Duren Manis

Duren Manis
Deep Voice


__ADS_3

Rara mengkerutkan


keningnya melihat deretan kesalahan pada laporan keuangan yang dikerjakan


bagian keuangan. Ia bersandar pada kursi kerjanya dan memijat kepalanya yang


sakit. Rara menatap telponnya dan menelpon ke manager HRD.


Rara : “Pak, bisa tolong


ke ruangan saya?”


Manager HRD :


“Baik, bu Rara.”


Manager HRD yang


tergesa-gesa ke ruangan Rara, hampir menabrak Arnold yang baru datang dari


meeting di luar kantor.


Manager HRD : “Pak


Arnold, maaf, pak.”


Arnold : “Ada apa


buru-buru, pak?”


Manager HRD : “Ibu


Rara memanggil saya. Saya duluan ya, pak.”


Arnold mengikuti


manager HRD ke ruangan Rara tapi tidak ikut masuk, ia menguping di depan pintu.


Rara : “Silakan


duduk, pak. Maaf merepotkan bapak harus kesini.”


Manager HRD : “Ada


apa ya, bu?”


Rara : “Begini,


pak. Akhir-akhir ini saya perhatikan kinerja bagian keuangan sedikit menurun.


Terlalu banyak kesalahan fatal yang mereka buat. Seingat saya dulu tidak


seperti ini, bapak bisa jelaskan?”


Manager HRD : “Apa


mungkin karena orang yang biasa memeriksa laporan itu sedang cuti melahirkan?”


Rara : “Tapi


seharusnya ada penggantinya, kan?”


Manager HRD :


“Memang ada, bu. Saya akan segera melakukan evaluasi atas kinerja mereka, bu.”


Rara : “Bagus


sekali. Tolong laporannya sudah ada di meja saya sebelum jam pulang kantor, ya


pak. Terima kasih.”


Manager HRD :


“Baik, bu. Saya permisi.”


Arnold mendengarkan


semua pembicaraan itu dan dia masuk ke ruang kerja Rara setelah manager HRD


keluar.


Arnold : “Hai,


sayang.”


Rara : “Maass...


udah pulang.”


Arnold : “Ngantuk


ya?”


Rara : “He-eh...”


Arnold : “Kamu


istirahat aja ya. Aku yang lanjutin.”


Arnold membantu


Rara bangun dari kursi dan menuntunnya ke sofa. Rara berbaring disana dengan


nyaman dan menatap Arnold.


Rara : “Mas, apa


kita terlalu cepat berkembang?”


Arnold : “Maksudmu


perusahaan? Ya, sedikit berkembang pesat. Ini semua berkat kerja kerasmu, Ra.”


Rara : “Aku merasa


sumber daya kita kurang memadai dengan perkembangan pesat ini. Apa kita perlu


menambah karyawan?”


Arnold : “Kalau


memang diperlukan, sayang. Bagaimana dengan naik gaji?”


Rara : “Sangat


menggoda, tapi tidak bisa juga, mas. Kita harus pastikan kondisi ini stabil


sampai 2 tahun ke depan. Untuk sekarang aku lebih memikirkan bonus. Tentu saja


dengan target yang tepat.”


Arnold : “Wow...”


Rara : “Kenapa?”


Arnold : “Kau


sangat mengagumkan. Kecepatan berpikirmu berkembang sangat pesat.”


Rara : “Mas yang


memaksaku bisa secepat ini.”


Arnold : “Sungguh,


aku sangat mencintaimu, Ra.”


Rara : “Aku juga,

__ADS_1


mas.”


Arnold mengelus


perut Rara yang semakin besar. Anak mereka bahkan menendang di dalam sana.


Arnold : “Sayang,


kapan kamu lahirnya? Papa gak sabar mau ketemu kamu.”


Rara : “Sabar, mas.


Masih 2 bulan lagi.”


Arnold : “Tidur,


sayang. Istirahat dulu.”


Rara sudah


memejamkan matanya dan dengkuran halus mulai terdengar. Arnold kembali duduk di


kursi kerja Rara dan menyelesaikan pekerjaan Rara hari itu.


*****


Setelah tubuhnya


cukup istirahat, Rara terbangun. Arnold duduk disampingnya, sedang menatap


dirinya.


Rara : “Mas...”


Arnold : “Sayang,


makan dulu ya.”


Rara : “Jam berapa


nich, mas?”


Arnold : “Jam 5.


Kita makan dulu, baru pulang.”


Rara : “Manager HRD


udah ngasi laporannya?”


Arnold : “Udah,


nich laporannya. Kasian dia, mukanya sampai pucet kamu kejar laporan.”


Rara : “Biar aku


bisa cepat ambil keputusan, mas. Lagian sudah tugas dia kan punya informasi


tentang karyawan.”


Rara mengambil


laporan itu dan membacanya dengan serius. Arnold mengagumi wajah serius Rara,


ia bisa merasakan kelelahan istrinya itu.


Arnold : “Sayang,


makan dulu ya. Taruh laporan itu dulu.”


Arnold mengambil


laporan dari tangan Rara dan mulai menyuapi istrinya itu.


Rara : “Sepertinya


kita perlu menambah orang di bagian keuangan. Kita buka lowongan kerja ya.”


sayang.”


Rara : “Mas...”


Arnold : “Hmm...”


Arnold menoleh


menatap Rara dan istrinya itu mulai mencium Arnold.


Arnold : “Sa...


sayang...?”


Rara : “Mas kok


makin ganteng ya...”


Arnold : “Oh, ya...”


Arnold meletakkan piring


makan Rara diatas meja dan sibuk mengikuti kemauan istrinya yang sedang manja


itu.


*****


Rio sedang duduk di


salah satu kursi taman, ia sedang menunggu Kaori yang pergi ke toilet setelah


kuliah mereka selesai. Rio tersenyum melihat foto adik kembarnya yang


dikirimkan Mia tadi pagi. Kedua bayi montok itu tampak sangat menggemaskan


dengan baju kembar yang mereka kenakan.


Gadis yang melihat Rio


duduk sendirian, berjalan cepat menghampirinya.


Gadis : “Rio...”


Rio menegakkan


kepalanya,


Rio : “Ya? Kenapa?”


Gadis : “Kamu


ngapain disini? Udah makan?”


Rio : “Aku...”


Gadis : “Kita makan


siang bareng yuk. Ayo.”


Gadis dengan


agresif menarik tangan Rio yang bahkan tidak ingat nama gadis di depannya ini.


Rio menahan tangan Gadis,


Rio : “Tunggu. Aku


lagi nunggu pacarku. Kamu bisa makan duluan.”


Pemandangan saat

__ADS_1


Rio menahan tangan Gadis, dilihat Kaori dan membuat gadis itu salah paham. Sayangnya


Rio tidak melihat ketika Kaori berbalik dan berlari dengan cepat entah kemana.


Gadis : “Mana


pacarmu?”


Rio : “Ntar lagi


dia dateng.”


Gadis : “Kalo gitu,


aku temenin kamu disini ya.”


Rio malas


menanggapi gadis yang tidak segan duduk di sampingnya itu. Ia kembali fokus


melihat ke layar ponselnya, membalas chat dari Mia.


Gadis : “Kamu lagi


ngapain?”


Rio : “Balas chat.”


Gadis : “Itu siapa?”


Rio : “Mamaku.”


Gadis : “Mamamu


muda sekali ya. Cantik lagi.”


Memang Mia memasang


foto profil dirinya yang sedang tersenyum dengan manis. Rio tidak menanggapi Gadis,


tapi Gadis semakin dicuekin justru semakin gencar menyerang.


Gadis : “Kamu yakin


masih mau nunggu? Mungkin pacarmu udah pulang duluan.”


Rio melirik jam


tangannya, ia menoleh melihat lorong tempat toilet wanita yang mulai sepi. Ia


bangkit berdiri dan Gadis mengikutinya. Mereka berjalan mendekati toilet


wanita.


Rio ingin masuk


tapi jelas gak boleh, Gadis menawarkan dirinya untuk membantu Rio dengan masuk


ke dalam.


Gadis : “Gak ada


siapa-siapa tuch.”


Rio : “Kamu yakin?”


Melihat Gadis


mengangguk, Rio segera menelpon Kaori. Gadis manis itu sedang duduk di taman


dekat kantin. Wajahnya sangat tidak bersahabat, ia sangat kesal pada Rio dan


menunduh pria itu tidak setia.


Kaori : “Kamu


nyebelin banget!”


Kaori


membejek-bejek ponselnya yang berhiaskan wallpaper wajah Rio yang sedang


tersenyum. Saat itu tiba-tiba panggilan masuk datang dari Rio dan Kaori tidak


sengaja menerima panggilang itu.


Rio : “Halo, Kaori?


Halo?”


Kaori : “Apa?!”


Rio diam mendengar


bentakan Kaori. Ia merasa ada yang tidak beres dengan pacarnya itu.


Rio : “Kamu dimana?”


Kaori : “Bukan


urusanmu! Sana sama Gadis aja...!”


Rio : “Siapa Gadis?”


Rio melihat wajah


cewek di hadapannya tersenyum sumringah saat namanya disebut.


Gadis : “Aku Gadis.”


Mendengar suara


Gadis di dekat Rio, Kaori semakin emosi. Ia hampir menutup telponnya kalau


tidak mendengar *deep voice*-nya Rio.


Rio : “Bilang, kamu


dimana? Jangan coba tutup telponnya.”


Kaori : “Gak mau!”


Rio : “Bilang kamu


dimana, atau kau tahu akibatnya kalau aku bisa nemuin kamu.”


Gadis sampai terpesona


mendengar *deep voice* Rio yang sangat seksi. Kaori cemberut\, ia masih kesal


dan *deep voice* Rio yang biasanya terdengar menakutkan di telinga Kaori\,


membuatnya tidak takut.


Kaori : “Cari aja


ampe ketemu.”


Kaori mematikan


sambungan telponnya dengan Rio.


🌻🌻🌻🌻🌻


Coba bayangin deep


voice Rio mirip suaranya V BTS. Author aja gerah dengernya.


Klik profil author ya, ada novel karya author yang

__ADS_1


lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).


__ADS_2