Duren Manis

Duren Manis
Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 20 – First Kiss


__ADS_3

Cinta Gadis Buta - Ken & Kaori 20 – First Kiss


Ken terdiam, Kaori tidak ingin mendengar Ken


berdebat dengan orang tuanya lagi. Ia menarik tangan Ken, memintanya bersikap


sopan pada Endy dan Kinanti. Ken memejamkan matanya sejenak membayangkan wajah


Alex dan Mia yang tersenyum bahagia. Ia membuka matanya lagi, lalu berkata


dengan tegas.


“Aku tidak akan menyerahkan milikku pada siapapun.


Karena Kaori sudah menjadi milikku,” ucap Ken sambil mencium Kaori dihadapan


Endy dan Kinanti.


Mata Kaori terbelalak kaget, gadis itu mencoba


meronta tapi Ken lebih kuat darinya. Dipeluknya tubuh Kaori dengan erat saat


Ken memperdalam ciuman mereka. Endy dan Kinanti saling pandang, lalu berjalan


menjauh dari keduanya. Suasana hening di balkon itu menyatukan hasrat keduanya.


Membuat mereka tenggelam dalam kemesraan sepasang kekasih.


“K—Ken... orang... tuamu...,” lirih Kaori di sela-sela ciuman mereka.


Ken melihat sekeliling, tidak ada siapapun di balkon itu selain mereka berdua. Diusapnya sudut bibir Kaori yang sedikit pucat, gadis itu tersipu malu lalu menyembunyikan wajahnya di dada Ken.


“Mereka sudah pergi, Kaori. Please, sekali lagi ya,” pinta Ken.


Kaori tersentak saat dinginnya dinding di samping balkon, menyentuh punggungnya yang terbungkus renda tipis. Ken menuntut ciuman lagi dari Kaori, mengukung gadis itu dalam pelukannya yang hangat. Sampai Kaori


hanya pasrah memejamkan matanya menerima ciuman Ken.


“Kaori, aku sangat mencintaimu,” lirih Ken mulai mengecup leher Kaori.


“Ken, jangan cium lagi, nanti ada yang lihat,” ucap Kaori sangat malu.


“Jangan pulang ya. Malam ini, temenin aku,” pinta Ken tanpa malu lagi.


Kaori memukul lengan Ken, ia tidak mau melakukan itu. Orang tua Ken bisa salah paham kalau Kaori menginap di mansion pria itu. Lagipula tadi Alex berpesan kalau mereka tidak akan lama berada di mansion Endy. Seseorang tiba-tiba datang mendekati mereka. Ditangannya ada ponsel yang sudah tersambung dengan Alex.


“Kaori sayang, opa sudah pulang ke mansion duluan sama aunty Renata. Tadi kakek Martin minta agar Kaori menginap disana. Opa harap Ken mau menjaga Kaori dengan baik dan tidak mengambil kesempatan dalam


kesempitan,” ucap Alex sangat tegas.


“Oh, kakek Martin yang minta. Iya, opa. Kaori akan menginap disini,” kata Kaori yang tidak mau perusahaan Alex bermasalah lagi.


“Tenang aja, pa... om. Aku akan jaga Kaori dengan baik,” sahut Ken menang banyak.


“Jangan cengengesan, kamu. Awas aja kalau sampai Kaori pulang dalam keadaan lecet, jangan harap ketemu lagi sama Kaori. Paham kamu, Ken?!” kata Alex lagi.


“Iya, om. Nggak lecet kok. Aku mainnya pelan,” sahut Ken jahil.


Suara tawa Ken membuat Alex ingin kembali ke mansion Endy dan menjitak kepala Ken. Sambungan telpon terputus. Ken mengembalikan ponsel itu pada orang tadi yang pergi dengan cepat. Tengkuk Kaori terasa dingin saat mereka kembali berdua. Ken menatap Kaori seperti serigala kelaparan yang sedang menatap kelinci putih yang lezat.


“Kok dingin ya. Sekarang kan bukan musim dingin. Ken, apa pestanya sudah selesai? Kok nggak kedengeran suara musik lagi?” tanya Kaori bingung.


“Sudah selesai, Kaori. Aku sengaja mempersingkat waktu pestanya, biar bisa sama kamu,” sahut Ken.


Kaori tersenyum malu, ia meminta makanan pada Ken karena ia belum sempat makan malam tadi. Pria itu menuntun Kaori kembali ke ruangan pesta yang mulai sepi. Hanya beberapa maid dan bodyguard yang masih berdiri di dekat meja berisi makanan. Ken memberi tanda dengan jentikan jarinya, tiba-tiba musik berganti menjadi lebih menghentak. Kaori yang bingung dengan apa yang terjadi, mengeratkan pelukannya pada lengan Ken.


“Jangan takut, Kaori. Aku sengaja nyiapin pesta lain untuk maid dan bodyguard disini. Mereka berhak mendapatkannya. Guys, enjoy the party!!” teriak Ken pada semua orang disana.


Ken menemani Kaori mendekati meja yang berisi makanan. Ia menyuapi Kaori makan beberapa canape dan juga makanan lainnya. Meskipun suara musik cukup menghentak, tapi Ken dan Kaori masih bisa berbincang tanpa harus berteriak. Sesekali Kaori tersenyum malu saat Ken membisikkan kata-kata mesra padanya.


Beberapa maid tampak menari di lantai dansa,


melepaskan kepenatan mereka selama bekerja, meskipun tanpa melepas seragam.


Alan dan Ginara tiba-tiba muncul membawa kue tart yang cukup besar untuk


merayakan ulang tahun Ken.


“Hei, aku kan udah bilang nggak perlu pake kue


segala, kak,” kata Ken sambil tersenyum senang.


“Ini kue dari tante Mia. Katanya sudah terlanjur


dibuatkan untuk kamu, Ken. Sayang kalau kamu tidak sempat meniup lilinnya. Bisa


kita mulai?” kata Alan.


Ken menuntun Kaori agar berdiri di sampingnya, ia


menatap semua orang yang kompak menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuknya.


Meskipun tidak ada Endy dan Kinanti, meskipun kakek Martin juga tidak ada


disana, Ken sudah sangat senang karena ada Kaori di sisinya.

__ADS_1


Setelah Ken meniup lilin dengan semangat, ia


mengambil potongan kue yang pertama, lalu menyuapkannya pada Kaori. Sedikit


krim coklat menempel di sudut bibir Kaori, Ken menunduk lalu mengecup bibir


Kaori sambil membersihkan krim itu dengan bibirnya.


“Ken!” pekik Kaori yang sangat malu.


“Biar semua orang tahu, kamu adalah cintaku,


Kaori,” bisik Ken di telinga gadis itu.


Semua orang bersorak-sorai memberi selamat pada Ken


dan Kaori. Mereka melanjutkan pesta sampai makanan dan minuman di atas meja


habis semua.


**


Kinanti dan Endy masih ada di mansion itu. Mereka


memperhatikan kemesraan antara Ken dan Kaori dari lantai dua dekat kamar Kenzo.


Kinanti masih mengusap sudut matanya yang tidak berhenti berair. Setelah


bertahun-tahun akhirnya ia bisa melihat Kaori dan Renata dari jarak yang cukup


dekat. Kalau saja Alex tidak ada di pesta, Kinanti ingin sekali menyapa Renata


juga.


“Apa yang kamu pikirkan, sayang?” tanya Endy sambil


mengusap rambut Kinanti.


“Entah Ken itu memang bodoh atau terlalu baik. Dia


mau menerima Kaori tanpa syarat. Pria gila mana yang mau menerima gadis buta


untuk menjadi istrinya,” kata Kinanti dengan mata berkaca-kaca.


“Well, uncle Earl salah pria gila itu,” sahut Endy


yang menyebutkan nama suami dari nenek Martha, saudara kakek Martin yang buta.


“Aku masih berpikir kalau uncle Earl hanya ingin


harta papa saja. Dan sekarang Ken. Anak om Alex memang luar biasa ya,” ucap


Kinanti.


juga. Kalau dibandingkan antara kekayaan papa sama kekayaan om Alex, jelas


kekayaan papa jauh lebih besar. Untuk apa Ken mengejar Kaori kalau bukan karena


cinta sejati. Seperti cintaku sama kamu,” kata Endy.


Kinanti mengelus pipi Endy, menatap kelelahan di


wajah pria itu. Endy sudah tidak muda lagi, tidak lemah lagi seperti dulu.


Suaminya itu sudah lebih dewasa dan bertanggung jawab.


“Apa kau akan tetap mencintaiku kalau aku sudah tidak


cantik lagi? Saat aku sudah tua dan keriput,” kata Kinanti.


“Kau akan bertambah tua, tapi tetap akan selalu


cantik dimataku, sayang. Kau sudah memberiku tiga anak yang cantik dan tampan.


Apalagi yang kuinginkan selain membuatmu selalu bahagia, istriku,” ucap Endy


penuh kemesraan.


“Tapi aku masih ingin kekayaan papa, Endy. Kenapa


susah sekali kita dapatkan?” keluh Kinanti.


Endy tersenyum, ia menanyakan kenapa Kinanti masih mengeluh


tentang semua itu. Ken sudah memilikinya sekarang, mereka bisa memintanya untuk


memindahkan seluruh harta kekayaan itu kepada Kinanti.


“Hei, aku mengorbankan masa mudaku untuk menjadi


istrimu. Setidaknya aku berhak mendapat hak waris itu. Kita bisa hidup enak


tanpa perlu sibuk bekerja. Bisa kamu bayangin, kita rebahan di tempat wisata


yang nyaman, tinggal tunjuk mau makan apa. Mau kemana saja bisa. Semuanya bisa

__ADS_1


karena ada uang,” kata Kinanti berpikir realistis.


“Emangnya kamu nggak bosan begitu terus? Sesekali


kita harus bekerja juga. Biar otak nggak tumpul. Kamu nggak takut tubuhmu melar


karena keseringan rebahan?” tanya Endy mencoba bercanda.


Kinanti cemberut, ia mencubit lengan Endy, meminta


pria itu untuk menarik kata-katanya. Endy yang kesakitan, segera menarik


kata-katanya dan meminta maaf pada Kinanti.


“Kamu nich matre ya,” kata Endy masih belum kapok


dicubit.


“Udah tahu aku matre, kenapa kamu mau nikahin aku?”


tanya Kinanti sebal.


“Karena kamu cantik, kamu genit, kamu seksi, dan


kamu cinta sama aku,” sahut Endy genit.


Kinanti semakin sadis mencubiti lengan Endy sampai


pria itu terbungkuk-bungkuk menahan sakit. Kata-kata Endy kali ini membuat


Kinanti berpikir kenapa ia masih tetap menginginkan warisan kakek Martin. Endy


sudah bekerja keras untuk memenuhi semua kebutuhan Kinanti hingga wanita itu


tidak perlu susah-susah bekerja.


Bukan berarti Kinanti tidak bekerja, ia memiliki


usaha yang cukup besar juga pendapatannya. Tapi tidak pernah ia gunakan karena


Endy selalu memenuhi semuanya. Hanya saja terkadang, kerja keras Endy membuat


pria itu tidak bisa beristirahat dengan baik. Meskipun terlihat kejam dan


dingin, Endy sangat mudah jatuh sakit.


Dan saat itu terjadi, ia akan beralasan sangat sibuk


bekerja sampai tidak bisa pulang. Kinanti tahu kebiasaan Endy itu. Ia pernah


mengira kalau Endy berselingkuh dengan wanita lain. Ketika Kinanti memutuskan


menyusul Endy ke hotel tempat ia beristirahat, pria itu tampak tertidur dengan


infus ditangannya. Tidak ada seorangpun yang tahu kecuali dokter pribadinya.


Lambat laun, obsesi Kinanti untuk mendapatkan warisan


kakek Martin, dari ingin memperkaya dirinya sendiri, berubah menjadi ingin


membuat hidup Endy lebih mudah. Dengan harta kekayaan kakek Martin yang sangat


banyak, Endy bisa lebih banyak beristirahat dan hanya sesekali bekerja.


Semua perhitungan Kinanti meleset saat ia menukar


Renata dengan Ken. Kakek Martin justru ingin mewariskan kekayaannya pada Ken.


Bahkan tidak mau merubah nama ahli warisnya setelah kelahiran Kenzo. Memikirkan


semua hal itu membuat Kinanti tidak tenang dan sering insomnia beberapa bulan


terakhir ini. Itulah kenapa ia rutin mengkonsumsi obat untuk menjaga kondisi


tubuhnya.


“Bagaimana kalau kita liburan? Hanya kita berdua


tanpa Kenzo,” kata Endy tiba-tiba.


“Kita mau kemana lagi? Semua tempat yang ingin kita


kunjungi, sudah pernah kita kunjungi. Tidak ada tempat menarik lagi,” keluh


Kinanti.


“Kita kunjungi semua tempat itu lagi, semuanya


sekaligus. Mungkin kita perlu waktu tiga sampai empat bulan atau mungkin


setahun. Biarkan Ken yang mengurus semuanya. Perusahaanku, perusahaanmu


serahkan saja sama Ken. Termasuk Kenzo, biarkan Ken yang menjaganya,” kata Endy


hampir gila.

__ADS_1


“Apa kau yakin? Bagaimana kalau anak itu mengambil


semuanya dari kita, Endy?” Kinanti tampak enggan.


__ADS_2