Duren Manis

Duren Manis
Peluang sembuh


__ADS_3

Mobil jemputan membawa mereka berdua ke rumah sakit langganan Arnold. Kedatangan Arnold seolah menghentikan waktu di rumah sakit itu.


Beberapa pengunjung berbisik-bisik mengira Arnold seorang artis. Dan pegawai rumah sakit yang mengenal Arnold, menyapanya.


Arnold : "Saya mau ketemu dr. Kevin." kata Arnold pada resepsionis.


Resepsionis : "Dokter Kevin sudah menunggu di kantornya. Arnold sudah tahu tempatnya kan?"


Arnold hanya mengangguk, ia menghadap ke Rara yang sedikit gugup. Diraihnya tangan gadis itu,


Arnold : "Kita ketemu dokter dulu ya. Kalau kamu gak nyaman, bilang aja. Kita hentikan segera."


Rara : "Kak, sebenarnya Rara takut jarum suntik."


Arnold tersenyum pada Rara, ia menunduk sedikit mendekati telinga Rara,


Arnold : "Jangan takut, ada aku."


Mereka berjalan beriringan menuju kantor dr. Kevin. Arnold mengetuk pintu dan seorang suster keluar dari sana.


Suster : "Arnold, silakan masuk. Sudah ditunggu dari tadi."


Rara masuk ke dalam mengikuti Arnold. Ia melihat kantor dokter itu sangat nyaman dengan sofa besar dan bed periksa, lengkap dengan beberapa alat canggih.


Rara berdiri dengan setengah badan dibelakang Arnold yang sudah bersalaman dengan dr.Kevin.


dr. Kevin : "Arnold, apa kabarmu? Dan ini pasti Rara."


Arnold : "Baik, dok. Iya, ini Rara. Rara, ini dokter Kevin. Dokter Kevin membantu dalam terapiku selama ini. Aku sudah cerita semua yang kurasakan setelah ketemu kamu."


Rara hanya mengangguk takut kepada dokter Kevin yang tersenyum padanya. Mereka duduk di sofa besar, sementara Kevin tiduran di bed periksa.


dr. Kevin : "Nah, Rara jangan takut. Ini sesi yang biasa buat Arnold dan Arnold akan langsung pingsan saat sakit kepalanya kambuh. Kalau cerita Arnold benar, seharusnya Rara bisa membantu membuat kondisi Arnold stabil, sehingga tubuh dan pikirannya bisa menerima terapi yang kita jalankan. Apa Rara sudah siap?"


Rara hanya mengangguk. Ia diminta duduk di samping Arnold dan memegang tangannya. Perlahan Arnold mulai memejamkan matanya.


Dokter Kevin terus bicara tentang hal-hal yang tidak Rara mengerti. Perlahan keringat dingin mulai membasahi tangan dan kening Arnold. Keningnya berkerut dan pegangan tangannya semakin kuat.


Dokter Kevin melihat reaksi Arnold dan meminta Rara menenangkannya.


dr.Kevin : "Rara, coba tenangkan dia. Lakukan saja, jangan malu-malu."


Awalnya Rara bingung apa yang harus ia lakukan, tapi ia ingat kejadian di lift dan perlahan bergeser berbaring di atas tubuh Arnold.


Tangan Arnold memeluk tubuh Rara dengan erat. Menghirup dalam-dalam aroma tubuh Rara dari lehernya dan mulai turun ke atas dada Rara.


Rara merasakan sensasi aneh pada tubuhnya, ini pertama kali bagi Rara ketika bagian tubuhnya disentuh secara intensif oleh laki-laki yang ia cintai.

__ADS_1


Wajah Rara benar-benar semerah kepiting rebus, nafasnya mulai berat. Ia tidak bisa banyak bergerak karena dekapan Arnold.


Untung saja session pertama segera dihentikan dokter Kevin yang melihat Arnold hampir lepas kendali saat mendekap Rara.


Arnold masih memejamkan matanya, tapi dekapannya sudah mengendur. Rara kembali duduk di posisi semula. Ia merapikan kemejanya yang sedikit terbuka.


Dokter Kevin memulai lagi dan kali ini Arnold bisa menceritakan dengan detail mengenai kejadian sebelum ia kecelakaan.


Arnold bicara pada saat seharusnya ia mengerem, ia melihat sekelebat bayangan hitam lewat di depannya. Dan saat itu Arnold merasakan kematian sangat dekat dengannya.


Arnold mulai menangis, Rara kembali memegang tangannya erat. Arnold tidak bicara apa-apa lagi hanya gumaman yang tidak jelas sesekali meluncur dari mulutnya.


dr. Kevin : "Kemungkinan ini saat ia menghadapi masa-masa kritisnya saat itu. Menurut catatan, seharusnya harapan hidup Arnold sangat tipis karena lukanya sangat parah. Tapi keajaiban muncul dan ia bisa pulih meski harus menjalani terapi rutin."


Tiba-tiba Arnold menarik tangan Rara membuat gadis itu terjatuh ke atas dadanya lagi. Perlahan Arnold membuka matanya dan menatap mata Rara.


Tanpa aba-aba atau peringatan, Arnold meraih tengkuk Rara dan menciumnya. Rara yang sangat terkejut hanya bisa terpana mendapat perlakuan seperti itu.


Dokter Kevin segera menyelesaikan session kedua dan membiarkan Arnold dan Rara berdua untuk sementara.


Arnold melepaskan pegangannya pada tengkuk Rara dan menatap matanya dalam. Kali ini ia tidak merasakan ketakutan lagi, ia sangat optimis bisa sembuh.


Dan ia berjanji pada dirinya kalau ia akan menjaga Rara selamanya. Bukan hanya menjaganya tapi juga mencintainya dengan tulus.


Rara : "Kakak gak apa-apa?"


Rara mengeluarkan tisu dari dalam tasnya dan mulai mengelap keringat di kening Arnold dengan hati-hati.


Arnold : "Ra, makasih ya. Aku sudah ingat apa yang terjadi sebelum kecelakaanku. Tuhan sudah memberiku kesempatan kedua dan aku tidak akan pernah menyia-nyiakannya."


Rara : "Syukurlah kalau Rara bisa bantu kakak. Itu dokternya lagi keluar, coba Rara liat ya."


Arnold tersenyum melihat Rara beranjak dari sisinya, berjalan ke pintu keluar. Dokter Kevin ada di depan pintu, memperhatikan hasil rekaman kedua session tadi.


dr. Kevin : "Oh, Rara. Kalian sudah selesai?"


Wajah Rara memerah lagi mendengar kata-kata dokter Kevin. Memangnya apa yang ia dan Arnold lakukan di dalam sampai dokter ini bertanya seperti itu.


Mereka kembali duduk bersama di kantor dokter Kevin. Ia senang sekali karena session kali ini banyak kemajuan. Dokter Kevin masih memberi resep obat pada Arnold tapi dengan dosis yang lebih rendah.


dr.Kevin : "Besok kita mulai lagi dua session. Kamu bisa lihat rekaman yang tadi, jadi besok kamu sampaikan mau melihat bagian mana lagi. Okey."


Arnold : "Ok, dok. Ayo, Ra."


Arnold menggenggam tangan Rara keluar dari rumah sakit. Mereka ingin makan siang sebelum balik ke apartment untuk istirahat.


Arnold : "Ra, kamu mau makan apa?"

__ADS_1


Rara : "Yang dekat aja, kak. Rara gak tau sekitar sini ada makanan apa."


Arnold meminta diantarkan ke restauran terdekat dengan apartment.


Sampai di restaurant, Rara memesan makanan sementara Arnold pergi ke toilet. Sambil mengantri, Arnold melihat rekaman yang dikirimkan dokter Kevin.


Deg! Fokus Arnold tertuju pada adegan saat ia memeluk Rara dan mencumbunya. Wajah Arnold memerah melihat reaksi Rara saat itu.


Sekembalinya dari toilet, pesanan mereka telah lengkap. Arnold makan sambil sesekali melirik Rara yang makan dengan tenang.


Kenapa reaksi Rara biasa saja? Padahal jelas-jelas tadi Arnold sudah melecehkan bahkan menciumnya.


Rara : "Kakak kok berhenti makannya? Belum habis loh."


Arnold : "Kamu makan lahap banget. Enak ya."


Rara : "Iya, kak. Enak banget ternyata aku laper, kak."


Arnold : "Aku boleh nyobain?"


Rara menyodorkan piringnya, tapi Arnold malah menarik tangan Rara yang masih memegang sepotong daging ayam. Ia memakannya tanpa ragu-ragu.


Arnold : "Iya, enak. Kamu mau coba punyaku?"


Rara : "Emang boleh kak?"


Kali ini Arnold menyodorkan sendok yang berisi makanannya ke depan mulut Rara. Ia memakannya dan tersenyum manis. Makanan Arnold juga sama enaknya.


Setelah selesai makan dan membayar tagihan, Arnold mengajak Rara kembali ke apartment.


Arnold : "Kita istirahat dulu. Nanti malam baru keluar lagi sambil makan malam. Aku ajak kamu keliling kota J dimalam hari."


Mereka sampai di kamar apartment dan saat Rara menutup pintu, Arnold sudah mengukungnya ke pintu.


-------


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’


dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan sarannya ya para reader.


Sama tolong vote poin untuk karya author yang ini ya. Caranya cari detail dan klik vote.


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


-------

__ADS_1


__ADS_2