Duren Manis

Duren Manis
Menikahi Aunty Renata – Reynold & Renata 11


__ADS_3

Menikahi Aunty Renata – Reynold & Renata 11


Kemana Alfian membawa Merry setelah menarik wanita itu dari kantin karyawan? Samar terlihat, mobil


Alfian bergoyang pelan di parkiran basement. Pemilik mobilnya duduk di belakang kemudi, tapi tubuhnya hampir separuhnya berada di kursi penumpang. Alfian sibuk mengecup bibir Merry, mengukung tubuh wanita yang menolaknya sejak mereka masuk kesana. Gerakan Merry yang merontalah yang membuat mobil bergoyang pelan.


“Jangan menolakku, Mer,” pinta Alfian mesra.


“Al, kamu gila! Ini dikantor, nanti ada yang lihat!” pekik Merry kuatir.


Konsentrasinya terpecah antara menikmati ciuman Alfian atau memperhatikan sekeliling mereka. Jangan


sampai ada orang yang memergoki mereka berdua sedang mojok di parkiran seperti saat ini. Merry mendorong-dorong tubuh Alfian agar berhenti mencium bibirnya.


“Mer, balas ciumanku. Waktu kita tidak banyak,” pinta Alfian yang sudah terlanjur panas.


“Al, kamu kenapa seperti ini sich? Aku bukan pacarmu. Kita bahkan nggak punya hubungan sedekat itu sampai bisa ciuman begini,” kata Merry mencoba menghindari ciuman yang mendera bibirnya.


Alfian menatap dalam mata Merry, membuat wanita itu tidak berkutik. “Mer, selama lima tahun aku terus bersamamu. Kenapa kau belum juga yakin denganku?” ucap Alfian merayu Merry.


“Kita cuma teman! Berhentilah menciumku!” jerit Merry kesal.


Dengan sisa tenaganya, Merry mendorong Alfian lalu merapikan penampilannya yang berantakan gara-gara


ulah Alfian. Wanita itu mengancam akan memutuskan pertemanan mereka kalau Alfian terus memaksanya seperti saat ini. Alfian berusaha membujuk Merry lagi.


“Mer, kita sudah sama-sama dewasa. Sama-sama single. Selama ini aku sudah berusaha mengatakan


perasaanku sama kamu. Tapi kamu kan tahu, aku tidak biasa bicara tentang cinta dan hal-hal konyol seperti itu. Kita bukan lagi anak ABG, Mer. Ayo kita menikah,” ajak Alfian mencoba meyakinkan Merry.


Wanita itu menggeleng ragu, Alfian memang tidak pernah terlihat dekat dengan wanita lain selama


mereka berteman. Hampir setiap hari mereka bertemu, entah dikantor atau saat weekend. Alfian selalu dingin pada wanita lain yang lebih cantik dan seksi dari Merry. Bagaimanapun penampilan seorang wanita yang mereka lewati sampai membuat Merry menoleh kagum, Alfian tetap hanya menatap wanita tambun itu.


“Al, kamu harus pikirkan lagi baik-baik. Pernikahan itu hanya sekali seumur hidup kita. Bukan bahan mainan. Kamu akan menyesal menikahiku dan aku nggak mau waktu kita terbuang hanya karena egomu. Bagaimana kalau setelah kita menikah, kamu menemukan wanita lain yang lebih cantik, lebih langsing dari aku?” tanya Merry.


Alfian menjambak rambutnya kesal, ia tidak tahu lagi cara meyakinkan Merry agar mau menerima


cintanya. Wanita itu sangat keras kepala, tidak mau membuka hati untuknya.


“Aku tahu kamu marah sama aku. Aku juga ingin merasakan dicintai dengan tulus tanpa melihat fisikku.


Tapi aku juga sangat sadar kalau cinta yang tulus itu sangat sulit di dapatkan di zaman sekarang ini. Al, buatku kamu adalah teman yang baik. Aku sangat menghargaimu dan tidak mau kehilangan kamu. Tolong kasih aku waktu,” pinta Merry.


“Sebentar lagi ulang tahunmu, aku mau jawabannya hari itu. Kalau jawabanmu iya, aku akan langsung


menikahimu. Tapi kalau jawabanmu tidak, aku akan pergi dari hidupmu,” ancam Alfian.


Merry manyun, ngambek karena Alfian masih memaksanya juga. Itu artinya, jawaban Merry harus iya.

__ADS_1


Alfian mencubit kedua pipi Merry saking gemasnya dengan wanita itu. Tanpa mereka sadari, seseorang memperhatikan mereka sejak tadi. Bahkan mengambil foto-foto mesra mereka berdua.


**


Pulang kerja, Renata baru keluar dari lift ketika ia tidak sengaja menabrak Abdi. Staf keuangan itu


sepertinya sedang menunggu dirinya. Renata tersenyum basa-basi ketika pria playboy itu mengajaknya pulang bersama. Padahal Renata sudah bilang kalau tempat tinggalnya ada di belakang kantor. Abdi nekat mengikuti Renata keluar dari lobby kantor. Menyusuri jalan menuju apartment Reynold.


Renata menoleh ke belakang, setelah menghentikan langkahnya. Ia menatap Abdi yang terhenti juga


di tempatnya berjalan tadi. Senyum merekah di bibir pria itu. Sambil melambaikan tangannya, Abdi mendekati Renata.


“Pak Abdi, ngapain ngikutin saya?” tanya Renata.


“Aku cuma mengantarmu pulang. Apa tidak boleh? Tidak ada yang marah kan?” tanya Abdi.


Renata terdiam, bingung bagaimana mengusir pria itu. Ia tidak suka meladeni pria pemaksa yang tidak mengerti dengan kata-katanya. Renata menoleh ke pintu apartmentnya, Reynold selalu ada saat dirinya mengalami kesulitan. Tapi kemana pria itu sekarang?


”Kak, disaat seperti ini, aku memerlukan bantuanmu. Biasanya kakak selalu datang di saat yang tepat. Tolong aku, kak,” batin Renata bingung.


“Ada yang marah, pak. Saya sudah punya pacar. Permisi,” ucap Renata sebelum berbalik cepat masuk ke


gedung apartment.


Pintu lift terbuka dengan cepat, memberi akses pada Renata untuk masuk ke dalamnya. Tampak Abdi


mengejar Renata masuk ke gedung apartment tapi terlambat masuk ke dalam lift yang sama. Reynold mengepalkan tangannya, ia melihat apa yang terjadi dari jendela apartmentnya. Seperti biasa saat pulang kerja, Reynold cepat-cepat kembali ke unit apartmentnya lalu mengintip Renata dari balik jendela. Kini ia


“SPIKE, aktifkan pencari. Temukan pria asing di gedung ini,” titah Reynold pada software di jam tangannya.


“Pria asing terdeteksi,” sahut SPIKE cepat.


“Rupanya tikus kecil di kantor. Sepertinya aku belum tegaskan apa kedudukan Renata di FoRena Group,”


ucap Reynold dingin.


Data-data milik Abdi sudah masuk ke jam tangannya. Semuanya tentang pria itu, bahkan mantan pacarnya


juga terdeteksi dengan cepat. Reynold mengambil ponselnya, lalu menghubungi Alfian. Ia memerintahkan untuk memutasi Abdi ke kantor cabang mereka. Alfian segera mengiyakan tanpa banyak bertanya apa alasannya. Salah satu kebiasaan Reynold adalah memutasi karyawan dan alasannya harus Alfian yang mencari tahu sendiri.


Reynold menoleh saat pintu apartment terbuka, Renata masuk ke dalam tanpa menyadari kehadiran


Reynold. Ia meletakkan tas dan juga kunci apartment di atas meja sebelum menjatuhkan tubuhnya diatas sofa besar yang nyaman. Renata berguling-guling untuk merenggangkan otot tubuhnya yang pegal. Ia hampir memejamkan matanya ketika menyadari belum mencari keberadaan Reynold.


“Kak Rey?” panggil Renata sambil menatap pintu kamar pria itu.


Reynold bingung dengan kelakuan Renata. Dirinya sudah berdiri di samping jendela, tapi tidak terlihat oleh gadis itu. Langkah ringan sedikit mengendap-endap Renata membuat Reynold mengerutkan keningnya. Mau kemana gadis itu bertingkah seperti pencuri. Renata membuka pintu kamar Reynold setelah menempelkan telinganya ke pintu. Hanya kepalanya yang terjulur ke dalam, tubuhnya masih terlihat dari tempat Reynold berdiri.


“Kamu nyari apa, Ren?” tanya Reynold yang tidak tahan lagi ingin tertawa.

__ADS_1


Jedug!! “Addoowww!!!” pekik Renata kesakitan. Pasalnya, suara Reynold mengagetkannya dan kepalanya langsung membentur daun pintu dengan keras.


Isak tangis tertahan terdengar dari mulut Renata. Ia meringis mengelus kepalanya yang sedikit benjol. Reynold cepat-cepat menggendong tubuh Renata masuk ke kamarnya. Ia mengambil kotak P3K sebelum memeriksa kepala Renata.


“Kenapa nggak hati-hati sich? Emang aunty nggak lihat aku berdiri di depan jendela?” tanya Reynold.


Renata menggeleng, membuat kepalanya tiba-tiba pusing. Ia mengeluh pusing, lalu merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur Reynold. Pelan-pelan Reynold memeriksa kepala Renata yang benjol. Gadis itu akan memerlukan kompres dingin untuk meredakan sakitnya. Kedua bahu Renata terangkat sedikit saat kompres dingin menyentuh kepalanya.


“Kakak lagi ngapain di dekat jendela?” tanya Renata basa-basi.


“Aku cuma kebetulan mau lihat keluar. Kenapa aunty nyari aku?” tanya Reynold sambil merapikan rambut Renata yang sedikit berantakan.


“Kak Rey marah ya? Chatku nggak dibales lagi,” sahut Renata.


Reynold beralasan ponselnya terjatuh dan mati total, padahal aslinya sudah tergeletak di dalam tong sampah. Ia tidak menjawab pertanyaan Renata lagi dan memilih mengobati gadis itu. Perlakuan lembut Reynold membuat Renata tersenyum diam-diam. Gadis itu tidak sadar kalau Reynold meliha senyumannya lewat cermin yang ada di samping tempat tidur Reynold.


Perlahan Reynold menunduk mengecup lembut belakang kepala Renata yang benjol. Desisan kesakitan


bercampur helaan nafas kaget karena bahagia. Renata tidak bereaksi pada perbuatan Reynold di belakang sana. Ia menyusupkan wajahnya di bantal Reynold yang selalu wangi maskulin.


“Aunty, masih sakit nggak?” tanya Reynold sambil meraba belakang kepala Renata yang masih benjol.


“Sakit sedikit, kak,” sahut Renata.


“Aunty belum mandi, mau aku mandiin sekalian?” tanya Reynold dengan cengiran jahilnya.


Renata menoleh cepat, membuat Reynold menatapnya dengan senyuman menggoda. Tangan gadis itu menyusuri lengan Reynold sebelum mencubitnya dengan gemas. Reynold meringis membuat Renata semakin gencar mencubitinya. Mereka bercanda diatas tempat tidur Reynold sampai bantal dan selimutnya berantakan. Bruk! Reynold mendorong Renata hingga terjatuh lalu menahan kedua tangannya.


“Aunty harus mandi. Beneran nggak mau kumandiin?” tanya Reynold masih menggoda Renata.


“Jangan dong, kak. Lagian kenapa sich aku harus mandi cepat-cepat. Aku bau ya?” tanya Renata sambil


mengendus ketiaknya.


“Aku pengen lihat aunty pakai piyama seksi, trus...,” bisik Reynold sambil mengecup daun telinga Renata.


“Hii... kak, jangan nakal!” bentak Renata panik.


Pipinya merah merona mendengar godaan Reynold. Apalagi saat pria itu menguwel-uwel hidung dan pipi


Renata. Rasa geli di wajahnya membuat Renata tertawa kegelian. Reynold mendekatkan wajahnya hampir mencium Renata lagi. Ia menjauh dengan cepat saat Renata memejamkan matanya.


“Ya, sudah kalau nggak mau mandi. Biar aku jemput Kaori sendirian,” kata Reynold sambil bangkit dari tempat tidurnya.


“Oh iya. Kaori mau datang ya. Iih, kenapa kakak nggak bilang dari tadi,” kata Renata kesal.


Ia bangkit dengan cepat lalu berlalu masuk ke kamarnya. Reynold mengeluh karena ia harus bertemu


dengan Ken lagi. Padahal hidupnya sudah cukup tenang tanpa perlu bertemu suami Kaori itu. Semalam, Kaori menelpon dan mengatakan akan datang ke negara A untuk tinggal bersama Ken. Ia minta agar Renata menemaninya untuk beberapa hari, termasuk Reynold juga. Ken dan Kaori akan tinggal di mansion di dekat mansion milik Steven.

__ADS_1


Reynold tersenyum devil, ia juga punya mansion di tempat yang sama. Kerja kerasnya selama ini membuat Reynold bisa memiliki sebuah mansion mewah yang super elit dengan banyak pelayan dan bodyguard. Ia


jarang tinggal disana dan hanya berkunjung sesekali untuk mengecek kamar Renata. Terlalu banyak rencana yang ia rancang untuk mendapatkan Renata, termasuk menjadikan Renata sebagai asisten pribadinya kelak.


__ADS_2