
Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 20 – First Kiss
Ken terdiam, Kaori tidak ingin mendengar Ken
berdebat dengan orang tuanya lagi. Ia menarik tangan Ken, memintanya bersikap
sopan pada Endy dan Kinanti. Ken memejamkan matanya sejenak membayangkan wajah
Alex dan Mia yang tersenyum bahagia. Ia membuka matanya lagi, lalu berkata
dengan tegas.
“Aku tidak akan menyerahkan milikku pada siapapun.
Karena Kaori sudah menjadi milikku,” ucap Ken sambil mencium Kaori dihadapan
Endy dan Kinanti.
Mata Kaori terbelalak kaget, gadis itu mencoba
meronta tapi Ken lebih kuat darinya. Dipeluknya tubuh Kaori dengan erat saat
Ken memperdalam ciuman mereka. Endy dan Kinanti saling pandang, lalu berjalan
menjauh dari keduanya. Suasana hening di balkon itu menyatukan hasrat keduanya.
Membuat mereka tenggelam dalam kemesraan sepasang kekasih.
“K—Ken... orang... tuamu...,” lirih Kaori di sela-sela ciuman mereka.
Ken melihat sekeliling, tidak ada siapapun di balkon itu selain mereka berdua. Diusapnya sudut bibir Kaori yang sedikit pucat, gadis itu tersipu malu lalu menyembunyikan wajahnya di dada Ken.
“Mereka sudah pergi, Kaori. Please, sekali lagi ya,” pinta Ken.
Kaori tersentak saat dinginnya dinding di samping balkon, menyentuh punggungnya yang terbungkus renda tipis. Ken menuntut ciuman lagi dari Kaori, mengukung gadis itu dalam pelukannya yang hangat. Sampai Kaori
hanya pasrah memejamkan matanya menerima ciuman Ken.
“Kaori, aku sangat mencintaimu,” lirih Ken mulai mengecup leher Kaori.
“Ken, jangan cium lagi, nanti ada yang lihat,” ucap Kaori sangat malu.
“Jangan pulang ya. Malam ini, temenin aku,” pinta Ken tanpa malu lagi.
Kaori memukul lengan Ken, ia tidak mau melakukan itu. Orang tua Ken bisa salah paham kalau Kaori menginap di mansion pria itu. Lagipula tadi Alex berpesan kalau mereka tidak akan lama berada di mansion Endy. Seseorang tiba-tiba datang mendekati mereka. Ditangannya ada ponsel yang sudah tersambung dengan Alex.
“Kaori sayang, opa sudah pulang ke mansion duluan sama aunty Renata. Tadi kakek Martin minta agar Kaori menginap disana. Opa harap Ken mau menjaga Kaori dengan baik dan tidak mengambil kesempatan dalam
kesempitan,” ucap Alex sangat tegas.
“Oh, kakek Martin yang minta. Iya, opa. Kaori akan menginap disini,” kata Kaori yang tidak mau perusahaan Alex bermasalah lagi.
“Tenang aja, pa... om. Aku akan jaga Kaori dengan baik,” sahut Ken menang banyak.
“Jangan cengengesan, kamu. Awas aja kalau sampai Kaori pulang dalam keadaan lecet, jangan harap ketemu lagi sama Kaori. Paham kamu, Ken?!” kata Alex lagi.
“Iya, om. Nggak lecet kok. Aku mainnya pelan,” sahut Ken jahil.
Suara tawa Ken membuat Alex ingin kembali ke mansion Endy dan menjitak kepala Ken. Sambungan telpon terputus. Ken mengembalikan ponsel itu pada orang tadi yang pergi dengan cepat. Tengkuk Kaori terasa dingin saat mereka kembali berdua. Ken menatap Kaori seperti serigala kelaparan yang sedang menatap kelinci putih yang lezat.
“Kok dingin ya. Sekarang kan bukan musim dingin. Ken, apa pestanya sudah selesai? Kok nggak kedengeran suara musik lagi?” tanya Kaori bingung.
“Sudah selesai, Kaori. Aku sengaja mempersingkat waktu pestanya, biar bisa sama kamu,” sahut Ken.
Kaori tersenyum malu, ia meminta makanan pada Ken karena ia belum sempat makan malam tadi. Pria itu menuntun Kaori kembali ke ruangan pesta yang mulai sepi. Hanya beberapa maid dan bodyguard yang masih berdiri di dekat meja berisi makanan. Ken memberi tanda dengan jentikan jarinya, tiba-tiba musik berganti menjadi lebih menghentak. Kaori yang bingung dengan apa yang terjadi, mengeratkan pelukannya pada lengan Ken.
“Jangan takut, Kaori. Aku sengaja nyiapin pesta lain untuk maid dan bodyguard disini. Mereka berhak mendapatkannya. Guys, enjoy the party!!” teriak Ken pada semua orang disana.
Ken menemani Kaori mendekati meja yang berisi makanan. Ia menyuapi Kaori makan beberapa canape dan juga makanan lainnya. Meskipun suara musik cukup menghentak, tapi Ken dan Kaori masih bisa berbincang tanpa harus berteriak. Sesekali Kaori tersenyum malu saat Ken membisikkan kata-kata mesra padanya.
Beberapa maid tampak menari di lantai dansa,
melepaskan kepenatan mereka selama bekerja, meskipun tanpa melepas seragam.
Alan dan Ginara tiba-tiba muncul membawa kue tart yang cukup besar untuk
merayakan ulang tahun Ken.
“Hei, aku kan udah bilang nggak perlu pake kue
segala, kak,” kata Ken sambil tersenyum senang.
“Ini kue dari tante Mia. Katanya sudah terlanjur
dibuatkan untuk kamu, Ken. Sayang kalau kamu tidak sempat meniup lilinnya. Bisa
kita mulai?” kata Alan.
Ken menuntun Kaori agar berdiri di sampingnya, ia
menatap semua orang yang kompak menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuknya.
Meskipun tidak ada Endy dan Kinanti, meskipun kakek Martin juga tidak ada
disana, Ken sudah sangat senang karena ada Kaori di sisinya.
__ADS_1
Setelah Ken meniup lilin dengan semangat, ia
mengambil potongan kue yang pertama, lalu menyuapkannya pada Kaori. Sedikit
krim coklat menempel di sudut bibir Kaori, Ken menunduk lalu mengecup bibir
Kaori sambil membersihkan krim itu dengan bibirnya.
“Ken!” pekik Kaori yang sangat malu.
“Biar semua orang tahu, kamu adalah cintaku,
Kaori,” bisik Ken di telinga gadis itu.
Semua orang bersorak-sorai memberi selamat pada Ken
dan Kaori. Mereka melanjutkan pesta sampai makanan dan minuman di atas meja
habis semua.
**
Kinanti dan Endy masih ada di mansion itu. Mereka
memperhatikan kemesraan antara Ken dan Kaori dari lantai dua dekat kamar Kenzo.
Kinanti masih mengusap sudut matanya yang tidak berhenti berair. Setelah
bertahun-tahun akhirnya ia bisa melihat Kaori dan Renata dari jarak yang cukup
dekat. Kalau saja Alex tidak ada di pesta, Kinanti ingin sekali menyapa Renata
juga.
“Apa yang kamu pikirkan, sayang?” tanya Endy sambil
mengusap rambut Kinanti.
“Entah Ken itu memang bodoh atau terlalu baik. Dia
mau menerima Kaori tanpa syarat. Pria gila mana yang mau menerima gadis buta
untuk menjadi istrinya,” kata Kinanti dengan mata berkaca-kaca.
“Well, uncle Earl salah pria gila itu,” sahut Endy
yang menyebutkan nama suami dari nenek Martha, saudara kakek Martin yang buta.
“Aku masih berpikir kalau uncle Earl hanya ingin
harta papa saja. Dan sekarang Ken. Anak om Alex memang luar biasa ya,” ucap
Kinanti.
juga. Kalau dibandingkan antara kekayaan papa sama kekayaan om Alex, jelas
kekayaan papa jauh lebih besar. Untuk apa Ken mengejar Kaori kalau bukan karena
cinta sejati. Seperti cintaku sama kamu,” kata Endy.
Kinanti mengelus pipi Endy, menatap kelelahan di
wajah pria itu. Endy sudah tidak muda lagi, tidak lemah lagi seperti dulu.
Suaminya itu sudah lebih dewasa dan bertanggung jawab.
“Apa kau akan tetap mencintaiku kalau aku sudah tidak
cantik lagi? Saat aku sudah tua dan keriput,” kata Kinanti.
“Kau akan bertambah tua, tapi tetap akan selalu
cantik dimataku, sayang. Kau sudah memberiku tiga anak yang cantik dan tampan.
Apalagi yang kuinginkan selain membuatmu selalu bahagia, istriku,” ucap Endy
penuh kemesraan.
“Tapi aku masih ingin kekayaan papa, Endy. Kenapa
susah sekali kita dapatkan?” keluh Kinanti.
Endy tersenyum, ia menanyakan kenapa Kinanti masih mengeluh
tentang semua itu. Ken sudah memilikinya sekarang, mereka bisa memintanya untuk
memindahkan seluruh harta kekayaan itu kepada Kinanti.
“Hei, aku mengorbankan masa mudaku untuk menjadi
istrimu. Setidaknya aku berhak mendapat hak waris itu. Kita bisa hidup enak
tanpa perlu sibuk bekerja. Bisa kamu bayangin, kita rebahan di tempat wisata
yang nyaman, tinggal tunjuk mau makan apa. Mau kemana saja bisa. Semuanya bisa
__ADS_1
karena ada uang,” kata Kinanti berpikir realistis.
“Emangnya kamu nggak bosan begitu terus? Sesekali
kita harus bekerja juga. Biar otak nggak tumpul. Kamu nggak takut tubuhmu melar
karena keseringan rebahan?” tanya Endy mencoba bercanda.
Kinanti cemberut, ia mencubit lengan Endy, meminta
pria itu untuk menarik kata-katanya. Endy yang kesakitan, segera menarik
kata-katanya dan meminta maaf pada Kinanti.
“Kamu nich matre ya,” kata Endy masih belum kapok
dicubit.
“Udah tahu aku matre, kenapa kamu mau nikahin aku?”
tanya Kinanti sebal.
“Karena kamu cantik, kamu genit, kamu seksi, dan
kamu cinta sama aku,” sahut Endy genit.
Kinanti semakin sadis mencubiti lengan Endy sampai
pria itu terbungkuk-bungkuk menahan sakit. Kata-kata Endy kali ini membuat
Kinanti berpikir kenapa ia masih tetap menginginkan warisan kakek Martin. Endy
sudah bekerja keras untuk memenuhi semua kebutuhan Kinanti hingga wanita itu
tidak perlu susah-susah bekerja.
Bukan berarti Kinanti tidak bekerja, ia memiliki
usaha yang cukup besar juga pendapatannya. Tapi tidak pernah ia gunakan karena
Endy selalu memenuhi semuanya. Hanya saja terkadang, kerja keras Endy membuat
pria itu tidak bisa beristirahat dengan baik. Meskipun terlihat kejam dan
dingin, Endy sangat mudah jatuh sakit.
Dan saat itu terjadi, ia akan beralasan sangat sibuk
bekerja sampai tidak bisa pulang. Kinanti tahu kebiasaan Endy itu. Ia pernah
mengira kalau Endy berselingkuh dengan wanita lain. Ketika Kinanti memutuskan
menyusul Endy ke hotel tempat ia beristirahat, pria itu tampak tertidur dengan
infus ditangannya. Tidak ada seorangpun yang tahu kecuali dokter pribadinya.
Lambat laun, obsesi Kinanti untuk mendapatkan warisan
kakek Martin, dari ingin memperkaya dirinya sendiri, berubah menjadi ingin
membuat hidup Endy lebih mudah. Dengan harta kekayaan kakek Martin yang sangat
banyak, Endy bisa lebih banyak beristirahat dan hanya sesekali bekerja.
Semua perhitungan Kinanti meleset saat ia menukar
Renata dengan Ken. Kakek Martin justru ingin mewariskan kekayaannya pada Ken.
Bahkan tidak mau merubah nama ahli warisnya setelah kelahiran Kenzo. Memikirkan
semua hal itu membuat Kinanti tidak tenang dan sering insomnia beberapa bulan
terakhir ini. Itulah kenapa ia rutin mengkonsumsi obat untuk menjaga kondisi
tubuhnya.
“Bagaimana kalau kita liburan? Hanya kita berdua
tanpa Kenzo,” kata Endy tiba-tiba.
“Kita mau kemana lagi? Semua tempat yang ingin kita
kunjungi, sudah pernah kita kunjungi. Tidak ada tempat menarik lagi,” keluh
Kinanti.
“Kita kunjungi semua tempat itu lagi, semuanya
sekaligus. Mungkin kita perlu waktu tiga sampai empat bulan atau mungkin
setahun. Biarkan Ken yang mengurus semuanya. Perusahaanku, perusahaanmu
serahkan saja sama Ken. Termasuk Kenzo, biarkan Ken yang menjaganya,” kata Endy
hampir gila.
__ADS_1
“Apa kau yakin? Bagaimana kalau anak itu mengambil
semuanya dari kita, Endy?” Kinanti tampak enggan.