
Rara mengkerutkan
keningnya melihat deretan kesalahan pada laporan keuangan yang dikerjakan
bagian keuangan. Ia bersandar pada kursi kerjanya dan memijat kepalanya yang
sakit. Rara menatap telponnya dan menelpon ke manager HRD.
Rara : “Pak, bisa tolong
ke ruangan saya?”
Manager HRD :
“Baik, bu Rara.”
Manager HRD yang
tergesa-gesa ke ruangan Rara, hampir menabrak Arnold yang baru datang dari
meeting di luar kantor.
Manager HRD : “Pak
Arnold, maaf, pak.”
Arnold : “Ada apa
buru-buru, pak?”
Manager HRD : “Ibu
Rara memanggil saya. Saya duluan ya, pak.”
Arnold mengikuti
manager HRD ke ruangan Rara tapi tidak ikut masuk, ia menguping di depan pintu.
Rara : “Silakan
duduk, pak. Maaf merepotkan bapak harus kesini.”
Manager HRD : “Ada
apa ya, bu?”
Rara : “Begini,
pak. Akhir-akhir ini saya perhatikan kinerja bagian keuangan sedikit menurun.
Terlalu banyak kesalahan fatal yang mereka buat. Seingat saya dulu tidak
seperti ini, bapak bisa jelaskan?”
Manager HRD : “Apa
mungkin karena orang yang biasa memeriksa laporan itu sedang cuti melahirkan?”
Rara : “Tapi
seharusnya ada penggantinya, kan?”
Manager HRD :
“Memang ada, bu. Saya akan segera melakukan evaluasi atas kinerja mereka, bu.”
Rara : “Bagus
sekali. Tolong laporannya sudah ada di meja saya sebelum jam pulang kantor, ya
pak. Terima kasih.”
Manager HRD :
“Baik, bu. Saya permisi.”
Arnold mendengarkan
semua pembicaraan itu dan dia masuk ke ruang kerja Rara setelah manager HRD
keluar.
Arnold : “Hai,
sayang.”
Rara : “Maass...
udah pulang.”
Arnold : “Ngantuk
ya?”
Rara : “He-eh...”
Arnold : “Kamu
istirahat aja ya. Aku yang lanjutin.”
Arnold membantu
Rara bangun dari kursi dan menuntunnya ke sofa. Rara berbaring disana dengan
nyaman dan menatap Arnold.
Rara : “Mas, apa
kita terlalu cepat berkembang?”
Arnold : “Maksudmu
perusahaan? Ya, sedikit berkembang pesat. Ini semua berkat kerja kerasmu, Ra.”
Rara : “Aku merasa
sumber daya kita kurang memadai dengan perkembangan pesat ini. Apa kita perlu
menambah karyawan?”
Arnold : “Kalau
memang diperlukan, sayang. Bagaimana dengan naik gaji?”
Rara : “Sangat
menggoda, tapi tidak bisa juga, mas. Kita harus pastikan kondisi ini stabil
sampai 2 tahun ke depan. Untuk sekarang aku lebih memikirkan bonus. Tentu saja
dengan target yang tepat.”
Arnold : “Wow...”
Rara : “Kenapa?”
Arnold : “Kau
sangat mengagumkan. Kecepatan berpikirmu berkembang sangat pesat.”
Rara : “Mas yang
memaksaku bisa secepat ini.”
Arnold : “Sungguh,
aku sangat mencintaimu, Ra.”
Rara : “Aku juga,
__ADS_1
mas.”
Arnold mengelus
perut Rara yang semakin besar. Anak mereka bahkan menendang di dalam sana.
Arnold : “Sayang,
kapan kamu lahirnya? Papa gak sabar mau ketemu kamu.”
Rara : “Sabar, mas.
Masih 2 bulan lagi.”
Arnold : “Tidur,
sayang. Istirahat dulu.”
Rara sudah
memejamkan matanya dan dengkuran halus mulai terdengar. Arnold kembali duduk di
kursi kerja Rara dan menyelesaikan pekerjaan Rara hari itu.
*****
Setelah tubuhnya
cukup istirahat, Rara terbangun. Arnold duduk disampingnya, sedang menatap
dirinya.
Rara : “Mas...”
Arnold : “Sayang,
makan dulu ya.”
Rara : “Jam berapa
nich, mas?”
Arnold : “Jam 5.
Kita makan dulu, baru pulang.”
Rara : “Manager HRD
udah ngasi laporannya?”
Arnold : “Udah,
nich laporannya. Kasian dia, mukanya sampai pucet kamu kejar laporan.”
Rara : “Biar aku
bisa cepat ambil keputusan, mas. Lagian sudah tugas dia kan punya informasi
tentang karyawan.”
Rara mengambil
laporan itu dan membacanya dengan serius. Arnold mengagumi wajah serius Rara,
ia bisa merasakan kelelahan istrinya itu.
Arnold : “Sayang,
makan dulu ya. Taruh laporan itu dulu.”
Arnold mengambil
laporan dari tangan Rara dan mulai menyuapi istrinya itu.
Rara : “Sepertinya
kita perlu menambah orang di bagian keuangan. Kita buka lowongan kerja ya.”
sayang.”
Rara : “Mas...”
Arnold : “Hmm...”
Arnold menoleh
menatap Rara dan istrinya itu mulai mencium Arnold.
Arnold : “Sa...
sayang...?”
Rara : “Mas kok
makin ganteng ya...”
Arnold : “Oh, ya...”
Arnold meletakkan piring
makan Rara diatas meja dan sibuk mengikuti kemauan istrinya yang sedang manja
itu.
*****
Rio sedang duduk di
salah satu kursi taman, ia sedang menunggu Kaori yang pergi ke toilet setelah
kuliah mereka selesai. Rio tersenyum melihat foto adik kembarnya yang
dikirimkan Mia tadi pagi. Kedua bayi montok itu tampak sangat menggemaskan
dengan baju kembar yang mereka kenakan.
Gadis yang melihat Rio
duduk sendirian, berjalan cepat menghampirinya.
Gadis : “Rio...”
Rio menegakkan
kepalanya,
Rio : “Ya? Kenapa?”
Gadis : “Kamu
ngapain disini? Udah makan?”
Rio : “Aku...”
Gadis : “Kita makan
siang bareng yuk. Ayo.”
Gadis dengan
agresif menarik tangan Rio yang bahkan tidak ingat nama gadis di depannya ini.
Rio menahan tangan Gadis,
Rio : “Tunggu. Aku
lagi nunggu pacarku. Kamu bisa makan duluan.”
Pemandangan saat
__ADS_1
Rio menahan tangan Gadis, dilihat Kaori dan membuat gadis itu salah paham. Sayangnya
Rio tidak melihat ketika Kaori berbalik dan berlari dengan cepat entah kemana.
Gadis : “Mana
pacarmu?”
Rio : “Ntar lagi
dia dateng.”
Gadis : “Kalo gitu,
aku temenin kamu disini ya.”
Rio malas
menanggapi gadis yang tidak segan duduk di sampingnya itu. Ia kembali fokus
melihat ke layar ponselnya, membalas chat dari Mia.
Gadis : “Kamu lagi
ngapain?”
Rio : “Balas chat.”
Gadis : “Itu siapa?”
Rio : “Mamaku.”
Gadis : “Mamamu
muda sekali ya. Cantik lagi.”
Memang Mia memasang
foto profil dirinya yang sedang tersenyum dengan manis. Rio tidak menanggapi Gadis,
tapi Gadis semakin dicuekin justru semakin gencar menyerang.
Gadis : “Kamu yakin
masih mau nunggu? Mungkin pacarmu udah pulang duluan.”
Rio melirik jam
tangannya, ia menoleh melihat lorong tempat toilet wanita yang mulai sepi. Ia
bangkit berdiri dan Gadis mengikutinya. Mereka berjalan mendekati toilet
wanita.
Rio ingin masuk
tapi jelas gak boleh, Gadis menawarkan dirinya untuk membantu Rio dengan masuk
ke dalam.
Gadis : “Gak ada
siapa-siapa tuch.”
Rio : “Kamu yakin?”
Melihat Gadis
mengangguk, Rio segera menelpon Kaori. Gadis manis itu sedang duduk di taman
dekat kantin. Wajahnya sangat tidak bersahabat, ia sangat kesal pada Rio dan
menunduh pria itu tidak setia.
Kaori : “Kamu
nyebelin banget!”
Kaori
membejek-bejek ponselnya yang berhiaskan wallpaper wajah Rio yang sedang
tersenyum. Saat itu tiba-tiba panggilan masuk datang dari Rio dan Kaori tidak
sengaja menerima panggilang itu.
Rio : “Halo, Kaori?
Halo?”
Kaori : “Apa?!”
Rio diam mendengar
bentakan Kaori. Ia merasa ada yang tidak beres dengan pacarnya itu.
Rio : “Kamu dimana?”
Kaori : “Bukan
urusanmu! Sana sama Gadis aja...!”
Rio : “Siapa Gadis?”
Rio melihat wajah
cewek di hadapannya tersenyum sumringah saat namanya disebut.
Gadis : “Aku Gadis.”
Mendengar suara
Gadis di dekat Rio, Kaori semakin emosi. Ia hampir menutup telponnya kalau
tidak mendengar *deep voice*-nya Rio.
Rio : “Bilang, kamu
dimana? Jangan coba tutup telponnya.”
Kaori : “Gak mau!”
Rio : “Bilang kamu
dimana, atau kau tahu akibatnya kalau aku bisa nemuin kamu.”
Gadis sampai terpesona
mendengar *deep voice* Rio yang sangat seksi. Kaori cemberut\, ia masih kesal
dan *deep voice* Rio yang biasanya terdengar menakutkan di telinga Kaori\,
membuatnya tidak takut.
Kaori : “Cari aja
ampe ketemu.”
Kaori mematikan
sambungan telponnya dengan Rio.
🌻🌻🌻🌻🌻
Coba bayangin deep
voice Rio mirip suaranya V BTS. Author aja gerah dengernya.
Klik profil author ya, ada novel karya author yang
__ADS_1
lainnya loh (jangan lupa tinggalkan jejak kk).