Duren Manis

Duren Manis
Belum...!!!


__ADS_3

Kabar kehamilan Rara membuat Alex sedikit terkejut, padahal Arnold sudah bilang akan menunda kehamilan Rara sampai lulus kuliah.


Alex menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia membayangkan usia anaknya dengan Mia dan cucunya nanti tidak terlalu jauh.


Mia menatap Alex yang terlihat gelisah, ia ikut ke kantor Alex lagi untuk belajar bekerja membantu Alex. Mia mendekati meja Alex dan melihat chat-nya dengan Ronald.


Mia : "Apa...??!! Hamil..!!"


Alex : "Masi belum jelas tapi Rara lagi muntah-muntah di kantor Arnold."


Mia : "Ini kabar gembira, mas. Kenapa mas kayak gelisah gitu?"


Alex : "Aku cuma bingung aja. Anak sama cucuku gak jauh beda umurnya."


Mia : "Yah, kan resiko nikah samaan, mas. Mau gimana lagi, mereka sama-sama masih muda dan mungkin sempat khilaf."


Alex : "Padahal Arnold bilang mau menunda dulu sampai Rara lulus kuliah."


Mia : "Sabar ya, mas."


Mia mengambil ponselnya, ia ingin menelpon Rara dan menanyakan langsung tentang kabar kehamilannya.


-----


Rara baru keluar dari kamar mandi, ia tampak pucat habis muntah. Ronald menyodorkan susu pada Rara yang langsung meminumnya.


Ronald : "Kamu kenapa, Ra?"


Rara : "Asam lambung Rara naik, pah. Dari pagi muntah-muntah."


Ronald : "Masa? Sekarang mau makan apa?"


Rara : "Hmm... Mie ayam enak kayaknya, pah."


Ronald tersenyum, ia menelpon ke kantin kantor minta dibawakan mie ayam.


Ronald : "Yakin kamu cuma sakit asam lambung?"


Rara : "Tadi sempat ke rumah sakit sich, pah. Dokter jaganya bilang gitu."


Ronald : "Loh, kenapa gak manggil dokter keluarga aja?"


Rara : "Mas Arnold uda panik duluan, pah. Rara langsung dibawa ke rumah sakit tadi."


Ronald : "Papa uda panggil dokter keluarga. Dia jug harus tahu riwayat sakitmu seperti anggota keluarga yang lain."


Tak lama pesanan mie ayam Ronald datang. Rara menelan liurnya melihat mie kuning yang sangat menggugah seleranya.


Ronald : "Ayo makan dulu, Ra."


Rara menghabiskan mie ayam itu dengan cepat, setelah muntah ia kembali lapar. Setelah selesai makan, dokter keluarga akhirnya sampai.


Ia langsung memeriksa Rara yang bersandar di sofa dengan perut buncit kekenyangan. Kening dokter mengkerut saat memeriksa denyut jantung Rara.


dr. Indra : "Kapan terakhir mens, Ra?"


Rara : "Baru kemarin, dokter. Saya cuma sakit asam lambung."


dr. Indra : "Kita lihat nanti ya."

__ADS_1


Dokter Indra mendekati Ronald dan mereka bicara sambil berbisik,


dr. Indra : "Aku belum bisa pastikan, tapi ada tanda-tandanya. Dua minggu lagi baru bisa di cek atau mungkin sudah bisa sekarang."


Ronald : "Kita pastikan saja sekarang, kau bawa test pack?"


dr. Indra : "Tidak, suruh orang membelinya dan aku akan katakan agar Rara melakuka  test itu."


Ronald : "Ok."


Mereka berdua kasak kusuk membuat Rara curiga, tapi mendadak rasa mual kembali menderanya.


Rara : "Hoeekk... Hoeekk..."


Kedua pria paruh baya di samping Rara menoleh melihat Rara yang berusaha menahan muntahnya. Tapi ia tidak bisa, Rara berlari ke dalam kamar mandi.


Arnold yang baru selesai meeting, langsung mengikuti Rara ke dalam kamar mandi. Ia memegangi Rara yang memuntahkan mie ayam yang baru saja mendarat di lambungnya.


Arnold : "Kamu makan mie?"


Rara tidak bisa menjawab Arnold, kakinya gemetar karena terlalu sering muntah. Arnold menuntun Rara keluar dari kamar mandi dan duduk di sofa.


Arnold : "Dokter, bisa cek Rara? Muntahnya semakin sering."


dr. Indra : "Tunggu sebentar ya."


Kurir mengantarkan alat test pack kehamilan dan dokter meminta Rara menampung air seninya di tempat kecil yang diberikan dokter.


Rara akan masuk ke kamar mandi dan Arnold ingin masuk juga,


Rara : "Mas mau apa?"


Rara : "Ih, aku mau pipis. Malu ada papa disini."


Arnold : "Aku kan suamimu. Boleh kok."


Rara melotot pada Arnold, ia keberatan ditemani pipis.


Arnold : "Ok, aku tunggu diluar tapi pintunya gak boleh dikunci."


Rara : "Iya. Jangan masuk."


Arnold : "Harus nyaut kalo kupanggil."


Rara : "Papah!! Mas Arnold nich!!" Rara mengadu pada papa mertuanya yang sejak tadi memandang mereka bingung.


Ronald : "Uda, Arnold. Ini cuma sebentar."


Arnold berdiri diam di depan pintu kamar mandi, ia sedikit menguping ke dalam kamar mandi. Rara sampai kaget ketika ia keluar dari kamar mandi.


Rara : "Mas, minggir..."


Rara menyodorkan wadah yang ia tutupi tisu pada dokter Indra. Dokter Indra membuka pembungkus test pack dan mencelupkan salah satu ujung test pack ke dalam urine Rara.


Tak sampai semenit, muncul satu garis yang cukup jelas di bagian tengah alat itu.


dr. Indra : "Setidaknya kita tahu kalau Rara belum hamil."


Rara & Arnold : "Apaa...!!"

__ADS_1


Mereka saling pandang dengan wajah merah. Jadi itu yang papanya pikirkan sampai memanggil dokter keluarga ke kantor Arnold.


Arnold : "Papa kan uda tahu kalau kami nunda punya momongan."


Ronald : "Ya, siapa tahu kalian lupa gitu kan..."


Rara : "Emang pernah lupa sich pah."


Arnold : "Kapan?"


Rara : "Sebelum aku mens, mas."


dr. Kevin : "Kita tunggu dua minggu lagi untuk memastikan ya. Dan untuk sementara Rara jangan sembarangan minum obat."


Dokter Indra pulang bersama papa Ronald yang meralat pemberitahuannya pada Alex. Rara dan Arnold hanya diam setelah kepergian mereka. Entah kenapa mereka jadi canggung saat ada pembicaraan tentang kehamilan. Keduanya belum siap dengan kehadiran momongan dalam rumah tangga mereka.


Rara : "Mas, kalau aku hamil gimana?"


Arnold : "Maksudmu?"


Rara : "Ya hamil gitu, ada bayi di dalam sini." Tingkah Rara yang memegang perutnya membuat Arnold bingung.


Arnold : "Ya aku tahu, kan aku yang buat jadi aku tahu dimana letak bayi itu."


Rara : "Jadi gimana?"


Arnold : "Apanya?"


Rara : "Mas!!"


Rara mendekap tangannya di depan dada, ia capek bicara dengan suaminya itu. Biasanya pinter, sekarang Arnold seperti orang linglung.


Arnold mendekap tubuh Rara, berbisik di telinganya.


Arnold : "Kalau kamu hamil, memang kenapa? Kamu sudah punya suami jadi wajar kalau hamil. Takut apa?"


Rara : "Aku belum siap."


Arnold : "Kamu kira aku uda siap?"


Rara : "Tuch kan, mas juga sama. Trus gimana kalau aku hamil?"


Arnold : "Ya jaga baik-baik. Kita belajar sama-sama. Jadi, mau buat sekarang?"


Rara : "Apanya sekarang?"


Arnold : "Bayinya..."


Sudah terlambat bagi Rara untuk menghindar dari tangkapan Arnold. Arnold sigap banget kalo urusan bikin anak. Tapi kali ini dia ingat memakai pengaman yang entah bagaimana bisa ada di laci meja sofa.


------


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain ‘Menantu untuk Ibu’, ‘Perempuan IDOL’, ‘Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan sarannya ya para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya...


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.

__ADS_1


--------


__ADS_2