
Situasi perkuliahan si kembar mulai padat, padat tugas, padat kuliah, padat kuis juga. Mereka berusaha menjalani semuanya dengan baik tanpa mengeluh.
Satu hal yang bisa membuat mereka bertahan adalah v-call dengan Mia hampir setiap malam. Apalagi melihat mamanya semakin bulat dengan perut membuncit.
Sama seperti malam sebelumnya, si kembar duduk di kantin kampus, makan malam sambil v-call dengan Mia.
Riri : "Mama sehat banget ya..."
Mia : "Maksud Riri, gendut? Uda naik 5 kg. Hehe..."
Riri : "Ntar gak kebesaran, mah?"
Mia : "Gak sich, kata dokter masih wajar. Kalian ngapain?"
Rio : "Dinner sambil nugas, mah."
Mia : "Kaori mana?"
Riri : "Di kamar, ngambek."
Mia : "Loh, kenapa?"
Riri : "Gak tau nich mah. Kemarin Kaori nugas sama Rio, pulangnya ngambek sampe sekarang. Cerita dong, kamu apain dia?"
Rio pura-pura budeg sambil terus menulis tugasnya.
Mia : "Rio, kamu nakal ya sama Kaori."
Rio : "Gak ada, mah."
Rio ingin cerita kejadian apa yang membuat Kaori marah padanya sampai saat ini, tapi takut Riri akan mengomelinya.
π±π±π±π±π±
Flash back...
Sehari sebelumnya di taman belakang kampus yang sepi, Kaori dan Rio sedang mengerjakan tugas bersama-sama. Saat itu Riri belum bergabung bersama mereka karena sedang menyetorkan tugas pada dosen.
Kaori dan Rio duduk di bangku taman yang banyak terdapat disana. Dihadapan mereka ada meja yang bisa dipakai untuk meletakkan laptop atau makanan.
Fasilitas yang lengkap dan nyaman disediakan bagi mahasiswa agar mereka tidak cepat bosan dalam belajar dan juga bisa menikmati pemandangan taman yang indah.
Kaori menulis jawaban tugasnya pada kertas double folio yang hampir terisi penuh. Sedikit lagi dan semua tugas untuk besok kelar juga. Sebenarnya masih ada waktu untuk mereka mengerjakan tugas sampai malam hari, tapi Kaori tidak suka menunda pekerjaan apapun.
Semakin cepat selesai, semakin tenang dirinya menikmati sisa hari ini. Rio yang juga mengerjakan tugasnya mulai terganggu dengan aroma wangi yang menguar dari tubuh Kaori.
Gadis itu memakai parfum beraroma pantai yang segar. Ia juga mengikat rambutnya tinggi seperti biasanya, menggoda Rio untuk menarik ekor kudanya lagi.
Rio melakukan itu, menarik ekor kuda Kaori dan membuat gadis itu kaget hingga tanpa sengaja mencoret panjang tugasnya yang hampir selesai.
Kaori : "Rioo...!!! Tugasku rusak nich!! Kamu kenapa gak bisa diem sich?"
Rio melongo melihat hasil perbuatannya, gadis di depannya hampir menangis kesal karena kelakuannya.
Kaori : "Kamu jahat banget sich! Aku capek nulis nich, banyak banget. Uda sejam aku duduk nulis. Pinggangku uda sakit, pegel tau. Sekarang rusak, dan aku harus ngulang lagi. Mana robek lagi. Huhu..."
Kaori menangis beneran karena kesal dan capek. Sebelumnya memang mereka sangat padat kuliah tanpa ada istirahat yang cukup. Mahasiswa tingkat satu memang dibiasakan menjalankan kuliah lebih padat dari tingkat diatasnya.
__ADS_1
Rio kebingungan melihat Kaori menangis, ia memperhatikan tulisan tangannya dan Kaori hampir mirip hanya beda di penulisan huruf besar saja. Ia bisa menyalin tugasnya dua kali untuk Kaori nanti.
Rio : "Aku minta maaf. Biar aku yang nulis. Tulisan tangan kita hampir sama kok."
Kaori : "Kalo kamu gak iseng, kamu gak perlu nglakuin itu. Sekarang lihat sendiri."
Rio : "Aku uda minta maaf, kan. Aku gak sengaja."
Kaori : "Kamu tuch gak pernah serius, Rio. Bercanda melulu. Kapan dewasanya?!"
Bla, bla, bla dan bla... Kaori merepet mengeluarkan unek-uneknya selama ini. Ia curhat sambil ngomel dengan kata-kata yang tidak bisa di rem Rio.
Rio mulai memperhatikan bibir Kaori yang terus bergerak, seolah mengundangnya untuk membuat bibir itu berhenti bergerak. Dan Rio melakukannya, sebuah kecupan yang menyatukan kedua bibir mereka membuat Kaori diam seketika.
Untuk pertama kalinya Rio merasakan bibir lembab dan lembut milik seorang gadis. Apa rasanya? Ia ingin merasakan bibir Kaori, tapi gadis itu keburu mendorongnya.
Rio tidak mau, belum mau menyerah, ia menarik tangan Kaori yang hampir berdiri hendak meninggalkannya sendirian disana. Dipegangnya erat tangan gadis itu, dan tangan satunya menarik tengkuk Kaori menyatukan bibir mereka lagi.
Rio pernah menonton orang berciuman, ia ingat dengan detail bagaimana caranya. Tapi di film-film, mulut mereka terbuka dan ada sedikit permainan lidah. Rio berpikir gimana caranya melakukan itu bersama Kaori.
Rio mengeluarkan lidahnya sedikit, merasakan bibir Kaori yang manis dengan aroma berry yang memikat. Kening Rio mengkerut, darimana aroma berry itu? Apa dari lipstiknya? Ya, perempuan kan selalu memakai lipstik.
Pelan-pelan Kaori berhenti meronta, Rio melepaskan tangannya yang membelenggu tangan Kaori, kedua tangannya menangkup pipi gadis itu. Apa ini? Kenapa tangannya basah? Air darimana?
Penasaran dengan asal air yang membasahi tangannya, Rio membuka matanya dan sedikit menjauh dari wajah Kaori. Matanya terbelalak mendapati Kaori menangis dengan bibir pucat.
Kaori tidak bicara apa-apa, ia mendorong Rio, bangkit berdiri menyambar buku dan tas sekedarnya. Ia berlari kembali ke asrama sambil menangis, meninggalkan Rio bengong sendirian.
Flash back end...
π±π±π±π±π±
Rio : "Aku gak sengaja. Dia cerewet banget sich."
Riri : "Kamu ngapain? Jangan buat aku takut, Rio."
Rio : "Aku cium dia."
Riri & Mia : "What!!!"
Riri menoleh sekelilingnya yang mulai kepo karena ia berteriak kaget. Riri menurunkan intonasi suaranya,
Riri : "Kamu gila. Pantes aja Kaori ngambek, semalam kemarin dia nangis terus. Tanggung jawab kamu!"
Rio : "Iya, ini juga lagi tanggung jawab."
Kening Riri mengkerut melihat apa yang dilakukan Rio. Ia baru sadar kalau Rio menyalin ulang tugas yang tadi sudah diselesaikannya.
Riri : "Kenapa kamu buat tugas 2 kali?"
Rio : "Aku ngrusak tugas Kaori. Aku gak sengaja, beneran. Trus dia ngomel, aku gak tahan dengernya. Jadi aku cium..."
Riri : "Astaga Rio! Minta maaf sama dia."
Rio : "Nich, titip kasi dia. Tinggal diisi nama aja. Aku gak tau nama lengkapnya."
Riri : "Gak mau. Kasi sendiri."
__ADS_1
Rio : "Gimana mau ngasi sendiri, aku chat gak dibales, diread doang. Aku telpon gak diangkat. Tolong dong."
Riri : "Aku panggil dia kesini, kamu kasi sendiri."
Mia menatap wajah Rio yang nelangsa, memelas meminta pertolongan Riri. Ia tersenyum mengingat kelakuan Rio mirip sekali dengan papanya.
Mia : "Dasar anaknya papa Alex."
Rio nyengir mendengar komentar Mia. Ia menatap wajah Mia yang sedang tersenyum. Dikedipan mata setelahnya wajah Mia berubah jadi wajah Kaori.
Rio : "Kaori..."
Mia : "Kaori? Weii... Ini mama. Kamu halu?"
Rio : "Eh, iya..."
Rio melengos, memegang ponsel di tangannya sambil menyandarkan dagunya ke meja kantin.
Mia : "Kamu harus minta maaf yang benar ya. Emang apa hubungan kalian?"
Rio : "Cuma temen, mah."
Mia : "Baru temen uda berani nyosor. Kamu nakal ya kayak papamu."
Rio : "..."
Riri datang bersama Kaori yang terlihat enggan bertemu Rio. Mereka duduk di depan Rio, Kaori cuma menunduk tidak mau menatap Rio.
Rio : "Maaf, aku..."
Kaori : "Mana tugasku?"
Rio : "Ini..."
Rio menyerahkan kertas double folio di hadapannya tadi pada Kaori. Gadis itu memeriksa kertas itu bolak-balik dan kembali menunduk.
Rio : "Kaori, maafin aku."
Kaori : "Iya."
Rio : "Liat aku dong, jangan nunduk trus."
Kaori mengangkat kepalanya ketika mata mereka bertemu, keduanya auto fokus melihat bibir masing-masing. Wajah keduanya semburat memerah hampir keunguan.
Mia dan Riri hanya bisa menatap mereka yang malu-malu kucing, menghasilkan atmosfer yang canggung untuk mereka semua.
π»π»π»π»π»
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain βMenantu untuk Ibuβ, βPerempuan IDOLβ, βJebakan Cintaβ dengan cerita yang tidak kalah seru.
Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya para reader.
Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya..
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
π²π²π²π²π²
__ADS_1