bungkam. Sesekali Gadis melirik melihat kecemasan di wajah Endy.


Setengah jam kemudian, dokter keluar dari


ruang operasi. Gadis dan Endy berdiri bersamaan, “Bagaimana keadaan Kinanti,


dokter?”tanya Gadis.


“Operasinya berjalan lancar, tapi


sepertinya kondisi bayinya tidak terlalu baik. Saat ini sedang ditangani dokter


anak. Bayi itu lahir sebelum waktunya.”


“Kinanti gimana, dokter?”tanya Endy.


“Pasien masih belum sadarkan diri. Satu jam


lagi, akan kami pindahkan ke ruang ICU untuk memantau perkembangannya.”


“Bayinya ada dimana, dokter?”tanya Gadis.


“Saat ini sedang ditangani di ruang bayi.


Di sebelah sana. Saya permisi dulu.”


Gadisberjalan cepat menuju ruang bayi,


ia tidak mengajak Endy yang masih menunggu Kinanti di depan ruang operasi. Sampai


di depan ruang bayi, ia membuka pintu perlahan. Seorang suster menegurnya, “Ada


keperluan apa?”


“Saya kakaknya pasien Kinanti yang baru


habis melahirkan. Bayinya prematur. Boleh saya tahu keadaan bayinya?”tanya


Gadis.


“Saat ini bayinya sedang ditangani dokter


dan belum bisa ditemui. Bisa minta tolong isi data ibu dan ayahnya


disini?”tanya suster.


“Saya ambil KTP adik saya dulu ya, suster.”


Gadisterpaksa kembali ke depan ruang


operasi. Ia meminta Endy mengisi data Kinanti di ruang bayi. “Tapi


Kinanti...”kata Endy enggan meninggalkan tempat duduknya.


“Anda lihat kesana.”tunjuk Gadis ke ruang


ICU. “Disana ruang ICU-nya. Kalau Kinanti dipindahkan, dia pasti ada disana.


Cepatlah ke ruang bayi.”pinta Gadis lagi.


“Kenapa aku harus kesana? Itukan anaknya


pria bodoh... Rio.”


Gadis kehilangan kesabarannya, ia menyambar

__ADS_1


tas Kinanti yang masih dibawa Endy tadi. Diambilnya KTP Kinanti dari dalam


dompet. Gadis mengembalikan tas Kinanti ke samping Endy, lalu bergegas kembali


ke ruang bayi.


Suster memberikan beberapa formulir yang


harus diisi Gadis. Saat ia dimintai informasi tentang suami Kinanti, Gadis


hampir keceplosan bilang kalau Kinanti belum menikah. Dengan berat hati Gadis


menyebut nama Rio, hanya itu yang sanggup ia katakan. Selebihnya suster hanya


perlu tanda tangan Gadis.


Dokter anak yang menangani bayi Kinanti,


keluar dari ruang periksa. “Suster, mana catatan bayi barusan?”pinta dokter.


“Maaf, dok. Saya boleh tahu keadaan bayi


dari Kinanti?”tanya Gadis hati-hati.


“Anda siapa? Dimana suaminya?”tanya dokter


itu sambil menatap Gadis.


“Saya kakaknya, dokter. Suaminya... sedang


sakit dirumah, kondisinya tidak memungkinkan untuk kesini. Bagaimana keadaan


bayinya, dokter?”tanya Gadis lagi.


“Kami masih melakukan observasi. Saya sudah


memeriksa semua anggota tubuhnya, semuanya lengkap. Jenis kelaminnya perempuan,


apa anda sudah tahu?”


Gadis menggeleng, Kinanti tidak mau


mengetahui jenis kelamin anaknya. Ia selalu menghindar kalau dokter ingin


membahas mengenai jenis kelamin bayi di kandungannya. Dokter mengangguk-angguk,


“Satu hal yang harus saya pastikan lagi. Sepertinya mata bayi ini tidak


“Ma... maksud dokter?”tanya Gadis gugup.


“Kemungkinannya ada kebutaan. Untuk saat


ini, kami masih menunggu perkembangannya. Apa ibunya sudah sadar?”


Gadis menggeleng dalam keterkejutannya,


bagaimana bisa bayi itu tidak sempurna. Selama kehamilannya, Kinanti selalu


makan-makanan yang bergizi dan juga selalu minum susu. Gadis larut dalam


pikirannya, sampai tidak mendengar kata-kata dokter berikutnya.


“Maaf, bisa tolong dengarkan saya?”pinta


dokter pada Gadis.


“Eh, iya. Maaf, dokter. Saya kaget tahu


kondisi bayinya seperti itu.”


Dokter menjelaskan kalau hal itu mungkin saja


terjadi saat di dalam kandungan ibunya kekurangan suatu zat yang berguna disaat


masa pertumbuhan janin. Atau juga mengalami stres. Gadis mengangguk, mengatakan


pada dokter kalau Kinanti sempat stres ketika melihat Rio depresi.


Emosi Kinanti sempat tidak stabil selama


beberapa minggu, meskipun tetap makan teratur, tapi pikirannya selalu tidak


tenang. Dokter mengatakan ibu hamil tidak boleh sampai stres karena akan


berpengaruh terhadap perkembangan bayinya.


Gadis ingin melihat bayi Kinanti, ia


meminta ijin pada dokter dan dokter mengijinkannya. Gadis memakai baju steril

__ADS_1


di balik pakaiannya. Ia mendekati inkubator tempat bayi Kinanti diletakkan.


Setidaknya perlu satu bulan lamanya sebelum bayi itu bisa benar-benar keluar


dari inkubator.


Gadis melihat wajah bayi lucu yang sangat


mungil itu. Beratnya masih 1,8 kg saat lahir. “Hai, baby Kaori.”panggil Gadis. Ia


ingat Rio mengatakan kalau punya bayi perempuan dia akan menamainya Kaori.


“Kamu cantik sekali ya. Sama seperti ibumu.


Cepat keluar dari sini ya, baby. Nanti tante ajak ke rumah opa Alex. Disana ada


oma Mia, om kembar, mb Minah, mb Roh, dan... papa Rio.”Gadis meneteskan air


matanya, suaranya tercekat.


Ia menarik nafas panjang sambil mengusap


air matanya. “Mama Kinanti juga ada. Kita tinggal sama-sama ya. Sehat terus ya,


baby Kaori.”


Dokter memanggil Gadis, ia hanya diberi


waktu 10 menit untuk menemui bayi Kaori. Gadis segera keluar dari ruang bayi,


ia menggantung baju steril di tempat semula dan kembali ke ruangan suster. Dokter memberikan beberapa petunjuk


tentang merawat bayi prematur, selama bayi Kaori masih ada di inkubator, ibunya


harus datang juga untuk menjenguk bayinya.


“Tapi saat ini ibunya belum sadar juga,


dokter. Tapi coba saya cek dulu ya.”kata Gadis.


Ia melangkah kembali ke ruang operasi,


tampak Endy masih ada disana. Gadis duduk di samping Endy, memberi jarak satu


kursi dari pria itu.


“Bayi itu... buta.”kata Gadis hanya


sepenggal kalimat, tapi memberi reaksi yang berlebihan pada Endy.


Pria itu langsung menatapnya, “Buta?


Tapi...” Gadis menatap heran pada Endy. Kenapa reaksinya berlebihan sekali


untuk seorang bayi yang bukan anak kandungnya? Jangan-jangan...


Endy cepat menguasai dirinya, ia merubah


raut wajahnya dengan cepat. Kembali berandar pada kursi dengan tenang.


“Kemungkinannya karena ibunya sempat stres


di awal masa kehamilannya.”jelas Gadis tanpa diminta.


*”Atau karena faktor keturunan”*


Endy bergumam dalam hati, bayi perempuan itu


memang anaknya. Papa Endy juga memiliki seorang kakak perempuan yang buta.


Setiap keturunan perempuan di keluarga papa Endy, selalu terlahir buta. Tapi


entah kenapa kakek Endy sangat menyayangi anak perempuannya itu. Bahkan


pernikahannya diatur sangat meriah dan mewah melebihi pernikahan orang tuanya


dulu.


Endy berpikir bagaimana kalau papanya tahu


Endy sudah mempunyai seorang putri yang buta? Akankah papanya menyayangi


putrinya? Cucu kandungnya? Tapi Kinanti mungkin tidak akan setuju karena sejak


awal itu rencana mereka. Menggunakan anak itu sebagai jalan memuluskan rencana


Kinanti untuk mendapat Rio.


*****

__ADS_1


Klik profil author ya, ada novel karya author yang


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk). Tq.


__ADS_2