Duren Manis

Duren Manis
Menantimu


__ADS_3

Jam 7 malam, Jodi datang lagi ke rumah Alex. Rara sudah siap dan sedang menunggunya. Ia memakai baju hamil yang baru.


Rara : "Kak, aku belum selesai memilih bajunya. Tapi makasih ya, bajunya sangat nyaman."


Jodi : "Hmm... Gak masalah. Kita pergi sekarang?"


Rara : "Iya, ayo kak."


Keduanya berjalan keluar dari rumah Alex dan masuk ke mobil Jodi.


Rara menggenggam hasil foto USG putranya di tangan. Ia ingin menunjukkan foto itu pada Arnold.


Mereka dalam perjalanan ke rumah sakit tempat Arnold dirawat. Keadaan Arnold koma setelah operasi. Semuanya berjalan dengan baik dan lancar.


Dokter bisa memastikan kesembuhan Arnold 99%. Tapi tiba-tiba tubuh Arnold menolak semua yang masuk ke tubuhnya. Ia mengalami kejang dan akhirnya tubuhnya lemas tak berdaya.


🌼🌼🌼🌼🌼


Flash back...


Rara masih menunggu kata-kata Jodi berikutnya, ia berusaha turun dari atas bes rumah sakit ingin menghampiri Jodi.


Rara : "Mas Arnold kenapa, kak? Bilang sama aku, kak."


Jodi : "Dokter bilang dia kritis, Ra. Dan sekarang dia kejang-kejang."


Rara menghentikan gerakannya, ia mengusap air matanya dan segera turun dari bed rumah sakit.


Rara : "Bawa aku kesana, kak. Aku mau lihat mas Arnold."


Jodi : "Tapi Ra?"


Rara : "Bawa aku kesana, kak? Mas Arnold gak boleh ninggalin aku."


Jodi menuntun Rara menuju ruang ICU. Semua orang menatapnya yang berjalan bersama Jodi. Keluarga Arnold, keluarganya menatapnya dengan sedih.


Rara : "Kenapa?"


Semua orang diam.


Rara : "Pah? Mana mas Arnold? Ri? Rio? Mana mas Arnold?!"


Alex menangkap tangan Rara, memeluk tubuh Rara yang gemetar. Ia membawa Rara masuk ke ruang ICU tempat Arnold barusan dirawat dan Rara melihat kain putih menutupi seseorang di salah satu bed disana.


Alex : "Ra, kamu harus kuat. Demi anak kalian."


Rara : "Mana mas Arnold, pah?"


Alex menunjuk bed di depan mereka. Dokter Kevin menggelengkan kepalanya melihat Rara.


Rara berjalan pelan mendekati bed itu, ia menarik kain putih yang menutupi wajah Arnold. Arnold tampak tenang dan damai.


Rara : "Mas... Mas Arnold bangun... Mas, bangun! Mas uda janji sama aku."


Rara ambruk diatas tubuh Arnold, ia memukul-mukul dada Arnold sambil menangis dan marah.

__ADS_1


Rara : "Kamu gak boleh pergi, mas! Arnold! Jangan pergi..."


Rara terus memukuli dada dan memanggil nama Arnold. Keajaiban tiba-tiba datang saat alat pantau jantung Arnold mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan.


Alex membantu Rara turun dari atas tubuh Arnold agar dokter Kevin bisa memeriksanya. Rara mengatupkan kedua tangannya memohon agar Arnold bisa selamat.


Semua alat bantu kehidupan, mulai dipasang ke tubuh Arnold.


dr. Kevin : "Wow, sungguh keajaiban dari cinta. Kondisinya sudah stabil. Kita hanya perlu menunggu dia sadar."


Tubuh Rara meluncur turun masih dalam pelukan Alex. Ia menangis lega mengetahui Arnold masih bisa bersamanya.


Keluarga mereka saling memeluk melihat kondisi Arnold yang hidup kembali.


Flash back end...


🌼🌼🌼🌼🌼


Arnold belum pernah sadar selama tiga bulan ini. Tapi sedikitpun Rara tidak kehilangan harapan.


Setiap hari ia datang ke rumah sakit untuk menjenguk Arnold. Ia akan duduk disamping Arnold, dan mulai bercerita tentang apa yang ia lakukan hari ini.


Setelah mereka sampai di rumah sakit, Jodi berjalan bersama Rara menuju ruang ICU tempat Arnold dirawat.


Perawat yang biasa ketemu mereka menyapa mereka berdua. Rara dan Jodi menyapa balik perawat-perawat itu.


Mereka tiba di depan ruang ICU, Rara masuk kesana, memakai baju steril dan membersihkan dirinya.


Arnold ada disana, dalam keadaan tertidur dengan tenang. Oksigen, infus dan alat pantau jantung masih dipasang pada tubuh Arnold.


Rara : "Mas, aku datang."


Rara : "Mas, kamu harus segera bangun atau kak Jodi akan menghabiskan uangmu untuk aku. Dia membeli banyak baju hamil untukku."


Rara mencium Arnold lagi.


Rara : "Hari ini aku cek ke dokter lagi. Diantar kak Jodi seperti biasanya. Anak kita laki-laki, mas. Itunya segede itumu."


Rara tersenyum malu.


Rara : "Mas, sampai kapan mas mau tidur disini. Aku kesepian, mas."


Rara mengangkat tangan Arnold, ia menyentuhkan perutnya ke tangan Arnold.


Rara : "Mas, anak kita gerak-gerak nich. Mas bisa rasakan? Dia nendang kenceng banget loh, mas."


Rara menggenggam tangan Arnold. Tangan kokoh Arnold tampak kurus dan pucat. Rara mencium tangan Arnold.


Rara : "Kamu kurus banget, mas. Makanya cepetan sadar, aku uda bisa masak loh. Masak semua kesukaan kamu."


Rara mengusap sudut matanya, ia sudah berjanji tidak akan menangis setiap menjenguk Arnold. Ia akan terus tersenyum untuk Arnold.


Rara : "Mas tahu nggak, kak Jodi sudah punya pacar. Bukan pacar sih, dia menyebut hubungan mereka itu hubungan yang saling menguntungkan. Aku gak ngerti maksudnya apa. Mas ngerti gak?"


Rara menatap wajah tampan Arnold. Ia mengusap wajah Arnold, tidak ada bulu halus yang tumbuh di dagunya.

__ADS_1


Suster pasti mencukurnya setiap hari.


Rara : "Mas, aku mau tidur disini. Tapi dokter gak bolehin. Katanya ibu hamil gak baik lama-lama di ICU."


Arnold masih diam tak bergeming. Alat pantau jantung terus berbunyi memecah keheningan di ruang ICU itu.


Rara : "Mas, kapan kau akan mengajakku honeymoon? Kita jalan-jalan keluar kota lagi ya. Bertiga sama putra kita."


Rara duduk di samping bed, kakinya mulai kram lagi.


Rara : "Kakiku kram terus akhir-akhir ini, mas. Aku baru tahu ibu hamil tuch banyak banget gak enaknya. Uda mual muntah, badan melar gak jelas, kaki juga sakit. Aku ngerasa kayak nenek-nenek."


Rara terkikik geli, seolah Arnold mengatakan sesuatu yang lucu. Dia bukannya udah gak waras, tapi ia bisa merasakan Arnold merespon setiap kata-katanya.


Arnold merespon melalui jemari tangan mereka yang menyatu.


Rara : "Mas... Aku kangen kamu. Sampai kapanpun kami akan selalu menanti kamu bangun dari tidurmu."


Rara mencium Arnold lagi, kali ini ciuman yang lebih dalam dan lama. Sampai Rara kepanasan sendiri, ia menarik dirinya dari Arnold dan mengambil nafas dalam.


Rara : "Mas, aku sayang sama kamu. Aku kangen kamu godain, mesra-mesraan di tempat tidur. Haduh, kenapa aku jadi mesum gini."


Tiba-tiba jemari tangan Arnold bergerak. Rara terdiam merasakan jemarinya di genggam Arnold.


Rara : "Mas...?"


Rara menatap jemari Arnold yang kini menggenggam jarinya. Ia melihat mata Arnold mulai bergerak juga.


🌸🌸🌸🌸🌸


Mia terbangun dengan rasa nyeri di bawah perutnya. Ia merasakan basah dibawah sana. Dengan cepat Mia mengguncang tubuh Alex yang tertidur disampingnya.


Mia : "Mas!! Bangun!! Cepetan!!"


Alex : "Hmm... Kenapa?"


Mia : "Aku basah, mas."


Alex : "Apa?! Kamu ngompol? Mia : "Gak tau... Sakit, mas."


Alex langsung bangun dari tidurannya dan berlari keluar kamar. Ia memanggil mb Minah dan nenek untuk melihat keadaan Mia dan mengambil kunci mobilnya.


Setelah membuka pintu mobilnya, Alex berlari masuk lagi. Tampak Mia berjalan keluar kamar dipapah mb Minah. Nenek tampak menyeret tas Mia yang berisi perlengkapan melahirkan.


Alex membantu Mia berjalan sambil membawa tas Mia.


Mia terus merintih kesakitan, sepertinya ia akan segera melahirkan.


🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel author ini, jangan lupa juga baca novel author yang lain β€˜Menantu untuk Ibu’, β€˜Perempuan IDOL’, β€˜Jebakan Cinta’ dengan cerita yang tidak kalah seru.


Ingat like, fav, komen, kritik dan siarannya ya para reader.


Vote, vote, vote...!!! Yang uda vote makasi banyak ya..

__ADS_1


Dukungan kalian sangat berarti untuk author.


🌲🌲🌲🌲🌲


__ADS_2